Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
SAKIT?


__ADS_3

Rossie melirik ke jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Ponsel Rossie kembali bergetar, menandakan ada pesan masuk yang lagi-lagi dari Fairel yang sepertinya masih menunggu jawaban Rossie semalam.


Hhhh!!


Tok tok tok!


"Rossie! Makan siang dulu!" Panggil Mama Sita dari luar kamar, disertai ketukan di pintu. Rossie cepat-cepat beranjak untuk membuka pintu.


"Makan siang dulu," ucap Mama Sita sekali lagi setelah Rossie membuka pintu kamar.


"Mama mau ke acara pertunangan Kak Lea, ya?" Tebak Rossie setelah memindai penampilan Mama Sita yang masih mengenakan baju rumahan, namun rambut serta wajah mama kandung Rossie itu sudah rapi dan siap pergi.


"Iya! Kamu mau ikut?" Tawar Mama Sita yang langsung membuat Rossie menggeleng.


"Rossie tidak terlalu kenal dengan Kak Lea."


"Meskipun beberapa kali kami sempat bertemu di B&D Resto," sambung Rossie lagi seraya tertawa kecil.


"Kau sering ke B&D Resto?" Mama Sita langsung mengernyit curiga.


"Tidak sering, Ma!"


"Hanya saat bersama Beth tempo hari," jawab Rossie sembari meringis.


"Lalu Rossie bertemu Abang Kean dan dikenalkan pada Kak Lea juga."


"Kak Lea kan kepala koki di B&D Resto," cerita Rossie kemudian yang langsung membuat Mama Sita mengangguk.


"Jadi, kau tidak mau ikut nanti ke pertunangan Lea?" Tanya Mama Sita sekali lagi.


"Tidak, Ma!" Jawab Rossie cepat.


"Yasudah, kamu turun dan makan siang dulu sana!" Titah Mama Sita selanjutnya seraya melirik ke atas tempat tidur Rossie dimana ada laptop dan beberapa buku yang berserakan. Rossie memang sedang mengerjakan skripsi tadi.


"Nanti kalau lapar jadi tidak konsen ngerjain skripsinya," ujar Mama Sita lagi yang sudah ganti mengusap puncak kepala Rossie.


"Iya, Ma!" Jawab Rossie patuh sembari keluar dari kamar, lalu menutup pintu kamar. Rossie lalu turun bersama Mama Sita. Namun saat keduanya baru tiba di lantai bawa, seorang maid sudah menghampiri.


"Maaf, Nona Rossie! Ada Pak Fairel di depan," lapor maid yang langsung membuat Rossie berdecak.


Pesan tidak dibalas, langsung gercep datang ternyata!


Ya ampun!


"Kau makan saja dulu, biar mama yang menemui Fairel," ujar Mama Sita yang langsung dijawab Rossie dengan anggukan kepala. Rossie lalu segera menuju ke ruang makan karena perutnya juga sudah merasa keroncongan.


****


"Fairel," sapa Mama Sita pada Fayang sedang duduk di teras, sembari memegang sebuket bunga mawar. Sepertinya pria itu rajin sekali membawakan bunga untuk Rossie!


Berbeda dengan Keano yang belakangan ini malah terlihat jarang mendekati Rossie.


"Aunty! Selamat siang!" Jawab Fairel membalas sapaan Mama Sita sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


"Sudah siap pergi juga, Aunty?" Tanya Fairel selanjutnya berbasa-basi.


"Hanya tinggal ganti baju dan menunggu Uncle Robert," jawab Mama Sita sembari tertawa kecil.


"Oh, Uncle Robert masih ke kantor, ya? Padahal weekend." Fairel sedikit bergumam.


"Bukan ke kantor. Tapi bertemu klien di luar tadi sekaligus main golf. Mungkin sebentar lagi pulang," jelas Mama Sita yang langsung membuat Fairel mengangguk.


"Itu bunga untuk Aunty?" Tanya Mama Sita selanjutnya seraya mengendikkan dagunya ke bunga di tangan Fairel.


"Ini..."


"Eh, iya untuk Aunty!" Jawab Fairel cepat sembari mengangsurkan bunga tadi pada Mama Sita.


"Aunty suka bunga mawar juga, ya!" Gumam Fairel lagi sedikit salah tingkah.


"Suka sekali! Makanya dulu Rossie Aunty beri nama Rossie," jawab Mama Sita yang langsung membuat Fairel membulatkan bibirnya.


"Iel pikir Rossie itu akronim dari nama Uncle Robert dan Aunty Sita," ujar Fairel kemudian.


"Iya itu juga termasuk," tukas Mama Sita membenarkan. Wanita paruh baya itu lalu tertawa kecil.


Sementara Fairel sedikit celingukan ke dalam rumah karena sejak tadi tak kunjung melihat keberadaan Rossie.


Masa iya Rossie masih tidur siang?


"Rossie-" Fairel belum jadi bertanya, saat ternyata mobil Papa Robert malah sudah tiba di kediaman Hadinata.


Ya ampun!


"Nah, itu Uncle Robert sudah pulang."


"Kau tadi kesini mencari Uncle-mu itu, kan?" Ujar Mama Sita yang langsung membuat Fairel menganga.

__ADS_1


Untuk apa juga Fairel mencari Uncle Robert?


Fairel kan mencari Rossie dan ingin mengobrol bersama putri mahkota di keluarga Hadinata itu! Sekalian mau mengajak Rossie ke acara pertunangan Lea agar nanti Keano kebakaran jenggot!


Eh, atau jangan-jangan Rossie tak kelihatan karena sudah pergi bersama Keano?


Sial!


Apa Fairel terlambat menjemput Rossie?


Tapi ini masih pukul satu siang dan acaranya masih pukul tiga sore.


"Fairel!" Sapaan Papa Robert langsung menyentak lamunan Fairel. Pria itu langsung buru-buru membalas sapaan sang calon papa mertua.


Tak ada salahnya berharap, kan?


Bukankah ucapan adalah doa!


"Siang, Uncle!"


"Sedang menggoda istri Uncle lagi?" Tanya Papa Robert tak senang setelah melirik ke buket bunga mawar di tangan Mama Sita.


"Sedikit, Uncle!" Jawab Fairel seraya meringis.


"Kan harus pedekate dengan calon mertua juga, Uncle! Besok Iel bawakan tongkat golf untuk Uncle Robert!" Ujar Fairel kemudian yang langsung membuat Papa Robert berdecak.


"Tongkat golf untuk memukul kepalamu?" Kelakar Papa Robert yang langsung membuat Fairel tertawa renyah.


"Nanti Iel amnesia, Uncle! Bahaya!" Seloroh Fairel.


"Tapi tadi kata Aunty Sita, Uncle sedang hobi main golf," ucap Fairel lagi.


"Sok tahu!" Decak Papa Robert sebelum kemudia pria paruh baya itu menyapa sang istri.


"Iel katanya mencarimu," ujar Mama Sita pada Papa Robert yang langsung mengernyit.


"Benarkah?" Papa Robert kembali menoleh pada Fairel yang langsung meringis.


"Mau membahas sesuatu tentang perusahaan?" Tanya Papa Robert dengan raut wajah yang sudah serius.


"I....ya!" Jawab Fairel sembari merutuki dirinya sendiri.


"Kalian ngobrol saja dulu dan aku akan menyiapkan air untuk kau mandi," ucap Mama Sita sembari mengusap wajah Papa Robert.


Ough! Mesra sekali!


"Ayo duduk!" Ajak Papa Robert yang langsung membuyarkan lamuna Fairel tentang diusap-usap oleh Rossie, diatas ayunan di bawah pohon kelapa, di tepi pantai yang dekat dengan rumah Tante Valeria!


Sepertinya lamunan Fairel sudah terlalu jauh sekarang!


Tapi tidak ada salahnya juga setelah menikah nanti Fairel mengajak Rossie honeymoon ke pantai dekat rumah Tante Valeria dan Om Arga itu. Fairel pernah kesana sekali dan pantainya memang indah!


"Fairel!" Tegur Papa Robert sekali lagi pada Fairel yang malah bengong.


"Eh, iya, Uncle! Bagaimana?" Jaeab Fairel tergagap.


"Bagaimana apanya? Kau yang mencari Uncle dan katanya mau membahas sesuatu."


"Apa ada kendala di Halley Development?" Cecar Papa Robert yang langsung membuat Fairel garuk-garuk kepala.


Sedang tak ada problem serius di Halley Development kecuali Fairel yang sering kena omel Dad Liam karena sering tiba-tiba menghilang dari kantor demi melakukan pedekate pada Rossie.


Ah, tapi bukankah ada Ryan yang selalu bisa diandalkan, meskipun kadang sepupu Fairel itu sikapnya menyebalkan!


"Kendala...." Fairel berpikir untuk beberapa saat dan mendadak otaknya yang biasanya pandai mengarang sekarang buntu dan mentok.


Kendala apa, ya?


Berpikirlah, Otaknya Fairel!


"Sepertinya tidak ada, Uncle!" Fairel akhirnya berkata jujur sembari meringis.


"Tidak ada masalah serius di Halley Development, Uncle!" Ulang Fairel lagi tetap meringis. Papa Robert sontak langsung geleng-geleng kepala.


"Eh, tapi Ngomong-ngomong, apa benar Uncle akan merekrut Reina untuk masuk di perusahaan Hadinata sebagai Direktur keuangan?" Tanya Fairel selanjutnya yang mendadak ingat dengan kalimat Angga tempo hari.


Nanti Fairel juga akan merekrut Rossie untuk bekerja di Halley Development kalah begitu!


"Kata Angga begitu!"


"Lagipula, Reina gadis yang cerdas dan cepat belajar juga. Jadi tidak masalah dia memegang posisi sebagai direktur keuangan untuk sementara waktu," tukas Papa Robert.


"Untuk sementara? Fairel langsung mengernyit.


"Posisi itu sebenernya untuk Rossie. Tapj berhubung Rossie berniat melanjutkan kuliahnya lagi, jadi untuk sementara biar Reina dulu yang memegang. Nanti kalau kuliah Rossie sudah benar-benar selesai, Angga akan memberikan posisi baru untuk Reina," jelas Papa Robert yang langsung membuat Fairel sedikit mencibir.


"Posisi baru sebagai istri sepertinya, Uncle!" Seloroh Fairel yang hanya membuat Papa Robert terkekeh.

__ADS_1


"Tapi apa Uncle tak khawatir tentang profesionalitas Angga ke depannya jika ia satu perusahaan dengan Reina?" Fairel mengungkapkan kekhawatirannya.


"Profesionalitas bagaimana maksudmu? Meskipin Angga dan Reina berpacaran, tapi Angga tak sebucin dirimu yang selalu bolos atau kabur saat jam kerja untuk menemui Rossie. Angga selalu bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya dan baru akan menemui Reina setelah tanggung jawabnya selesai," beber Papa Robert yang malah menyindir tentang kelakuan Fairel.


"Iel juga bertanggung jawab penuh, Uncle! Pekerjaan Iel selalu beres dan tak ada yang terbengkalai."


"Dan hari ini juga kebetulan Iel sedang libur ke lantor, makanya Iel kesini untuk menemui Rossie. Iel tidak kabur saat jam kerja," cerocos Fairel panjang lebar yang malah jujur tentang tujuannya datang ke kediaman Hadinata.


"Hmmm. Berarti kesini untuk menemui Rossie dan bukan menemui Uncle? Kenapa tidak bicara sejak tadi?" Papa Robert geleng-geleng kepala dan Fairel langsung meringis.


"Rossie di rumah, Uncle?" Tanya Fairel akhirnya berbasa-basi.


"Ada! Dia libur kuliah hari ini," tukas Papa Robert sebelum kemudian pria paruh baya itu memanggil Rossie.


Dan tak berselang lama, gadis yang sejak tadi Fairel tunggu akhirnya menampakkan diri juga.


Huh!


Akhirnya!


"Abang Iel!" Sapa Rossie sembari menghampiri Fairel, lalu duduk di kursi yang tadi ditempati Papa Robert.


Papa Robert sendiri sudah pamit masuk ke dalam dan katanya akan mandi karena harus bersiap-siap pergi ke acara pertunangan Lea.


"Hai!"


"Sudah siap?" Tanya Fairel sambil tersenyum absurd seperti biasa pada Rossie.


"Siap kemana?" Tanya Rossie pura-pura tak paham.


"Ke acara pertunangan Lea! Kau jadi pergi bersamaku, kan?" Fairel menaikturunkan alisnya pada Rossie.


"Eeeee soal itu...." Rossie menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kau janji akan memberikan jawaban hari ini, Rossie! Makanya aku datang kesini sekalian menjemputmu," ucap Fairel cepat masih tetap sambil tersenyum absurd.


"Tadinya Rossie memang baru akan menghubungi Abang Iel dan mengatakan kalau Rossie tidak bisa pergi," ujar Rossie akhirnya meskipun sempat ragu.


"Kenapa memang? Skripsimu masih banyak yang belum dikerjakan? Nanti aku bantu!" Sergah Fairel cepat yang mulai memaksa Rossie.


"Bukan begitu, Bang!"


"Tapi Rossie sedikit tidak enak badan," ucap Rossie sembari memegangi kepalanya sendiri.


Ya, padahal tadi Rossie baik-baik saja, tapi mendadak kepala Rossie malah jadi berdenyut karena mendengar cerocosan Fairel.


Entahlah!


"Kau sakit?" Fairel buru-buru meletakkan punggung tangannya di kening Rossie.


"Rossie hanya sedikit pusing, Bang!" Alasan Rossie sembari meminta Fairel agar menyingkirkan tangannya dari kening Rossie. Namun dengan cara yang halus, agar Fairel juga tak tersinggung.


"Maaf!" Ucap Fairel sedikit salah tingkah.


"Maaf, ya, Bang!" Ucap Rossie sekali lagi merasa tak enak hati. Namun Rossie juga akan semakin merasa tam nyaman jika memaksa pergi bersama Fairel. Belum lagi nanti kalau disana Rossie bertemu Keano, lalu Keano akan salah paham dan berpikir kalau Rossie lebih memilih Fairel ketimbang Keano...


Ya ampun!


Kenapa pikiran Rossie malah sudah sejauh itu...


"Jadi kau hanya sakit kepala, ya? Atau mau aku antar ke UGD adar kau bisa CT scan sekalian barangkali ada sakit serius di kepalamu?" Tawar Fairel selanjutnya memecah kebisuan.


"Tidak usah, Bang!" Tolak Rossie cepat atas penawaran lebay Fairel.


"Rossie akan minum obat dan istirahat saja," ujar Rossie lagi.


"Yakin tidak mau ke UGD?" Tawar Fairel sekali lagi.


"Iya, yakin!" Jawab Rossie sungguh-sungguh.


"Obatnya sudah ada? Aku belikan dulu ke apotik-"


"Sudah ada, Bang!" Sergah Rossie cepat.


"Baiklah kalau begitu!" Fairel akhirnya bangkit dari duduknya.


"Minum obat, lalu istirahat dan semoga cepat sembuh," ucap Fairel tulus yang langsung membuat Rossie mengulas senyum.


"Iya, Bang! Maaf sekali lagi karena tidak bisa memenuhi ajakan Abang Iel," tukas Rossie lagi tetap tak enak hati.


"Tidak masalah! Aku akan pergi sendiri!" Jawab Fairel santai sebelum akhirnya pria itu berpamitan pada Rossie.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2