
"Sweety Cake!"
"Tokonya jelas begini!" Komentar Fairel yang langsung bisa dengan cepat menemukan toko kue yang dimaksud oleh Mom Yumi.
Setelah memarkirkan mobilnya, Fairel langsung turun dan masuk ke dalam toko kue yang ukurannya memang tak terlalu besar tersebut. Namun konsep minimalis yang diusung oleh Sweety Cake serta pemilihan warna interior di dalam toko benar-benar memanjakan mata. Fairel jadi penasaran tentang siapa pemilik toko kue ini.
Apa sahabat dari Aunty Sita?
"Selamat sore, Pak! Ada yanv bisa dibantu?" Sapa seorang pramuniaga.
"Sore!"
"Aku mau pesan kue custom. Disini bisa, ya?" Tanya Fairel memastikan.
"Iya, bisa, Pak! Langsung bertemu dengan owner saja." Pramuniaga itu pamit sebentar untuk masuk ke dalam. Lalu tak berselang lama, pramuniaga tadi sudah kembali bersama seorang gadis yang rambutnya dicepol asal dan memakai sebuah celana kodok dengan kaos dalaman berwarna putih.
Hah?
Kenapa wajahnya tidak asing?
"Kau lagi!" Seru Fairel yang langsung menuding ke arah gadis di depannya tersebut.
"Hai, Pak! Lama tidak bertemu!" Jawab gadis itu yang malah meringis tanpa dosa.
"Sudah kubilang, kalau aku bukan bapakmu! Jadi jangan memanggilku Pak!" Sungut Fairel seraya berkacak pinggang. Gadis bercelana kodok itu kembali meringis dan memamerkan gigi kelincinya pada Fairel.
Dasar!
"Baiklah, Ibel!"
"Namamu Ibel, kan?" Ujar gadis itu selanjutnya memastikan.
"Iel!"
"Siapa Ibel?" Sahut Fairel emosi.
"Oh, sudah ganti, ya!" Gadis itu meringis lagi.
"Ganti apanya! Dari dulu memang Iel! Kau saja yang mengganti-ganti seenak jidat!" Omel Fairel lagi.
"Tapi seingatku Ibel. Bukankah dulu Angga memanggilmu Ibel?" Tanya gadis itu lagi.
"Iel, Iel, Iel!"
"Panggil saja Fairel kalau begitu agar tak keliru lagi." Ucap Fairel yang emosinya sudah naik ke ubun-ubun.
"Oh, Fairel! Jenapa bukan dipanggil Irel saja dan malah jadi Iel? Sedikit tidak nyambung," komentar gadis itu selanjutnya.
"Hhhh! Aku tidak butuh komentarmu!"
"Dan panggil aku Fairel!"
"Yang biasanya memanggilku Iel itu hanya orang yang dekat denganku. Kau siapa memangnya?" Cerocos Fairel panjang lebar sembari mendelik-delik pada gadis di depannya tersebut.
"Aku Beth!" Jawab gadis itu cepat.
"Aku sudah tahu!" Fairel langsung menyalak pada Beth.
"Jadi, Pak Ibel-" Beth tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Fairel yang sudah menggeram sekarang dan mungkin siap menyalak sebentar lagi.
"Pak Fairel." Beth mengulangi sapaannya.
"Tidak usah pakai Pak!" Ucap Fairel tegas.
"Iya, Fairel! Jadi kau mau pesan kue?" Tanya Beth akhirnya.
__ADS_1
"Iya! Mana owner tokonya?" Jawab Fairel to the point.
"Aku ownernya," ujar Beth yang langsung membuat Fairel menganga.
"Kau? Owner toko ini?"
"Emmmm, sebenarnya secara teknis, toko ini masih milik Mom. Tapi karena faktor usia, Mom sudah berhenti mengelola toko dan aku melanjutkannya," cerita Beth yang langsung membuat Fairel mendengus.
Seharusnya Fairel memang membeli kue jadi dari toko saja seperti tahun-tahun sebelumnya! Tapi Fairel mau sekalian melamar Rossie nanti, jadi kuenya juga harus istimewa.
Hhhh!
"Jadi bagaimana? Jadi memesan kue?" Tanya Beth selanjutnya pada Fairel yang malah melamun.
"Tentu saja jadi! Aku sudah jauh-jauh datang kesini!" Jawab Fairel masih ketus.
"Oke!"
"Mau kue yang bagaimana?" Tanya Beth lagi.
"Yang bernuansa mawar!"
"Pokoknya, aku mau ada ornamen mawar di setiap bagian kue-"
"Ketimbang kau buang-buang tenaga untuk menjelaskan, kenapa tidak lihat contoh kue bernuansa mawar yang sudah pernah aku buat saja? Nanti kita bisa memodifikasinya, agar bentuknya tidak ada yang menyamai," cetus Beth seraya mengeluarkan ponselnya. Gadis itu lalu mengutak-atik ponselnya sejenak, sebelum lanjut menunjukkannya pada Fairel.
"Ini kau yang membuatnya?" Tanya Fairel dengan nada tak percaya.
"Iya! Ada watermark namaku di fotonya. Jadi ini semua hasil karyaku," jelas Beth yang sekali lagi hanya membuat Fairel mendengus.
Fairel dan Beth lanjut melihat foto contoh kue, hingga akhirnya pandangan mata Fairel terhenti di sebuah kue berbentuk keranjang yang bagian atasnya penuh mawar berwarna-warni.
"Ini bagus!"
"Mawarnya mau warna-warni juga atau satu warna saja?" Tanya Beth memberikan pilihan.
"Warna pink bagus tidak?" Fairel balik bertanya pada Beth.
"Bagus!"
"Nanti bisa dikombinasikan antara pink muda dan pink tua," ujar Beth memberikan ide.
"Baiklah!"
"Kau atur saja yang laing bagus bagaimana, karena aku akan mengambil kuenya besok sore!" Ujar Fairel cepat yang langsung membuat Beth menganga.
"Besok sore?"
"Iya! Aku akan memberikan kejutan tengah malam. Jadi aku ambil sore. Tokomu tutup jam berapa?"
"Kenapa pesannya dadakan?" Bukannya menjawab pertanya Fairel, Beth malah balik bertanya sekaligus mengomeli pro di depannya tersebut.
"Bukan dadakan! Ada waktu dua puluh empat jam untuk kau mengerjakan kuenya. Aku akan bayar dua kali lipat!" Ucap Fairel berjanji pada Beth.
"Ck!" Beth sontak merengut.
"Ayolah, Beth! Kue ini untuk orang spesial!"
"Aku tak bisa pesan di tempat lain!" Mohon Fairel akhirnya serelah tadi diawal ia semoat mengomel.
"Tentu saja tak bisa! Siapa juga yang mau terima pesanan kue dadakan. Di rules toko saja, pesanan itu minimal harus H-3!" Jelas Beth panjang lebar yang malah membuat Fairel meringis tanpa dosa.
"Aku bayar dua kali lipat, Beth!" Bujuk Fairel lagi.
"Baiklah!" Ucap Beth akhirnya setelah menghela nafas beberapa kali.
__ADS_1
"Kau mau tulisan apa diatasnya?" Tanya Beth selanjutnya seraya membuat sketsa kue pesanan Fairel. Tangan gadis itu ternyata begitu cekatan.
"Tulisan apa maksudmu?" Fairel balik bertanya pada Beth.
"Tulisan di atas kuenya!"
"Biasanya selamat ulang tahun siapa?" Jelas Beth yang langsung membuat Fairel membulatkan bibirnya.
"Tidak usah!"
"Aku akan membawa sendiri kue itu besok jadi tak perlu diberi nama!"
"Hiasannya juga sudah menunjukkan nama yang ulang tahun," ujar Fairel dengan mata berbinar.
"Baiklah!"
"Kau bisa mengambil kuenya besok jam lima sore. Toko tutup lebih cepat besok," ujar Beth akhirnya seraya menyodorkan sebuah kertas pada Fairel.
"Bayar lunas di awal!" Sambung Beth lagi tegas.
"Iya!"
"Aku transfer!" Fairel langsung memindai kode QR yang tersedia di depan kasir, dan melakukan transfer tunai.
Selesai melakukan transaksi, Fairel langsung meninggalkan toko tanpa berbasa-basi pada Beth lagi.
Dasar!
****
"Selamat malam, Uncle!" Sapa Keano saat pintu utama kediaman Hadinata dibuka oleh Papa Robert. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Keano seharusnya tak bertamu malam-malam begini. Tapi malam ini ada satu misi penting yang harus Keano lakukan.
"Malam!" Jawab Papa Robert sembari memindai penampilan Keano.
"Mau mengajak Rossie kemana?" Tanya Papa Robert selanjutnya yang sudah langsung tahu tujuan Keano datang ke kediaman Hadinata.
"Ke B&D Resto, Uncle!" jawab Keano.
"Bukankah seharusnya kau menjemput Rossie tengah malam nanti?" Tanya Papa Robert lagi.
"Tadinya memang saya akan datang menjelang tengah malam nanti, tapi saya khawatir Uncle dan Aunty sudah istirahat dan saya jadi tak bisa minta izin," ujar Keano menyampaikan alasannya.
"Rossie sebenarnya sudah tidur, dan kau juga datang terlalu cepat, Kean!"
"Kean akan menunggu sampai tengah malam saja kalau begitu, Uncle," putus Keano kemudian.
"Kean akan menunggu di teras," sambung Keano lagi.
"Kenapa tidak menunggu di dalam saja sembari main catur?" Ujar Papa Robert yang langsung membuat Keano mengulas senyum.
"Angga kebetulan juga sedang di luar kota," cerita Papa Robert lagi seraya mempersilahkan Keano masuk ke dalam rumah.
"Padahal besok Rossie ulang tahun. Tapi sepertinya Angga sibuk sekali, Uncle," pendapat Keano menanggapi cerita Papa Robert tadi.
"Ya, begitulah Angga!"
"Mungkin juga dia akan memberikan kejutan untuk Rossie besok. Siapa yang tahu?" Tukas Papa Robert yang sudah duduk di bangku taman yang ada di halaman belakang. Keano ikut duduk di depan Papa Robert, lalu membantu menyusun pion-pion catur di atas papan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1