Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
HADIAH


__ADS_3

"Selamat malam, Uncle!" Sapa Keano yang baru tiba di kediaman Hadinata.


Papa Robert memang sedang duduk di teras dan tengah berbincang bersama Angga.


"Malam, Kean!" Jawab Papa Robert sembari tersenyum pada Keano.


"Acara gathering sudah selesai dan semua biaya juga sudah aku lunasi, Kean!" Sergah Angga yang langsung membuat Keano terkekeh.


"Aku kesini bukan untuk menagih hutang!" Sahut Keano cepat.


"Lalu mau apa? Menemui Rossie?" Cecar Angga menebak-nebak.


"I.....ya." Keano menjawab sembari menggaruk tengkuknya sendiri.


"Rossie katanya akan berangkat malam ini, jadi-"


"Mau mengucapkan salam perpisahan?" Tebak Angga lagi memotong kalimat Keano.


"Hanya jika Uncle Robert mengizinkan," jawab Keano diplomatis.


Sementara Papa Robert tak langsung buka suara, dan pria paruh baya tersebut tampak menyesap kopinya terlebih dahulu sebelum lanjut melontarkan pertanyaan pada Keano.


"Kau dan Iel masih bersaing, Kean? Atau sudah ada pemenangnya?" Papa Robert menatap serius pada Keano.


"Kami masih bersaing secara sehat, Uncle!" Jawab Keano tegas.


"Lalu kenapa kau tak mengajak Iel kesini juga?" Seloroh Angga seraya terkekeh.


"Aku pikir Iel malah sudah menyampaikan salam perpisahan pada Rossie," ujar Keano sembari mengendikkan kedua bahunya.


"Iel belum kelihatan lagi sejak wisuda Rossie dan Reina waktu itu," terang Papa Robert.


"Iel sedang di luar kota, Pa!"


"Kata Reina, Dad Liam-"


"Maksud Angga Uncle Liam menyuruh Iel ke luar kota untuk mengurus satu hal," tukas Angga memberitahu Papa Robert dan juga Keano.


"Aku malah tidak tahu," ujar Keano menanggapi penjelasan Angga.


"Mungkin lusa Iel baru akan pulang," terang Angga lagi.


"Berarti nanti Rossie sudah pergi, saat Iel pulang. Kau memberitahunya Rossie akan kuliah dimana?" Tanya Papa Robert pada Angga.


"Rossie melarang Angga memberitahu Iel dan Keano, Pa!" Jawab Angga sembari melirik pada Keano yangasoh diam menyimak.


"Kau tahu Rossie akan kuliah dimana, Kean?" Papa Robert ganti bertanya pada Keano.


"Luar negeri," jawab Keano sembari meringis.


"Kota atau negara? Rossie benar-benar tak memberitahumu?" Papa Robert masih memicing pada Keano.


"Soal itu...." Keano meringis, lalu berpikir sejenak. Pemuda itu mendadak bingung mau mengatakan iya atau tidak.


"Rossie melarang Angga memberitahu Keano dan Iel, Pa! Jadi Rossie juga tidak mungkin memberitahu dan Keano pasti juga tidak tahu!" Sergah Angga yang langsung ditanggapi Keano dengan anggukan kepala.


"Rossie kuliah di Eropa, Kean!" Ujar Papa Robert akhirnya memberitahu Keano.


"Swiss?" Jawab Keano sengaja mengarang dan menerka dengan salah.


"Salah!" Sahut Angga cepat seraya terkekeh.


"Belanda, Jerman?" Keano masih sengaja menjawab dengan salah.


"Bukan semua!" Angga semakin tergelak, dan di saat bersamaan, Rossie sudah keluar dari rumah seraya memakai jaket dan sebuah tas selempang yang menyilang di depan dada.


"Mau kemana, Rossie?" Tegur Angga cepat pada sang adik.


"Keluar sebentar, Bang!"


"Bareng Bang Kean," jawab Rossie sembari memainkan tali tasnya.


"Keluar kemana? Kita harus ke airport-".


"Pesawat delay hingga tengah malam, Pa!" Sela Rossie cepat memotong kalimat Papa Robert.


"Hanya keliling kota sebentar, Uncle! Barangkali Rossie ingin menikmati suasana kota dulu, sebelum pergi jauh," tukas Keano turut menjelaskan pada Papa Robert dan Angga.

__ADS_1


"Hanya sebentar, Pa!"


"Boleh, ya!" Pinta Rossie yang sudah ganti menggamit lengan Keano.


"Bagaimana, Angga?" Papa Robert malah bertanya pada Angga.


"Kenapa malah bertanya pada Angga?" Kekeh Angga seraya bangkit dari duduknya. Abang Rossie itu lalu masuk ke rumah, masih sambil tertawa renyah.


"Pa," Pinta Rossie sekali lagi.


"Hanya sebentar?"


"Iya! Rossie janji!" Jawab Rossie cepat.


"Kean-"


"Keano akan menjaga Rossie, Uncle!" Ucap Keano cepat.


"Jangan aneh-aneh dan nanti antar Rossie pulang sampai ke rumah!"


"Sampai disini!" Pesan Papa Robert tegas.


"Iya, Uncle!"


"Rossie jalan-jalan sebentar, Pa!" Pamit Rossie kemudian seraya mencium pipi Papa Robert. Keano juga ikut pamit dan mencium punggung tangan Papa Robert.


"Ayo!" Keano lalu mengulurkan tangannya pada Rossie yang langsung tersenyum dan menyambut tangan Keano.


"Naik motor?" Tanya Rossie setelah ia dan Keano meninggalkan teras.


"Iya! Sesuai permintaan kamu!" Jaeab Keano sembari tersenyum. Rossie sontak menatap lekat wajah Keano serta lesung pipi pria itu yang begitu jelas.


Rossie benar-benar gemas!


****


"Pedes!" Komentar Rossie setelah Keano mengajaknya mampir di penjual wedang ronde yang kebetulan mereka temui.


"Tapi bikin badan hangat," ujar Keano yang langsung membuat Rossie mengangguk.


"Abang mau kacangnya?" Tanya Rossie selanjutnya seraya menyendok kacang sangrai di dalam mangkuknya yang setengah gosong.


"Alergi," jawab Rossie seraya meringis yang langsung membuat Keano membulatkan bibirnya.


"Aku tidak tahu!"


"Taruh di mangkukku saja, dan jangan dimakan!" Titah Keano akhirnya sembari membantu Rossie menyingkirkan kacang dari mangkuk gadis itu.


"Yang ini apa?" Tanya Rossie selanjutnya seraya menunjuk ke potongan kolang-kaling warna putih.


"Kolang-kaling."


"Mau?" Tawar Keano seraya menyodorkan kolang-kaling dari mangkuknya. Rossie refleks membuka mulut dan memberikan kode agar Keano menyuapinya.


"Enak!" Komentar Rossie yang ganti menyendok bola-bola warna merah muda dari mangkuk.


"Rossie!" Keano mencegah dengan cepat.


"Kenapa, Bang? Kok diambil?" Tanya Rossie bingung saat Keano memindahkan bola-bola warna pink tadi dari mangkuknya ke mangkuk Keano.


"Yang ini isi kacang juga. Nanti kamu alergi," terang Keano yang langsung membuat Rossie mengambil kembali bola-bola tadi.


"Ros-"


"Rossie sebenarnya nggak alergi kacang, Bang! Yang tadi kacangnya Rossie kasihin ke Bang Kean karena gosong."


"Makanya Rossie nggak mau," ujar Rossie membuat pengakuan yang langsung membuat Keano tertawa kecil dab geleng-geleng kepala.


"Emmmhhhh! Kenyal!" Komentar Rossie lagi setelah menggigit bola-bola tadi.


"Enak!" Ujar Rossie lagi.


"Mau tambah?" Keano ganti menawarkan bola-bola di mangkuknya, dan Rossie langsung balas tersenyum pada pria tersebut.


"Mau!" Jawab Rossie cepat sembari memindahkan bola-bola warna pink dan hijau tadi dari mangkuk Keano ke mangkuknya sendiri.


"Badan Rossie rasanya jadi hangat, Bang!" Ujar Rossie lagi sambil terus menyesap kuah jahe dari mangkuknya.

__ADS_1


"Nanti kalau sudah di London, pulangnya tiap libur semester? Atau nunggu kuliah selesai sekalian baru pulang?" Tanya Keano setelah kebisuan bebersaat diantara dirinya dan Rossie.


"Masih belum tahu!" Rossie mengendikkan kedua bahunya.


"Memang kenapa? Bang Kean mau mentraktir Rossie wedang ronde lagi?" Tanya Rossie selanjutnya yang langsung membuat Keano tersenyum. Lalu pria itu mengangguk.


"Ya!"


"Baiklah! Nanti Rossie tagih kalau Rossie pulang," tekad Rossie kemudian seraya menatap lekat wajah Keano. Terutama lesung pipi pria itu.


"Pipi Bang Kean bolong gitu nggak sakit, ya?" Tanya Rossie tiba-tiba yang sontak langsung membuat Keano meraba pipinya sendiri.


"Ini!" Rossie akhirnya tak tahan lagi untuk tak melesakkan telunjuknya di lubang pipi Keano.


"Oh!" Keano langsung terkekeh.


"Dapat dari Uncle Abi, ya?" Tanya Rossie lagi.


"Iya!"


"Nanti anak Bang Kean berarti bakal punya juga?" Tanya Rossie menerka-nerka.


"Sepertinya," Keano mengendikkan kedua bahunya.


"Pasti lucu!" Rossie tiba-tiba sudah bertepuk tangan.


"Iya lucu, seperti kamu tapi versi mini, lalu ada lesung pipinya," gumam Keano yang mendadak pikirannya sudah berkelana jauh sekali.


"Halo, Ma?" Ucapan Rossie langsung membuyarkan lamunan Keano tentang dirinya yang menikah dengan Rossie, lalu punya seorang anak yang lucu...


Ya ampun!


"Jalan-jalan aja sama Bang Kean, Ma! Ini diajak minum wedang ronda," ujar Rossie lagi.


"Wedang ronde!" Sergah Keano cepat mengoreksi penyebutan Rossie yang keliru.


"Eh, iya! Maksud Rossie wedang ronde," koreksi Rossie kemudian.


"Kalau sudah selesai langsung pulang, ya! Kita harus ke airport-"


"Mama dan papa berangkat saja! Nanti Rossie langsung ke airport bersama Bang Kean!" Sergah Rossie lagi memaparkan idenya.


"Aku sudah janji untuk mengantarmu pulang ke rumah, Rossie! Bukan langsung ke airport!" Ujar Keano cepat yang langsung tak setuju dengan ide Rossie.


Rossie sontak merengut pada Keano.


"Aku tetap mengantarmu ke airport!" Ujar Keano lagi yang langsung membuat rengutan Rossie berubah menjadi senyuman.


"Rossie!" Panggil Mama Sita dari ujung telepon.


"Iya, Rossie pulang sekarang, Ma! Sampai jumpa di rumah!" Pungkas Rossie akhirnya sembari menutup telepon dari Mama Sita.


"Pulang sekarang?" Tanya Keano sembari menyesap sisa kuah wedang ronde-nya, langsung dari mangkuk. Rossie sontak tertawa kecil menyaksikan tingkah aneh Keano tersebut.


"Iya, Bang! Mama sudah ngomel," jawa Rossie sedikit berkelakar.


"Ayo-" Rossie tak jadi melanjutkan kalimatnya, saat tiba-tiba Keano sudah mengalungkan sebuah kalung di lehernya.


"Pas?" Tanya Keano pada Rossie yang hanya mematung. Namun tangan Rossie sudah meraba kalung pemberian Keano.


"Pas sekali! Apa ini buat Rossie, Bang?" Tanya Rossie kemudian, sembari berbalik dan menatap lekat wajah Keano.


"Yap!" Jawab Keano lirih.


"Yeay!!" Rossie langsung menghambur ke pelukan Keano yang langsung tersenyum sumringah.


"Makasih, Bang!" Ucap Rossie kemudian yang sudah ganti mendongak dan menatap wajah Keano.


Entah mengapa, Rossie betah berlama-lama menatap wajah Keano. Apakah ini yang dinamakan.....


.


.


.


Maaf baru up.

__ADS_1


Ada acara di rumah dari kemarin. Jadi nggak sempat pegang hp.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2