Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
MAU?


__ADS_3

Rossie membuka pintu unit apartemennya dan langsung mempersilahkan Keano untuk masuk ke dalam.


"Tinggal sendiri?" Tanya Keano pada Rossie yang sedang menutup kembali pintu apartemennya.


"Iya!"


"Nggak nyaman saja kalau harus berbagi unit apartemen dengan orang lain, Bang!"


"Meskipun awalnya Mama khawatir, tapi ya begitulah!"


"Rossie keras kepala dan memaksa. Jadi akhirnya mama setuju," terang Rossie panjang lebar yang langsung membuat Keano menggangguk. Keano lalu mengedarkan pandangannya ke dalam apartemen Rossie yang tak terlalu besar. Hanya ada satu kamar di apartemen tersebut, sebuah dapur pribadi, lalu meja panjang di sisi ruangan yang sepertinya dipakai untuk belajar dan sebuah sofa lengkap dengan satu meja di tengah-tengah ruangan yang langsung menghadap ke satu-satunya jendela besar di apartemen tersebut.


"Sudah gelap di luar," gumam Keano serelah melihat ke jendela besar di apartemen Rossie tadi.


"Musim dingin, matahari terbenam pukul lima."


"Kenapa tidak datang saat musim panas?" Tanya Rossie sembari mengajak Keano untuk duduk di sofa. Rossie lalu melepaskan jaket yang tadi ia kenakan, pun dengan Keano yang juga langsung melakukan hal yang sama.


"Aku luangnya sekarang," ujar Keano sembari terkekeh.


Rossie ikut terkekeh dan gadis itu lalu beranjak dari sofa. Rossie menuju ke dapur kecil di apartemennya tersebut, dan Keano masih terus memperhatikan pergerakan Rossie.


"Sekarang sudah bisa memasak?" Tanya Keano penasaran.


Rossie langsung menoleh ke arah Keano sembari mengulas senyuman penuh arti.


"Hanya membuat teh hangat. Semua orang juga bisa melakukannya," ujar Rossie sembari menuangkan air panas dari teko pemanas ke dalam dua mug beda qarna di atas meja.


"Atau Bang Kean mau kopi?" Rossie sudah menoleh dan menatap ke arah Keano yang ternyata sejak tadi terus memperhatikan dirinya.


"Teh saja," jawab Keano cepat yang langsung membuat Rossie mengangguk. Suara denting sendok yang bertemu dengan mug porselen saat Rossie mengaduk teh, memecah kebisuan di antara Rossie dan Keano.


Rossie sudah kembali ke sofa sembari membawa dua mug teh yang masih mengepulkan asap, lalu mengangsurkan mug berwarna putih pada Keano.


"Silahkan!" Ucap Rossie yang langsung membuat Keano tertawa kecil. Rossie lalu kembali duduk di sofa di samping Keano, dan sedikit meniup teh di cangkirnya, sebelum mulai menyesapnya.


"Bang Kean kapan tiba?" Tanya Rossie kemudian sembari memutar kepalanya ke arah Keano karena gadis itu yang merasa diperhatikan sejak tadi. Dan benar saja! Keano memang sedang memperhatikan Rossie yang menyesap tehnya.


"Kapan datang?" Rossie mengulangi pertanyaannya, sembari mengubah posisi duduknya. Gadis itu sudah menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, lalu menekuk lutut, dan punggungnya bersandar ke lengan sofa. Jadilah sekarang, posisi duduk Rossie menghadap ke Keano yang masih intens menatapnya.


"Baru saja sebenarnya," ujar Keano menjawab pertanyaan Rossie. Pria itu lalu menyesap tehnya, dan sedikit meringis.


"Kenapa, Bang?"


"Kamu pakai berapa sendok gula tadi?" Tanya Keano yang kembali menyesap tehnya lagi, namun hanya sedikit.

__ADS_1


"Kenapa memang?" Rossie langsung menarik tangan Keano yang masih memegang cangkir teh ke depan bibirnya, lalu gadis itu mencicipi teh buatannya sendiri.


"Manis sekali!" Komentar Rossie to the point yang ikut-ikutan meringis seperti Keano tadi. Keano sontak tertawa.


"Padahal teh Rossie manisnya pas," ujar Rossie sembari menyesap teh di cangkirnya sendiri.


"Grogi mungkin pas buat yang ini," kekeh Keano sembari bangkit dari duduknya, lalu pergi ke dapur mini Rossie. Keano membuka kitchen set dan mengambil satu cangkir baru, lalu menuang setengah tehnya tadi ke cangkir lain, sebelum lanjut menuangkan air ke kedua cangkir di hadapannya tersebut.


"Kenapa tidak dibuang saja?" Tanya Rossie yang sudah menyusul Keano ke dapur.


"Kau sudah membuatnya dengan susah payah tadi, jadi aku harus menghabiskan keduanya-"


"Apaan susah payah!" Rossie tiba-tiba sudah mencubit pinggang Keano, hingga membuat pria di depannya tersebut meringis dan sedikit kegelian.


"Cuma bikin teh," lanjut Rossie lagi.


"Lagipula, apa Abang nanti tidak kembung, kalau minum dua cangkir teh?" Ujar Rossie lagi sedikit khawatir.


"Tidak!" Jawab Keano yakin. Keano sudah menyesap teh di cangkir pertama hingga tandas yang tentu saja langsung membuat Rossie terheran-heran.


"Kalau makan beli terus?" Tanya Keano selanjutnya setelah memindai dapur mini Rossie yang begitu rapi, bersih, dan sepertinya tidak pernah dipakai juga.


"Nggak juga, Bang! Kalau pagi sarapan roti selai atau sereal, Rossie membuat sendiri," jawab Rossie sembari menunjukkan toples berisi sereal yang baru saja ia ambil dari dalam kitchen set.


"Kau sudah makan malam tadi?" Tanya Keano selanjutnya seraya mengubah posisi duduknya menjadi seperti Rossie. Kini Rossie dan Keano duduk berhadap-hadapan di satu sofa yang sama.


"Sudah. Abang sendiri?"


"Sudah juga. Tadi saat baru sampai di hotel-"


"Abang menginap di hotel mana?" Sela Rossie memotong jawaban Keano.


"Tidak terlalu jauh. Hanya dua blok dari sini," jawab Keano yang langsung membuat Rossie membulatkan bibirnya.


"Tadinya Rossie pikir Abang Kean mau menginap disini," seloroh Rossie kemudian yang langsung membuat Keano tertawa kecil.


"Kamar dan ranjangnya cuma satu. Masa iya kita tidur satu ranjang," sahut Keano ikut-ikutan berkelakar.


"Kan bisa tidur di sofa," ujar Rossie sedikit bergumam. Gadis itu masih menatap lekat wajah Keano seolah begitu kagum....


"Sudah punya pacar?" Tanya Keano yang kini juga sedang menatap lekat wajah Rossie.


"Entahlah!" Rossie mengendikkan kedua bahunya dan sesikit salah tingkah.


"Itu tadi sebuah pertanyaan?" Tanya Rossie kemudian yang sontak membuat Keano tertawa kecil. Rossie refleks mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Keano yang berlubang.

__ADS_1


"Tertawa terus, Bang! Agar lesung pipinya tidak hilang," Pinta Rossie yang masih memainkan jarinya di lesung pipi Keano.


"Nanti malah dikira sinting kalau aku tertawa terus," seloroh Keano ya g sontak membuat Rossie tergelak.


"Lagipula, kenapa sepertinya kau begitu menyukai lesung pipiku?"


"Karena aku tidak punya," jawab Rossie to the point.


"Aku berikan untukmu kalau begitu!" Keano membuat gerakan seolah sedang memindahkan lesung pipinya ke pipi Rossie. Tentu saja tindakan Keano tersebut sukses mengundang gelak tawa Rossie.


"Dua-duanya, Bang!" Pinta Rossie di sela-sela tawa gadis itu.


"Baiklah!" .


"Dua-duanya untukmu!" Keano terus memindahkan lesung pipinya ke pipi Rossie memakai dua tangan. Hingga akhirnya tangan Keano berhenti dan sudah menangkup wajah Rossie. Tatapan dua sejoli itu kemudian saling beradu di dalam keheningan apartemen Rossie.


"Aku boleh tanya satu hal?" Tanya Keano memecah kebisuan.


"Ya! Tanya saja," jawab Rossie tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Keano.


"Kau sudah punya pacar?" Raut wajah Keano sudah berubah serius.


"Belum....."


"Tapi ada seseorang...." Rossie menjeda kalimatnya dan menatap lekat wajah Keano.


"Seseorang?"


"Dengan dua lubang di pipinya." Rossie mengulas senyum penuh arti pada Keano.


"Kau mau jadi pacarku, Aura Rossie Hadinata?" Tanya Keano akhirnya yang langsung to the point menembak Rossie, sembari menyatukan keningnya dengan kening Rossie.


Senyuman lenar langsung merekah di bibir Rossie bersamaan dengan anggukan dari gadis dua puluh empat tahun tersebut.


"Ya!"


"Aku mau!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2