
"Jadi minggu depan Reina sudah ujian skripsi?"
"Iya, Pa!"
Rossie baru bergabung ke meja makan untuk sarapan, saat obrolan Papa Robert dan Abang Angga tak sengaja mampir di telinganya.
"Cepat juga Reina mengerjakan skripsi," puji Mama Sita ikut menimpali.
"Skripsi Kak Reina sudah selesai, Bang?" Tanya Rossie yang langsung buka suara.
"Sudah!" Jawab Angga cepat.
"Wow!" Rossie langsung berdecak kagum.
"Skripsimu juga pasti akan segera selesai, Ros!" Tukas Mama Sita memberikan semangat untuk Rossie.
"Baru juga mulai, Ma," kekeh Rossie sembari meletakkan sepotong roti di atas piringnya.
"Kok baru mulai?" Tanya Angga mengernyit.
"Kemarin ganti judul, Bang," ungkap Rossie sembari meringis. Angga langsung geleng-geleng kepala.
"Kak Reina nggak lanjut kuliahnya, Bang? Dengar-dengar mau langsung kerja di kantor Papa?" Tanya Rossie selanjutnya pada sang Abang.
"Angga yang keberatan sepertinya kalau Reina lanjut kuliah," kekeh Papa Robert sedikit menggoda sang putra.
"Papa!"
"Reina sendiri yang tidak mau!" Kilah Angga cepat.
"Iya karena kamu iming-imingi terus agar segera kerja di kantor, lalu kalian bisa sering bertemu," sahut papa Robert tetap menggoda Angga.
"Seperti Papa tidak pernah bucin pada Mama saja!" Angga balas meledek dan Rossie serta mama Sita kompak tertawa.
"Kak Reina jadi sekretaris Abang Angga, ya?" Tanya Rossie menebak.
"Bukan!" Sergah Angga cepat.
"Reina di divisi keuangan agar tidak diganggu Angga terus." Gantian Papa Robert yang menjawab.
"Angga lagi!"
"Padahal yang bucin itu Reina!" Gumam Angga mencari pembenaran.
"Abang nggak bucin?" Tanya Rossie usil.
"Sedikit. Reina yang lebih banyak," jawab Angga cepat.
"Terserah siapa yang bucin, yang terpenting kau dan Reina tahu batasan dan jangan sampai melakukan hal yang melanggar norma, sebelum kalian sah menikah," nasehat Mama Sita bijak.
"Iya, Ma! Angga selalu ingat nasehat Mama."
"Kenapa nggak langsung nikah, Bang?" Tanya Rossie kepo.
"Kau mau menikah dengan Fairel, memang?" Angga balik bertanya dan Rossie seketika langsung tersedak roti yang baru ia kunyah.
"Uhuuk! Uhuuk!"
"Uhuuk! Uhuuuk!"
"Rossie, pelan-pelan!" Mama Sita mengusap lembut punggung Rossie yang kini sedang meneguk minumannya.
"Kau juga Angga! Kenapa mendadak mengucapkan kalimat seperti itu pada Rossie!" Mama Sita ganti menegur Angga dan sedikit memelototi putra sulungnya tersebut.
"Angga tidak serius, Ma!"
"Maaf!" Ringis Angga merasa bersalah.
"Apa Fairel menentang hubunganmu dengan Reina?" Tanya Papa Robert menerka-nerka.
"Bukan menentang, Pa! Tapi lebih ke belum merestui," terang Angga.
"Fairel tidak mau dilangkahi oleh Reina, dan dia juga mengajukan syarat kalau Angga dan Reina ingin menikah, maka Fairel juga harus menikah dengan Rossie terlebih dahulu," sambung Angga lagi yang kembali membuat Rossie terbatuk-batuk.
"Rossie masih mau lanjut kuliah, Bang!" ucap Rossie dengan nada tegas.
"Iya, Abang tahu, Rossie!" Jawab Angga cepat.
"Dan perihal siapa yang kelak akan menjadi suami Rossie, itu adalah sepenuhnya hak Rossie untuk memilih. Kenapa Fairel harus memaksakan kehendak seperti itu?" Timpal Mama Sita dengan nada tidak senang.
"Sudah! Tidak perlu dianggap serius atau terlalu dipikirkan, Ma!" Tukas Papa Robert menengahi.
"Mungkin itu hanya keinginan sesaat Fairel yang sedang tergila-gila pada Rossie sekarang," ujar Papa Robert lagi sedikit melirik pada Rossie yang sedang menggigit potongan rotinya yang terakhir.
__ADS_1
Tak berselang lama, maid datang menghampiri keluarga yang sedang menikmati sarapan tersebut.
"Nona Rossie, ada Pak Keano di depan dan katanya mau menjemput Nona Rossie," ucap maid yang langsung membuat Rossie bergegas membersihkan remahan roti di pahanya.
"Iya, Mbak!" Jawab Rossie yang sudah ganti meraih susu di hadapannya. Rossie meneguk susu itu dengan sedikit tergesa.
"Pelan-pelan, Rossie!" Mama Sita mengingatkan sang putri dengan lembut.
Selesai meneguk susunya hingga tandas, Rossie lalu berpamitan pada Mama Sita, Papa Robert, dan Abang Angga.
"Keano menjemput atas inisiatif sendiri atau kau yang meminta?" Tanya Abang Angga sedikit mengernyit curiga.
"Rossie yang minta," jawab Rossie setelah gadis itu diam untuk beberapa saat.
"Tapi hanya hari ini dan tidak setiap hari," tukas Rossie lagi sebelum akhirnya gadis itu benar-benar pergi dan meninggalkan ruang makan.
"Hati-hati, Rossie!" Seru Mama Sita pada Rossie yang sudah berlalu pergi.
"Keano anaknya lebih kalem, meskipun ia juga sedang mengejar-ngejar Rossie."
"Sikapnya juga tidak berlebihan," pendapat Mama Sita memecah kebisuan, sekaligus membereskan sisa sarapan Rossie.
"Jadi ketimbang Fairel, Mama lebih memilih Keano sebagai calon menantu, begitu?" Seloroh Papa Robert yang hanya membuat Angga tersenyum tipis.
"Mama tidak memilih yang mana atau siapa! Mama hanya mengungkapkan pendapat Mama, Pa!"
"Siapapun yang nanti jadi suami Rossie dan menantu Mama, biarlah menjadi keputusan Rossie sendiri untuk menentukan."
"Menikah dipaksa dan dijodohkan itu tidak enak!" Pungkas Mama Sita sebelum kemudian wanita paruh baya itu menghilang ke arah dapur.
"Sedang curhat pengalaman pribadi sepertinya," cibir Papa Robert sedikit bergumam. Sedangkan Angga tak berkomentar apa-apa dan pria itu memilih untuk melanjutkan sarapannya dalam diam.
****
"Pagi," sapa Keano pada Rossie yang baru keluar dari dalam rumah, seraya menenteng sebuah tas selempang di pundak sebelah kanan.
"Pagi, Bang!"
"Sudah siap?" Tanya Keano lagi dan Rossie langsung mengangguk. Keano lalu membukakan pintu mobil warna putih yang sebenarnya juga jarang Rossie lihat. Tadinya Rossie pikir Keano akan menjemput Rossie memakai motor yang sering Keano bawa ke Resto itu.
"Pakai sabuk pengamannya!" Titah Keano yang sudah ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Rossie yang hendak menarik sabuk pengaman sedikit kesulitan.
"Macet," gumam Rossie masih berusaha.
"Maaf, permisi!" Keano akhirnya membantu Rossie dan sedikit mencondongkan tubuhnya di depan Rossie. Aroma khas dan semerbak dari Keano langsung menguar dan memenuhi indera penciuman Rossie.
"Sering macet begini memang."
"Mungkin karena mobilnya juga jarang dipakai," ujar Keano yang sudah sekesai memasangkan sabuk pengaman Rossie.
"Kenapa tidak menjemput naik motor saja, Bang?" Tanya Rossie bersamaan dengan Keano yang sudah melajukan mobil keluar dari kediaman Hadinata.
"Biar kamu nggak kepanasan atau terkena debu, polusi."
"Asap kendaraan," ujar Keano memaparkan alasan dan Rossie malah tertawa kecil.
"Kok malah tertawa?" Tanya Keano bingung.
"Iya tadinya Rossie pikir, abang bakal jemput naik motor, begitu!"
"Tapi malah naik mobil," tukas Rossie kembali tertawa kecil.
"Oh, begitu!"
"Memang tidak apa-apa kamu naik motor?" Tanya Keano sambil sesekali menoleh pada Rossie.
"Tidak apa-apa, Bang! Rossie kan bukan gadis manja!"
"Baiklah! Nanti yang selanjutnya kita naik motor," ucap Keano akhirnya.
"Yang selanjutnya?" Rossie langsung menoleh ke arah Keano dan menatap lekat wajah yang kini sedang fokus pada jalan di depannya.
"Yang selanjutnya, misalkan kau minta dijemput lagi," ujar Keano memperjelas kalimat sebelumnya, sembari tersenyum dan menatap sekilas pada Rossie. Kedua lesung pipi Keano langsung jelas terlihat dan membuat Rossie mendadak menjadi gemas.
Gemas ingin mencoleknya sedikit!
"Lihatin apa, Ros? Ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Keano yang rupanya sadar kalau Rossie sedang menatapnya dengan lekat.
"Nggak ada, Bang!" Jawab Rossie cepat sembari kembali mengalihkan tatapannya ke arah depan mobil. Lalu lintas sudah mulai padat sekarang dan laju mobil Keano juga sedikit tersendat.
"Aduh!" Gumam Keano sembari melirik arlojinya.
"Sedang buru-buru, Bang?" Tanya Rossie saat melihat Keano yang mendadak berubah gelisah.
__ADS_1
"Takut kamu telat masuk ke kelas," jawab Keano sembari melihat arlojinya lagi.
"Oh!"
"Kelasnya masih jam sembilan, Bang!" Ujar Rossie yang langsung membuat Keano menatap ke arah gadis itu.
"Kemarin Rossie salah lihat jadwal. Maaf, Bang!" Ucap Rossie lagi seraya meringis dan Keano hanya geleng-geleng kepala lalu tersenyum.
"Tidak apa!" Ujar Keano sambil kembali menginjak pedal gas karena lalu lintas yang tersendat akhirnya mulai bergerak.
"Memang paling enak naik motor kalau pagi begini," ucap Keano memecah kebisuan di antara dirinya dan Rossie.
"Bisa selap-selip," lanjut Keano lagi yang langsung diiyakan oleh Rossie.
Setelah hampir satu jam berjibaku dengan kemacetan, mobik Keano akhirnya tuba di kampus Rossie.
"Aku antar sampai dalam, ya! Kelas kamu di gedung yang lama atau yang baru?" Tanya Keano sembari membelokkan mobilnya masuk ke dalam gerbang utama masuk.
"Gedung baru, Bang!" Jawab Rossie cepat.
"Abang kok hafal?" Tanya Rossie lagi sedikit bingung.
"Aku dulu kuliah disini juga," jawab Keano membuat pengakuan. Rossie langsung membulatkan bibirnya bersamaan dengan mobil yang sudah berhenti dibarea parkir di dekat gedung baru.
"Sudah sampai!" Keano hendak membantu melepaskan sabuk pengaman Rossie, namun tangan Rossie juga sudah bergerak ke arah sana. Jadilah tangan Keano dan Rossie saling bertabrakan dan bersentuhan.
"Eh, maaf!" Ucap Keano yang langsung cepat-cepat menyingkirkan tangannya. Sementara Rossie hanya tertunduk sekaligus tersipu. Gadis itu sudah selesai melepaskan sabuk pengamannya, bersamaan dengan Keano yang rupanya sudah turun duluan dan membukakan pintu mobil untuk Rossie.
Ya ampun!
"Wah! Diantar pacar kamu, Ros!" Seru Karen saat Rossie baru turun dari mobil Keano.
"Iya!" Jawab Rossie yang langsung mendekatkan tubuhnya sedikitvke arah Keano, karena dari kejauhan, Bisma terlihat sedang menatap tak senang pada Rossie dan Keano.
"Pagi, Bang Kean!" Karen ganti menyapa Keano.
"Pagi, Karen!"
"Ayo ke kelas, Ros!" Ajak Karen kemudian pada Rossie yang malah menggenggam tangan Keano.
Tentu saja hal itu sedikit membuat Keano bingung.
"Ada Bisma!" Rossie berbisik pada Keano, sembari menunjuk Bisma yang masih menatap tak senang ke arah Rossie dan Keano.
Keano langsung mengusap wajah Rossie dan menangkupnya sebentar.
"Nanti pulang aku jemput," ucap Keano yang sukses membuat Rossie mematung.
"Duh, Bang Kean! Sweet banget!" Sorak Karen seraya tertawa lepas.
"Pulang jam berapa?" Tanya Keano lagi pada Rossie yang masih mematung.
"Jam-"
"Jam dua," jawab Rossie sedikit tergagap.
"Jam dua?" Keano memastikan lagi.
"Jam dua belas," Rossie mengoreksi meskipun masih tergagap.
"Jam dua belas!" Keano terkekeh dan mengusap wajah Rossie sekali lagi.
"Sudah, Bang! Aku LDR-an ini sama pacarku!" Seloroh Karen yang langsung membuat Keano menyingkirkan tangannya dari wajah Rossie.
"Sana ke kelas!" Titah Keano selanjutnya pada Rossie yang wajahnya sedikit bersemu merah. Rossie lalu langsung menggeret tangan Karen dan mengajak temannya itu masuk ke dalam gedung kampus.
Sementara Keano langsung geleng-geleng kepala, setelah Rossie tak terlihat lagi.
"Aku yang baper malahan," gumam Keano sembari mencium aroma Rossie yang masih tertinggal sedikit di tangannya. Keano tertawa kecil dan segera masuk ke dalam mobil.
Namun saat Keano baru menyalakan mesin mobilnya, seseorang mendadak memukul kaca jendela mobil Keano.
Ya, itu adalah Bisma!
Pemuda itu terlihat menatap sengit ke arah Keano yang balik menatapnya dengan tajam. Bisma masih sempat mengacungkan jari tengahnya pada Keano sebelum pemuda itu berlalu pergi.
"Pemuda brengsek! Bagus, Rossie menjauhinya," gumam Keano sembari melajukan mobilnya keluar dari area parkir. Keano akan langsung menuju ke B&D Resto.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.