
"Sudah sampai, Tuan putri!" Ucap Keano yang baru saja membukakan pintu mobil untuk Rossie yang masih saja duduk manis dan belum melepaskan sabuk pengaman.
Ck!
Apa Keano juga yang harus melakukannya?
Keano akhirnya membungkuk dan membantu melepaskan sabuk pengaman Rossie.
"Terima kasih, Bang!" Ucap Rossie dengan nada manja dan menggoda.
"Aku langsung pulang, ya!" Pamit Keano kemudian.
"Sebentar!" Cegah Rossie yang sudah dengan cepat menahan lengan Keano.
"Abang masih hutang sesuatu pada Rossie," tukas Rossie lagi.
"Hutang apa?" Keani refleks langsung mengernyit bingung.
"Password ponsel Bang Kean!" Tangan Rossie sudah dengan cepat meraba saku celana Keano, samping kiri kanan, lalu saku belakang.
"Rossie!" Geram Keano yang hampir berhasil menghindar.
Hampir berhasil!
Berarti memang tak berhasil karena kini Rossie malah sudah menyusupkan tangannya ke saku depan Keano bagian kanan. Sepertinya Rossie sudah berhasil menemukan keberadaan ponsel Keano.
"Dapat!" Rossie mengacungkan ponsel Keano yang kini sudah berada di tangannya.
"Jadi, password-nya apa, Bang?" Tanya Rossie selanjutnya yang sepertinya penasaran sekali.
"Tanggal lahir seseorang," jawab Keano sama persis seperti jawabannya tadi.
"Iya, tanggal lahir siapa?masa iya tanggal lahir aku!" Tangan Rossie bergerak cepat untuk mengetikkan tanggal lahirnya di layar ponsel Keano.
Dan Voila!!
Ponsel langsung terbuka!
"Ck!" Rossie langsung memukul pundak Keano yang malah tertawa terbahak-bahak.
"Apa, sih?" Tanya Keano tanpa raut berdosa.
"Bucin!" Cibir Rossie kemudian yang langsung membuat Keano menangkup gemas wajah gadis di depannya tersebut.
"Sama seperti kamu, kan?" Tukas Keano dengan ekspresi wajah gemas.
"Lepas, Bang!" Ucap Rossie tak terlalu jelas karena kedua pipinya yang masih ditangkup oleh Keano.
Namun bukannya langsung melepaskan tangkupannya pada wajah Rossie, Keano malah memandangi wajah kekasihnya itu dengan lekat.
"Bang!" Rossie sudah mengangkat tangannya dan mengibaskannya di depan wajah Keano.
__ADS_1
"Ya!" Keano sedikit tergagap, lalu buru-buru melepaskan tangannya dari wajah Rossie.
"Kenapa? Jatuh cinta, ya?" Goda Rossie kemudian sedikit usil.
"Iya!" Jawab Keano jujur.
Keano lalu menoleh ke kiri dan ke kanan seolah sedang melohat situasi.
"Cari apa?" Tanya Rossie penasaran.
"Cari...." Keano menatap aneh pada Rossie, lalu pria itu kembali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan sekali lagi.
"Cari apa?" Tanya Rossie lagi.
"Cari ini!" Jawab Keano yang tiba-tiba sudah menangkup wajah Rossie lagi. Lalu dalam hitungan detik bibir Keano sidah mengecup bibir Rossie.
Rossie yang awalnya kaget, langsung bisa mengendalikan diri sedetik kemudian. Gadis itu bahkan tak canggung membalas cecapan bibir Keano di bibirnya.
"Sudah cukup!" Ucap Keano yang terlebih dahulu melepaskan pagutannya pada Rossie.
"Masuk sana!" Titah Keano selanjutnya seraya mengusap puncak kepala Rossie.
"Senyum dulu!" Pinta Rossie yang sudah ganti mengulurkan tangannya ke wajah Keano,lalu sedikit memainkan jarinya di pipi kekasihnya tersebut.
"Mmmmm," Keano masih menahan senyumnya.
"Cepat, Bang!" Desak Rossie yang kini sudah ganti menusuk-nusuk pipi Keano hingga membuat Keano tak tahan lagi untuk tak tertawa.
"Gemess!" Gumam Rossie kemudian seraya memainkan telunjuknya di dalam lesung pipi Keano.
"Sudah!"
"Sudah malam!" Keano mengingatkan sekali lagi karena sekarang memang sudah lewat tengah malam.
"Baiklah!"
"Besok lagi!" Rengut Rossie akhirnya sebelum kemudian gadus itu berjinjit dan mencium pipi Keano cukup lama.
"Selamat malam, Bang Kean!" Pamit Rossie kemudian seraya berlari meninggalkan Keano yang kini sudah mengusap-usap pipinya sendiri.
****
"Saya sungguh-sungguh mencintai Rossie," Keano menatap sejenak pada Rossie yang kini tertunduk malu.
Entah benar-benar malu atau hanya pura-pura malu, satu hal yang pasti wajah gadis itu begitu lucu menggemaskan.
"Kean! Lanjutkan!" Papi Abi menyenggol pundak Keano seolah memberikan kode pada sang putra yang malah terpana dengan kecantikan Rossie dan tak melanjutkan kalimat lamarannya pada Papa Robert.
"Saya sungguh-sungguh mencintai Rossie dan saya ingin serius menjadi pendamping hidup untuk Rossie, Uncle!" Ucap Keano akhirnya dengan suara lantang dan tegas.
Papa Robert hanya mengangguk dan tak langsung menjawab. Papa kandung Rossie itu tampak berpikir untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Begini, Keano!" Ujar Papa Robert yang akhirnya angkat bicara.
"Uncle tak menolak lamaranmu untuk Rossie. Tapi sebenarnya, Uncle merasa kalau ini terlalu cepat."
"Uncle masih ingin Rossie berkarier dulu sebelum menikah, karena Uncle sydah mempersiapkan sebuah pekerjaan penting untuk Rossie." Papa Robert menatap serius pada Keano.
"Keano tak akan menghalangi Rossie berkarier dan mengabdi di perusahaan Hadinata ke depannya nanti, Uncle!"
"Keano akan memberikan kebebasan pada Rossie apa kah dia mau berkarier atau menjadi ibu rumah tangga saja. Keanontak akan mengekang Rossie, dan Keano juga sudah pernah membahas hal ini bersama Rossie sebelumnya," tutur Keano panjang lebar sambil sesekali melirik pada Rossie yang rupanya sedang menatap lekat ke arah Keano.
"Begitu, ya?" Papa Robert ganti mengusap-usap dagunya sendiri.
"Apa ini juga alasanmu memilih Keano, Ros?" Tanya Papa Robert kemudian dengan suara lantang pada Rossie yang wajahnya langsung memerah. Gadus itu kembali tertunduk malu.
"Bagaimana, Ma?" Papa Robert ganti meminta pendapat pada Mama Sita.
"Apanya yang bagaimana? Rossie dan Keano sudah sama-sama saling mencintai, Rob!"
"Jadi daripada-"
"Mereka melakukan hal-hal yang tak diinginkan. Lebih baik kita nikahkan secepatnya saja!" Sergah Mami Anne cepat memotong kalimat Mama Sita.
"Mi!" Desis Keano merasa geregetan pada Mami Anne yang selalu ceplas ceplos dan to the point.
"Mami sedang membantumu! Jadi diam!" Mami Anne memperingatkan Keano dengan tajam. Putra tunggal Mami Anne dan Papi Abi itu kemudian langsung berdecak.
"Mi! Jangan kekanakan!" Sekarang gantian papi Abi yang menegur sang istri. Terang saja perdebatan kecil di keluarga Abian itu langsung membuat Papa Robert dan Mama Sita tertawa kecil.
"Sudah, Mi! Pi!"
"Malu pada Uncle Robert!" Keano akhirnya mebengahi perdebatan Mami Anne dan Papi Abi yang bisa-bisanya malah berdebat di acara lamaran Keano.
"Jadi, apa sekarang kita sudah bisa membahas tentang kapan pertunangan Rossie dan Keano akan diselenggarakan, Pak Abi dan Bu Anne?" Tanya Papa Robert kemudian dengan suara lantang, yang seketika langsung menghentikan perdebatan Papi Abi dan Mami Anne.
"Sudah!" Jawab Papi Abi cepat.
"Maaf menyela, Uncle!" Keano kembali buka suara.
"Ada apa, Kean?"
" Sebenarnya, Keano dan Rossie tak ada rencana untuk bertunangan dan kami akan langsung menikah saja, Uncle!" ujar Keano yang langsung membuat semuanya terdiam. Pun dengan Rossie yang malah semakin menundukkan wajahnya.
Apa Keano salah bicara?
"Bagaimana, Mama dan Mami?" Tanya Papa Robert kemudian menatap bergantian pada Mama Sita dan Mami Anne. Dua wanita parah baya itu lalu saling melempar pandang.
"Tinggal tentukan saja harinya." Mama Sita akhirnya buka suara terlebih dahulu.
"Lalu kami yang akan mengurus semuanya!" Sambung Mami Anne yang langsung membuat Keano bernafas lega, dan Rossie yang langsung tersenyum bahagia.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.