
"Rossie!" Panggil Mama Sita sembari mengetuk pintu kamar Rossie. Tak berselang lama,pintu sudah dibuka oleh samg empunya kamar, yang ternyata masih mengenakan piyama.
"Iya, Ma!" Jawab Reina sembari mengucek kedua matanya secara bergantian
"Baru bangun?"
"Semalam tidak bisa tidur, Ma!" Ujar Rossie beralasan. Gadis itu kembali masuk ke kamar, lalu duduk di tepi temoat tidur dan meraih satu bantal kesayangannya.
"Mama kok sudah rapi? Mau pergi?" Tanya Rossie selanjutnya yang menyadari tentang penampilan Mama Sita yangvsudah mengenalan blouse serta celana kain panjang, seperti saat mama kandung Rossie itu hendak pergi keluar.
"Mama mau mengajak kamu ke rumah Reina."
"Tadi malam juga kan Reina tidak datang ke acara ulang tahun kamu karena kata Iel sedang sakit."
"Makamya Mama mau kesana," ujar Mama Rossie panjang lebat dengab raut wakah yang terlihat khawatir.
"Sekalian mau meluruskan tentang kesalahpahaman di toko Beth kemarin, ya?" Tanya Rossie sedikit menerka-nerka.
Kemarin saat Rossie dan Mama Sita sedang berada di toko kue Beth, Kak Reina memang mendadak datang dan seolah sedang marah melihat keakraban Mama Sita, Rossie, dan juga Beth. Kak Reina bahkan mengira kalau Beth adalah selingkuhan Abang Angga.
Konyol!
Sejak dulu, hubungan Abang Angga dan Beth itu kan hanya lebih ke arah kakak beradik. Sama seperti halnya Rossie dan Abang Timmy.
"Iya, yang itu juga."
"Mama tidak mau kesalahpahaman Reina semakin berlarut. Jadi sebaiknya kita ke rumah Reina sekarang," tukas Mama Sita selanjutnya yang langsung membuat Rossie berpikir sejenak.
Kalau Rossie ke rumah Kak Reina, otomatis akan ada Abang Fairel nanti. Rossie sebenarnya masih malas bertemu Abangnya Kak Reina itu sejak kejadian aneh tadi malam.
"Rossie harus ikut juga, Ma?" Tanya Rossie akhirnya menatap ragu pada Mama Sita.
"Iya, tentu saja, Rossie!" Mama Sita mulai geregetan sekarang.
"Tapi Rossie belum mandi, Ma!" Tukas Rossie beralasan.
"Iya makanya kamu buruan siap-siap! Mama tunggu di sini!" Ujar Mama Sita yang langsung mendaratkan bokongnya si samping Rossie.
"Tapi Rossie mandinya lama, Ma! Belum nanti harus dandan-" Rossie tak melanjutkan kalimatnya karena mendadak Mama Sita yang malah menatap tajam ke arah Rossie.
"Baiklah, Rossie mandi tidak lama, kok, Ma!" Ringis Rossie akhirnya seraya bangkit berdiri, lalu langsung masuk le dalam kamar mandi. Mama Sita hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Rossie tadi.
****
"Iel belum turun?" Tanya Dad Liam pada Mom Yumi yang sedang merapikan dasi pria paruh baya tersebut.
"Sudah berangkat tadi pagi-pagi. Katanya ada meeting pagi," ujar Mom Yumi sekaligus memastikan.
"Iya."
"Biasanya anak itu akan malas-malasan atau datang terlambat. Tumben hari ini berangkat pagi-pagi," gumam Dad Liam sedikit bingung.
"Mungkin karena patah hati," jawab Mom Yumi sembari berlalu dari hadapan Dad Liam.
"Jadi, Iel sudah tahu semuanya?" Tanya Dad Liam yang stdah menyusul Mom Yumi.
"Kalau dilihat dari ekspresi wajah Iel pagi ini, sepertinya memang begitu." Mom Yumi mengendikkan kedua bahunya.
"Tapi memang lebih baik kalau Iel mengetahui segalanay agar ia juga berhenti mengejar Rossie dan tak bersikap seperti orang gila lagi," ujar Mom Yumi kemudian.
__ADS_1
"Iel pasti akan mendapatkan gadis yang baik satu hari nanti," imbuh Mom Yumi lagi penuh harap.
"Seperti aku yang mendapatkan kau!" Timpal Dad Liam sembari merangkul kedua pundak Mom Yumi.
"Ck! Sudah pagi," bisik Mom Yumi sedikit menyikut perut Dad Liam.
"Lalu kenapa kalau sudah pagi? Dulu Reina dan Iel juga kita produksi saat pagi hari," sergah Dad Liam yang pikirannya selalu saja mengarah ke sana.
"Mesum!"
"Pergi ke kantor sana! Katanya ada meeting pagi!" Usir Mom Yumi selanjutnya yang langsung membuat Dad Liam merengut.
"Satu ciuman dulu!" Dad Liam sudah memonyongkan bibirnya ke arah Mom Yumi.
"Ck! Nanti ada yang lihat!" Tolak Mom Yumi merasa malu.
Malu pada umur maksudnya!
"Siapa yang lihat? Iel sudah pergi dan Reina juga belum bangun sepertinya."
"Reina tak ke kantor, ya?" Tanya Dad Lian yang sepertinya lupa dengan permintaannya tadi dan malah ganti membahas Reina.
"Tadi malam bilangnya tidak enak badan. Mungkin masih belum sehat."
"Aku akan memeriksanya-"
"Aaakkhhh! Liam--" Jeritan Mom Yumi langsung dibungkam oleh bibir Dad Liam. Cukup lama pasangan paruh baya itu saling memagut, hingga akhirnya dering ponsel Dad Liam mengakhiri pagutan mereka.
"Ck! Liaaam!!" Geram Mom Yumi kemudian yang hanya membuat Dad Liam terkekeh tanpa dosa.
"Meskipun sudah hampir tiga puluh tahun, tapi rasanya terap tak berubah."
"Halo!"
"Ya! Aku sudah OTW ke kantor!" Dad Liam berbicara sembari berjalan ke arah mobilnya yang sudah siap sedia di drpan teras. Sementara Mom Yumi mengekori Dad Liam dan membawakan tas yang lupa Dad Liam bawa.
"Aku pergi dulu, Istriku yang chubby!"
"Bye!" Dad Liam hendak mencium bibir Mom Yumi lagi, namun dengan cepat ditahan oleh Mom Yumi.
"Hati-hati!" Pesan Mom Yumi sembari memberikan kode kalau ada maid, security, dan sopir di sekeliling mereka.
"Baiklah! Kita lanjut nanti malam!" Pungkas Dad Liam seraya masuk ke dalam mobil.
Tak berselang lama, mobil Dad Liam sudah melaju meninggalkan kediaman Halley.
Mom Yumi baru saja akan masuk lagi ke dalam rumah dan memeriksa Reina, saat sebuah mobil masuk ke halaman rumah Halley. Mom Yumi akhirnya mengurungkan langkahnya dan menunggu siapa yang datang bertamu pagi-pagi begini.
"Pagi, Yum!" Sapa Mama Sita yang turun dari pintu belakang. Tak berselang lama, Rossie ikut turun dan menyapa Mom Yumi juga. Setelah sedikit berbasa-basi dan menyampaikan maksud kedatangan Mama Sita dan Rossie ke kediaman Halley, tiga wanita itu lalu masuk ke rumah dan segera menuju ke kamar Reina di lantai atas.
****
Halley Development
"Pak Fairel, maaf!"
"Ada yang mencari anda," lapor resepsionis saat Fairel hendak pergi makan siang. Resepsionis lalu menunjuk ke arah seseorang yang duduk di sofa yang ada di lobi.
Cepolan rambut serta baju kodok yang dikenakan seseorang yang Fairel yakini berjenis kelamin perempuan itu mendadak mengingatkan Fairel oada seseorang...
__ADS_1
Yang menyebalkan...
Yang tadi malam membuat Fairel gagal melamar Rossie.
"Sedang apa disini?" Bentak Fairel galak yang langsung membuat Beth menoleh ke arah Fairel.
"Siang, Pak!"
"Maaf mengganggu." Beth menyapa Fairel sekaligus menunjukkan ekspresi wajah yang membuat Fairel kesal.
Sepertinya seumur hidup Fairel akan kesal pada gadis bernama Beth ini!
"Sedang apa kau disini?" Tanya Fairel sekali lagi tetap dengan nada membentak.
"Aku hanya ingin mengembalikan bajumu," ucap Beth kemudian seraya menyodorkan sebuah paperbag pada Fairel.
Fairel bergegas memeriksa paperbag tersebut, sebelum kemudian pria itu mendelik tajam.pada Beth.
"Jadi tadi malam kau yang mencuri bajuku, hah?"
"Aku tak mencurinya!" Sergah Beth membela diri.
"Aku hanya mencucinya demi menebus rasa bersalahku karena sudah membuatmu kepleset dan jatuh ke kolam," ujar Beth lagi pada Fairel yang kini sibuk membuka celana panjang yang semalam pria itu kenakan sebelum terjun ke kolam. Sepertinya Fairel sedang mencari sesuatu.
"Kau mencari ini?" Tanya Beth kemudian sembari menyodorkan kotak cincin yang seharusnya Fairel berikan pada Rossie semalam.
Seharusnya?
Lalu Rossie akan langsung menolak Fairel karena gadis itu sudah berpacaran dengan Keano.
"Keano brengsek!" Maki Fairel kesal yang langsung menyambar dengan kasar kotak cincin dari tangan Beth.
"Kosong! Tidak ada isinya saat aku temukan," ujar Beth cepat saat Fairel sudah mengambil ancang-ancang untuk memarahinya.
"Kau yang mengambilnya, kan?" Tuduh Fairel cepat seraya menuding pada Beth.
"Sama sekali tidak!" Sergah Beth menyangkal.
"Kembalikan cincinnya sekarang!" Bentak Fairel lagi yang langsung menbuat Beth beringsut mundur.
"Aku benar-benar tak tahu cincinnya dimana karena kotak itu sudah kosong-"
"Jangan bohong!" Fairel sudah mencengkeram kedua pundak Beth dan mengguncangnya juga, hingga membuat gadis itu berekspresi ketakutan.
"Iel! Kau sedang apa?" Tegur Ryan yang langsung membuat Fairel melepaskan cengkeramannya di pundak Beth.
Beth tak berkata sepatah katapun dan gadis itu sudah langsung pergi dari hadapan Fairel dan juga dari Halley Development.
"Kau kenapa barusan? Gadis itu terlihat ketakutan," cecar Ryan yang sama sekali tak dijawab oleh Fairel.
Fairel langsung memberikan paperbag berisi bajunya tadi debgan lasar pada Ryan, sebelum pria itu berlalu pergi le arah yang sama dengan Beth tadi.
"Dasar aneh!" Gumam Ryan merasa heran.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.