
"Beth!" Sapa Rossie pada Beth yang juga hadir di pernikahan Abang Angga. Namun wajah Beth terlihat murung dan tak se-ceria biasanya. Ada apa?
"Bang Timmy mana?" Tanya Rossie kemudian yang tak melihat keberadaan dari abang Beth tersebut. Meskipun sebenarnya Abang Timmy memang jarang menampakkan diri.
"Tidak datang karena sedang di luar kota," jawab Beth sembari meringis.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rossie selanjutnya sedikit cemas.
"Ya!" Jawab Beth cepat. Beth lalu terlihat mengarahkan pandangannya pada seseorang.
"Aku pergi dulu, Rossie!" Pamit Beth kemudian seraya berlalu dan menghampiri seseorang yang berjalan ke sudut ruangan.
"Iel!" Masih bisa Rossie dengar saat Beth memanggil Fairel yang langsung menoleh ke arah Beth. Namun hanya sebentar Fairel menggubris Beth, karena pria itu langsung melanjutkan langkahnya lagi seolah tak peduli pada Beth.
"Mereka berdua kenapa, ya?" Gumam Rossie terheran-heran.
"Sepertinya lucu juga kalau Abang Fairel dan Beth jadian," gumam Rossie lagi bersamaan dengan lampu ruangan yang tiba-tiba sudah meredup. Rossie langsung menatap pada sekitar dan akhirnya menyadari kalau sesi dansa akan segera dimulai.
Tapi Keano masih juga belum datang. Ck! Menyebalkan!
Rossie akhirnya sedikit menepi, dan berusaha menghubungi Keano untuk memastikan kapan calon suaminya itu akan datang. Rossie juga ingin berdansa seperti pasangan lain sekarang!
"Sendirian saja?" Sapa seseorang yang mendadak menghampiri Rossie.
"Kai!" Pekik Rossie yang langsung memeluk pemuda di hadapannya tersebut.
"Kapan datang, hah?" Tanya Rossie selanjutnya seraya meninju perut pemuda yang ia panggil Kai tersebut.
"Sopan sedikit! Aku lebih tua!" Ucap Kai yang tak terima ditinju oleh Rossie.
"Tapi aku tetap adalah kakakmu!" Ledek Rossie yang hanya membuat Kai berdecak.
"Mana Om Dyrtha, Tante Mizty, lalu Kaithlyn?" Rossie menengok ke kiri dan ke kanan lalu ke kiri lagi mencari keluarga Om Dyrtha yang merupakan adik dari Mama Sita sekaligus sepupu Papa Robert.
Baiklah, ini membingungkan!
Tapi berdasarkan penjelasan Opa, Om Dyrtha dan Mama Sita adalah saudara satu ayah beda ibu. Sedangkan Om Dyrtha sendiri juga merupakan anak dari adik Opa, yang berarti masih sepupunya Papa Robert.
Hhhh!
Terserah saja!
"Nanti juga ketemu!"
"Ayo dansa daripada nganggur!" Ajak Kai kemudian sambil sedikit menyeret Rossie ke area dansa
"Ck! Pelan-pelan, Kai!" Protes Rossie sembari memukul lengan sepupunya yang jarang ia jumpai tersebut. Keluarga Om Dyrtha memang tinggal dan menetap di luar kota.
"Masih manja!" Cibir Kai yang sudah mulai mengajak Rossie berdansa.
"Sudah punya pacar jadinya?" Tanya Kai selanjutnya yang selalu saja kepo.
"Pacar? Calon suami, dong!" Jawab Rossie pamer
"Luar biasa!"
"Pria bodoh mana yang mau menjadikanmu istri? Aku penasaran-"
"Sialan!" Omel Rossie yang kembali memukul lengan Kai. Sepupu Rossie itu hanya tergelak.
"Ngomong-ngomong, calon suamimu tingginya sekitar seratus delapan puluh centi?" Tanya Kai lagi.
"Sepertinya," jawab Rossie sedikit berpikir.
__ADS_1
"Oke!"
"Rambutnya bagaimana?" Tanya Kai lagi.
"Hitamlah!" Jawab Rossie seraya berdecak.
"Kenapa tanya-tanya mendetail begitu?" Rossie balik bertanya heran.
"Aku tebak, calon suamimu punya lesung pipi," ujar Kai lagi yang langsung membuat Rossie menatap penuh tanya pada sang sepupu.
"Aku benar, kan?" Kai menaikturunkan alisnya ke arah Rossie.
"Kau sudah pernah bertemu Bang Kean?" Tanya Rossie bingung.
"Belum! Hanya saja, sekarang Bang Kean-mu itu sedang menatap tak senang kesini." Kalimat Kai langsung membuat Rossie refleks menoleh ke belakang tempatnya berdiri. Dan benar saja, Keano memang sudah berada beberapa meter di belakang Rossie dan raut wajahnya terlihat cemburu.
"Mmmuuah! I love you, Rossie!" Kai tiba-tiba malah mencium kening Rossie sekarang yang sontak langsung membuat Rossie mendelik pada sepupunya tersebut.
"Kai!!"
"Bye!" Ucap Kai kemudian tanpa dosa, sembari ngacir pergi. Sementara Rossie kembali menatap pada Keano yang raut wajahnya sudah tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.
Sial!
"Bang Kean!" Rossie buru-buru menghampiri Keano yang sudah berbalik dan hendak pergi.
"Bang!" Rossie langsung meraih lengan Keano dan menggamitnya dengan erat.
"Bang, itu tadi sepupu Rossie!" Ucap Rossie cepat mencoba menjelaskan pada Keano yang ekspresi wajahnya hanya datar.
Selama menjadi pacar Keano sepertinya Rossie belum pernah melihat Keano marah. Apa memang seperti ini ekspresi Keano saat marah?
"Bang!" Rossie masih menatap pada wajah Keano yang tetap datar.
"Itu tadi beneran sepupu aku, Bang! Namanya Kaindra, anaknya Om Dyrtha dan Tante Mizty yang tinggal di luar kota," jelas Rossie selengkap-lengkapnya agar Keano tak salah paham.
"Sepupu tapi cium-cium kening?" Keano akhirnya buka suara dan tangan pria itu sudah mengusap kening Rossie yang tadi dicium oleh Kai.
"Usil memang si Kai."
"Bang Kean masih marah?" Tanya Rossie lagi yang masih menatap lekat wajah Keano.
"Siapa yang marah?" Keano balik menatap pada Rossie yang langsung tersenyum.
"Geer!" Keano ganti memencet hidung Rossie.
"Auuuww!" Ringis Rossie manja.
"Aku belum bertemu Bang Angga dan Rei-"
"Kak Reina," koreksi Rossie cepat.
"Iya, Bang Angga dan Kak Reina," ujar Keano mengulangi kalimatnya.
"Ayo Rossie antar!" Ajak Rossie yang semakin mengeratkan gamitanmya pada tangan Keano. Dua sejoli itu lalu menghampiri Reina dan Angga yang sekarang sudah mengobrol bersama Mami Anne.
Perasaan Keano mendadak tak enak. Jangan-jangan Mami sudah membocorkan informasi pernikahan Keano dan Rossie.
"Itu mereka!" Ujar Mami Anne yang wajahnya begitu sumringah.
"Calon pengantin juga," celetuk Angga menimpali kata-kata Mami Anne tadi. Berbeda dengan Reina yang ekspresinya tampak terkejut.
"Apa hanya aku yang benar-benar tidak tahu kalau Rossie dan Keano sudah lama jadian?" Tanya Reina yang masih terlihat bingung.
__ADS_1
"Mungkin karena Kak Reina terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan Kak Reina dan Abang Angga," ujar Rossie mengira-ngira.
"Atau sibuk memikirkan perasaan seseorang-"
"Angga!" Reina langsung menyela dan menyikut perut Angga.
"Bercanda!" Seloroh Angga kemudian sembari merangkul Reina.
"Berarti soal pertanyaanku tadi di kamar, kau lupakan saja, Rossie!" Tukas Reina kemudian pada Rossie yang hanya mengangguk.
"Pertanyaan apa?" Bisik Keano kepo.
"Pertanyaan-"
"Bukan apa-apa!" Potong Reina cepat menyela penjelasan Rossie pada Keano.
"Pertanyaan tentang hubungan Rossie dan Abang Iel?" Keano akhirnya menebak sendiri.
Reina langsung menghela nafas.
"Aku pikir Rossie belum menentukan pilihannya dan masih memberi kesempatan pada Bang Iel."
"Tapi sekarang aku tahu kenapa Bang Iel uring-uringan terus sejak hari pertunanganku dan Angga waktu itu."
"Dan soal Bang Iel yang juga tiba-tiba menentukan hari pernikahanku secara sepihak, pasti juga karena Bang Iel sedang patah hati mengetahui hubungan kalian," tutur Reina panjang lebar.
"Aku sudah bicara pada Bang Iel kemarin, Rei!" Sergah Keano kemudian.
"Iel harusnya berlapang dada dengan keputusan Rossie yang lebih memilih Keano ketimbang dirinya," timpal Mami Anne ikut berpendapat.
"Lagipula, Iel juga tampan dan pasti Iel akan mendapatkan wanita yang memang sebanding dengannya," imbuh Mami Anne lagi.
"Beth misalnya!" Sahut Rossie asal yang langsung membuat semua orang menatap ke arah gadis itu termasuk Reina yang tampak shock.
"Beth?"
"Maksudmu Bethany yang punya toko kue itu?" Tanya Reina tak senang.
Sepertinya kecemburuan Reina pada Bethany karena kesalahpahaman tempo hari masih berlanjut.
"Maaf, Kak! Rossie hanya bercanda," ringis Rossie seraya mengibarkan bendera perdamaian.
"Beth gadis yang baik, kok!" Pendapat Angga yang langsung berhadiah delikan dari Reina.
"Bang, tidak usah menabuh genderang perang!" Desis Rossie memperingatkan sang abang.
"Pasti ada gadis lain yang lebih baik untuk Banag Iel selain Beth!"
"Nanti aku yang akan mencarikan!" Sergah Reina yang sepertinya anti sekali pada Beth.
"Sempat memang, Rei? Nggak honeymoon?" Ledek Keano mencoba mencairkan suasana.
"Iya honeymoon iya mencarikan jodoh buat Bang Iel nanti," jawab Reina sekenanya.
Semuanya lantas tertawa dengan jawaban Reina barusan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1