
"Kean!" Sapa Randu pada Keano yang baru tiba di B&D Resto. Keano menghentikan langkahnya sejenak dan balik menatap pada mantan tunangan pura-pura Kea tersebut.
"Hai! Sedang makan siang?" Keano berbasa-basi pada Randu dan juga seorang pria yang duduk bersama Randu. Keano tahu yang itu namanya Haezel dan dia juga adalah keponakan dari Aunty Audrey. Tapi Keano memang hanya sebatas tahu saja dan tidak terlalu kenal.
"Iya!"
"Rasa masakan disini tidak ada duanya," ujar Randu memuji.
"Bukan karena yang memasak adalah Lea, kan?" Sergah Haezel yang sepertinya sedang menyindir Randu.
"Memangnya, mentang-mentang Lea adalah kepala koki, lalu dia yang memasak semua hidangan?" Randu menatap penuh tanya pada Keano.
"Sebenarnya tidak! Ada tim koki di dapur dan mereka punya bagian masing-masing. Lea biasanya hanya mengawasi dan memastikan stok bahan serta makanan yang akan disajikan pada tamu sudah sesuai," terang Keano panjang lebar yang langsung membuat Randu balik mencibir pada Haezel. Mungkin tak lama lagi, dua detektif itu akan saling baku hantam.
"Oh ya, Randu. Ngomong-ngomong, kau sudah tahu tentang pernikahan Lea yang-"
"Ya aku sudah tahu!" Sergah Randu cepat memotong kalimat Keano yang belum selesai.
"Tapi sayangnya aku tidak mendapat undangan," ujar Randu lagi sedikitnya curhat.
"Sebaiknya kau memang tidak usah datang, sekalipun kau diundang, Randu!" Sergah Haezel menatap tegas pada Randu yang hanya nyengir kuda.
"Pernikahan Lea-"
"Keano!"
Keano belum selesai memberitahu Randu tentang pernikahan Lea yang batal, saat Papi Abi tiba-tiba sudah memanggil.
"Keano, kemarilah!" Panggil Papi Abi lagi.
Keano akhirnya tak jadi memberitahu Randu dan pria itu memilih untuk langsung pamit pada Randu dan juga Haezel.
****
"Jadi berangkat hari ini?" Tanya Keano pada Rossie di ujung telepon. Keano memang sedang menelepon Rossie sembari memeriksa laporan kinerja para karyawan.
"Jadi, Bang!"
"Nanti Bang Kean ikut ke airport, kan?"
"Iya!" Jawab Keano cepat sembari tersenyum.
"Jam berapa?" Tanya Keano lagi.
"Jam sepuluh take off. Jadi mungkin jam delapan Rossie, Mama, dan Papa sudah di airport."
"Nanti Rossie telepon lagi."
"Baiklah, aku tunggu!" Jawab Keano yang masih terus tersenyum sendiri.
"Nanti...."
"Nanti kenapa?" Tanya Keano karena Rossie yang tak melanjutkan kalimatnya.
"Nanti kalau Rossie disana, masih boleh telepon Bang Kean seperti ini?"
"Boleh! Video call juga boleh. Aku akan dengan senang hati mengangkat." Jawab Keano to the point.
"Kalau curhat?"
"Curhat misalnya kamu dapat pacar baru disana, gitu, ya?" Seloroh Keano sedikit berkelakar. Meskipun dalam hati Keano merasa tak rela Rossie punya pacar baru.
Biar Keano saja yang menjadi pacar Rossie.
"Boleh, Bang?"
"Apanya? Tentu saja boleh!" Jawab Keano cepat yang tadi sempat melamun beberapa saat.
"Baiklah!"
Sejenak, Keano dan Rossie sama-sama diam seolah tak ada bahan obrolan lagi.
"Kean!" Pintu ruangan Keano mendadak dibuka dari luar oleh Papi Abi.
"Ada apa, Pi?"
"Kau sebaiknya melihat ini," ujar Papi Abi seraya memberikan kode agar Keano keluar dari ruangannya. Sementara Keano buru-buru pamit pada Rossie yang masih tersambung di telepon.
"Rossie, aku tutup dulu teleponnya, ya! Ada sesuatu yang penting."
__ADS_1
"Iya, Bang! Nanti Rossie kabari kalau sudah mau ke airport."
"Oke! Bye!"
"Bye, Bang Kean!"
Tuut tuut!
Telepon terputus. Keano langsung menyusul Papi Abi yang ternyata masih berdiri di depan ruangannya.
"Rossie?" Papi Abi mengernyit pada Keano.
"Sudah telpon-telponan, ya? Apa Iel tahu?" Cecar Papi Abi kepo.
"Kata Mami curang sedikit tidak apa-apa, Pi! Jadi...." Keano tersenyum penuh arti pada Papi Abi.
"Lanjutkan kalau begitu!" Ujar Papi Abi kemudian seraya menepuk punggung Keano. Ayah dan anak itu lalu langsung menuju ke dapur restorant, dimana Lea sedang terjadi kekacauan.
****
Keano melirik ke arlojinya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih tiga puluh menit. Pria itu lalu ganti melihat ke layar ponselnya, barangkali Rossie sudah mengirim pesan.
Belum ada pesan juga!
Keano menyimpan kembali ponselnya dan memutuskan untuk pulang dulu saja, sebelum lanjut mengantar Rossie ke airport.
"Keano!" Panggil Kea tiba-tiba saat Keano hendak keluar dari Resto. Keano refleks menghentikan langkah, lalu berbalik dan menghampiri Lea yang wajahnya masih terlihat muram.
Tadi memang sedikit terjadi kekacauan di dapur karena Lea yang sepertinya sedang tak fokus bekerja. Pekerjaan gadis itu benar-benar payah beberapa hari ini.
Mungkin ada hubungannya juga dengan pernikahan Lea yang mendadak batal.
"Hai. Sudah lebih baik?" Keano sedikit berbasa-basi sebelum kemudian pria itu lanjut mengajak Lea untuk duduk di salah satu meja yang ada di dalam Resto.
"Sedikit," jawab Lea lirih.
"Aku turut prihatin atas batalnya-"
"Tidak usah dibahas!" Sela Lea cepat memotong kalimat Keano.
"Baiklah, maaf!" Ucap Keano lirih bersamaan dengan ponselnya yang mendadak berdering. Keano segera mengeluarkan benda pipih persegi tersebut dari dalam saku.
"Sebentar!" Keano melihat sekilas nama yang tertera di layar, dan bibir Keano refleks bergumam.
Apa Rossie sudah ke airport?
Tapi Lea sepertinya ingin bicara hal penting. Tidak mungkin Keano meninggalkan sepupunya ini begitu saja.
"Kau angkat saja dulu! Aku akan duduk disini dan menunggu," ujar Lea akhirnya menjawab kebimbangan Keano.
"Baiklah, sebentar!" Pamit Keano kemudian, seraya neranjak dan sedikit menjauh dari Lea.
"Halo, Rossie!" Sapa Keano cepat.
"Bang! Sudah pulang? Atau masih di resto?"
"Masih di resto," jawab Keano.
"Oh!"
"Nanti jadi antar ke airport?"
"Jadi. Atau sekarang kamu sudah ke airport?" Keano balik bertanya pada Rossie.
"Masih di rumah, Bang!"
"Barusan juga dapat info kalau pesawatnya delay. Mungkin tengah malam baru take off."
"Abang masih sibuk, ya?"
"Hanya sedang mengobrol bersama Lea. Kebetulan resto juga sudah mau tutup," jelas Keano.
"Oh!"
"Kenapa, sih?" Tanya Keano merasa penasaran karena sepertinya Rossie ingin menyampaikan sesuatu namun merasa sungkan.
"Nggak apa-apa, Bang!"
"Mau keliling kota dulu naik motor, sebelum berangkat?" Tawar Keano akhirnya yang mungkin saja sesuai dengan isi pikiran Rossie.
__ADS_1
"Satu jam cukup?"
"Lebih dari cukup! Nanti aku jemput, ya! Aku selesaikan dulu pembicaraanku dengan Lea," jawab Keano seraya berjanji pada Rossie.
"Oke!"
"Rossie tutup dulu teleponnya, Bang! Bye!"
"Bye!" Jawab Keano bersamaan dengan telepon Rossie yang sudah tertutup. Keano tersenyum sendiri sebelum pria itu kembali menghampiri Lea yang ternyata masih menunggunya. Sepertinya Lea benar-benar ingin menyampaikan hal penting.
"Maaf, menunggu lama!"
"Jadi, kau tadi ingin bicara apa?" Tanya Keano to the point.
"Aku minta maaf sebelumnya karena belum bisa mengembalikan uangmu yang kemarin," ucap Lea seraya menundukkan wajahnya.
Ya, beberapa minggu yang lalu Lea memang meminjam uang pada Keano dengan alasan untuk membayar DP Wedding Organizer Aunty Audrey. Uang yang Keano pinjamkan tersebut sebenarnya juga adalah tabungan Keano untuk menikah saat dirinya sudah menemukan belahan jiwanya kelak.
"Santai saja! Aku belum terlalu butuh." Ujar Keano dengan nada santai.
Benar-benar santai karena Keano memang belum akan menikah dalam waktu dekat. Bukankah Rossie masih mau lanjut S2?
Eh, memang tambatan hati Keano adalah Rossie?
Semoga saja!
"Dan satu hal lagi, Kean..." Lea terlihat ragu saat mengatakannya.
"Satu hal apa?" .
"Aku boleh pinjam lagi uangmu lima juta?" Ucap Lea sembari meringis. Sepertinya gadis itu benar-benar sungkan pada Keano.
"Kau bisa mengambil gajiku bulan depan sebagai gantinya-"
"Kau akan memberikannya pada Rayyen lagi?" Sela Keano cepat memotong kalimat Lea. Keano tak akan meminjami Lea uang lagi kalau gadis itu masih menghambur-hamburkan uangnya untuk sang pacar yang doyan kabur dan tidak serius itu!
Sepertinya Rayyen Rayyen itu memang niat sekali memporoti uang Lea.
"Bukan!" Sergah Lea cepat.
"Maksudku tidak!" Lea mengulangi jawabannya.
"Aku ingin menenangkan diri ke suatu tempat, dan aku butuh uang pegangan."
"Aku tak punya uang sepeserpun di dalam rekeningku." Lea mulai curhat dan wajah gadis itu tampak memelas.
Sementara Keano tentu saja langsung mengernyit penuh tanya mendengar kalimat Lea yang katanya mau pergi menenangkan diri. Lea mau kemana?
"Kau mau kemana, Lea? Lusa Ryan menikah."
"Aku tak akan datang." Suara Lea terdengar lirih.
"Aku hanya ingin menenangkan diri," lanjut Lea lagi.
"Menenangkan diri kemana?" Tanya Keano sekali lagi dengan nada tegas.
"Kemana saja asal bukan di kota ini!" Lea menyeka airmatanya sendiri.
Keano lalu menghela nafas, dan mengulurkan tangannya untuk menepuk punggung sepupunya tersebut.
"Kau akan pamit pada Aunty Thalia dan Uncle Daniel?" Tanya Keano lagi dan Lea langsung menggeleng.
"Mereka bahkan tak peduli lagu padaku. Mereka sudah marah dan kecewa kepadaku." Airmata Lea kembali berlinang.
"Kau harus pamit, Lea!" Nasehat Keano yang kembali menepuk punggung Lea.
"Nanti aku akan menelepon jika sudah sampai," ujar Lea seraya menyeka airmatanya. Keano tak menasehati lagi dan oria itu hanya menghela nafas.
"Mau ditransfer kemana uangnya?" Tanya Keano akhirnya.
Ya, meskipun tindakan Lea ini tak bisa dibenarkan sepenuhnya, tapi mungkin Lea memang sedang butuh waktu untuk sendiri di tempat asing.
"Aku minta cash saja!" Jawab Lea cepat.
"Baiklah! Kita ke ATM dulu," ujar Keano yang langsung membuat Lea mengangguk setuju. Dua sepupu itupun segera meninggalkan B&D Resto bersama-sama.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.