
"Jangan lupa pesan Papi tadi, Kean!" Pesan Papi sekali lagi pada Keano yang sudah meraih gagang pintu ruangannya.
"Iya, Pi!"
"Besok Kean akan mengurus semuanya," janji Keano yang langsung membuat Papi Abi mengacungkan ibu jarinya ke arah Keano.
"Kau tidak pulang, Kean?" Tanya Papi Ani saat Keano hampir membuka pintu ruangannya.
"Papi duluan saja! Nanti Keano menyusul," jawab Keano seraya meringis. Papi Abi sontak langsung mengernyit curiga.
"Kau menyembunyikan sesuatu di ruanganmu?" Papi Abi menuding pada Keano.
"Jangan bilang kalau Rossie-"
"Keano akan mengantar Rossie pulang dulu, Pi!" Sergah Keano cepat membuag pengakuan yang langsung membuat Papi Abi berdecak.
"Jangan melakukan hal-hal yang melanggar norma, Kean!"
"Dan antar Rossie pulang sebelum tengah malam!" Pesan Papi Abi tegas sebelum pria itu berlalu pergi.
"Iya, Pi!" Jawab Keano sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sementara Papi Abi sudah tak terlihat lagi, dan Keano langsung mendorong pintu ruangannya. Ada Rossie yang duduk di sofa sembari menelepon seseorang.
Sepertinya!
"Iya, Ma! Nanti Abang Kean yang mengantar Rossie pulang!" Ucap Rossie yang ternyata memang benar sesang menelepon seseorang atau Mama Sita lebih tepatnya.
"Bye!" Pungkas Rossie kemudian yang rupanya sudah selesai menelepon Mama Sita. Rossie lalu menyimpan ponselnya, dan ganti menghampiri Keano yang masih berdiri di dekat pintu.
"Mau pulang sekarang? Mama sudah telepon, kan?" Tanya Keano sembari menatap Rossie yang terus mendekat ke arahnya. Hanya dalam hitungan detik, Rossie sudah memeluk Keano, lalu menutup pintu ruangan juga.
"Ross-"
"Mama hanya telepon dan tidak menyuruhku untuk segera pulang, Bang!" Ungkap Rossie yang kini sudah ganti mendongakkan kepalanya, lalu menatap wajah Keano cukup lama. Gadis itu kemudian tersenyum....
"Kenapa?" Tanya Keano sembari mencolek hidung Rossie.
"Abang Kean ganteng," ucap Rossie yang te tentu saja langsung membuat Keano tertawa kecil. Dua lesung pipi yang terbentuk di pipi Keano langsung membuat Rossie genas dan tak tahan lagi untuk menyentuhnya.
"Kau sedang merayuku atau bagaimana sebenarnya?" Tanya Keano selanjutnya masih sambil tertawa kecil.
"Kalau iya kenapa? Abang Kean jatuh cinta dengan rayuanku?" Cecar Rossie yang malah balik menanyai Keano.
"Mmmmm bagaimana, ya?"
"Jawab iya, Bang!" Paksa Rossie yang kini sudah ganti mengalungkan kedua lengannya di leher Keano.
"Sebentar..."
"Ck! Bang Kean!!" Rengek Rossie manja, sembari gadis itu menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Keano. Keano lalu mengusap-usap punggung serta kepala Rossie, dan cukup lama pasangan kekasih itu saling diam.
"Ayo pulang!" Ajak Keano kemudian memecah kebisuan.
"Sebentar," jawab Rossie tanpa mengangkat wajahnya.
"Ayo duduk kalau begitu. Pegal juga pelukan sambil berdiri begini," ajak Keano lagi sambil sedikit berseloroh yang tentu saja langsung membuat Rossie memukul dada kekasihnya tersebut.
"Aku serius, Rossie!" Keano mengusap kepala Rossie sekali lagi, lalu mengecup puncaknya.
Rossie akhirnya mengangkat kepala dan menatap ke dalam wajah Keano.
"Gendong!" Pinta Rossie dengan nada manja.
"Sofanya disana dan hanya berjarak sekitar lima langkah..." Keano tersenyum tipis mendapati wajah cemberut Rossie.
"Iya, baiklah!" Keano akhirnya mengalah, dan mengangkat tubuh Rossie ala brusal,lalu membawa gadis itu ke sofa yang memang hanya berjarak lima langkah.
"Aduh!" Pekik Keano saat di langkahnya yang terakhir dan hampir mencapai sofa, dengkulnya malah terantuk sudut meja. Terang saja hal itu langsung membuat Keano sedikit hilang keseimbangan, dan tak sengaja membanting tubuh Rossie ke atas sofa, lalu menindih gadis itu juga.
Rossie dan Keano yang kini wajahnya saling berdekatan, hanya sama-sama diam dan sama-sama menatap satu sama lain. Keano yang terlebih dahulu mendekatkan wajahnua pada Rossie, dan semakin memangkas jarak yang ada.
Sementara Rossie susah memejamkan mata, dan menunggu momen selanjutnya saat hembusan nafas Keano semakin dekat....
Cup!
Rossie terdiam sejenak, ketika hangatnya bibir Keano mendarat sekilas di bibirnya. Gadis itu lalu membuka kedua matanya dan memastikan apa benar Keano tadi menciumnya sekilas.
Wajah Keano masih berjarak begitu dekat dengan wajahnya, dan kini pria itu sedang tersenyum pada Rossie.
"Bang..." Rossie mengangkat satu tangannya, lalu mengusap bibir Keano memakai jarinya.
"Ma-" permintaan maaf Keano langsung terbungkam oleh kecupan Rossie yang tiba-tiba. Keano yang tadinya tak berniat melakukan first kiss pada Rossie, akhirnya tak tahan juga dan sedikit mel*mat bibir gadis yang masih berada di bawahnya tersebut.
"Sorry!" Ucap Keano cepat yang buru-buru melepaskan tautan bibirnya dan bibir Rossie, setelah lum*tan beberapa detik tadi.
Namun bukannya marah, Rossie malah tersenyum pada Keano sembari mengalungkan kedua lengannya di leher kekasihnya tersebut.
"Kita pulang tiga puluh menit lagi, Bang!" Ucap Rossie yang kini sudah menyusupkan kepalanya di dekapan Keano.
__ADS_1
Keano sendiri tak lagi menindih Rossie sekarang, dan pria itu sudah ganti berbaring di sofa, sembari mendekap tubuh Rossie yang posisinya membelakangi Keano.
"Memangnya, mau apa selama tiga puluh menit?" Tanya Keano kemudian sembari mengecup puncak kepala Rossie, lalu turun ke telinga gadus itu dan membuatnya sedikit menggeliat.
"Mau begini saja." Rossie mengusap tangan Keano yang kini melingkar di pinggangnya.
"Bang Kean pernah punya pacar sebelum Rossie?" Tanya Rossie kemudian setelah keheningan beberapa saat.
"Tidak sepertinya. Sejak dulu yang aku keja-kejar kan hanya kamu," jawab Keano sembari tertawa kecil. Rossie ikut tertawa kecil, sebelum kemudian gadis itu meringis.
"Aduh!" .
"Ada apa?" Tanya Keano sigap yang langsung memeriksa leher di bawah telinga Rossie, yang tadi membuat gadis itu meringis.
"Seperti digigit semut," Rossie masih meringis sementara Keano masih mencari-cari semut yang tadi dimaksud oleh Rossie.
Keano menyibak rambut Rossie, lalu menelusuri setiap centi dari leher putih nan jenjang milik Rossie. Sesaat, Keano menjadi terpana dan pria itu harus menelan salivanya, saat aroma tubuh Rossie yang khas menguar di dalam indera penciuman Keano.
Keano lalu mendekatkan hidungnya ke leher belakang Rossie untuk mencium aroma khas Rossie itu dengan lebih dekat.
"Bang..." Rossie menggeliat saat merasakan hembusan nafas Keano di tengkuk serta lehernya. Genggaman tangan Rossie pada tangan Keano juga menguat.
"Keano hanya tersenyum, lalu mengecup singkat tengkuk Rossie, sebelum merapikan kembali rambut kekasihnya tersebut.
"Ayo pulang!" Ajak Keano sekali lagi sembari mencium puncak kepala Rossie.
"Semutnya sudah ketemu? Leher Rossie sakit, Bang!" Keluh Rossie sembari menggaruk lehernya di bawah telinga. Keano buru-buru mencegah tindakan Rossie tersebut namun terlambat.
"Rossie...." Keano berdecak saat mendapati leher putih Rossie yang kini memerah.
"Gatel," ringis Rossie sambil kembali mencoba menggaruknya lagi. Namun Keano sigap mencegah kali ini.
"Aku ambil minyak kayu putih dulu,", ujar Keano sembari memaksa Rossie untuk bangun, agar Keano juga bisa bangun. Keano langsung beranjak untuk mengambil minyak kayu putih, sementara Rossie kembali meringis dan menggaruk lehernya lagi.
"Rossie!" Tegur Keano ya g langsung dengan cepat mencegah, namun terlambat. Leher di bawah telinga Rossie sekarang sudah memerah.
"Ck! Jadi berbekas, kan!" Gerutu Keano yang langsung mengusapkan minyak kayu putih di kulit yang memerah tadi.
"Jadi seperti bekas cip*kan," gumam Keano yang masih mengusap-usap leher Rossie.
"Apa, Bang?" Tanya Rossie yang rupanya sedikit mendengar gumaman Keano.
"Bukan apa-apa!"
"Sudah, jangan digaruk!" Pesan Keano sembari membenarkan rakbut Rossie dan menutupi bekas gigitan semut nakal tadi.
"Kenapa ditutup?" Rossie mengernyit curiga.
"Bisa dikira habis aku gigit kalau ada yang lihat nanti," jawab Keano seraya berkelakar.
"Abang Kean suka menggigit juga memangnya?" Tanya Rossie memancing.
"Tentu saja tidak! Aku kan bukan semut," jawab Keano masih sambil terkekeh.
"Dasar!" Rossie refleks memukul pundak Keano.
"Ayo pulang!" Ajak Keano sekali lagi sembari meraih tangan Rossie dan membantu gadis itu agar bangkit berdiri.
Rossie tak menolak lagi dan segera bangkit berdiri, lali menggamit lengan Keano.
"Nanti jangan digaruk-garuk lagi!" Pesan Keano yang hanya membuat Rossie mengangguk. Pasangan kekasih itu lalu keluar dari ruangan Keano dan juga dari B&D Resto yang sudah sepi.
****
"Hhhhh!" Fairel memukul roda kemudi mobilnya, sebelum kemudian pria itu lanjut menyandarkan kepalanya di atas stir. Kepala Fairel mendadak sedikit pening karena hatinya yang kini sedang patah.
Benar-benar patah!
Karena Rossie yang ternyata lebih memilih Keano ketimbang Fairel!
Tapi sebelum janur kuning melengkung, bukankah Fairel masih punya kesempatan?
Setelah cukup lama menyandarkan kepala di atas kemudi, Fairel yang sejak tadi memang sudah tiba di kediaman Halley, lanjut membuka pintu mobil, dan turun dari dalam kendaraan roda empat tersebut.
Baru saja Fairel turun, tatapan mata pria itu sudah langsung tertumbuk ke arah mobil Angga yang terparkir rapi di halaman kediaman Halley.
"Sedang apa Angga malam-malam disini?" Gumam Fairel bertanya pada dirinya sendiri, sembari kedua matanya melihat ke jarum jam di arlojinya.
"Tidak bisa dibiarkan!" Fairel langsung masuk ke kediaman Halley dengan cepat, dan pria itu bergegas naikke lantai dua dimana kamar Reina berada.
"Aku akan melakukan penggrebekan!" Ucap Fairel geram, sebelum pria itu mendorong pintu kamar Reina dengan kasar, hingga pintu menjeblak terbuka dan membuat dua sejoli yang tengah berpelukan di dalam selimut menjadi kaget.
Hhhh!
Fairel benar kan!
Untung Fairel memergoki tepat waktu.
"Kalian sedang apa, hah?" Gertak Fairel seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
"Apa, sih, Bang! Lebay!" Decak Reina yang sepertinya langsung kesal karena mommen mesumnya bersama Qngga kena grebek Fairel.
"Kau!" Fairel ganti mendelik dan menuding pada Angga.
"Aku hanya bicara pada Reina!" Sergah Angga yang langsung mencari alasan.
Ya, ya, ya!
Semua memang berawal dari bicara, lalu berlanjut ke hal lain.
Hanya Fairel dan Rossie saja yang saat bicara tak merembet ke hal lain.
Ck!
"Hanya bicara tapi sampai masuk ke dalam selimut, lalu berpelukan seperti pengantin di malam pertama!" Cerocos Fairel yang sebenarnya merasa sedikit cemburu pada hubungan Angga dan Reina yang selalu mulus seolah tanpa halangan. Merrka berdua memang sama-sama bucin habis!
Lalu kenapa Rossie tak bisa bucin begitu juga pada Fairel sekalipun Fairel sudah jungkir balik mengejar Rossie dan memberikan segalanya. Dan sekarang Rossie malah memilih bersama Keano! Menyebalkan!
"Kami masih berpakaian lengkap, oke!" Ujar Angga lagi sembari menyibak selimut seolah sedang pamer pada Fairel. Entah pamer apa.
"Abang lebay! Mengganggu pembicaraan orang saja!" Reina kembali bersungut pada Fairel.
"Aku baru saja menyelamatkanmu dari tingkah mesum pria ini, Rei!" Fairel menunjuk ke Angga lagi yang kini sudah menghampirinya.
"Tapi kami sudah sama-sama dewasa, Bang!" Sergah Reina lagi beralasan.
Adik Fairel itu memang pandai mencari alasan! Dasar!
"Sama-sama dewasa! Lalu apa tidur bersama sebelum menikah juga dibenarkan meskipun kalian sudah sama-sama dewasa?"
"Aku laporkan nanti pada Mom dan Dad!" Ancam Fairel lagi yang balik bersungut pada Reina.
"Laporkan saja!" Tantang Reina yang sepertinya tidak takut. Benar-benar!
"Aku sudah izin Aunty dan Uncle tadi sebelum masuk ke kamar Reina," tumpak Angga seolah mendukung omongan Reina barusan.
Ya ya ya!
Pasangan yang kompak!
"Izin masuk ke kamar saja, kan? Bukan izin tidur bersama!" Onel Fairel kembali bersungut-sungut.
"Pulang sana! Sudah malam!" Usir Fairel selanjutnya pada abang dari Rossie itu.
"Kami belum selesai bicara, Bang!" Sergah Reina sembari menahan Angga yang hendak dipaksa Fairel agar keliar dari kamar.
"Ngobrol di bawah kalau begitu dan jangan berduaan di kamar!" Ucap Fairel dengan nada tegas.
"Ck! Nanti abang pasti nguping!" Cibir Reina yang tentu saja langsung membuat Fairel berdecak.
"Abang sana yang keluar!" Reina sudah ganti mendorong Fairel sekarang.
"Eh, eh, eh! Kenapa malah mengusirku?" Protes Fairel tak terima.
"Abang Iel berisik!"
"Hush! Hush! Pergi!" Usir Reina galak.
"Tidak mau!" Tolak Fairel tegas.
"Angga! Bantuin!" Reina meminta bantuan Angga. Dasar lemah!
"Kita ngobrol di bawah saja!" Ujar Angga kemudian yang akhirnya mendengarkan juga himbauan Fairel tadi. Reina sontak merengut dan Fairel ingin tertawa terbahak-bahak sekarang.
"Nah begitu! Jangan modus bicara berdua di kamar, tapi ujung-ujungnya praktek membuat anak!" Ceplos Fairel yang langsung membuat Angga dan Reina berdecak bersamaan. Pasangan kekasih itupun akhirnya keluar dari kamar sembari bergandengan tangan dan meninggalkan Fairel begitu saja.
"Hei! Kenapa aku jadi ditinggal?" Protes Fairel yang langsung menyusul Angga dan Reina ke lantai bawah.
Sudah ada Dad Liam di lantai bawah yang sepertinya hendak masuk ke kamar. Tadi darimana memangnya?
"Sudah pulang, Iel?" Sapa Dad Liam pada Fairel karena memang tadi Dad kesayangan Fairel itu yang membuat Fairel pulang terlambat. Fairel harus menggantikan Dad Liam tadi untuk menemui seseorang.
"Sudah, Dad!"
"Cepat istirahat kalau begitu!" Ujar Dad Liam selanjutnya sembari berlalu dan hendak masuk ke kamar.
Dan disaat itulah, Fairel mendadak ingat pada sesuatu....
"Dad!" Panggil Fairel yang bergegas menyusul langkah Dad Liam.
"Ada apa?" Tanya Dad Liam yang sydah menghentikan langkahnya di depan kamar. Pria paruh baya itu menatap serius pada Fairel.
"Bagaimana cara Dad dulu membatalkan pernikahan Mom dengan pria yang hendak jadi calon suami Mom?"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.