
Ting tong!
Keano menekan bel di samping pintu apartemen Angga. Tak butuh waktu lama dan pintu sudah dibuka oleh....
Reina?
"Hai, Kean!" Sapa Reina sembari mempersilahkan Keano untuk masuk ke dalam.
"Apa aku salah apartemen?" Tanya Keano sedikit berkelakar.
"Tidak!"
"Angga sedang mandi," tukas Reina pada Keano yang sudah duduk di sofa.
"Tadi aku hanya menemani Angga menyelesaikan pekerjaannya, dan karena kami jenuh dengan suasana di kantor, makanya kami pindah kemari," jelas Reina lagi yang hanya membuat Keano mengangguk dan mencoba memahami situasi yang ada.
Toh Reina dan Angga memang sudah lama berpacaran. Kalau tidak salah sejak Reina masih SMA malahan. Jadi mungkin berduaan di apartemen adalah hal wajar....
Entahlah. Bukan urusan Keano!
"Kau mau minum?" Tawar Reina selanjutnya seraya bangkit dari duduknya.
"Ya! Kau punya apa?" Keano sedikit berbasa-basi pada sang sepupu.
"Hanya ada air putih. Mau yang dingin atau yang panas?" Tanya Reina yang sudah beranjak ke arah dapur.
"Yang dingin saja!" Jawab Keano mencoba untuk maklum sekali lagi. Bukan apa-apa, tapi Keano sangat tahu satu rahasia besar tentang Reina yang kata Fairel tidak pernah ke dapur. Wanita itu juga tidak bisa memasak atau sekedar membuat kopi.
Tapi jika ternyata Angga tetap mencintai Reina dan menerima gadis itu apa adanya, bukankah itu sesuatu yang luar biasa!
"Tangkap!" Reina melemparkan sebotol air mineral dingin pada Keano yang langsung sigap menangkapnya. Disaat bersamaan, Angga sudah muncul dari dalam kamar mengenakan kaus serta celana jeans selutut. Rambut kekasih Reina itu juga terlihat basah, menandakan kalau ua benar-benar baru selesai mandi.
Mandi keramas!
Mencurigakan!
Apa Keano perlu lapor pada Uncle Liam?
"Sudah lama, Kean?" Angga berbasa-basi pada Keano yang sedang meneguk air dinginnya. Pria itu juga langsung duduk di samping Keano.
"Baru saja!" Jawab Keano serelah sedikit bersendawa.
"Maaf!" Ucap Keano sembari terkekeh. Angga ikut terkekeh meskipun sebenarnya tadi bukan sebuah hal lucu.
Konyol!
"Jadi, kau mengundangku kemari untuk membahas-"
"Acara gathering perusahaan yang akan diadakan di B&D Resto," ujar Angga cepat menyambung kalimat Keano.
"Semua karyawan perusahaanmu? Aku tidak yakin akan muat," pendapat Keano yang malah membuat Angga terkekeh.
"Tidak semua."
"Hanya pimpinan divisi serta para petinggi di perusahaan saja. Karyawan yang lain akan mengadakan gathering di tempat lain," jelas Angga yang langsung membuat Keano manggut-manggut.
"Bisa kau atur, kan? Pasti bisa. Kau ahlinya!" Ujar Angga lagi seraya menepuk punggung Keano. Sementara Reina malah sudah tak nampak batang hidungnya.
Sembunyi dimana sepupu Keano itu?
"Nanti setelah ini aku akan mendirikan Event Organizer," seloroh Keano yang langsung mendapat dukungan dari Angga.
"Aku yang akan menjadi customer pertamamu nanti"
"Kau akan mengadakan event melamar Reina ala direktur muda?" Celetuk Keano seraya tergelak . Namun tawa Angga terlihat berbeda dan sepertinya pria itu juga tertekan.
"Aku salah bicara, ya?" Tanya Keano yang sudah berhenti tertawa.
"Tidak!"
__ADS_1
"Aku aminkan dulu saja agar aku dan Reina bisa cepat lamaran, lalu menikah...." Angga terlihat menarik nafas dengan berat.
"Ada apa sebenarnya, Angga? Hubunganmu dengan Reina baik-baik saja, kan?" Cecar Keano penasaran.
"Iya, kami baik-baik saja! Restu orang tua juga sudah ada-"
"Berarti sudah bisa langsung menikah!" Seloroh Keano memotong kalimat Angga.
"Tidak semudah itu." Raut wajah Angga kembali terlihat frustasi.
"Kenapa?"
"Fairel tidak mau dilangkahi," jawab Angga jujur yang langsung membuat Keano terdiam.
"Fairel bersikeras kalau ia ingin menikah dengan Rossie terlebih dahulu, sebelum aku menikah dengan Reina. Bukankah itu sebuah pemaksaan?" Angga tertawa sumbang dan Keano masih diam.
Keano hanya tak menyangka saja kalau Fairel benar-benar se-totalitas itu demi bisa memiliki Rossie. Bahkan sampai hubungan sang adikpun ia halang-halangi.
"Abang Iel serius mengatakan itu? Mungkin dia hanya bercanda?" Keano masih tak percaya dengan cerita Angga.
"Tentu saja Fairel serius! Dia selalu mengatakannya berulang-ulang dan memaksa aku mendukung pedekatenya pada Rossie."
"Padahal sejujurnya...." Angga menjeda kalimatnya sejenak, lalu pria itu tampak menghela nafas panjang.
"Sejujurnya aku tidak mendukung kau ataupun Fairel," lanjut Angga berkata jujur.
"Rossie adalah adik kesayanganku dan keputusan untuk memilih siapa pria yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya, biarlah menjadi hak Rossie sepenuhnya."
"Aku tidak akan memaksa Rossie harus menikah dengan Fairel atau dengan pria pilihanku."
"Tidak akan!" Angga membentuk tanda silang besar memakai kedua lengannya.
"Karena ke depannya-"
"Rossie-lah yang akan menjalani kehidupan berumah tangga itu selamanya," potong Keano melanjutkan kalimat Angga.
"Kau benar!" Angga mengangguk lalu tersenyum pada Keano.
"Secara harfiah, aku memang lebih dewasa dan lebih tua dari Bang Iel."
"Aku lahir duluan," tukas Keano menjelaskan.
"Hanya saja, berhubung Uncle Liam adalah abang dari Mami, makanya aku memanggil Abang ke Bang Iel."
"Dan seharusnya aku juga memanggil kakak ke Reina." Keano mengendikkan dagunya ke arah kamar, karena Keano yang akhirnya tahu kalau Reina sedang bersembunyi di kamar Angga sekarang.
"Kak Reina!" Panggil Keano usil
"Kean!" Teriak Reina yang langsung menampakkan dirinya.
"Tante Reina!" Gelak Keano lagi dan Reina otomatis langsung menggeram.
"Aku belum setua itu! Kau itu yang sudah tua!" Omel Reina seraya menghampiri Keano, lalu meninju pundak sepupunya tersebut.
"Kau mendukung aku jadian dengan Rossie, Kak Reina?"
"Nanti kau akan jadi kakak iparku kalau aku menikah dengan Rossie!" Tanya Keano lagi tetap dengan nada usil.
"Tidak!" Jawab Reina tegas.
"Aku netral seperti Angga!" Tukas Reina lagi, lalu tiga orang itu kembali mengobrol ringan sambil sesekali bercanda.
****
Drrrtttt!
Rossie yang sedari tadi fokus menatap layar laptopnya, sedikit mengalihkan pandangannya ke layar pobsel yang tergeletak di samping laptop. Gadis itu memeriksa pesan masuk yang ternyata dari Keano.
Lagi!
__ADS_1
[Rossie, aku minta maaf. Jangan lupa makan sebelum mengerjakan skripsi. Goodluck] -Keano-
Rossie hanya menghela nafas, lalu menghapus notifikasi pesan dari Keano tersebut. Sengaja Rossie tak membuka satupun pesan dari Keano yang sudah bertumpuk sejak beberapa hari yang lalu. Isinya selalu diawali dengan permontaan maaf.
Entah Keano sedang minta maaf perihal apa, Rossie juga tak paham.
Sudah beberapa hari ini Rossie memang di rumah saja dan fokus pada skripsinya. Hanya sesekali Rossie ke kampus untuk bertemu dosen pembimbing dan itu juga tidak lama.
Rossie juga tak pernah lagi bertemu Bisma apalagi diganggu oleh pria resek itu, jadi sepertinya Rossie tak perlu lagi berpura-pura menjadi pacar Keano sekarang. Rossie akan mengabaikan saja pria itu sama seperti Rossie mengabaikan Fairel. Rossie hanya ingin fokus pada skripsi serta studinya nanti.
Perihal jodoh, biarkan mengalir saja karena Rossie yakin kalau jodoh pasti akan datang di waktu yang tepat.
Drrttt drrrttt!
Ponsel Rossie kembali bergetar dengan durasi yang lebih panjang. Menandakan ada telepon yang masuk. Rossie kembali meraih benda pipih persegi tersebut, lalu memeriksa siapa yang menelepon.
Karen!
"Halo-"
"Ros! Kau sedang sibuk?"
"Tidak juga. Aku baru selesai mengerjakan revisi bab," jawab Rossie sedikit bergumam. Suara Karen juga terdengar aneh. Gadis itu seperti tergesa-gesa menelepon Rossie.
"Kau bisa datang ke kost-ku?"
"Sekarang? Apa sedang ada sesuatu?" Tanya Rossie semakin curiga.
"Iya! Aku sedikit mengalami kesulitan di skripsiku."
"Tadinya aku mau ke rumahmu sebenarnya. Tapi mendadak aku tak enak badan."
"Kau bisa istirahat dulu kalau begitu, Karen! Jangan memaksakan diri," nasehat Rossie pada sahabatnya tersebut.
"Tapi besok aku akan bertemu dosen pembimbing. Jadi aku harus menyelesaikannya hari ini."
"Please, Rossie! Bantu aku!" Suara Karen terdengar memelas
"Mmmm, baiklah! Aku akan ke kostmu sekarang," putus Rossie akhirnya sembari mematikan laptopnya. Rossie beranjak dengan cepat, lalu menyambar tas serta jaketnya, sebelum lanjut keluar dari kamar.
"Rossie, mau kemana?" Tanya Mama Sita saat melihat Rossie yang tergesa-gesa turun dari tangga.
"Mau ke kost-nya Karen, Ma!"
"Karen sakit dan minta bantuan Rossie juga untuk mengerjakan skripsi," jelas Rossie.
"Kau bawakan makanan untuk Karen kalau begitu! Mama baru selesai masak tadi." Mama Sita sudah berjalan ke arah dapur dan Rossie segera mengekori mama kandungnya tersebutm mama Sita lalu memasukkan makanan ke dalam beberapa kotak, lalu menyusunnya di dalam.sebuah totebag.
"Pergi bersama sopir, kan?" Tanya Mama Sita memastikan.
"Iya, Ma!" Jawab Rossie sebelum lanjut berpamitan.
Rossie baru masuk ke dalam mobil, saat ponselnya di dalam tas kembali bergetar. Ada pesan masuk dari Karen.
[Kau datang bersama Bang Kean] -Karen-
Rossie mengernyit dengan pesan ranpa tanda baca dari Karen seolah sahabat Rossie itu mengetiknya dengan tergesa. Ris akhirnya membalas pesan Karen.
[Kamu barusan nanya? Atau apa?] -Rossie-
Pesan terkirim bersamaan dengan mobil yang sudah melaju meninggalkan kediaman Hadinata.
Cukup lama Rossie menunggu, namun pesannya tak jua dibaca oleh Karen apalagi dibalas. Atau jangan-jangan Karen....
"Pak! Lebih cepat, ya!" Titah Rossie pada sopir yang mengantarnya. Firasat Rossie mendadak tak enak. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Karen....
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.