
Keano meringis sekali lagi, saat Rossie dengan hati-hati menyeka lebam di tulang pipi Keano memakai washlap dan air hangat.
"Sakit, ya, Bang?" Tanya Rossie sembari menghentikan sejenak sekaannya.
"Sedikit," jawab Keano sembari tersenyum.
"Nanti Aunty Anne pasti shock kalau lihat Abang pulang dengan wajah lebam begini," ucap Rossie lagi merasa khawatir.
"Yang ada mami malah senang karena aku babak belurnya berkat nyelamatin kamu," tukas Keano seraya terkekeh, sebelum kemudian pria itu kembali meringis.
Rossie hanya tertawa kecil, lalu tangan gadis itu kembali mencelupkan washlap ke dalam mangkuk dan memerasnya.
"Kamu masih marah soal waktu itu, Rossie?" Tanya Keano selanjutnya memecah kebisuan.
"Waktu itu apa, Bang?" Rossie balik bertanya dan pura-pura tak mengerti.
"Saat kamu dijemput Bang Iel."
"Oh!" Rossie hanya membulatkan bibirnya.
"Rossie nggak marah, kok! Bang Kean saja yang salah paham," tukas Rossie kemudian.
"Tapi kau tidak membalas pesanku."
"Rossie sedang sibuk mengerjakan skripsi, Bang!" Kilah Rossie cepat, seraya menempelkan plester ke pelipis Keano yang tadi berdarah. Rossie melakukannya dengan hati-hati dan Keano tak berhenti menatap pada wajah Rossie yang jaraknya begitu dekat dengan wajah Keano.
"Sekarang sudah selesai skripsinya?" Tanya Keano selanjutnya.
"Sedikit lagi."
"Semoga tak ada revisi dan bisa secepatnya ikut sidang."
"Jadi Rossie wisudanya bisa bareng sama Kak Reina," lanjut Rossie lagi mengungkapkan semua harapannya.
"Aamiin!" Keano langsung mengaminkan dengan lantang.
"Nanti jadi lanjut S2-nya?" Tanya Keano lagi.
"Jadi."
__ADS_1
"Mungkin setelah wisuda akan langsung berangkat," imbuh Rossie lagi yang langsung membuat Keano mengernyit.
"Berangkat? Memang mau S2 dimana?" Tanya Keano cepat.
"London!"
"Rossie dapat beasiswa disana, Bang!" Jelas Rossie yang langsung membuat Keano menghela nafas dengan berat.
"Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, ya, Bang! Termasuk Abang Iel!" Pinta Rossie kemudian yang langsung membuat Keano mengernyit
"Sebenarnya yang tahu juga baru Mama, Papa, Abang Angga, dan Abang Kean," lanjut Rossie lagi yang langsung membuat Keano manggut-manggut.
"Curang sedikit tidak apa-apa, Kean!"
Kalimat Mami Anne mendadak berkelebat di benak Keano. Jika berbicara perihal curang-mencurangi tentang persaingan Fairel dan Keano, Abang Fairel juga sudah main curang karena dia sampai mengancam hubungan Angga dan Reina demi bisa memiliki Rossie.
Jadi sekarang, Keano akan balik bermain curang dengan merahasiakan tempat kuliah Rossie di luar negeri. Sepupu Fairel itu nantinya pasti akan kalang kabut karena tidak tahu Rossie kuliah dimana.
Kalau Abang Iel tahu Rossie kuliah di London, sudah pasti ia akan langsung menyusul.
Hhhhhh!
"Bang! Kok melamun?" Teguran Rossie langsung membuyarkan lamunan Keano.
"Enggak! Siapa yang melamun?" Kilah Keano cepat sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah selesai ngobatinnya," lapor Rossie kemudian seraya membereskan kembali kotak P3K.
"Kau tadi sudah makan? Aku ambilkan makan, ya!" Ujar Keano kemudian seraya bangkit berdiri. Keano membawa serta mangkuk dan washlap tadi dari atas meja, lalu keluar dari ruangannya.
Padahal Rossie belum menjawab pertanyaan Keano. Tapi Rossie memang lapar, sih!
Keano sepertinya begitu peka.
****
Rossie masih menatap ke arah matahari yang hampir tenggelam. Sesekali gadis itu juga melemparkan pandangannya ke arah Keano yang masih mengantri di penjual bakso bakar.
Tadi Keano memang berniat untuk mengantar Rossie pulang. Tapi Keano malah menawarkan pada Rossie untuk mampir dan melihat matahari terbenam di area padang rumput dekat bandara kota. Rossie yang awalnya tak tahu ada tempat sebagus ini, akhirnya setuju saja dan ternyata pemandangannya memang sebagus yang Keano katakan.
__ADS_1
Biasanya Rossie hanya melihat matahari terbenam dari atas gedung karena tempat tongkrongan Rossie juga lebih banyak di mall ketimbang di tempat terbuka seperti ini!
"Sudah datang! Maaf menunggu lama," Keano mengangsurkan seplastik bakso bakar pada Rossie yang masih duduk di atas motor Keano.
"Abang Kean memang suka jajan begini?" Tanya Rossie sembari mencicipi bakso yang masih mengepulkan asap tersebut.
"Iya! Sejak kecil sering diajak Mami dan Papi ke tempat ini. Kadang juga ke alun-alun kota. Makanya sekarang udah besar suka kesini sendiri," cerita Keano seraya terkekeh.
"Nanti kalau sudah menikah, ya aku ajak juga anak istriku kesini," imbuh Keano lagi mengungkapkan cita-cita ke depannya.
"Sudah punya kriteria calon istri berarti?" Tebak Rossie menerka-nerka.
"Kriteria?" Keano tertawa renyah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pasti yang tipe-tipe keibuan dan bukan wanita karier apalagi wanita manja," tebak Rossie lagi.
"Tidak juga, Rossie!" Sergah Keano cepat menyangkal tebakan Rossie.
"Siapapun kelak yang akan menjadi jodohku, aku tak akan mengekangnya dan mengharuskan dia menjadi ibu rumah tangga yang sepanjang hari hanya di rumah."
"Aku akan memberikannya kebebasan misalnya dia mau berkarier atau mengembangkan potensinya." Keano ganti manggut-manggut.
"Ya! Aku akan selalu mendukung apapun yang ia lakukan nanti, selama itu hal positif dan selama dia tetap memenuhi tanggung jawabmya sebagai istri," tukas Keano panjang lebar dengan nada bijak yang sesaat langsung membuat Rossie menatap kagum ke arah Keano.
"Berarti wanita yang kelak akan menjadi istri Abang Keano adalah wanita yang beruntung," komentar Rossie kemudian yang hanya ditanggapi Keano dengan senyuman di bibirnya. Lesung pipi Keano langsung tampak jelas, membuat Rossie merasa gemas untuk melesakkan jarinya di sana.
"Sudah habis belum baksonya? Ayo pulang!" Ajak Keano kemudian bersamaan dengan matahari yang juga sudah mulai terbenam. Langit sudah memancarkan semburat oranye gelap dan sebentar lagi mungkin akan berubah menjadi hitam.
"Sudah, Bang!" Rossie menunjukkan plastik baksonya yang sudah kosong.
Setelah membuang semua sampah di tempat yang seharusnya, Keano dan Rossie akhirnya meninggalkan kawasan bandara kota tersebut dan keduanya langsung menuju ke kediaman Hadinata.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1