Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
SAH


__ADS_3

"Hai, Rossie! Mau es krim?"


"Mau!" Rossie mengulurkan tangan mungilnya dan memainkan lubang di pipi Keano.


"Apa rasanya sakit?" Tanya Rossie dengan raut polos khas bocah sepuluh tahun.


"Tidak!" Keano menggeleng yakin.


"Lucu!" Gumam Rossie kemudian dan Keano tersenyum semakin lebar.


"Kau disini berapa hari?" Tanya Keano kemudian, sembari memperhatikan Rossie yangasoh menikmati es krim-nya.


"Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun," jawab Rossie sembari tertawa kecil.


"Maksudnya?" Ekspresi wajah Keano langsung berubah bingung.


"Kami sekeluarga sekarang pindah ke kota ini!" Bukan Rossie, melainkan Angga yang menjawab kebingungan Keano.


"Benarkah? Yess!" Keano langsung bersorak senang, dan bocah itu juga sudah melompat-lompat kegirangan.


"Yess! Rossie akhirnya pindah kesini!" Sorak Keano lagi tetap sambil melompat-lompat.


"Saya terima nikahnya Aura Rossie....."


Rossie memejamkan mata saat suara merdu Keano mulai melafalkan ikrar janji suci di depan Papa Robert dan penghulu. Senyuman seolah tak pernah pudar dari bibir Rossie, hingga akhirnya semua tamu yang hadir mengucapkan kata sah dengan kompak dan lantang.


Ucapan syukur seketika langsung menggema, bersamaan dengan Rossie yang juga sudah membuka mata dan menatap pada Keano yang kini duduk di sebelahnya. Wajah Keano yang tadi sempat tegang, kini sudah berubah sumringah.


"Sudah sah," bisik Keano pada Rossie yang hanya tersenyum. Tangan Keano dan tangan Rossie sudah saling menggenggam sekarang, seperti halnya cinta mereka yang kini sudah saling menggenggam dan memiliki satu sama lain.


"Selamat!" Ucap Angga yang kini sudah merangkul pundak Rossie dan Keano. Rossie langsung memeluk abang kesayangannya tersebut dan meluapkan rasa bahagianya.


"Jadi istri yang baik untuk Keano!" Pesan Angga pada sang adik.


"Iya, Bang!"


"Pesan untuk Keano, Bang?" Celetuk Keano menagih.


"Cintai Rossie dengan sepenuh hati dan jangan pernah menyakitinya!" Angga memperingatkan Keano dengan tegas.


"Karena sekali kau menyakiti Rossie...." Angga sudah ganti mengalungkan tinjunya pada Keano.


"Kemarin saat pernikahan Abang Angga, apa Bang Iel memberikan wejangan seperti ini juga?" Tanya Keano yang malah berseloroh.


"Ya! Kenapa?"


"Semua abang akan melakukan hal yang sama untuk adik-adik mereka!" Tukas Angga sok diplomatis. Keano langsung manggut-manggut.


"Ingat pesanku tadi!" Ujar Angga sekali lagi sebelum pria itu meninggalkan panggung pelaminan. Reina sudah menyambut Angga di bawah, dan sepupu Keano itu juga langsung menghambur ke pelukan Angga sembari mengalungkan tangannya dengan agresif. Sepertinya Reina bucin sekali pada Angga!


"Lihat apa, Bang? Kok senyum-senyum sendiri?" Tegur Rossie sembari menyenggol pundak Keano.


"Itu! Pasangan bucin." Keano mengendikkan dagunya ke arah Reina dan Angga yang masih rangkul-rangkulan dengan mesra.


"Kak Reina memang wanita yang agresif," gumam Rossie berpendapat.


"Lalu kau?" Angga menoleh pada Rossie dan menatap wanita yang baru beberapa saat lalu resmi jadi istrinya tersebut dengan tatapan penuh makna.


"Aku kenapa, Bang?" Tanya Rossie pura-pura polos.


"Tidak kenapa-kenapa. Nanti juga aku tahu jawabannya." Keano mengerling nakal pada Rossie yang langsung berdecak.


Apa maksudnya nanti akan tahu jawabannya?


****


"Ini kamar Keano!" Ucap Mami Anne setelah membuka lebar-lebar sebuah kamar yang berada di lantai atas rumah keluarga Keano. Sama sekali tak ada hiasan ala kamar pengantin. Sepertinya memang sengaja agar nanti Rossie dan Keano tak perlu menyingkirkan aneka hiasan saat akan memakai ranjang yang berada di sudut kamar itu.


Ya, rangkaian acara pernikahan Rossie dan Keano sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Dan Rossie memutuskan untuk langsung pulang saja ke rumah kedua orang tua Keano ini.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Papa Robert sudah menyiapkan satu kamar untuk Keano dan Rossie di hotel tempat resepsi pernikahan digelar, namun Rossie tetap memilih untuk pulang saja ke rumah Keano. Rossie sudah sangat penasaran dengan kamar Keano, karena sejak status Rossie dan Keano berpacaran, Keano terus saja melarang Rossie melihat kamarnya.


Entah apa alasannya, Rossie juga tidak tahu!


Apa Keano takut khilaf kalau Rossie masuk ke kamarnya? Konyol!


"Mandi dan istirahat saja dulu, Rossie! Pasti capek, kan?"


"Mami dulu juga capek setelah acara resepsi. Apalagi waktu itu Mami sudah mengandung-" Mami Anne buru-buru mengerem kalimatnya yang sudah kebablasan.


Bisa-bisanya Mami Anne buka aib di depan sang menantu!


"Mengandung, Mi?" Tanya Rossie yang rupanya sempat mendengarkan.


"Lupakan saja dan langsung istirahat!"


"Bye, selamat malam!" Pamit Mami Anne yang langsung menutup pintu dengan tergesa. Mami kandung Keano itu juga langsung ngacir pergi yang tentu saja hal tersebut langsung memunculkan sejuta pertanyaan di kepala Rossie.


"Maksudnya mengandung? Mami Anne MBA, begitu?" Gumam Rossie bertanya pada dirinya sendiri, hingga sebuah teguran menyentak lamunan Rossie.


"Belum masuk kamar?"


Rossie langsung menoleh dan seketika wajah wanita itu bersemu merah saat melihat siapa yang baru saja menegurnya.


"Ini baru mau masuk," jawab Rossie sembari meninggalkan Keano yang hanya mengulas senyum tipis. Keano lalu mengekori Rossie masuk ke dalam kamar, dan menutup serta mengunci pintu.


"Jadi sebenarnya, ada rahasia apa disini hingga kau melarangku masuk kesini kemarin-kemarin?" Tanya Rossie sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Keano yang konsepnya hanya simpel dan seperti kamar tidur pada umumnya. Ada ranjang, satu nakas di samling ranjang, sebuah almari yang cukup besar, dan satu pintu menujubke kamar mandi pribadi.


Tak ada sesuatu yang aneh atau perlu disembunyikan!


"Rahasia?" Keano terkekeh dan pria itu kini sudah duduk di tepi ranjang.


"Iya aku pikir kau menyembunyikan sesuatu," tukas Rossie sembari menghampiri Keano yang masih tertawa kecil.


"Aku tak menyembunyikan apa-apa!" Ujar Keano bersungguh-sungguh.


"Aku juga tak pernah melarangmu masuk kesini kemarin-kemarin. Kau saja yang tak pernah mengatakan kalau kau ingin melihat atau masuk ke kamarku," tutur Keano lagi yang langsung membuat Rossie tampak berpikir.


"Memang berapa kali aku berkunjung kesini sebelum kita menikah?" Rossie lanjut bertanya pada Keano.


"Hanya beberapa kali. Kau lebih sering ke resto aku rasa," ungkap Keano sembari mengendikkan kedua bahunya. Suami Rossie itu juga sudah membuka kancing kemejanya bagian atas.


"Ngomong-ngomong, kau mau mandi tidak?" Tanya Keano pada Rossie yang tampak melongo karena melihat Keano membuka kancing kemeja.


"Hah?"


"Maksudnya mandi...." Rossie menunjuk bergantian ke arah dirinya sendiri dan Keano.


"Begitu juga boleh kalau mau hemat air," seloroh Keano yang langsung membuat kedua bola mata Rossie membulat sempurna.


Sementara Keano sudah bangkit berdiri dan menghampiri Rossie yang masih mematung.


"Bagaimana, Istriku?" Tanya Keano sekali lagi sembari tangannya meraih dagu Rossie, lalu mengusapnya dengan lembut.


Rossie memejamkan kedua matanya, saat Keano semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Rossie. Usapan jari Keano di dagu sudah beralih ke bibir Rossie sekarang.


Rossie masih memejamkan mata, saat usapan dari tangan Keano sudah berganti menjadi cecapan lembut dari bibir suaminya tersebut. Rossie memiringkan kepalanya, lalu membalas cecapan bibir Keano sembari tangannya melingkar di leher sang suami.


Pagutan Keano dan Rossie semakin memanas. Bahkan Rossie tanpa segan sudah menekan kepala Keano demi memperdalam cecapan di antara mereka. Deru nafas Keano dan Rossie semakin memburu, bersamaan dengan pagutan mereka yang semakin dalam dan liar. Tangan Rossie yang tadinya berada di leher Keano, perlahan mulai bergerak turun ke punggung, lalu mengusap punggung berotot tersebut naik dan turun.


Sementara tangan Keano sudah berada di kedua pipi Rossie, dan menangkupnya dengan lembut. Lidah Keano juga mulai menyusup masuk ke dalam bibir Rossie, lalu menelusur dengan penuh gairah, hingga membuat Rossie melenguh dan tangannya mencengkeram punggung Keano yang masih terbalut kemeja.


Keano menjeda pagutannya sejenak, dan kini pria itu sudah menyatukan keningnya dengan kening Rossie.


"Kenapa berhenti?" Tanya Rossie dengan nafas terengah.


"Agar kau bisa bernafas," jawab Keano sembari tertawa kecil.


"Sedikit panas," ujar Keano lagi yang hendak melepaskan sisa kancing kemejanya yang belum terbuka. Namun Rossie mencegah dan memberikan kode untuk mengambil alih.

__ADS_1


Tangan Rossie lalu bergerak untuk membuka satu persatu kancing kemeja Keano. Tak hanya sekedar membuka kancing, namun juga mengusap dada Keano dengan gerakan-gerakan menggoda.


"Kau akan melakukannya semalaman?" Tanya Keano karena Rossie yang seolah tak mau berhenti mengusap-usap dada Keano yang kini sudah setengah terbuka.


"Mungkin." Rossie tertawa kecil, lalu tanpa aba-aba kepalanya sudah bersandar di dada Keano.


"Ini aroma parfum?" Rossie sedikit mengendus aroma yang menguar dari tubuh Keano.


"Atau aroma tubuhmu?" Ujar Rossie melanjutkan pertanyaannya.


"Menurutmu?" Keano tersenyum tipis lalu mengeratkan dekapannya pada tubuh Rossie yang masih terbalut baju terusan warna navy.


"Aroma tubuhmu aku rasa," gumam Rossie yang kembali mengendus aroma tubuh Keano yang kini malah tertawa renyah.


"Mau lanjut dimana jadinya? Diatas ranjang atau di kamar mandi?" Keano masih mendekap Rossie sambil menciumi puncak kepala istrinya tersebut.


"Menurutmu lebih enak dimana?"


"Kau yang memilih!" Ujar Keano cepat.


"Kau saja!"


"Tidak! Kau saja!"


"Kita akan berdebat semalaman," kekeh Rossie lagi yang sukses membuat Keano tergelak.


"Kita sama-sama memilih kau begitu dan ucapkan dalam hitungan ketiga," cetus Keano kemudian yang langsung disetujui oleh Rossie.


"Setuju!"


"Siapa yang menghitung?" Tanya Rossie.


"Aku."


"Mulai-"


"Belum!" Sergah Keano seraya tergelak.


"Mulai menghitung maksudku!"


"Baiklah." Keano menghela nafas.


"Ucapkan di hitungan ketiga, ya!" Keano mengingatkan sekali lagi.


"Iya! Cepat menghitung!" Rossie sudah memukul dada Keano dengan gemas.


"Satu..."


"Dua...."


Keano menjeda cukup lama hingga membuat Rossie geregetan.


"Tiga!" Teriak Rossie akhirnya sebelum kemudian pasangan pengantin baru itu kompak mengatakan....


"Di atas ranjang!!"


"Astaga!" Rossie mengangkat wajahnya dari dekapan Keano, lalu menatap pada Keano yang juga tengah menatapnya.


"Kau yang mengatakannya!" Tukas Keano yang tanpa aba-aba sudah langsung mengangkat tubuhmu Rossie ala bridal lalu mendaratkannya ke atas ranjang hingga membuat wanita itu memekik.


"Bang-"


Pekikan Rossie langsung dibungkam oleh bibir dan pagutan Keano yang panas serta penuh gairah. Dua tubuh itupun segera bergelut melepas segala hasrat yang sudah sama-sama membuncah.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2