
"Baru pulang?" Tanya Rossie sembari bersedekap pada Abang Angga yang memang baru tiba di rumah. Namun penampilan Abang dari Rossie tersebut terlihat santai dan tak seperti orang yang baru pulang dari kantor. Abang Angga juga hanya mengenakan kaus serta celana jeans panjang.
"Hai, Nona! Sudah pulang?" Abang Angga sontak langsung menangkup gemas wajah Rossie hingga bibir Rossie mengerucut tak jelas.
"Abang!" Protes Rossie yang malah membuat Angga terkekeh.
"Lepas!" Rengek Rossie lagi.
"Kapan tiba?" Abang Angga sudah ganti memeluk Rossie dengan erat sekarang, seolah Rossie adalah boneka.
Apa Abang Angga juga seperti ini saat memeluk Kak Reina?
"Tadi siang!"
"Kok Abang baru pulang jam segini dan tidak menjemput Rossie siang tadi di airport?" Cerocos Rossie panjang lebar seolah sedang menginterogasi Angga.
"Abang lembur."
"Dan abang tidak tahu kau pulang hari ini. Kau bahkan tak mengatakannya," ujar Angga lagi mengungkapkan alasannya.
"Bukan lembur di apartemen bersama Reina, kan, Angga?" Sahut Mama Sita yang baru keluar dari dapur dan ikut-ikutan menginterogasi Angga.
"Bukan, Ma!" Jawab Angga cepat.
"Lembur di apartemen bersama Kak Reina? Apa ada yang sudah Rossie lewatkan dua tahun ini, Ma?" Tanya Rossie sedikit berseru pada Mama Sita.
"Tidak ada! Cepatlah istirahat, Rossie!" Jawab Mama Sita seraya berlalu ke arah kamar.
"Abang Angga jadinya kapan menikah dengan Kak Reina?" Rossie ganti bertanya pada Angga yang raut wajahnya langsung berubah dengan cepat.
"Belum tahu!" Jawab Angga lirih.
"Kok belum tahu? Hubungan Abang Angga dan Kak Reina baik-baik saja, kan?" Cecar Rossie lagi merasa penasaran.
"Entahlah!"
"Fairel masih belum memberikan restu dan Mama memintaku menjaga jarak dari Reina untuk sementara waktu," terang Angga sedikit curhat pada Rossie.
"Menjaga jarak kenapa?" Tanya Rossie semakin penasaran.
"Ya agar kami tak kebablasan."
"Karena masih belum bisa dipastikan kapan Fairel akan memberikan restu pada hubunganku dan Reina," ujar Angga panjang lebar yang langsung membuat Rossie mengernyit.
"Apa ini ada hubungannya dengan Abang Iel yang terus mengejar-ngejar Rossie, Bang?" Tanya Rossie yang mendadak merasa bersalah.
Angga tak langsung menjawab, dan pria itu malah merengkuh kedua pundak Rossie.
"Kau punya hak penuh untuk menentukan siapa pria yang menjadi pilihanmu, Rossie!"
"Dan Abang tahu kalau kau sudah memilih Keano-"
"Tapi bagaimana dengan hubungan Abang Angga dan Kak Reina?" Tanya Rossie menyela.
"Pasti nanti akan ada jalan," jawab Angga yang nada bicaranya pun terdengar tak yakin.
"Cepat istirahat! Sudah malam!" Titah Angga selanjutnya pada sang adik yang masih membisu. Angga sendiri langsung berlalu dan hendak naik tangga,saat kemudian panggilan Rossie menahan langkahnya.
"Bang!"
"Ada apa?" Jawab Angga cepat.
"Minggu depan anniversary pernikahan Mama dan Papa-"
"Iya, Abang ingat, Ross!" Sergah Angga memotong dengan cepat.
"Jangan lupa mengajak Kak Reina ke rumah, Bang!" Pesan Rossie yang langsung diiyakan oleh Angga, sebelum kemudian Abang Rossie tersebut naik ke lantai dua dan menuju ke kamarnya.
Ping!
Suara pesan masuk di ponsel Rossie langsung membuyarkan lamunan gadis tersebut. Rossie bergehas melohat pesan masuk yang rupanya dari Keano.
[Hai! Sibuk?] -Keano-
"Keano kerap menyambangi pacarnya yang bernama Mawar itu ke Hongkong."
"Jadi kau tak usah menggubrisnya lagi sekarang!"
Kalimat Fairel lagi-lagi berkelebat di benak Rossie.
__ADS_1
Rossie kembali membaca pesan singkat Keano tadi, saat pesan lain kembali masuk ke ponsel gadis itu.
[Aku paham, kau pasti masih sibuk. Jangan lupa makan dan istirahat. I love you] -Keano-
Rossie hanya menghela nafas, setelah gadis itu membaca pesan Keano. Mendadak Rossie tak ingin membalas pesan Keano sama sekali dan memilih untuk mengabaikannya saja. Mungkin besok saja Rossie akan langsung menemui Keano dan membicarakan semua hal yang mengganjal di hatinya.
Termasuk tentang ancaman Fairel yang ternyata begitu serius hingga mengancam kelangsungan hubungan Abang Angga dan Kak Reina.
****
Keano baru tiba di B&D Resto, dan pria itu langsung memeriksa pesannya pada Rossie tadi malam.
Dibaca namun tak dibalas!
Apa Rossie memang sedang sibuk?
Tapi studi Rossie juga sudah selesai dan sepertinya gadis itu hanya tinggal membereskan barang-barangnya lalu pulang ke negara ini.
Atau mungkin Rossie memang sedang berlibur dan menikmati hari-hari terakhirnya di London,makanya Rossie tak sempat membalas pesan Keano.
Ah, biarkan saja!
Keano juga tak seharusnya mengganggu apalagi mengekang Rossie, sekalipun saat ini status Keano adalah kekasih Rossie.
Keano lanjut masuk ke dapur resto untuk melakukan briefing pada tim koki di dapur sekaligus mengecek ketersediaan stok bahan di gudang. Perlahan tapi pasti, Keano memang mulai mengambil alih semua pekerjaan Papi Abi sekarang. Papi kandung Keano itu juga sudah mengatakan kalau dirinya akan pensiun secepatnya.
"Selamat pagi, Pak Keano!" Sapa karyawan di bagian kasir, saat Keano ganti memeriksa laporan penjualan kemarin.
"Pagi!" jawab Keano ramah, sebelum lanjut fokus ke layar monitor di hadapannya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan sudah saatnya B&D Resto buka. Keano segera menghampiri karyawan yang hendak membalik tanda close menjadi open di pintu, sembari memberikan isyarat agar dirinya saja yang melakukan. Dan disaat bersamaan, sebuah mobil sedan sudah berhenti di depan B&D Resto.
Keano memperhatikan sejenak mobil yang nampak tak asing tersebut. Bukankah itu....
Keano baru selesai membatin, saat Rossie sudah turun dari jok belakang. Benar dugaan Keano!
Keano tak menunggu lagi dan pria itu segera keluar, lalu menghampiri Rossie yang tampak terkejut.
"Kapan pulang?" Tanya Keano to the point seraya menyambut Rossie.
"Kemarin sore."
"Ayo masuk!" Ajak Keano akhirnya seraya merangkul Rossie dan membimbing kekasihnya tersebut untuk masuk ke dalam resto. Keano langsung membawa Rossie ke ruangannya di lantai dua.
****
"Kenapa tidak mengabari kalau kau sudah pulang?" Tanya Keano sembari mengangsurkan segelas minuman dingin pada Rossie.
"Mau memberikan kejutan?" Tebak Keano lagi yang kali ini ganti terkekeh dan tangannya sudah mencolek hidung Rossie.
"Tadinya begitu. Tapi sepertinya Bang Kean juga tak terkejut," ujar Rossie dengan raut wajah yang tak se-ceria biasanya.
"Ada apa? Kenapa murung?" Tanya Keano yang langsung peka.
Rossie tak langsung menjawab, dan gadis itu menyesap minumannya terlebih dahulu.
"Mawar siapa, Bang?" Tanya Rossie akhirnya setelah gadis itu menghela nafas berulang kali.
"Mawar?" Keano langsung mengernyit dan tampak bingung.
"Rossie mau Abang Kean jujur, misalnya..." Suara Rossie tercekat dan gadis itu kembali menghela nafas. Kedua mata Rossie bahkan sudah berkaca-kaca.
"Misalnya apa?" Tanya Keano akhirnya sembari menatap lekat wajah Rossie.
"Misalnya Abang memang punya hubungan spesial dengan Mawar!" Ujar Rossie akhirnya yang nada bicaranya sudah berubah kesal. Sepertinya gadis itu memang benar-benar kesal sekarang.
"Abang punya hubungan spesial bersama Mawar? Dibelakang Rossie?" Cecar Rossie lagi mendesak jawaban dari Keano.
"Bagaimana, ya?" Keano tak langsung menjawab dan pria itu malah mengulur-ulur jawabannya.
Astaga!
"Katakan saja iya atau tidak, Bang! Tidak usah-"
"Tidak usah apa?" Keano menahan tangan Rossie yang hendak bangkit berdiri. Pria itu lalu meminta agar Rossie kembali duduk. Meskipun Rossie terlihat jengkel dan kesal, namun akhir Rossie duduk juga di samping Keano.
"Mawar," gumam Keano seraya tertawa kecil. Terang saja hal tersebut justru membuat Rossie merasa semakin kesal.
"Mawar bahasa inggrisnya Rose, bukan?" Ujar Keano selanjutnya yang langsung membuat Rossie terdiam sejenak dan gadis itu tampak berpikir untuk beberapa saat. Rossie kemudian menatap penuh tanya pada Keano dan raut wajah Rossie sudah tak kesal lagi
__ADS_1
"Jangan bilang kalau Mawar itu-"
"Itu hanya tokoh fiktif!" Sergah Keano cepat.
"Aku hanya asal sebut saja saat Abang Iel menanyaiku, lalu Bang Iel malah menganggapnya serius," Keano mengendikkan kedua bahunya sebelum kemudian pria itu tertawa lepas.
Rossie seketika kembali merengut, dan langsung memukuli dada Keano yang masih saja tergelak.
"Kau cemburu?" Tanya Keano sembari menahan tangan Rossie yang masih memukuli dadanya.
"Tidak!" Sanggah Rossie cepat seraya memalingkan wajahnya yang sedikit bersemu merah.
"Tidak salah!" Tebak Keano yang langsung meraup Rossie ke dalam pelukannya.
"Abang Kean usil sekali!" Gumam Rossie yang kini masih membenamkan wajahnya di dalam dekapan Keano. Aroma khas yang menguar dari tubuh Keano benar-benar Rossie rindukan setelah pertemuan terakhir mereka di London dua pekan lalu.
"Bukan aku yang usil!"
"Abang Iel saja yang sok paling pintar menebak," ujar Keano mencari pembenaran.
"Tapi ngomong-ngomong, kau sudah bertemu Abang Iel?" Tanya Keano lagi seraya mengusap kepala Rossie.
"Ya!"
"Kemarin saat Rossie baru sampai di airport."
"Setelah dua tahun, Abang Iel masih saja lebay sikapnya," cerita Rossie panjang lebar.
"Dan lagi...." Rossie tiba-tiba sudah mengangkat wajahnya dari dekapan Keano, lalu menatap serius pada kekasihnya tersebut. Rossie terlebih dahulu mengusapkan tangannya ke pipi Keano seolah sedang nencari sesuatu yang ia rindukan. Keano yang merasa paham, langsung mengulas senyum, hingga lesung pipinya terbentuk dengan jelas. Rossie memainkan sejenak telunjuknya di dalam lesung pipi Keano, lalu gadis itu tersenyum sendiri.
"Kau tadi mau bicara apa?" Tanya Keano mengingatkan Rossie.
"Abang Iel...."
"Abang Iel menembakmu juga?" Tebak Keano menerka-nerka.
"Bukan!"
"Tapi Abang Iel ternyata memberikan ancaman pada hubungan Abang Angga dan Kak Reina."
"Kata Abang Angga, Abang Iel tidak mau memberikan restu pada hubungan Abang Angga dan Kak Reina-"
"Sebelum Bang Iel bisa mendapatkan kau dan menjadikanmu istrinya," potong Keano cepat menyambung kalimat Rossie.
"Bang Kean sudah tahu?" Rossie mengernyit pada Keano.
"Ya!"
"Dua tahun yang lalu Angga mengatakannya padaku. Apa sekarang Bang Iel masih belum mengubah keputusannya?" Tanya Keano yang langsung dijawab Rossie dengan gelengan kepala.
"Bahkan sekarang hubungan Bang Angga dan Kak Reina malah memburuk akibat sikap keras kepala Bang Iel tersebut!" Curhat Rossie yang kembali menyusupkan kepalanya ke pelukan Keano.
"Aku jadi serba salah disini, Bang!" Ujar Rossie lagi mengungkapkan ganjalan di hatinya.
"Lalu sekarang mau bagaimana? Kau mau menerima cinta Bang Iel saja dan menikah dengannya demi menyelamatkan hubungan Angga dan Reina?" Tanya Keano yang langsung membuat Rossie mengangkat wajahnya, lalu menatap horor pada Keano.
"Aku hanya bertanya," sergah Keano cepat yang langsung paham maksud dari tatapan tajam nan horor Rossie.
"Tapi haruskah pertanyaannya seperti itu? Atau jangan-jangan Bang Kean tidak mencintai Rossie-"
"Hei hei hei!"
"Tentu saja aku mencintaimu, Rossie!" Ucap Keano bersungguh-sungguh sembari menangkup wajah Rossie yang mulai dilingkupi amarah.
"Lalu kenapa kita tidak jujur saja dan mengatakan pada Abang Iel kalau kita sudah berpacaran sejak satu tahun yang lalu, agar Abang Iel juga berhenti menhejar dan menarih harapan pada Rossie, Bang?"
"Kita akan mengatakannya nanti di waktu yang tepat, ya!" Janji Keano sembari meraup Rossie ke dalam pelukannya.
.
.
.
Ini timming-nya yang awal-awal pertengkaran Angga dan Reina itu, ya!
"Segitiga Cinta Reina" bab 1-5
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1