Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
KEJUTAN


__ADS_3

Rossie langsung mengulas senyum saat mendapati Keano yang sudah menunggunya di depan lobi kantor.


"Kenapa tidak langsung naik ke atas?" Tanya Rossie yang sudah ganti menghambur ke pelukan Keano.


"Baru datang," ujar Keano beralasan.


"Oh!"


"Pengantin baru, lengket terus!" Seloroh Reina yang baru keluar dari lift bersama Angga.


"Kak Reina juga!" Balas Rossie cepat.


"Kan aku asistennya Angga!" Tukas Reina sembari melambaikan tangan pada Keano dan Rossie. Wanita itu lalu menggamit lengan Angga, dan keduanya langsung keluar dari kantor Hadinata.


"Ayo kita pulang juga!" Ajak Keano kemudian sembari merangkul Rossie.


"Pulang ke resto maksudnya?" Koreksi Rossie karena biasanya setelah Keano menjemputnya pulang dari kantor, mereka akan langsung ke resto. Keano akan lanjut bekerja, sementara Rossie akan menunggu di ruangan suaminya tersebut.


Sudah satu bulan sejak mereka menikah, dan Rossie serta Keano rutin melakukan hal tersebut.


"Pulang ke rumah!" Ujar Keano menjawab pertanyaan Rossie.


"Tumben." Rossie menatap penuh selidik pada Keano yang sedang mengambil helm. Mereka memang sudah sampai di halaman parkir.


"Aku punya kejutan kecil untukmu," ucap Keano yang akhirnya berkata jujur.


"Hmmmm. Aku penasaran," Rossie menangkup gemas wajah Keano yang saat ini sedang memakaikan helm ke kepalanya.


"Kita sedang di parkiran!" Keano balas mencolek hidung Rossie.


"Nanti lanjut di rumah kalau begitu!" Tukas Rossie sembari terkekeh. Keano ikut terkekeh, lalu pria itu segera naik ke atas motornya.


Ya, Rossie memang masih suka diantar jemput Keano memakai motor hingga sekarang ketimbang naik mobil. Kata Rossie, dirinya sudah bosan naik mobil sejak kecil.


Setelah Rossie ikut naik, motor Keano segera melaju meninggalkan kantor Hadinata.


****


Tepat pukul lima sore, motor Keano sudah sampai di rumah Papi Abi. Sudah ada seorang pemuda yang duduk di teras rumah, saat Rossie dan Keano tiba.


"Abang Timmy!" Sapa Rossie yang baru turun dari atas motor. Keano juga bergegas melepas helm dan menyusul Rossie yang sudah menghampiri pria tadi.


"Hai!"


"Happy wedding!" Ucap Timmy sembari memeluk Rossie.


"Terlambat, ya?" Kekeh Timmy lagi yang sudah dengan cepat melepaskan pelukannya ada Rossie karena melihat Keano yang juga sudah masuk ke teras.


"Ini suamimu, ya?" Timmy sedikit berbasa-basi dan Rossie langsung mengangguk.


"Keano, Bang!" Sapa Keano ramah sembari mengulurkan tangan pada Timmy untuk berjabat tangan.


"Timmy dan bukan selingkuhannya Rossie!"


"Kami berteman baik sejak kecil," ujar Timmy lagi yang langsung membuat tiga orang itu tertawa bersama.


"Kenapa sekarang baru kelihatan?" Tanya Rossie selanjutnya pada Timmy.


"Iya, kemarin banyak urusan di luar kota," jawab Timmy beralasan.


"Bisnis, Bang? Toko kue juga seperti Beth?" Tanya Keano sok tahu.


"Kami beda jalur," jawab Timmy sembari terkekeh bersamaan dengan Beth yang sudah muncul dari rumah bersama Mami Anne.


"Beth menunggumu sejak tadi, Rossie!" Ujar Mami Anne memberitahu Rossie.


"Benarkah? Kenapa tidak menelepon dulu kalau mau datang, Beth? Aku pasti pulang cepat."


"Aku pikir kau masih cuti menikah," ringis Beth beralasan.


"Cuti sebulan penuh? Papa bisa-bisa memecatku nanti," kekeh Rossie seraya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Jadi ada tujuan-"


"Aku hanya mengantar undangan," Beth sudah dengan cepat menyampaikan maksud kedatangannya sebelum Rossie menyelesaikan pertanyaan.


"Undangan pernikahan?" Tebak Keano kembali sok tahu.


"Ya!" Jawab Beth cepat.


"Cepat sekali," gumam Keano tiba-tiba sembari tertawa kecil.


"Bersama Bang Iel, kan?" Tanya Keano lagi seraya mengambil undangan tadi dari tangan Rossie, lalu membukanya.


"Kenapa bawa-bawa Abang Iel, Bang?" Tanya Rossie bingung. Pun dengan Beth yang sudah berekspresi bingung.


Dan Keano yang sudah membuka undangan sontak terkejut saat membaca nama kedua mempelai yang tertera di dalam undangan.


"Kenapa, Bang?" Tanya Rossie heran.


"Tidak kenapa-kenapa?" Keano sedikit salah tingkah karena tadi sudah salah tebak.


Ternyata yang menikah bukan Beth dan Fairel, melainkan Timothy.


Siapa Timothy?


Timothy? Timmy?


Oh!


"Kami langsung pamit, Rossie!" Ucap Beth kemudian membuyarkan lamunan Keano.


"Iya!"


"Selamat, ya, Bang! Nanti kami akan datang ke acara pernikahan Abang Timmy," janji Rossie yang sudah ganti memeluk Abang Timmy, setelah tadi wanita itu memeluk Beth.


Tapi tampaknya Abang Timmy tak terlihat bahagia. Senyumnya saja terkesan dipaksakan. Baru kali ini ada calon pengantin yang tampak tertekan.


Setelah sedikit berbasa-basi, Timmy dan Beth akhirnya meninggalkan rumah kedua orang tua Keano tersebut.


"Ternyata rumor itu tak benar." Rossie bergumam pelan yang langsung membuat Keano mengernyit.


"Rumor apa?"


"Bukan apa-apa!" Jawab Rossie sambil kbali melipat undangan di tangannya tersebut.


"Ngomong-ngomong, Abang Kean tadi mengatakan ada kebutuhan kecil-"


"Ada di atas," jawab Keano yang langsung membuat Rossie masuk ke rumah dengan cepat dan berlari menaiki tangga menuju ke lantai atas.


"Rossie, pelan-pelan!" Seru Keano seraya mengejar Rossie.


"Tidak ada apa-apa?" Tanya Rossie bingung setelah gadis itu sampai di kamar dan tak menemukan apa-apa.


"Itu!" Keano mengendikkan dagunya ke atas kasur dimana terdapat sebuah kain berwarna hitam.


"Kain? Mau bercinta dengan mata tertutup maksudnya?" Tanya Rossie yang langsung membuat Keano tergelak.


"Aku tak mengira kalau pikiranmu bakal sejauh itu!" Gelak Keano yang langsung membuat Rossie merengut dan memukul dada suaminya tersebut.


"Ayo pakai!" Titah Keano yang sudah berhenti tertawa, dan ganti memakaikan kain hitam tadi untuk menutup kedua mata Rossie.


"Ck! Mau apa sebenarnya, Bang?" Tanya Rossie yang masih merengut.


"Nanti juga tahu!" Keano sudah selesai menutup kedua mata Rossie. Pria itu lalu membimbing Rossie keluar dari kamar dan kembali turun ke lantai bawah.


"Pelan-pelan turun tangganya," ucap Keano yang langsung membuat Rossie berdecak.


"Kenapa tadi menyuruh Rossie naik ke atas kalau ujung-ujungnya kejutannya ada du bawah?" Gerutu Rossie yang hanya membuat Keano tertawa kecil.


"Sudah sampai mana ini?" Tanya Rossie sembari tangannya meraba-raba.


"Keano, kenapa mata Rossie ditutup?" Tegur Mami Anne saat melihat kelakuan putra dan sang menantu.

__ADS_1


"Mau memberikan kejutan, Mi!" Jawab Keano yang langsung membuat Mami Anne mengernyit.


Mami Anne lalu mendekor Keano yang sudah membawa Rossie keluar dari rumah, menuju ke halaman, lalu keluar dari pagar.


"Berhenti dulu! Ada motor!" Keano menahan langkah Rossie saat ada motor yang lewat di jalan depan rumah.


"Abang mau membawaku ke mana sebenarnya?" Tanya Rossie mulai tak sabar.


"Sedikit lagi sampai!" Keano menengok ke kana dan kiri untuk memastikan tak ada lagi kendaraan yang melintas. Setelah aman, segera Keano mengajak Rossie dan Mami Anne menyeberang.


"Keano!" Tegur Mami Anne saat Keano sudah dengan lancang membuka pintu pagar rumah di depan rumah Papi Abi. Rumah itu memang baru selesai dibangun dan kemarin sempat dikagumi oleh Rossie.


"Ini rumah siapa?" Tanya Mami Anne lagi berbisik-bisik pada Keano dengan raut wajah cemas.


"Nanti mami juga tahu!" Jawab Keano ikut berbisik.


"Bang, sudah sampai belum," tanya Rossie yang kembali meraba-raba ke sekitar.


"Sudah!"


"Pegang ini!" Keano mengeluarkan swbuah kunci dari dalam saku, lalu memberikannya pada Rossie.


"Apa ini? Kunci?" Rossie memberkati sembari meraba benda di tangannya tersebut. Disaat bersamaan, Keano sudah membuka penutup mata Rossie.


Rossie mengerjap-ngeejapkan kedua matanya untuk menyesuaikan pandangan, hingga kemudian gadis itu melihat pintu di depannya.


"Ini rumah siapa, Bang?" Tanya Rossie kemudian yang sudah ganti mengedarkan tatapannya ke sekeliling.


"Iya, Kean. Ini rumah siapa?" Mami Anne ikut-ikutan melontarkan pertanyaan dan wajah wanita paruh baya itu sama bingungnya dengan Rossie.


"Rossie yang memegang kunci, Mi!" Ujar Keano yang kini sudah ganti merangkul pundak Mami Anne.


"Kunci?" Rossie langsung menatap pada kunci di tangannya.


"Jadi, rumah ini adalah rumah Rossie." Keano melanjutkan kalimatnya yang langsung membuat Rossie yang tak percaya, buru-buru membuka pintu di depannya dengan kunci di tangannya.


Benar saja!


Pintu langsung terbuka.


Dan pemandangan pertama yang Rossie lihat begitu pintu terbuka adalah foto pernikahannya bersama Keano yang dicetak besar dan dipajang tepat di depan pintu masuk.


"So sweet!" Puji Mami Anne yang langsung tersenyum lebar mengetahui betapa manisnya kejutan Keano untuk Rossie.


"Jadi, selama ini pemilik tanah dan rumah ini?" Mami Anne menatap tak percaya pada Keano.


"Keano membeli tanah dan bangunannya yang lama sekitar tiga tahun lalu, Mi!"


"Kan kata Mami, kalau Keano sudah menikah, Keano tak boleh jauh-jauh dari Mami dan Papi. Jadi Keano pikir, kenapa Keano tidak membangun rumah di depan rumah Mami saja."


"Waktu itu juga pas pemilik tanah dan bangunan menjualnya karena butuh uang. Jadi Keano beli saja," cerita Keano panjang lebar yang langsung membuat Mami Anne terharu dan buru-buru memeluk putra semata wayangnya tersebut.


"Nanti Mami tinggal nyebrang saja kalau mau menengok cucu-cucu Mami, ya?" Ujar Mami Anne kehidupan dengan mata berbinar.


"Iya, itu maksud Keano, Mi!"


"Mami sudah tak sabar, Kean!" Ucap Mami Anne yang kemudian sudah meraih tangan Rossie.


"Ayo kita lihat-lihat ruangannya, Rossie!"


"Mami penasaran!"


"Rossie juga penasaran, Mi!"


"Bisa-bisanya Abang Kean membangun rumah di depan rumah Mami tanpa memberitahu siapa-siapa," sahut Rossie sebelum kemudian dua wanita itu tertawa bersama. Keduanya sudah menghilang ke dalam meninggalkan Keano yang masih berdiri di dekat pintu utama.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2