
[Bang, jadi jemput?] -Rossie-
Keano melihat jam di arloji tangannya, setelah pria itu membaca pesan Rossie. Keano ingat kalau Rossie selesai kuliah jam dua belas, dan sekarang masih pukul sebelas lebih dua puluh menit.
[Iya, jadi!] -Keano-
[Mau dijemput pakai mobil atau pakai motor?] -Keano-
[Terserah Bang Kean] -Rossie-
[Oke!] -Keano-
[Aku masih di kelas, Bang! Nanti saja kalau kelas sudah selesai aku telepon] -Rossie-
[Biar Bang Kean tidak menunggu lama] -Rossie-
Keano mengulas senyum tipis setelah membaca pesan Rossie yang terakhir. Ternyata Rossie perhatian juga pada Keano.
[Baiklah! Aku tunggu telepon dari kamu, ya!] -Keano-
Tak ada balasan pesan lagi dari Rossie, dan Keano bergegas keluar dari ruangannya. Keano akan menemui Lea karena ada hal penting yang harus ia katakan pada sepupunya tersebut.
"Bu Lea sedang keluar tadi, Pak!" ujar salah satu karyawan di dapur saat Keano menanyakan keberadaan Lea.
"Keluar? Sudah lama?"
"Baru beberapa menit yang lalu, Pak!" Jawab karyawan itu lagi.
"Baiklah. Nanti kalau Lea sudah kembali, katakan aku mencarinya!" Pesan Keano sebelum pria itu keluar dari dapur resto.
Namun saat Keano hendak menuju ke meja kasir, ia malah melihat Lea yang sudah datang.
"Lea!" Panggil Keano akhirnya pada Lea yang hendak masuk ke dapur resto. Lea sedikit celingukan, sebelum akhirnya gadis itu menghampiri Keano. Dua sepupu itu lalu duduk di meja yang berada di dekat mereka.
"Ada apa?"
"Stok bahan-bahan di gudang masih aman?" Tanya Keano langsung pada intinya.
"Ada beberapa bahan yang stoknya menipis. Tapi sudah aku pesan dan akan secepatnya diantar."
"Apa akan ada acara?" Lea balik bertanya pada Keano.
"Ya!" Keano membuka ponselnya, lalu menunjukkan beberapa catatan pada Lea.
"Customer minta menunya ini," ujar Keano.
Lea membaca sejenak catatan menu yang disodorkan oleh Keano lalu gadis itu manggut-manggut.
"Stok bahan aman?" Tanya Keano memastikan.
"Ada beberapa yang hampir habis, tapi nanti akan aku tangani semuanya," janji Lea dengan nada yakin.
"Baiklah!" Keano ikut manggut-manggut, lalu pria itu menyimpan lagi ponselnya, sembari mengedarkan pandangannya ke beberapa meja di dalam resto yang sudah mulai ramai. Pandangan Keano langsung tertumbuk pada dua orang pria yang duduk tak jauh dari ia dan Lea. Salah satu pria itu terlihat tak asing.
"Lea, bukankah itu Rayyen?" Tanya Keano memastikan yang langsung membuat Lea kebingungan dan menoleh ke kanan lalu ke kiri atau lebih tepatnya ke arah pria yang ditunjuk oleh Keano.
Keano sangat yakin kalau itu adalah Rayyen yang menjadi tunangan Lea hari Sabtu kemarin. Tapi kenapa pria bernama Rayyen itu malah mengangkat satu tangannya dan seolah sedang menutupi wajahnya sendiri dari Lea?
"Hai, Rayyen! Kau ada janji dengan Lea?" Sapa Keano akhirnya yang malah berhadiah bentakan dari Lea.
"Diamlah, Keano!"
"Ayo pindah!" Ajak Lea selanjutnya seraya bangkit berdiri dan menarik tangan Keano.
__ADS_1
"Apa, sih! Sama tunangan sendiri pura-pura tak kenal!" Cibir Keano pada Lea yang terlihat mendengus. Lea dan Rayyen seperti sedang berakting dan pura-pura tak kenal padahal mereka baru bertunangan. Apa mereka sedang bertengkar karena biaya acara pertunangan yang membengkak?
Hahaha!
Ada-ada saja!
"Ayo pindah!" Aja Lea sekali lagi pada Keano.
"Aku sudah selesai bicara, dan kau urus tadi yang aku katakan," ujar Keano seraya meninggalkan Lea. Keano ganti menghampiri Rayyen yang tak lagi menutupi wajahnya dengan tangan.
"Hai, Rayyen!" Sapa Keano sekali lagi.
"Hai!" Jawab Rayyen yang sepertinya sedikit canggung. Apa Rayyen lupa pada Keano?
"Kau ingat aku, kan? Kita bertemu di acara pertunanganmu dengan Lea beberapa hari yang lalu," ujar Keano akhirnya mengingatkan Rayyen.
"Iya." Wajah Rayyen masih menyiratkan keraguan. Sepertinya Rayyen benar-benar tak ingat pada Keano.
"Aku Keano, sepupunya Lea!" Keano akhirnya memperkenalkan diri.
"Iya, aku ingat!" Rayyen terlihat meringis.
"Kau kerja disini, Keano?"
"Iya, sebenarnya ini restorant milik Opaku dan Opanya Lea juga. Aku mendapat posisi manager disini dan Lea adalah kepala koki."
"Lea pasti sudah menceritakannya padamu, kan?" Tutur Keano menjelaskan pada Rayyen yang hanya manggut-manggut.
"Aku sering melihatmu juga dulu sebelum kau pindah ke luar kota. Kau dulu sering menemui Lea disini, kau ingat, kan?" Ujar Keano lagi mengingat momen saat Rayyen datang ke resto beberapa bulan silam untuk menemui Lea namun dengan wajah tertutup masker.
"Tapi dulu kau selalu pakai masker saat kesini dan tak mau menyapaku!" Keano ganti terkekeh.
"Jadi aku pikir kau pria yang sombong. Tapi setelah aku melihatmu di acara pertunangan kemarin, kau ternyata pria yang humble!" Cerocos Keano lagi tanpa jeda sampai akhirnya ponselnya yang di dalam saku berdering.
Ya ampun!
"Aku ada janji dengan seseorang! Aku pergi dulu!" Pamit Keano akhirnya pada Rayyen, sebelum pria itu berlalu sembari mengangkat telepon dari Rossie.
"Halo, Rossie!" Sambut Keano cepat.
"Kelas Rossie sudah selesai, Bang!"
"Iya, aku OTW ke sana, ya!" Jawab Keano cepat seraya menuju ke parkiran motor.
Ah, sial!
Keano tadi ke resto naik mobil!
Keano akhirnya ganti menghampiri mobil putihnya yang terparkir di sudut halaman parkir.
"Tidak usah buru-buru, Bang!"
"Iya, ini juga santai, kok!" Jawab Keano sedikit berdusta. Apanya yang santai!
Keano saja sedang berlari menuju ke mobilnya.
"Jangan dekat-dekat dulu dengan Bisma sampai aku datang, ya! Pria itu brengsek sekali!" Pesan Keano yang antara keceplosan atau memang sengaja.
"Bang Kean tadi pagi disamperin Bisma?"
"Hanya berpapasan," ujar Keano menenangkan.
"Aku malah khawatirnya dia gangguin kamu di kampus," ujar Keano lagi mengungkapkan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Tidak, Bang! Tadi Rossie full di kelas. Jadi aman."
"Sekarang masih di kelas?" Tanya Keano memastikan. Keano sudah melajukan mobilnya menuju ke kampus Rossie.
"Sudah keluar bareng Karen-"
"Ya ampun!"
"Ada apa, Rossie? Bisma mengganggu lagi?" Tanya Keano khawatir. Pria itu terap berusaha fokus menyetir.
"Bukan! Tapi Bang Iel."
"Bang Iel menjemput kamu juga?" Keano memperlambat laju mobilnya karena lampu lalu lintas di depan sudah menunjukkan warna merah.
"Iya."
"Kok Bang Iel bisa tahu kalau kelas Rossie sudah selesai, ya? Kak Reina tidak ke kampus padahal."
"Oh, jadi selama ini mata-matanya Fairel memang si Reina, ya?" Keano langsung terkekeh karena dulu dirinya juga kerap bertanya pada Reina tentang jam pulangnya Rossie. Sepertinya Reina adalah mata-mata Fairel dan juga Keano!
"Nggak tahu juga, Bang! Rossie hanya menebak-nebak."
"Mungkin mata-matanya Bang Iel sudah ganti. Atau Bang Iel mungkin punya CCTV, Ros!" Keano sedikit berkelakar. Langsung terdengar decakan dari Rossie.
"Aku tidak jadi jemput aja berarti, ya! Kamu pulang sama Bang Iel saja," saran Keano selanjutnya seraya membelokkan mobilnya ke jalan yang menuju kampus Rossie.
"Kok begitu, Bang?"
"Iya daripada nanti aku malah debat sama Bang Iel di depan kampusmu lagi," Keano terkekeh meskipun hatinya sedikit merasa cemburu.
"Bang Kean sudah dimana sekarang?"
"Masih di Resto!" Jawab Keano berbohong. Keano yang sebenarnya sudah dampai di kampus Rossie, sengaja menghentikan mobilnya di bawah pohon tak jauh dari gerbang utama kampus. Namun Keano tak turun dan hanya memperhatikan Fairel yang saat ini sedang menghampiri Rossie dan mungkin akan merayu gadis itu tak lama lagi.
"Rossie akan menelepon sopir saja kalau begitu, Bang!"
"Kenapa tidak pulang saja bersama Bang Iel-"
"Rossie tutup dulu teleponnya. Bye!"
Tuut tuut!
Telepon terputus dan Keano langsung menghela nafas. Keano masih melihat ke arah Rossie yang kini sedang berbicara dengan Fairel. Cukup lama Fairel dan Rossie berbicara, hingga akhirnya Rossie masuk ke dalam mobil Fairel, lalu meninggalkan kampus.
Tepat saat mobil Fairel melewati mobil Keano, Keano seperti bisa melihat Rossie yang tengah menatap ke arah mobilnya dari dalam mobil Fairel.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Keano.
[Abang Kean bohong! Abang sudah sampai di depan kampus, kan?] -Rossie-
Keano langsung bungkam seribu bahasa dan benar-benar tak menyangka kalau Rossie bisa langsung mengenali mobilnya.
Ya ampun!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1