
Fairel sudah selesai melepaskan bajunya yang basah kuyup sekalian mengeringkan tubuhnya, saat kemudian pria itu ingat pada satu hal.
Baju ganti!
Kenapa Fairel tadi tak sekalian membawanya ke dalam kamar mandi?
"Sial!" Umpat Fairel yang selalu saja pelupa. Mana sekarang Fairel tidak berada di rumah Mom dan Dad melainkan di rumah Aunty Sita.
Lalu apa Fairel harus berlari keluar dari kamar mandi dan berlari ke kamar Angga?
Kenapa juga Fairel tadi tak memakai kamar mandi di kamar Angga saja dan malah memakai yang berada di dekat dapur?
Tapi Fairel sudah terlanjur basah kuyup juga dan semua gara-gara Beth, si tukang kue!
"Awas saja nanti kalau ketemu lagi!" Gerutu Fairel sendiri yang akhirnya melilitkan handuk yang tadi ia pakai untuk mengeringkan badan, ke bagian bawah tubuhnya.
"Baiklah, kamar Angga di lantai dua, dan aku hanya tinggal berlari ke arah tangga, lalu ke kamar Angga di atas."
Tak akan ada yang melihat!
Bukankah semua orang sedang di halaman belakang?
Setelah menarik nafas cukup lama, Fairel akhirnya membuka pintu kamar mandi dengan cepat, dan hampir melesat keluar saat mendadak tubuhnya menabrak seseorang yang berdiri di depan kamar mandi.
"Astaga!" Pekik orang itu yang suaranya lebih mirip seorang gadis....
Atau lebih tepatnya lebih mirip suara Beth menyebalkan!
"Sedang apa kau?" Gertak Fairel akhirnya pada Beth yang kini menutup rapat kedua matanya.
Dasar aneh!
"Mengantar baju untuk Pak Ibel!" Jawab Beth sembari menyodorkan baju di tangannya namun tetap sambil memejamkan mata dengan rapat.
"Pak Ibel Pak Ibel! Iel!" Geram Fairel karena Beth yang terus saja mengganti namanya seenak jidat.
"Eh, iya!"
"Pak Iel."
"Ini bajunya, Pak!" Ucap Beth sekali lagi tetap menyodorkan baju pada Fairel.
Fairel akhirnya mengambil baju dari tangan Beth ketimbang dirinya haris berlari ke kamar Angga hanya memakai handuk. Mana handuknya juga kekecilan. Kalau handuk melorot, Fairel malah bisa viral nanti.
Kalau yang melihat hanya Rossie tidak masalah, kalau yang melihat orang lain....
Bahaya!
"Pergi sana!" Usir Fairel kemudian setelah mengambil bajundari tangan Beth. Fairel lalu kembali masuk ke dalam kamarandi sembari membantung pintu. Bodoamat kalau Beth kaget atau jantungan.
Fairel tak peduli!
Fairel langsung memakai baju dengan cepat, sebelum kemudian pria itu keluar lagi dari dalam kamar mandi. Beth rupanya masih berdiri di depan kamar mandi, namun kali ini gadis itu sudah membuka kedua matanya dan tak merem lagi.
"Kenapa belum pergi?" Tanya Fairel ketus.
"Saya mau minta maaf, Pak Ib-"
"Eh, Pak Iel maksudnya," ucap Beth seraya tersenyum absurd.
Dasar aneh!
"Aku tidak memaafkanmu! Kau sudah membuatku basah kuyup!" Jawab Fairel yang malah mengomeli Beth.
"Tapi saya tidak sengaja, Pak-"
"Ck! Susah kubilang untuk tidak memanggilku Pak!"
__ADS_1
"Aku bukan bapakmu!" Geram Fairel sekali lagi yang malah membuat Beth meringis.
"Iya, maaf!"
"Kau memaafkanku, kan?" Tanya Berhentilah sekali lagi sedikit memohon.
"Tidak!" Jaeab Fairel cepat dan galak.
"Hush! Hush! Aku mau lanjut menemui Rossie-ku!" Ujar Fairel selanjutnya seraya memberikan isyarat pada Beth agar menyingkir dan memberikannya jalan.
Beth yang merengut akhirnya menyingkir dan membiarkan Fairel lewat. Fairel langsung melesat dan kembali ke halaman belakang. Sementara Beth yang juga hendak pergi, tak sengaja melihat baju Fairel yang tadi basah, teronggok di dalam kamar mandi. Beth berpikir sebentar dan akhirnya memutuskan untuk mencucikan baju Fairel, lalu mengembalikannya besok sekalian minta maaf.
****
"Rossie!" Panggil Fairel penuh semangat, sembari menghampiri Rossie yang tengah berbincang dengan....
Keano lagi!
"Sudah kubilang agar janagn dekat-dekat dengan Keano!" Fairel langsung menjauhkan Rossie dari Keano.
"Bang!" Keano langsung meraih tangan Rossie, seolah pria itu tak mau berjauhan dari Rossie.
Dasar tak tahu diri!
"Lepas dan jauh-jauh sana!" Gertak Fairel yang kini sydah ganti mendelik pada Keano.
"Tapi Rossie pacar Keano, Bang!" Sergah Keano yang akhirnya mengatakan secara jujur dan blak-blakan pada Fairel.
Fairel sontak terdiam dan menatap tajam pada Keano, sebelum kemudian pria iti tertawa terbahak-bahak seolah Keano baru saja melawak.
"Keano serius, Bang!" Ucap Keano selanjutnya bersungguh-sungguh.
"Aku tak percaya!"
"Tak usah mimpi!" Fairel sudah menuding pada Keano sekarang.
"Cih! Mimpimu ketinggian, Keano Abian!" Cerocos Fairel yang sepertinya benar-benar tak percaya.
"Tapi Keano dan Rossie memang sudah berpacaran jauh sebelum Keano memberikan kejutan untuk Rossie semalam, Bang!" Aku Keano lagi.
"Jangan bohong!" Gertak Fairel lagi mulai emosi.
"Abang Kean tidak bohong, Bang!" Ujar Rossie yang akhirnya buka suara.
"Rossie dan Bang Kean sudah berpacaran sejak Rossie masih di London," sambung Rossie lagi mengungkapkan status hubungannya bersama Keano yang langsung membuat Fairel terdiam untuk beberapa saat. Bahkan tangan Fairel yang tadinya menggenggam tangan Rossie juga sudah terlepas.
"Kalian berdua pasti sedang bercanda, kan?" Fairel menatap tak percaya, bergantian ke arah Keano dan Rossie.
"Kalian hanya sedang bercanda!" Suara Fairel sudah naik lima oktaf sekarang.
"Kami tidak bercanda, Bang!"
"Bahkan-"
"Bahkan apa?" Bentak Fairel memotong penjelasan Keano. Pria itu lalu meraih tangan Rossie kembali hingga membuat Rossie sedikit kaget.
"Kau tahu, Rossie!"
"Malam ini, aku sudah menyiapkan sebuah cincin-" Fairel meraba saku celananya dan mencari-cari keberadaan cincin yang tadi ia simpan di saku sebelah kanan sejak dari rumah.
Tapi kenapa sekarang tidak ada?
"Sebentar!" Fairel ganti memegang tangan Rossie memakai tangan kanannya, llau tangan kiri pria itu ganti meraba saku celana sebelah kiri.
Tidak ada juga!
Tapi bagaimana bisa....
__ADS_1
"Aku mengantar baju untuk Pak Ibel."
"Brengsek! Cincinnya ada di saku celanaku yang basah!" Ucap Fairel pada Rossie sembari pria itu berlari masuk ke dalam rumah. Terang saja, tingkah Fairel tersebut langsung membuat Rossie dan Keano saling bertukar pandang.
"Kenapa Abang Iel masih belum percaya, Bang?" Bisik Rossie pada Keano yang hanya mengendikkan kedua bahunya.
Sementara Fairel yang sudah masuk ke dalam rumah, langsung bergeags ke kamar mandi di dekat baru dan mendorong pintunya dengan kasar.
"Celana-"
Tatapan Fairel tertumbuk ke sudut kamar mandi, dimana ia tadi meletakkan baju basahnya disana. Tapi sekarang sudah tidak ada!!
Siapa yang mengambil?
"Pak Fairel cari apa?" Tanya seorang maid di kediaman Hadinata.
"Bajuku! Kau menyingkirkannya kemana?" Tanya Fairel dengan wajah panik.
"Baju apa, Pak? Saya tidak melihatnya," jawab maid dengan ekspresi takut-takut.
"Lalu baju dan celanaku kemana? Ada cincin untuk Rossie...." Fairel mendadak bersandar dengan lesu di ambang pintu kamar mandi.
"Tapi Keano dan Rossie memang sudah berpacaran jauh sebelum Keano memberikan kejutan untuk Rossie semalam, Bang!"
"Rossie dan Bang Kean sudah berpacaran sejak Rossie masih di London."
"Kau sebenarnya kuliah dimana selama ini?"
"Di London!"
"Kau mau kemana? Kenapa bawa-bawa koper?"
"Mau berlibur, Bang!"
"Lalu, customer yang jadi gebetanmu namanya siapa?"
"Sebut saja Mawar, Bang!"
"Keano sedang berlibur ke London. Makanya rumah sepi." Ucapan Mami Anne yang tak sengaja Fairel dengar saat wanita paruh baya itu berkunjung ke kediaman Halley, mendadak terngiang di benak Fairel lagi.
Waktu itu Fairel memang sedang buru-buru jadi tak sempat menyapa Mami Anne atau sekedar memastikan...
"Kau kuliah di London?"
"Keano sedang berlibur ke London."
"Rossie dan Bang Kean sudah berpacaran sejak Rossie masih di London."
"Kau terlambat datang!"
"Keano datang on time tadi, lalu meminta izin baik-baik."
Fairel terdiam sejenak saat kalimat demi kalimat terus berputar di kepalanya.
"Lagipula, Keano dan Rossie sudah...."
"Sudah berpacaran," gumam Fairel pada dirinya sendiri seolah sedang melanjutkan kalimat Papa Robert yang semalam ia abaikan.
Kenapa Fairel terlalu percaya diri?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1