
"Halo!"
"Reina! Rossie pulang jam berapa?" Tanya Fairel tonthe point setelah teleponnya diangkat oleh Reina.
"Mana Reina tahu, Bang! Reina tidak ke kampus hari ini."
"Lagipula, skripsi Reina juga sudah kelar dan hanya tinggal sidang."
"Lalu kau kemana? Tadi pagi-pagi kau dijemput Angga, kan? Jangan bilang kalian sedang honeymoon! Abang grebek juga kalian berdua!" Fairel terus bercerocos sembari menyalak tanpa jeda.
"Siapa yang honeymoon? Reina di kantor Angga!"
"Ngapain di kantor Angga?" Tanya Fairel galak.
"Kerja lah!"
"Kerja?"
"Latihan kerja!" Terdengar kekehan dari Reina di ujung telepon. Dasar!
"Ck! Seharusnya kau itu di Halley Development saja dan jangan malah di perusahaannya Angga! Kau itu kan berdarah Halley!" Protes Fairel yang masih merasa keberatan dengan rencana Reina untuk bekerja di perusahaan milik keluarga Angga.
"Suka-suka Reina, Bang! Kenapa jadi Abang yang ngatur!"
"Abang kalau mau merekrut Rossie ke Halley Development juga silahkan! Tapi kalau Rossie mau." Reina kembali terkekeh di ujung telepon.
"Harus mau dan kau juga harus mendukungku!"
"Atau aku tak akan merestui hubunganmu dengan Angga!" Fairel kembali melontarkan ancaman konyolnya pada Reina.
"Mulai!"
"Jadi, Rossie pulang jam berapa?" Tanya Fairel kembali ke tujuan awal ia menelepon Reina.
"Reina tidak tahu! Bisa jam dua belas, bisa jam dua, Reina tidak tahu pokoknya!"
"Kenapa Abang tidak tanya langsung pada Rossie?"
"Sudah! Tapi tidak dijawab!" Fairel kembali menyalak pada Reina.
"Kasihan sekali! Mungkin Rossie memang tak tertarik pada Bang Iel! Kenapa tidak sadar diri dan mundur teratur saja, Bang!"
"Sialan! Aku tanya Rossie pulang jam berapa tapi kau malah menyuruhku mundur teratur dari mendekati Rossie. Adik macam apa kau itu? Pokok ya kau tidak boleh menikah dengan Angga sebelum aku menikah dengan Rossie!".
"Titik!" Ucap Fairel tegas dan berapi-api.
"Kalau Reina hamil duluan dengan Angga?"
"Reina!!"
"Aku akan langsung membunuh Angga-"
Tuut tuut!
Telepon ditutup begitu saja oleh Reina sebelum Fairel sempat menumpahkan kemarahannya. Fairel akan melapor pada Mom dan Dad nanti agar Reina disidang!
Bisa-bisanya adik Fairel itu berpikir untuk hamil duluan agar ia bisa cepat menikah dengan Angga!
Gila!
Fairel melihat arlojinya lagi yang sekarang menunjukkan pukul setengah dua belas. Apa Rossie sudah selesai yang kuliah?
Ah, sebaiknya Fairel langsung ke kampus Rossie saja untuk memastikan! Mumpung Dad Liam dan Ryan juga sedang meeting di luar!
"Aku datang, Rossie!" Seru Fairel girang seraya keluar dari ruang kerjanya, dan langsung melesat cepat ke arah lift.
****
"Kau dijemput Bang Kean?" Tanya Karen pada Rossie yang sedang mengutak-atik ponselnya.
"Iya!" Jawab Rossie singkat sebelum kemudian gadis itu menelepon Keano. Cukup lama hingga akhirnya telepon Rossie dijawab oleh Keano.
"Halo, Rossie!"
"Kelas Rossie sudah selesai, Bang!" Lapor Rossie cepat.
"Iya, aku OTW ke sana, ya!"
"Tidak usah buru-buru, Bang!" Pesan Rossie karena mendengar nafas Keano yang sepertinya sedang tergesa-gesa.
"Iya, ini juga santai, kok!"
"Jangan dekat-dekat dulu dengan Bisma sampai aku datang, ya! Pria itu brengsek sekali!"
Rossie diam sejenak setelah mendengar pesan Keano barusan.
__ADS_1
Pria itu brengsek sekali!
Apa itu arti Abang Keano tadi pagi sempat diganggu oleh Bisma. Secara tadi pagi Bisma memang terlihat menatap sengit ke arah Rossie yang datang diantar oleh Bang Keano.
"Bang Kean tadi pagi disamperin Bisma?" Tanya Rossie akhirnya karena merasa khawatir. Bisma nekat juga ternyata. Apa sebenarnya mau pria itu?
"Hanya berpapasan."
"Aku malah khawatirnya dia gangguin kamu di kampus."
Ya ampun!
Abang Keano ternyata juga mengkhawatirkan Rossie.
Rossie mengulas senyum dan wajahnya sedikit memanas karena kaliamt penuh perhatian dari Keano barusan. Konyol!
"Tidak, Bang! Tadi Rossie full di kelas. Jadi aman," tukas Rossie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Karen menyenggol pundak Rossie yang wajahnya masih sedikit bersemu.
"Enggak!" Kilah Rossie cepat bersamaan dengan lontaran pertanyaan dari Keano lagi.
"Sekarang masih di kelas?"
"Sudah keluar bareng Karen-" Rossie menjeda kalimatnya begitu saja karena gadis itu mendapati seseorang yang sebenarnya Rossie sedang malas untuk menemuinya.
Abang Fairel!
Kenapa juga calon abang ipar Abang Angga itu masih ngebet pedekate pada Rossie?
"Ya ampun!" Guman Rossie sedikit kesal.
"Ada apa, Rossie? Bisma mengganggu lagi?"
"Bukan! Tapi Bang Iel," jawab Rossie sedikit malas.
"Bang Iel menjemput kamu juga?"
"Iya, Bang!" Rossie sedikit memelankan langkahnya, meskipun di kejauhan Fairel sudah menyadari kedatangan Rossie. Pria itu bahkan sudah memasang senyuman absurd sekaligus melambaikan tangan dengan lebay ke arah Rossie.
Astaga!
Semakin hari tingkah Abang Fairel semakin lebay saja!
"Kok Bang Iel bisa tahu kalau kelas Rossie sudah selesai, ya? Kak Reina tidak ke kampus padahal," ucap Rossie pada Keano yang masih tersambung di telepon. Rossie tetap berjalan pelan, agar ia tak segera sampai ke arah Fairel.
"Nggak tahu juga, Bang! Rossie hanya menebak-nebak," ringis Rossie setelah mendengar kekehan Keano dari ujung telepon.
"Mungkin mata-matanya Bang Iel sudah ganti. Atau Bang Iel mungkin punya CCTV, Ros!"
Rossie sontak berdecak dengan pendapat dari Keano. Kurang kerjaan sekali misalkan Bang Fairel sampaj memasang CCTV untuk mengawasi Rossie pulang dari mana. Selama ini Rossie berpikirnya memang Reina-lah yang memberitahu Abang Fairel tentang jam pulang Rossie. Tak jarang Reina juga memaksa Rossie agar menerima saja cinta Bang Fairel dan jadian dengan abang kandung dari Reina tersebut.
Ck!
Enak sekali Reina ngomongnya.
Urusan hati dan perasaan kok dipaksa-paksa!
Kalau hatinya Rossie memilih pria lain dan jatuh cinta pada pria lain, masa iya Rossie tetap harus jadian dengan Abang Fairel.
Rossie tidak mau!
"Aku tidak jadi jemput aja berarti, ya! Kamu pulang sama Bang Iel saja."
Ucapan Keano di ujung telepon sontak membuyarkan lamunan Rossie.
"Hah? Bagaimana, Bang?" Tanya Rossie tergagap.
"Kamu pulang sama Bang Iel saja, Rossie! Aku tak jadi menjemput!"
"Kok begitu, Bang?" Rossie langsung berdecak kecewa.
"Iya daripada nanti aku malah debat sama Bang Iel di depan kampusmu lagi."
Rossie langsung sesikit merengut mendengar alasan Bang Keano tak jadi menjemput. Karena ingin menghindari perdebatan dengan Abang Iel. Dasar!
"Bang Kean sudah dimana sekarang?" Tanya Rossie akhirnya.
"Masih di Resto!"
Masih di Resto? Sejak tadi?
Perasaan tadi Abang Keano sudah mengatakan kalau ia sudah OTW.
"Rossie akan menelepon sopir saja kalau begitu, Bang!" Putus Rossie akhirnya, bersamaan dengan langkahnya yang semakin dekat ke arah Fairel.
__ADS_1
"Kenapa tidak pulang saja bersama Bang Iel-"
"Rossie tutup dulu teleponnya. Bye!" Pamit Rossie cepat sebelum kalimat Keano selesai. Toh ujung-ujungnya Keano juga malah menyuruh Rossie pulang bersama Fairel! Dasar!
"Dia siapa, Ros?" Tanya Karen bingung karena yang menjemput Rossie bukan Abang Keano.
"Abangku," jawab Rossie sedikit berbisik.
"Kau duluan saja!" Tukas Rossie lagi dan Karen pun langsung berpamitan pada Rossie.
"Halo!" Sapa Fairel seraya tersenyum lebar. Tanpa lesung di pipinya tapi!
"Hai, Bang! Nggak kerja?" Rossie sedikit berbasa-basi pada Fairel.
"Kerja! Kebetulan sedang luang saja," jawab Fairel dengan nada lebay seperti biasa.
"Oh!" Rossie hanya mengangguk dan membulatkan bibirnya. Gadis itu lalu mengutak-atik ponselnya dan menghubungi sopir.
"Menelepon siapa? Ayo aku antar!" Ujar Fairel sedikit memaksa.
"Rossie akan pulang bersama sopir, Bang!" Jawab Rossie cepat sambil masih berusaha menghubungi sopir Papa Robert.
"Aku antar saja, Ros!" Fairel tiba-tiba merebut paksa ponsel Rossie, lalu mematikan telepon Rossie pada sopir Papa.
"Abang!" Tegur Rossie tak senang.
"Maaf!" Fairel buru-buru mengembalikan ponsel Rossie dan pria itu kini meringis tanpa dosa.
"Tapi aku antar pulang saja, oke! Toh sopir Papa Robert juga tak bisa dihubungi," paksa Fairel sekali lagi.
"Ya, ya, ya!" Fairel sudah menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dan disaat bersamaan, Bisma terlihat dari kejauhan.
Sial!
"Baiklah, Rossie pulang bareng Abang!" Putus Rossie akhirnya seraya berjalan cepat ke arah mobil Fairel.
"Yess! Akhirnya!" Fairel langsung bersorak senang, dan pria itu bergegas membukakan pintu mobil untuk Rossie.
"Pakai sabuk pengaman." Fairel hebdak memakaikan sabuk pengaman Rossie namun dengan cepat ditolak oleh gadis itu.
"Rossie bisa sendiri, Bang!"
"Bagus!" Fairel menutup pintu dengan hati-hati, lalu pria itu mengitari mobil dengan cepat dan masuk ke mobil lewat pintu di sisi lain.
"Sudah siap?" Tanya Fairel seraya memasang senyuman absurd lagi pada Rossie yang hanya mengulas senyum tipis. Tak berselang lama, mobil Fairel sudah melaju perlahan dan meninggalkan kampus.
Rossie masih sempat melihat mobil warna putih yang terparkir sedikit jauh dari gerbang kampus. Meskipun baru tadi pagi Rossie melihatnya, namun Rossie langsung bisa tahu kalau itu adalah mobil Keani.
Berarti Keano sebenarnya memang sudah sampai di kampus tadi untuk menjemput Rossie. Lalu kenapa Keano berbobot dan mengatakan kalau ia masih di B&D Resto? Karena alasan tak ingin berdebat dengan Fairel?
Rossie membuka ponsel yang sejak tadi masih berada di genggamannya, lalu mengirimkan sebuah pesan singkat pada Keano.
[Abang Kean bohong! Abang sudah sampai di depan kampus, kan?] -Rossie-
Pesan terkirim!
Tak butuh waktu lama, pesan sudah dibaca oleh Keano. Namun tak ada balasan apapun dari pria itu.
Ya, Rossie memang tak mengharapkan balasan dari Keano aneh!
Rossie juga tak akan minta bantuan lagi pada Keano untuk menjadi pacar pura-puranya.
"Mau makan siang dulu, Rossie?" Tanya Fairel yang langsung membuat Rossie menarik nafas dalam-dalam sembari berusaha mengendalikan emosinya yang membuncah di dada. Rossie tidak mau nada bicaranya pada Fairel terdengar ketus.
"Langsung pulang saja, Bang! Kata Mama tidak boleh kelayapan," jawab Rossie cepat.
"Nanti Abang izinin dan Mama tidak akan marah, Rossie! Abang Iel kan calon menantu mama kamu," seloroh Fairel yang hanya membuat Rossie tersenyum tipis. Rossie sedang malas menanggapi kelakaran Abang Fairel.
"Aaamiin gitu, Rossie! Kok diam?" Ujar Fairel lagi sedikit memaksa.
Rossie tak berucap apapun dan gadis itu hanya mengangguk samar.
Entahlah!
Hati Rossie mendadak galau!
"Kita makan siang dulu berarti, ya!"
"Langsung pulang, Bang!" jawab Rossie tegas dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Baiklah! Kita langsung pulang!" tukas Fairel akhirnya setelah merasa ada yang tak beres dengan Rossie. Mungkin gadus di sebelah Fairel ini sedang PMS.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.