
Keano masih fokus memeriksa grafik penjualan, saat tiba-tiba sepasang tangan sudah menutup kedua matanya dari belakang.
"Rossie?" Tebak Keano sembari meraba-raba tangan yang kini masih berada di wajahnya. Tak ada hawaban, tapi Keano bisa merasakan hembusan nafas seseorang du samping lehernya. Dan aroma parfum yang menguar, tentu saja Keano sudah hafal di luar kepala.
"Rossie! Aku tahu ini kau!" Ucal Keano sekalo lagi sambil berusaha melepaskan tangan Rossie.
"Bukan! Ini Aura," bisik Rossie di telonga Keano yang sontak membuat kekasihnya tersebut berdecak.
"Aura Rossie Hadinata-"
"Aura Rossie Abian!" Koreksi Rossie cepat yang kini sudah ganti merangkul Keano dari belakang, seolah tak .erasa canggung ataupun malu. Padahal Keano tak sedang berada di ruangannya sekarang, melainkan sedang duduk di salah satu meja yang ada di dalam B&D Resto.
"Kesini bersama siapa? Tidak ada acara?" Tanya Keano kemudian pada Rossie yang masih bergelayut di punggung Keano dan kini gadus itu sudah ganti menyandarkan dagunya di pundak Keano.
"Acara apa maksudnya? Acaraku setiap hari adalah mengganggu Bang Kean."
"Kecuali kalau Bang Kean segera menjadikan Rossie istri, mungkin nanti Rossie akan punya acara lain," ujar Rossie blak-blakan.
"Acara apa itu misalnya?" Tanya Keano sembari mengusap tangan Rossie yang masih melingkari lehernya.
"Menunggu Bang Kean pulang," Rossie mengecup singkat pipi Keano, sebelum kemudian gadis itu berhenti bergelayut dan ganti duduk di kursi yang ada di depan Keano.
"Memasak juga?" Keano menatap ke dalam netra Rossie yang selalu membuatnya jauh cinta.
"Bang Kean lupa?"
"Lupa apa?" Keano balik bertanya pada Rossie yang langsung memasang raut wajah cemberut.
"Rossie tak bisa memasak," ujar Rossie yang akhirnya membuat pengakuan tentang satu hal yang menjadi kelemahannya.
Entahlah, Rossie memang jadi trauma pada memasak sejak tangannya terciprat minyak saat dirinya yang kala itu masih SMP coba-coba belajar menggoreng nugget sendiri.
"Nanti aku yang memasak kalau begitu!" Tukas Keano cepat sembari mengusap punggung tangan Rossie yang berada di atas meja. Rossie langsung menatap tak percaya pada Keano.
"Abang Kean bisa memasak?"
"Bisa, sedikit. Masakan yang simpel-simpel," jawab Keano sembari menggaruk tengkuknya sendiri.
"Tapi soal Rossie yang tak bisa masak?" Raut wajah Rossie sudah berubah khawatir sekarang, seolah gadis itu takut kalau Keano akan menuntutnya di kemudian hari untuk belajar memasak.
"Ya tidak usah masak kalah memang tidak bisa, Rossie!"
__ADS_1
"Masalah makanan kan bisa beli. Atau makan disini juga tidak apa-apa," ujar Keano santai. Kedua mata Rossie sontak membulat sempurna seolah tak percaya dengan perkataan Keano barusan.
"Abang Kean tidak akan menuntut Rossie harus bisa masak begitu? Biasanya para pria saat mencari istri kan pasti yang pintar memasak."
"Kecuali Abang Angga, sih. Karena Kak Reina juga tidak bisa memasak sama seperti Rossie," gumam Rossie sembari tertawa kecil.
"Aku juga tak termasuk pria yang menuntut calon istriku kelak harus bisa memasak," jawab Keano cepat.
"Lagipula, Mami juga sampai detik ini masih tak bisa memasak," sambung Keano lagi membuka rahasia Mami Anne selama ini. Rossie sontak menganga dengan cerita Keano tersebut.
"Serius? Aunty Anne tak bisa memasak?"
"Iya!" Jawab Keano sungguh-sungguh.
"Sejak aku kecil, kalau ada masakan di rumah itu sudah pasti yang memasak adalah nenek karena Papi bisanya juga cuma masak nasi pakai rice cooker," cerita Keano lagi yang kembali tertawa kecil.
"Jadi sebenarnya aku lebih hebat dari Mami dan Papi, karena aku bisa memasak. Meskipun hanya masakan sederhana," sambung Keano lagi seolah sedang pamer kelebihannya.
"Trus yang ngajarin Abang Kean memasak siapa?" Tanya Rossie penasaran.
"Menurut kamu siapa?" Keano balik bertanya pada Rossie yang langsung pura-pura berpikir.
"Nenek Sani!" Tebak Rossie kemudian yang langsung membuat Keano mengacungkan kedua jempolnya ke arah Rossie.
"Dapat hadiah!" Seloroh Keano sembari mengambil bunga yang berada dibatas meja, lalu menyodorkannya pada Rossie yang langsung tertawa lebay.
"Kata Nenek, seorang pria juga perlu belajar memasak agar nanti ketika istrinya melahirkan atau sakit, bisa menyiapkan makanan untuk istrinya," ujar Keano lagi membeberkan tentang nasehat sang nenek tercinta.
"Padahal tinggal panggil maid saja," celetuk Rossie enteng.
"Atau pergi ke warteg saja," timpal Keano sembari tertawa kecil.
"Pernah makan di warteg, kan?" Tanya Keano lagi merasa tak yakin karena Rossie yang statusnya adalah putri mahkota dan putri konglomerat.
"Pernah!" Rossie mengangguk-angguk.
"Dulu diajak Beth sama Abang Timmy. Mana pilihan lauknya banyak sekali tapi tidak ada buku menunya. Jadi bingung sendiri," cerita Rossie sembari tertawa kecil.
"Abang Timmy siapa?" Tanya Keano yang raut wajahnya sedikit berubah. Apa Keano sedang cemburu sekarang?
"Abangnya Beth, Bang!"
__ADS_1
"Cemburu, ya?" Goda Rossie usil.
"Enggak! Cuma tanya!" Kilah Keano cepat.
"Cemburu juga boleh, kok, Bang!"
"Kan kita sudah pacaran!" Rossie meraih tangan Keano, lalu menggenggamnya
"Seneng kayaknya kalau aku cemburu, ya?"
"Iya!" Jawab Rossie jujur.
"Karena kalau Bang Kean cemburu, itu artinya Bang Kean sayang dan cinta sama Rossie," ujar Rossie lagi menjabarkan sebuah teori.
"Ck! Aku sayang dan cinta sama kamu, Ros!" Keano mengecup tangan Rossie beberapa saat sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Tapi aku juga bukan tipe pria pencemburu. Aku lebih suka mencari tahu dulu kebenarannya ketimbang langsung main asal tuduh, tapi ujung-ujungnya malah salah tuduh," ujar Keano lagi yang langsung membuat Rossie menatap kagum pada pria di depannya tersebur.
"Bijak sekali, Bang Kean!" Rossie mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Keano.
"Jadi makin tambah cinta!" Sambung Rossie lagi yang sudah ganti memonyongkan bibirnya ke arah Keano.
Keano sontak tergelak dengan tingkah lebay Rossie tersebut. Eh, tapi Kean juga menyukainya!
"Ngomong-ngomong, sudah ada kabar tentang kapan pertunangan Angga dan Reina akan digelar?" Tanya Keano mengganti topik pembicaraan.
"Kata Mama minggu depan."
"Mau secepatnya menyusul?" Goda Rossie sembari tersenyum nakal.pada Keano.
"Nanti kita langsung menikah saja!" Jawab Keano berterus terang.
"Aku juga belum mengajak Mami dan Papi ke rumahmu untuk bertemu Uncle Robert dan Aunty Sita."
"Nanti saja setelah acara pertunangan Angga dan Reina, baru aku akan ke rumah,", ujar Keano panjang lebar mengungkapkan semua rencananya, sembari menggenggam erat tangan Rossie yang hanya mengulas senyum bahagia.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.