
"Bagaimana cara Dad dulu membatalkan pernikahan Mom dengan pria yang hendak jadi calon suami Mom?" tanya Fairel seraya menatap serius pada Dad Liam yang terlihat kaget.
"Bagaimana caranya, Dad?" Tanya Fairel sekali lagi karena Dad Liam yang malah ternganga alih-alih menjawab.
"Kau sedang bertanya? Pernikahan siapa yang mau kau batalkan, hah?" Cecar Dad Liam akhirnya sembari mendelik pada Fairel.
"Rossie dan Keano!"
"Jika Dad bisa melakukannya, maka Iel juga pasti bisa," ujar Fairel seolah penuh tekad.
"Itu beda cerita, Iel!!" Ucap Dad Liam cepat seraya merengkuh kedua pundak Fairel.
"Apanya yang berbeda?"
"Fairel mencintai Rossie, Dad! Dan Fairel tidak mau kalau Rossie dan Keano sampai-"
"Iel, dengarkan Dad!" Potong Dad Liam yang kini sudah ganti menatap tegas pada sang putra.
"Dad tahu kau mencintai Rossie dan kau tergila-gila pada gadis itu!"
"Tapi kau juga harus menerima kenyataan kalau Rossie tidak mencintaimu!"
"Rossie tidak pernah mencintaimu, Iel!" Ucap Dad Liam tegas dan berulang-ulang.
"Rossie sudah menjatuhkan pilihannya pada Keano dan kau harus menerima itu dengan lapang dada!"
"Kau harus berlapang dada!" Tegas Dad Liam sekali lagi pada Fairel yang kini hanya mematung.
"Lagipula, tak ada gunanya juga kau terus mengejar gadis yang sama sekali tak mencintaimu, Iel!"
"Tak ada gunanya!"
"Buang-buang tenaga dan waktu saja!" Dad Liam berdecak, lalu menatap ke dalam kedua netra Fairel.
"Dad yakin kalau di luar sana ada gadis yang seribu kali lebih baik dari Rossie yang kelak akan menerima cintamu dan membalas cintamu juga dengan tulus-"
"Tapi Iel hanya mau Rossie, Dad!" Ucap Fairel dengan suara yang lebih mirip orang putus asa, namun sepertinya pria itu juga tetap keras kepala.
"Jangan konyol!"
"Rossie sudah jelas menolakmu dan dia lebih memilih Keano! Jadi berhenti menginginkannya!" Ucap Dad Liam tegas.
"Dad tahu kalau keinginanmu untuk memiliki Rossie itu sebenernya hanya sepuluh persen yang benar-benar cinta dan sembilan puluh persen sisanya adalah gengsi!" Ujar Dad Liam lagi yang langsung membuat Fairel menatap aneh pada Dad Liam.
"Apa? Dad benar, kan?"
"Kau hanya gengsi dan takut kalah saing dari Keano! Makanya kau selalu mengejar-ngejar Rossie seperti orang gi-"
"Kenapa Dad bicara seperti itu? Iel benar-benar mencintai Rossie, Dad!" Sergah Fairel menyela.
"Dan Iel tak pernah gengsi apalagi takut kalah saing dari Keano!" Imbuh Fairel lagi yang hanya membuat Dad Liam mencibir.
"Iel serius, Dad!" Sergah Fairel sekali lagi.
"Berhentilah mengejar Rossie kalau begitu dan mulailah untuk move on!"
"Move on, Iel!"
"Cari wanita lain di luaran sana! Wanita di dunia ini bukan hanya Rossie semata! Dan duniamu juga tak akan kiamat hanya karena kau tak jadi memiliki Rossie!" Ucap Dad Liam panjang lebar, berapi-api serta tegas.
"Iya, Dad!" Jawab Fairel akhirnya meskipun terdengar setengah hati.
"Iel akan move on!" Sambung Fairel lagi.
"Bagus!"
"Dad menunggu kau mengenalkan seorang gadis pada Mom dan Dad, lalu dengan lantang mengatakan, 'Iel mencintai gadis ini, Dad! Dan Iel akan segera menikahi gadis ini!'" Ujar Dad Liam menyampaikan harapannya.
__ADS_1
"Ya!" Jawab Fairel lirih yang sebenarnya masih merasa bimbang.
****
"Bang, lihat!" Rossie mendekatkan kamera ponselnya ke leher, demi menunjukkan pada Keano bekas gigitan semut semalam.
Sebenarnya Rossie juga tak yakin apakah yang menggigitnya semalam benar-benar semut atau jangan-jangan drakula yang menyamarjadi semut. Karena bekasnya pagi ini malah berubah menjadi merah kecoklatan.
Sesuai dengan yang dikatakannya Keano kemarin kalau bekas gigitan semut misterius itu lebih mirip c*pokan.
"Kau menggaruknya semalam?'
"Tidak!" Sanggah Rossie cepat.
"Lalu sekarang masih sakit? Atau gatal?" Raut wajah Keano di layar ponsel Rossie tampak khawatir.
"Tidak juga, Bang! Hanya bekasnya saja ini yang tidak kunjung hilang."
"Padahal Rossie mau pergi bareng mama. Nanti kalau mama lihat-"
"Kau tutupi saja, Ross!" Saran Keano cepat memotong kalimat Rossie yang belum selesai.
"Pakai ini?" Rossie menunjukkan botol concealer pada Keano.
"Iya!"
"Mau kemana bersama Mama?" Tanya Keano selanjutnya.
"Ke salon rencananya. Tapi nanti Rossie mampir ke resto, ya, Bang!" Jawab Rossie sembari berjanji pada Keano.
"Mampir makan siang, kan?"
"Mampir ngapelin Bang Kean! Kan jarang-jarang yang apel itu cewek. Biasa juga cowok," cerocos Rossie yang tentu saja langsung membuat Keano terkekeh.
"Nyindir, ya?"
"Besok aku apeli ke rumah, ya!" Janji Keano kemudian pada Rossie.
"Kamu yang ingetin kalau aku lupa."
"Ck! Ujung-ujungnya tetap saja!" Cibir Rossie kemudian dan Keano lagi-lagi hanya tergelak.
"Rossie!" Panggilan Mama Sita sudah terdengar dari luar kamar. Bergegas Rossie berpamitan pada Keano.
"Mama sudah memanggil, Bang!"
"Rossie tutup dulu teleponnya, ya!" Pamit Rossie dengan nada sedikit manja.
"Ya!"
"Hati-hati di jalan!"
"Bye, Bang Kean!" Rossie melambaikan tangannya pada Keano yang malah tersenyum manis seolah sedang memamerkan lesung pipinya. Ya ampun, Rossie benar-benar gemas dan ingin memainkan lesung pipi kekasihnya itu sekarang.
"Bye, Rossie! Tutup teleponnya!"
"Abang Kean yang tutup!" Rossie balik memerintah.
"Rossie! Kau sedang apa sebenarnya?" Panggil Mama Sita lagi bersamaan dengan pintu kamar yang sudah menjeblak terbuka.
Video call dari Keano juga sudah terputus dan Rossie lantas meringis pada Mama Sita.
"Masih dandan, Ma!" Jawab Rossie beralasan.
"Cepat!" Titah Mama Sita sembari keluar dari kamar, meninggalkan Rossie yang hanya mengangguk.
Rossie meraih tempat bedak dari atas meja rias, lalu mulai menyapukan benda itu tipis-tipis di wajahnya. Senyuman lengkap dengan lesung pipi Keano, mendadak kembali berkelebat di benak Rossie, saat gadis itu menatap ke dalam cermin.
__ADS_1
Lalu tentang ciuman mereka semalam....
"Ya ampun!" Gumam Rossie yang langsung tersipu hanya karena membayanglan ciumannya semalam bersama Keano.
Rossie menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu segera menyudahi riasannya. Setelah memastikan tak ada yang salah dengan penampilan serta ruasan di wajah, Rossie bergegas meraih tas, lalu keluar dari kamar.
Rossie baru sampai di lantai bawah, saat samar-samar terdengar suara Abang Angga dari teras rumah.
Huh! Akhirnya abang Rossie itu pulang juga setelah kemarin siang Rossie sempat mengomelinya.
Rossie sedikit memelankan langkah, karena Mama Sita yang sepertinya sedang bicara serius pada Abang Angga. Dan sepertinya Mama Sita juga tak akan jadi pergi ke salon bersama Rossie.
Baguslah!
Rossie akan ke B&D Resto saja dan mengganggu Keano.
"Ma, jadi pergi?" Rossie yang akhirnya sudah sampai di teras, pura-pura bertanya dan sedikit berbasa-basi pada Mama Sita.
"Tidak jadi, Ros! Mama mau bicara pada abangmu," jawab Mama Sita. Sama persis seperti dugaan Rossie!
Saatnya pergi menyusul Angga!
"Abang baru pulang? Oleh-oleh untuk Rossie mana?" Rossie ganti berbasa-basi pada Abang Angga sembari menengadahkan tangan dan meminta oleh-oleh. Namun sepertinya Banag Angga tak terlalu menggubris, karena pria itu sibuk memperhatikan sesuatu....
"Ini kenapa pakai concealer tidak rata?" Tanya Angga kemudian sambil sedikit mengusap leher Rossie dimana gigitan semut drakula tadi malam berada.
Ish! Ya ampun! Pasti dikira aneh-aneh!
"Ini apa, Ros?" Tanya Mama Sita yang sudah ikut-ikutan melihat bercak tadi. Segera Rossie meratakan lagi concealernya untuk menutupi.
"Apa, sih?"
"Digigit semut juga!" Jawab Rossie berkata jujur, meskipun Abang Angga terlihat tak percaya.
"Semut atau semut?"
"Mulai nakal!" Gumam Angga yang langsung membuat Rossie berdecak.
"Nakal apa, sih? Orang digigit semut!" Rossie masih berusaha menyangkal tuduhan Abang Angga. Namun sepertinya sia-sia belaka.
Apa kabar misalnya Rossie minta tanda itu dari Keano, seperti yang sering disematkan Abang Angga juga di leher Reina?
Mungkin Abang Angga pikir Rossie ini polos, tapi sebenarnya Rossie juga tahu semua tingkah mesum Bang angga pada Reina!
"Apa itu perbuatan Keano?" Tebak Abang Angga selanjutnya yang langsung membuat Rossie balik bertanya.
"Perbuatan apa?"
"Benar itu, Rossie?" Gantian Mama Sita yang menginterogasi Rossie sekarang. Mama kandung Rossie itu juga terlihat mulai geram.
"Ini beneran digigit semut, Ma!" Ringis Rossie seyakin mungkin.
"Semut?" Abang Angga menahan tawa sepertinya masih tetap tak percaya dengan pengakuan Rossie.
Ck! Ini rumit!
"Ngomong-ngomong, Mama nggak jadi pergi, kan? Rossie akan pergi sendiri ke salon." Rossie akhirnya mengalihkan pembicaraan dan langsung pamit pada Mama Sita.
"Bye!" Rossie meraih tangan Mama Sita dengan cepat, menciumnya, lalu gadis itu segera melesat pergi.
"Pulang sebelum malam, Ros!" Seru Mama Sita yang hanya didengar samar ileh Rossie yang sudah beegegas masuk ke dalam mobil.
"Ke B&D Resto, Pak!" Ucap Rossie pada sang sopir.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.