Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
MASIH KERAS KEPALA


__ADS_3

[Bang, jadi pulang hari ini, kan?] -Reina-


Fairel yang baru keluar dari bandara kota, langsung tertawa kecil setelah membaca pesan dari Reina. Malam ini memanglah malam pertunangan Reina dan Angga. Dan sepertinya adik Fairel itu masih belum bisa naik ke panggung pertunangan sendiri, hingga masih mencari-cari Fairel.


Ya, Fairel memang baru pulang dari luar kota setelah Dad Liam memaksa dan menyuruhnya menangani proyek luar kota yang seharusnya menjadi pekerjaan Ryan. Mungkin maksud Dad Liam agar Fairel secepatnya move on dari Rossie!


Tapi Fairel masih akan memperjuangkan cintanya pada Rossie sebelum janur kuning melengkung!


Fairel masih sangat yakin kalau Rossie dan Keano tidak akan menikah dalam waktu dekat. Jadi Fairel masih punya kesempatan untuk merebut Rossie dari Keano, lalu menikahi gadis itu.


Hahahaha!


Fairel akan berjuang dengan keras!


Fairel langsung mencari taksi yang akan mengantarnya pulang ke kediaman Halley. Sengaja Fairel tidak mengabari Mom Yumi kalau dirinya pulang lebih pagi. Faireakan memberikan kejutan untuk Mom kesayangannya tersebut.


Setelah menyebutkan alamat kediaman Halley, taksi langsung melaju meninggalkan bandara kota.


****


"Jadi setelah acara pertunangan Reina dan Angga nanti, Keano akan langsung melamar Rossie?"


Fairel baru menjejakkan kakinya ke dalam rumah, saat ucapan Dad Liam tak sengaja mampir di telinganya. Apa barusan Dad Liam membahas tentang Keano yang akan melamar Rossie?


"Kata Anne begitu!"


"Lagipula, Keano juga sebenarnya sudah melamar Rossie secara langsung saat kejutan ulang tahun Rossie kemarin."


"Dan untuk nanti setelah acara pertunangan Reina-Angga, itu adalah lamaran resmi Anne dan Abi pada Rossie." Terang Mom Yumi yang langsing membuat Fairel mematung seketika.


Lamaran resmi?


Apa memang sudah sejauh itu hubungan Keano dan Rossie?


Tapi bukankah mereka baru jadian....


"Kami sudah berpacaran sejak Rossie kuliah di London, Bang!"


Kalimat pengakuan dari Rossie yang selama ini terus Fairel bantah kebenarannya kembali bercokol di kepala Fairel.


"Mustahil sudah sejauh itu!" Gumam Fairel tak percaya.


"Aku harus menanyakannya langsung pada Keano!" Tekad Fairel akhirnya yang tak jadi masuk ke kediaman Halley. Fairel langsung menuju ke salah satu mobilnya yang terparkir di garasi. Lalu tak butuh waktu lama, mobil sudah melaju meninggalkan kediaman Halley.


Fairel bahkan tak pelan-pelan saat melewati para pekerja vendor yang sedang mendekor halaman rumah Halley untuk acara pertunangan Reina dan Angga malam ini. Terserah saja!


Setelah memacu mobilnya seperti orang kesetanan, Fairel akhirnya tiba di B&D Resto yang sepertinya baru buka. Belum banyak pengunjung yang datang. Tapi Fairel tak peduli dan pria itu memilih untuk langsung menuju ke ruangan Keano.

__ADS_1


"Kean!" Fairel mendorong pintu ruangan Keano dengan kasar, hingga pintu menjeblak terbuka dan langsung menunjukkan sebuah pemandangan asusila yang seketika membuat harapan Fairel akan cintanya pada Rossie pupus seketika.


Di depan mata, Fairel menyaksikan Keano yang tengah berpagutan mesra dengan Rossie di dalam ruangan.


Meskipun akhirnya pasangan itu sama-sama terkejut dan langsung melepaskan pagutan mereka,namun Fairel sudah melihat bagaimana Keano tadi hampir "melahap" bibir serta wajah Rossie.


Ya, ya, ya!


Rupanya hubungan mereka memang sudah sejauh itu!


Jadi, apalagi yang harus Fairel harapkan sekarang?


Tidak ada!


"Bang Iel! Kapan pu-" Kalimat Keano belum selesai, saat Fairel sudah langsung menarik gagang pintu lagi, lalu menutup dan membanting pintu ruangan sepupunya itu dengan kasar.


Fairel melangkah dengan gontai ke halaman Resto,dan pria itu langsung memacu mobilnya meninggalkan B&D Resto.


"Kau terlambat, Fairel!"


"Kau sudah kalah!"


****


"Mengantar undangan!" Ujar Rossie sembari memamerkan undangan di tangannya.


"Kemarin Aunty Sita sudah mengantarnya ke rumah padahal. Kenapa kau mengantar lagi?" Tanya Keano sembari bersedekap dan menatap penuh selidik pada Rossie.


"Iyakah? Mama tak mengatakannya," ringis Rossie sedikit salah tingkah.


"Jadi, sebenarnya ada keperluan apa?" Tanya Keano sekali lagi, sembari mengambil undangan dari tangan Rossie, lalu meletakkannya di atas meja.


"Kangen saja, Bang!" Jawab Rossie malu-malu.


"Kemarin sudah ketemu-"


"Kemarin kemarinnya!" Rossie mengoreksi dengan cepat.


"Iya, itu! Sama saja," kekeh Keano sembari meraih tangan Rossie lalu mengecupnya.


"Kau tidak mau berkarier dulu sebelum kita menikah?" tanya Keano kemudian memecah kebisuan.


"Bukankah kata Bang Kean, Rossie masih tetap boleh berkarier meskipun nanti sudah jadi istri Bang Keano?" Jawab Rossie sembari mengingatkan tentang perkataan Keano tempo hari.


"Iya, aku ingat yang itu! Tapu ada tapinya di belakang."


"Tapi Rossie tetap harus ingat pada kewajiban Rossie sebagai istri," tukas Rossie cepat yang langsung membuat Keano tersenyum.

__ADS_1


"Itu maksudku."


"Kalau kau berkarier sekarang, kau kan belum punya kewajiban apapun sebagai istri."


"Begitu!" Jelas Keano yang langsung membuat Rossie mendekat ke arah Keano,lalu merangkulkan lengannya ke pundak kekasihnya tersebut.


"Memang kewajiban seorang istri apa? Selain mengurus dan menyenangkan suaminya?" Bisik Rossie yang wajahnya sudah sangat dekat dengan Keano.


"Rossie, jangan memancing karena aku pria normal-" kalimat Angga terbungkam oleh kecupan singkat Rossie.


Ah, dasar Rossie!


"Yang akan bertunangan nanti malam adalah Reina dan Angga, Rossie! Jadi kita tak perlu ikut latihan berciuman," seloroh Keano yang langsung membuat Rossie tertawa kecil.


"Tapi bukankah kata Bang Kean, kita akan langsung menikah nanti setelah pernikahan Abang Angga dan Kak Reina?"


"Iya,tapi aku belum melamarmu ke Papa Robert-"


"Maksudku Uncle Robert," koreksi Keano cepat yang sudah lancang sekali memanggil Papa ke Papa Robert.


"Panggil Papa saja, Bang! Kan calon Papa mertua," goda Rossie yang tiba-tiba sudah mendaratkan bokongnya di pangkuan Keano. Kedua tangan Rossie juga sudah melingkar di leher Keano.


"Iya, aku belum melamarmu ke Papa Robert dan belum tentu juga lamaranku nanti akan diterima-"


"Harus diterima!" Sergah Rossie cepat dan memaksa.


"Papa tak boleh menolak Bang Keano!" Tegas Rossie lagi yang sekarang sudah menyatukan keningnya dan kening Keano.


Mungkin biasanya laki-laki yang akan memulai adegan seperti ini. Namun disini beda cerita dan sedikit terbalik.


"Satu kecupan saja, lalu kita sudahi!" Gumam Keano sebelum pria itu mulai meraup bibir Rossie yang merah merekah. Namun sepertinya janji satu kecupan dari Keano tadi terpaksa hati Keano ingkari sendiri.


Keano mendadak merasa terlena dengan manis dan lembutnya bibir Rossie. Jadi alih-alih melepaskan pagutannya pada bibir Rossie, Keano malah mencecap semakin dalam setiap inchi bibir Rossie yang membuat Keano seolah mabuk kepayang.


Tepat saat angan-angan Keano sudah setinggi angkasa, pintu ruangan tiba-tiba menjeblak terbuka,dan seseorang yang kini berdiri di ambang pintu, sukses membuat Keano dan Rossie sama-sama kaget. Dua sejoli itu juga langsung kompak melepaskan pagutan mereka, dan Keano langsung bangkit berdiri dengan cepat.


"Bang Iel! Kapan pulang?" Pertanyaan Keano hanya seperti angin lalu karena Fairel yang langsung membanting pintu, dan berlalu pergi begitu saja tanpa berucap sepatah katapun. Keano yang hendak menyusul Fairel, langsung ditahan oleh Rossie.


"Sudah biarkan!" Ucap Rossie tegas.


"Bang Iel harus belajar menerima semuanya, Bang!" Sambung Rossie lagi yang akhirnya hanya membuat Keano menghela nafas, lalu mengurungkan niatnya untuk mengejar Fairel.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2