
"Sampai di depan rumah, Uncle!" Lapor Keano setelah pria itu mengantar Rossie pulang, sampai di depan rumah seperti pesan Papa Robert tadi.
"Ya!" Papa Robert mengangguk, sementara Mama Sita tak berkomentar apapun dan wanita paruh baya tersebut hanya langsung merangkul Rossie.
"Memang sudah mau ke airport, Pa?" Tanya Rossie kemudian pada Papa Robert.
"Ya! Sudah jam!" Bukan Papa Robert melainkan Mama Sita yang menjawab pertanyaan Rossie sembari menunjukkan arlojinya pada Rossie.
"Keano boleh ikut ke airport, Uncle?" Tanya Keano to the point. Papa Robert sontak menatap penuh selidik pada Keano.
"Masih belum selesai yang mengucapkan salam perpisahan?"
Keano meringis terlebih dahulu sebelum menjawab,
"Rossie akan pergi dalam waktu lama, Uncle, jadi...."
"Jadi apa, Anak muda? Hubunganmu bersama Rossie sudah sejauh mana memang? Apa Rossie sudah memberikan lampu hijau-"
"Papa!" Tegur Rossie menyela kalimat Papa Robert.
"Ada apa? Papa hanya sedang menginterogasi pria ini!" Papa Robert sudah menunjuk pada Keano.
"Tapi tanyanya kan bisa satu-satu, Pa!" Ujar Rossie yang sepertinya sedikit geregetan pada Papa Robert.
"Sekarang dibelain, ya?"
"Sudah jadian?" Sahut Angga yang baru bergabung ke teras rumah. Sepertinya abang Rossie itu akan mengantar Rossie beserta Papa Robert dan Mama Sita ke airport.
"Fairel bakal kebakaran jenggot kalau tahu," imbuh Angga lagi seraya terkekeh.
"Benar sudah jadian?" Kali ini ganti Mama Sita yang melontarkan pertanyaan.
"Belum, Ma!" Jawab Rossie malu-malu. Sementara Keano tak menjawab dan hanya mengulas senyum.
"Rossie biar fokus pada kuliahnya dulu!" Ucap Papa Robert akhirnya dengan nada tegas.
"Kean akan menunggu hingga kuliah Rossie selesai, Uncle!" Keano balik menatap penuh kesungguhan pada Papa Robert.
"Keputusan sepenuhnya ada di tangan Rossie, Kean!" Papa Robert mengendikkan dagunya ke arah Rossie yang hanya menundukkan wajahnya. Keano ikut menatap pada putri bungsu di keluarga Hadinata tersebut.
"Ayo berangkat!" Ajak Angga kemudian memecah kebisuan.
Papa Robert dan Mama Sita bergegas menuju ke mobil, sementara Rossie dan Keano masih saling bertatapan di teras rumah.
"Rossie!" Panggil Angga yang sudah bersiap di belakang kemudi.
"Abang Kean-"
"Aku akan menyusul," sergah Keano cepat memotong kalimat Rossie.
"Rossie! Cepatlah!" Sekarang ganti Mama Sita yang memanggil putrinya tersebut.
"Iya, Ma!" Jawab Rossie yang segera menyusul ke mobil. Rossie hendak naik di jok depan di samping Angga, saat kemudian Abang Rossie itu berceletuk.
"Katanya Keano ikut ke airport? Kok kamu naik disini?"
"Hah?" Rossie menatap bingung pada sang Abang.
"Naik di belakang, Rossie! Keano biar duduk di samping Angga," ucap Mama Sita dari jok belakang seraya bergeser, dan memberikan ruang untuk Rossie duduk.
"Geser kesini lagi, Ma!" Titah Papa Robert seraya menarik tubuh mungil Mama Sita agar semakin merapat ke arahnya.
"Sekalian saja Mama dipangku, Pa!" Seloroh Angga dari jok depan yang langsung membuat Rossie yang juga sudah masuk ke dalam mobil ikut terkekeh.
"Kean!" Angga ganti memanggil Keano yang masih diam di teras.
"Naik sini!" Perintah Angga sembari menunjuk ke jok kosong di sampingnya.
"Aku menyusul saja," jawab Keano yang sudah menghampiri mobil Angga.
"Naik saja!" Perintah Angga tegas.
"Naik saja, Kean! Agar nanti pulang Angga ada temannya." Papa Robert ikut-ikutan memberikan perintah dari jok belakang
"Abang Angga tak berani pulang sendiri memangnya, Pa?" Tanya Rossie sedikit berseloroh.
"Bukan begitu! Takutnya nanti Angga malah mampir ke rumah Reina atau kemana."
"Bahaya!" Jawab Papa Robert yang langsung membuat Angga berdecak.
"Reina juga sudah tidur jam segini, Pa!"
"Ayo masuk, Kean!" Titah Angga sekali lagi dan Keano akhirnya masuk juga ke dalam mobil keluarga Hadinata tersebut.
Tak berselang lama, mobilpun meluncur ke arah bandara kota.
****
"Papa dan Mama akan ikut kesana dan menemaniku satu pekan," ujar Rossie yang langsung membuat Keano mengangguk.
__ADS_1
"Semoga betah disana!" Keano mengusap puncak kepala Rossie yang langsung mengulas senyum.
"Abang Kean tidak ada rencana berlibur ke London?"
"Belum." Keano menggeleng sembari tertawa kecil.
"Tapi nanti aku hubungi, barangkali aku liburan ke sana. Kau bisa menjadi tour guide-ku nanti," imbuh Keano lagi.
"Rossie tunggu," ucap Rossie seolah memberikan kode pada Keano yang langsung mengulas senyum penuh arti.
"Jaga diri baik-baik disana!" Pesan Keano sekali lagi.
"Abang juga!"
"Rossie!" Panggil Mama Sita yang sudah bersiap masuk ke ruang check in.
"Sana!" Titah Keano sembari menatap lekat wajah Rossie.
"Bye!" Rossie mengangkat satu tangannya, sembari melangkah ke arah Mama Sita. Namu gadis itu masih saja menatap wajah Keano yang juga sedang menatapnya.
"Nanti Rossie telepon!" Ucap Rossie lagi sebelum kemudian gadis itu setengah berlari dan menghampiri sang Mama.
"Ya! Aku tunggu!" Gumam Keano menjawab ucapan Rossie tadi yang berjanji akan meneleponnya.
Ya, ya, ya!
Apa setelah ini Keano dan Rossie akan menjalin hubungan jarak jauh?
"Mau aku antar pulang, Kean?" Pertanyaan Angga langsung membuyarkan lamunan Keano.
"Aku naik taksi saja, Angga!"
"Besok pagi aku baru akan mengambil motorku di rumah," putus Keano yang langsung membuat Angga mengangguk.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Aku pulang duluan," pamit Angga kemudian seraya berlalu dari hadapan Keano. Angga langsung menuju ke area parkir, sementara Keano masih menatap ke arah pintu utama bandara, dimana tadi Rossie dan kedua orang tuanya menghilang.
Keano lalu tersenyum dan mengeluarkan ponselnya. Pria itu langsung mencari kontak Rossie, dimana foto profil gadis itu sudah berubah menjadi foto sebuah liontin kalung berbentuk huruf R.
Keano kembali mengulas senyum lebar sembari geleng-geleng kepala. Tentu saja Keano hafal dengan liontin kalung di foto profil Rossie tersebut karena sudah satu bulan lebih Keano membelinya, namun baru malam ini Keano berani memberikan sekaligus memakaikannya pada Rossie.
[Safe flight!] -Keano-
Keano segera mengirimkan pesan singkat tadi pada Rossie, sebelum kemudian pria itu mengedarkan pandangannya dan melangkah keluar dari area bandara kota. Keano langsung mencari taksi dan pulang ke rumah untuk beristirahat.
****
"Kau tahu Rossie kuliah dimana?" Tanya Fairel yang tumben-tumbenan datang menyambangi Keano di B&D Resto.
"Luar negeri mana?" Tanya Fairel lagi mulai geregetan.
"Eropa."
"Negara?"
Keano mengendikkan kedua bahunya.
"Coba tanya pada Reina! Kata Angga, Rossie yang meminta semua orang untuk tidak memberitahu kita berdua," ujar Keano yang langsung membuat Fairel mendengus. Wajah sepupu Keano itu juga terlihat kesal.
"Reina juga katanya tidak tahu!"
"Apa Rossie sengaja ingin membuatku gila?" Gerutu Fairel mengungkapkan uneg-unegnya.
"Mungkin Rossie sudah jengah dengan tingkah konyol Abang yang selalu mengejarnya seperti orang gila," pendapat Keano seraya terkekeh. Pria itu lalu memeriksa ponselnya yang terasa bergetar karena ada pesan masuk.
Benar saja! Ada pesan dari Rossie.
[Mama dan Papa pulang hari ini, Bang] -Rossie-
Keano langsung mengetik pesan balasan untuk Rossie dan sedikit mengabaikan Fairel yang masih menggerutu sendiri.
[Tinggal sendiri berarti setelah ini? Sudah berani?] -Keano-
[Sudahlah! Usia hampir seperempat abad juga.] -Rossie-
Keano refleks tertawa kecil, setelah membaca balasan pesan dari Rossie.
"Ssssttt! Kau sedang chat dengan siapa?" Tanya Fairel yang hendak merebut ponsel Keano. Namun Keano sigap mengelak dan segera menyimpan kembali ponselnya.
"Customer," jawab Keano berbohong.
"Laki-laki? Perempuan? Ekspresi wajahmu mencurigakan!" Tuding Fairel yang langsung membuat Keano terkekeh.
"Kebetulan perempuan? Abang Iel berminat menjadikannya pacar?" Seloroh Keano yang langsung membuat Fairel berdecih.
"Malas! Kau saja yang jadi pacarnya, agar tak lagi mengganggu perjuanganku untuk mendapatkan cinta Rossie!" Jawab Fairel dengan nada lebay.
"Baiklah, kalau itu permintaan Abang Iel." Keano sudah tersenyum penuh kemenangan.
"Tunggu! Kau serius? Kau sudah berhenti mengejar Rossie sekarang?" Tanya Fairel penuh semangat.
__ADS_1
"Emmmm, sebenarnya belum, Bang!"
"Keano masih berusaha-"
"Akhiri saja usahamu itu kalau begitu!" Sergah Fairel dengan nada memerintah.
"Rossie biar untukku saja!" Sambung Fairel lagi sembari menepuk dadanya sendiri.
"Dan kau...." Fairel sudah ganti menuding pada Keano.
"Kejar saja customer perempuanmu tadi! Aku mendukung penuh!" Cerocos Fairel lagi!
"Maksudnya yang barusan chat dengan Keano tadi, Bang?" Tanya Keano memastikan.
"Iya! Dari ekspresi wajahmu saja sudah kelihatan kalau kau sedang tergila-gila padanya!" Pendapat Fairel lagi.
"Aku jadi penasaran dengan wajah customer-mu itu tadi," ujar Fairel lagi.
"Dia tidak sedang berada di kota ini, Bang! Jadi Bang Iel belum bisa lihat wajahnya," tukas Keano memberitahu Fairel.
"Maksudnya kau dan dia LDR, begitu?"
"Bisa dibilang begitu, Bang! Tapi kami belum jadian, Bang!" Ungkap Keano lagi blak-blakan.
"Yaudah! Jadian saja sekarang!"
"Kau tembak dia langsung dan jadi pria gentle!" Ujar Fairel panjang lebar memberikan saran dan masukan.
"Atau lamar langsung kau perlu!".
"Usiamu hampir kepala tiga, Bung!" Sambung Fairel lagi yang langsung membuat Keano berdecak.
Dari segi usia, Keano memanglah cucu tertua di keluarga Halley. Tapi kalau dari segi silsilah, Keano sebenarnya adalah cucu bungsu, karena Mami Anne yang merupakan anak bungsu di keluarga Halley
"Iya, Bang! Besok langsung Keano lamar orangnya," jawab Keano akhir sambil kembali terkekeh.
"Aku serius! Malah cengengesan!" Fairel refleks menjitak kepala Keano. Namun meleset.
"Aku juga akan melamar Rossie nanti kalau S2nya di Eropa sudah selesai." Fairel ganti memaparkan rencananya ke depan.
"Yakin Rossie mau, Bang? Kalau di Lo-" Keano buru-buru menghentikan kalimatnya karena dirinya yang hampir keceplosan dan membocorkan nama kota dimana Rossie melanjutkan S2-nya.
Bisa-bisa, Fairel akan langsung terbang ke London detik itu juga kalau ia tahu Rossie saat ini kuliah di London.
"Kau bilang apa tadi?" Tanya Fairel membuyarkan lamunan Keano.
"Apa? Hanya soal Rossie yang mungkin saja sudah menemukan tambatan hati di Eropa-"
"No!" Teriak Fairel lantang hingga menarik perhatian beberapa pengunjung B&D Resto yang langsung refleks menoleh ke arah meja Fairel dan Keano.
"Tidak usah nge-gas, Bang!" Desis Keano sembari menganggukkan kepala ke beberapa pengunjung seolah sedang minta maaf atas teriakan tak sopan Fairel tadi.
"Kau itu yang membuatku berteriak!" Dengkus Fairel yang langsung membuat Keano meringis.
"Pokoknya, Rossie tak boleh punya pacar di Eropa dan hanya aku yang boleh menjadi pacarnya!" Ucap Fairel sembari mengeluarkan ponselnya. Fairel lalu tampak menghubungi seseorang.
"Nomor Rossie bisa ditelepon, Bang?" Tanya Keano sedikit berbasa-basi.
"Aku sedang telepon Angga!" Jawab Keano dengan nada sedikit meninggi.
"Oh!"
"Ck! Kenapa juga tak diangkat!"
"Apa Angga pingsan?" Gerutu Fairel sambil kembali mencoba menelepon abang dari Rossie tersebut. Namun sepertinya Angga memang sedang sibuk hingga tak bisa mengangkat telepon Fairel.
"Menyebalkan!" Fairel lalu melemparkan ponselnya dengab kasar ke atas meja. Ponsel hampir meluncur keluar dari meja dan mungkin akan langsung terjun bebas, kalau saja Keano tak sigap menangkapnya.
"Pelan-pelan, Bang!" Nasehat Keano sembari mengembalikan ponsel Fairel. Sepupu Keano itu langsung melesakkan ponselnya ke dalam saku.
"Kau jadinya sudah berhenti mengejar Rossie, kan?" Tanya Fairel sekali lagi seraya menuding pada Keano.
"Be-"
"Sudah!" Potong Fairel tegas sembari mendelik pada Angga.
"Kejar saja customermu tadi dan berhenti mengejar Rossie!"
"Rossie hanya boleh jadi milikku!" Klaim Fairel asal, bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering di dalam saku.
"Pasti Angga!" Tebak Fairel sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya. Sedetik kemudian, kedua mata pria itu membelalak.
"Sial! Ini Dad!" Cicit Fairel sambil beranjak dari duduknya, lalu keluar dari B&D Resto seperti orang buru-buru.
Fairel bahkan tak berpamitan pada Keano yang hanya geleng-geleng kepala.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.