Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
KEPUTUSAN ROSSIE


__ADS_3

Keano yang baru keluar dari Resto, berjalan cepat ke arah halaman parkir. Namun saat pria itu hampir sampai di parkiran motor, mendadak ada yang memanggil namanya.


"Hai, Keano! Mau pulang!" Keano mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara yang rupanya berasal dari seorang pria yang tengah bersandar di depan kap sebuah mobil.


Oh, ternyata yang memanggil Keano tadi adalah Rayyen, tunangan Lea!


"Rayyen!"


"Sedang menjemput Lea!" Sapa Keano yang akhirnya memutuskan untuk berbasa-basi sejenak dengan Rayyen.


"Randu! Bukan Rayyen," ujar tunangan Lea tersebut yang langsung membuat Keano mengernyit tentu saja!


Lagipula, Sejak kapan tunangan Lea berganti nama dari Rayyen menjadi Randu? Nama bule berubah jadi nama lokal? Aneh sekali!


"Randu siapa?" Tanya Keano bingung.


"Itu namaku," jawab Rayyen cepat. Atau Randu.


Entahlah, Keano bingung siapa nama pria ini sebenarnya.


"Aku pikir namamu Rayyen?" Keano masih mengernyit bingung.


"Iya Rayyen itu nama tengahku dan Randu nama depanku. Tapi aku lebih suka dipanggil Randu sebenarnya," jelas Rayyen alias Randu tersebut.


"Oh, begitu!" Keano membulatkan bibirnya sembari mengangguk paham.


"Jadi aku harus memanggilmu...."


"Randu!" Jawab Randu cepat.


"Baiklah, Randu! Nama lokal!" Kekeh Keano yang membuat Randu ikut terkekeh juga.


"Lea belum pulang, kan?" Tanya Randu selanjutnya pada Keano.


"Belum sepertinya. Mau aku cekkan-"


"Tidak usah! Aku mau mengobrol beberapa hal denganmu saja," tukas Randu yang sudah dengan cepat mencegah Keano yang hendak kembali ke dalam resto.


"Denganku? Mau mengobrol apa?" Keano sudah ikut bersandar di kap depan mobil Rayyen alias Randu. Entahlah, Keano masih bingung. .


"Begini-" Randu alias Rayyen tak jadi melanjutkan kalimatnya, saat pria itu menatap ke arah seorang gadis yang baru keluar dari dalam Resto.


"Lea sudah keluar. Mungkin kapan-kapan saja kita mengobrol," tukas Randu seraya menegakkan tubuhnya.


"Lea! Kau baru keluar?" Sapa Keano yang hanya berseru pada Lea tanpa mengubah posisinya.


"Ya! Kau sendiri kenapa belum pulang?" Lea balik bertanya pada Keano.


"Aku sedang mengobrol bersama Rayyen-"


"Randu!" Sergah Randu cepat memotong sekaligus mengingatkan Keano tentang namanya. Sepertinya Randu sangat sangat tidak suka dipanggil dengan nama Rayyen.


"Maaf!" Ucap Keano akhirnya.


"Aku sedang mengobrol bersama Randu tadi!" Ujar Keano sekali lagi setelah mengoreksi panggilannya pada Randu.


"Tunanganmu asyik juga diajak ngobrol ternyata," sambung Keano lagi seraya terkekeh.


"Lalu kenapa malah menngobrol disini dan tidak di dalam?" Tanya Lea heran.


"Lebih enak disini! Sekalian cari angin." Bukan Keano yang menjawab, melainkan Randu.


"Lanjutkan cari anginnya kalau begitu! Aku mau pulang!" Ujar Lea seraya berlalu dari hadapan Randu dan Keano.


"Lea, Lea!" Randu sudah dengan cepat menyusul Lea, lalu pasangan kekasih itu terlihat berdebat serius sampai-sampai Lea menghentakkan kakinya beberapa kali ke tanah. Sepertinya Lea sedang kesal.

__ADS_1


Apa Randu dan Lea memang sedang bertengkar?


"Ayo aku antar kalau begitu!" Ujar Randu yang samar-samar bisa didengar oleh Keano. Lea lalu terlihat masuk ke mobil Randu tanpa berbasa-basi pada Keano yang masih berdiri di depan kap mobil Randu.


Pun dengan Randu yang juga tak menyapa Keano lagi. Pasangan yang kompak!


Keano yang merasa terabaikan, akhirnya menghampiri kaca jendela dimana Lea duduk, lalu mengetuknya.


"Hai!"


Lea yang awalnya kaget, langsung membuka kaca jendela mobil dan mengendikkan dagunya ke arah Keano.


"Aku pikir kau bucin pada tunanganmu, Rayyen-"


"Randu!" Randu yang sudah duduk di belakang kemudi, kembali mengingatkan Keano tentang nama panggilannya.


"Iya Randu, iya Rayyen! Bukankah keduanya adalah namamu?" Sergah Keano pusing sekaligus bingung dengan nama dari tunangan Lea tersebut. Kemarin Rayyen hari ini jadi Randu.


Besok jadi apa lagi, coba?


Rangga?


"Tapi aku lebih suka dipanggil Randu ketimbang Rayyen!" Randu berucap sekaligus nyengir kuda. Lucu sekali wajah pria itu!


"Iya, aku paham, Randu!"


"Randu, Randu, Randu!" Keano akhirnya mengulang-ulang nama Randu agar tak salah panggil lagi.


"Sudah tak usah lebay! Kami mau pulang! Kau mau menumpang?" Tawar Lea pada Keano yang masih sibuk melafalkan nama Randu berulang-ulang.


"Tidak, terimakasih! Aku ada janji dengan seseorang," tolak Keano cepat. Keano baru ingat kalau ia tadi mau menemui Angga di apartemennya. Lalu kenapa Keano malah mengganggu Lea dan Rayyen alias Randu ini sekarang?


"Seseorang?" Lea langsung memicing ke arah Keano.


"Aku perlu lapor ke Fairel?" Lea sudah ganti tersenyum licik.


Perasaan ancaman Lea itu-itu saja!


Kenapa juga sepupu Keano ini tak kreatif menciptakan ancaman yang lain!


"Hey! Kami masih bersaing secara fair dan aku bukan pergi bersama Rossie malam ini!" Sergah Keano cepat meyakinkan Lea yang masih tersenyum licik.


"Aku pergi bersama Angga!" Imbuh Keano lagi berkata jujur.


Benar-benar jujur dan tak ada kebohongan!


"Ck! Sama saja! Kau main curang!" Lea ganti menuding pada Keano.


"Mana ada! Ini urusan bisnis!" Kilah Keano lagi yang mulai kesal pada Lea.


Lea tak menuduh lagi dan gadis itu hanya berdecak.


"Ngomong-ngomong, kau mendukung aku atau Fairel sebenarnya?" Tanya Keano selanjutnya menatap serius pada Lea.


"Tidak dua-duanya! Maaf!" Lea tertawa kecil.


"Ck! Sepupu macam apa kau ini!" Decak Keano kesal.


"Fairel juga sepupuku! Jadi aku bingung harus mendukung siapa!" Ujar Lea beralasan.


"Baiklah! Aku paham! Aku akan minta dukungan pada Ryan saja!" Tukas Keano seraya membuang nafas. Padahal sangat jelas kalau Ryan tak mungkin mendukung Keano juga. Secara Ryan kan rekan kerja atau mungkin soulmate Fairel di kantor . Jadi sudah dipastikan kalau Ryan akan mendukung Keano!


"Sudah bisa dipastikan kalau Ryan mendukung Fairel! Mereka rekan satu kantor!" Sergah Lea seperti apa yang Keano pikirkan.


"Kau harus mendukungku kalau begitu! Kau juga rekan kerjaku!" Tukas Keano akhirnya, memaksa Lea yang hanya memutar nola matanya.

__ADS_1


"Kau juga mendukungku kan, Randu?" Keano ganti bertanya pada Randu yang terlihat bingung.


"Mendukung apa? Kau mau maju jadi presiden?" Pertanyaan polos Randu sukses membuat Keano dan Lea tergelak bersama.


Konyol sekali pertanyaan dari tunangan Lea tersebut!


"Mendukungku untuk jadian dengan Rossie!" Sergah Keano akhirnya menjelaskan.


"Ooh!" Randu membulatkan bibirnya dan manggut-manggut.


"Rossie itu sepupu kalian juga?" Tanya Randu selanjutnya yang langsung membuat Lea menepuk keningnya sendiri. Pun dengan Keano yang langsung tergelak sekali lagi.


"Kalau Rossie sepupu kami, Keano dan Fairel tak akan memperebutkanmya begini, Randu!" Jelas Lea yang sepertinya mulai geregetan pada Randu. Dua sejoli itu lalu mulai berdebat lagi membahas tentang sepupu Lea dan Keano.


"Kau tadi bukanya ada janji dengan Angga, Kean? Kenapa masih cekikikan disini" Tanya Lea mengingatkan sang sepupu.


"Ah, iya!" Keano menepuk keningnya sendiri karena kembali lupa dengan janjinya untuk menemui Angga. Sepertinya karena terlalu asyik mengobrol bersama Lea dan tunangannya.


"Aku pergi dulu!" Pamit Keano kemudian, seraya berlalu dan langsung menuju ke parkiran motor. Keano langsung mengambil motor matic kesayangannya, lalu memacu kendaraan roda dua tersebut ke arah apartemen Angga.


****


Rossie turun dari lantai dua lalu sedikit memelankan langkahnya, saat gadis itu mendekat ke arah Mama Sita dan Papa Robert yang sedang duduk mesra di sofa ruang tengah.


"Ehem!" Rossie berdehem kecil seolah sedang memberitahukan keberadaannya pada Mama Sita dan Papa Robert.


"Rossie! Belum tidur?" Mama Sita yang tadi bergelayut di pelukan Papa Robert langsung menegakkan tubuhnya.


"Belum, Ma!" Jawab Rossie sembari memainkan kertas yang sejak tadi ia bawa.


"Duduk disini!" Papa Robert menepuk sofa kosong di sebelahnya. Sepertinya Papa kandung Rossie itu sudah peka kalau Rossie hendak menyampaikan sesuatu.


Rossie akhirnya duduk di samping Mama Sita.


"Abang Angga belum pulang, ya, Ma?" Tanya Rossie sedikit berbasa-basi pada sang mama.


"Belum! Katanya masih ada urusan," jelas mama Sita yang sudah ganti merangkul pundak Rossie.


"Itu kertas apa?" Sekarang gantian Papa Robert yang melontarkan pertanyaan sembari menunjuk ke kertas di tangan Rossie.


"Tawaran beasiswa, Pa!" Rossie mengangsurkan kertas tadj pada Papa Robert. Mama Sita ikut nembaca tulisan di dalam kertas tadi.


"London?" Gumam Mama Sita yang langsung raut wajahnya langsung berubah.


"Kau mau mengambilnya?" Tanya Papa Robert menatap serius pada Rossie, meskipun Mama Sita terlihat keberatan.


Ya, dulu sebenarnya Rossie memang berkeinginan untuk kuliah di luar negeri setelah lulus SMA, namun Mama Sita yang waktu itu menganggap Rossie masih kecil, serta belum mandiri sepenuhnya, melarang keras dan minta Rossie agar kuliah di dalam negeri serta di dalam kota saja. Sepertinya Mama Sita belum sanggup jika harus berjauhan dari sang putri.


"Kesempatan tak akan datang dua kali, Pa! Jadi...." Rossie menghela nafas lalu menatap pada Mama Sita.


"Ma...." Rossie menggenggam lembut tangan Mama Sita.


"Sita, kita tidak boleh nenghalangi mimpi Rossie lagi," nasehat Papa Robert bijak sembari mengusap-usap punggung Mama Sita.


"Iya! Mama juga akan mendukung," sergah Mama Sita yang balik menggenggam erat tangan Rossie.


"Lagipula, kuliah S2 tidak lama, dan kau bisa sering pulang nanti," ujar Mama Sita lagi seraya menatap pada Rossie yang langsung tersenyum lebar. Rossie lalu memeluk erat mama kandungnya tersebut.


"Rossie akan menjaga diri disana dan sering-sering menghubungi Mama nanti!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2