Pilihan Hati Rossie

Pilihan Hati Rossie
WISUDA


__ADS_3

"Congrats!" Reina dan Rossie saling berpelukan setelah akhirnya dua gadis itu bisa diwisuda bersama. Meskipun skripsi mereka selesainya selisih beberapa bulan.


"Sudah wisuda, berarti sudah siap menikah juga, ya!" Celetuk Papa Robert sembari menepuk punggung Dad Liam.


"Siapa maksudmu yang siap menikah? Reina atau Rossie?" Tanya Dad Liam sembari mendongak pada Papa Robert.


"Reina!"


"Rossie masih mau lanjut S2 dan belum ada calonnya juga," jawab Papa Robert.


"Kata siapa belum ada calonnya?" Dad Liam sudah mengendikkan bahu ke arah Fairel yang baru datang ke lokasi wisuda dengan membawa buket balon raksasa. Ada beberapa orang juga yang mengekori putra sulung di keluarga Halley tersebut dan membawa aneka buket lainnya. Ada yang berisi bunga, snack, uang.


Ya ampun!


Sudah seperti orang mau lamaran saja.


"Aaaaaa! Itu semua untuk Reina, Bang?" Tanya Reina yang sudah langsung berteriak dengan lebay.


Ya ya ya!


Sebelas dua belas dengan Fairel!


"Untukmu? No!" Jawab Fairel tegas sembari menyentak Reina agar menyingkir.


"Ini semua untukmu, Rossie!" Fairel memberikan buket di tangannya pada Rossie. Beserta buket-buket lain hungga Rossie bingung sendiri bagaimana harus membawanya.


"Congraduation!" Ucap Fairel selanjutnya seraya menembakkan confetti di depan wajah Rossie.


Astaga!


Apa lagi ini?


"Berlebihan sekali!" Komentar Reina seraya mencibir.


"Bilang saja iri! Angga tak memberikanmu apa-apa?" Olok Fairel sembari melirik pada Angga yang hanya diam di dekat Reina.


"Tentu saja memberi! Tapi tidak berlebihan seperti Bang Iel!" Jawab Reina ketus.


"Sudah!" Angga meredam emosi Reina yang selalu meledak-ledak jika dekat dengan Fairel. Sepertinya kakak beradik itu memang tidak ditakdirkan untuk hidup akur.


"Wow! Siapa yang membawa toko buket kesini?" Tanya Keano yang baru bergabung lagi. Keano sebenarnya sudah datang sejak awal acara tadi, namun selesai acara pria itu mendadak harus ke toilet jadi terkesan menghilang.


"Aku yang membawa!"


"Kau membawa apa untuk Rossie? Tidak membawa apa-apa, kan? Selalu saja begitu!" Cecar Fairel meremehkan Keano yang hanya mengulas senyum tipis.


Ya, Keano tadi memang hanya membawa satu buket untuk Rossie dan sama sekali tidak ada apa-apanya ketimbang yang dibawa oleh Fairel.


Tapi bukan karena Keano tak mampu membeli buket yang besar dan banyak, namun Keano hanya tak mau memberikan sesuatu yang berlebihan sesuai petmintaan Rossie juga yang hanya ingin satu buket minimalis bernuansa ungu.


"Sudah berdebatnya! Ayo kita foto bersama!" Ajak Mama Sita menengahi perdebatan Keano dan Fairel. Semuanya langsung bersiap mengambil posisi, namun sekali lagi Fairel dan Keano harus kembali debat kusir saat keduanya sama-sama ingin berdiri di samping Rossie.


"Aku saja!"


"Kean juga ingin dekat Rossie, Bang!"


"Tidak usah! Jauh-jauh sana!" Usir Fairel galak.

__ADS_1


"Awas! Awas!" Angga akhirnya datang melerai dan langsung mengambil posisi yang tadi diperebutkan oleh Keano dan Fairel. Tak lupa Angga juga menarik Reina agar berdiri di sampingnya. Jadilah sekarang posisi Rossie berada di tengah-tengah dan diapit oleh Angga dan Reina di sebelah kanan, serta Mama Sita dan Papa Robert di sebelah kiri.


"Lalu kami dimana?" Tanya Keano dan Fairel berbarengan.


"Di belakang kan bisa!" Jawab Reina seraya mencibir pada abang dan sepupunya tersebut. Keano akhirnya langsung bergerak sigap dan menarik tangan Fairel, lalu mengajaknya berdiri di belakang Rossie.


"Geser!" Fairel mendorong-dorong Keano ke samping.


"Udah pas di tengah ini, Bang!" Jawab Keano yang tetap berdiri di posisinya dan langsung tersenyum pada kamera. Tangan Keano juga melingkar ke pundak Fairel.


"Apa, sih, Kean!" Ketus Fairel seraya menggeliat-geliat.


Geli juga rangkulan Keano!


"Senyum, Bang! Nanti fotonya jelek," desis Keano pada Fairel yang masih menggeliat tak jelas. Fairel akhirnya menegakkan tubuhnya, lalu menatap ke kamera dan tersenyum seperti halnya Keano.


Cekreek!!


****


"Jadi acaranya dibatalkan?"


"Tidak! Acara pernikahannya tetap digelar, tapi mempelainya saja nanti yang diganti."


"Ryan dan Nona yang nanti akan jadi mempelai pengantinnya."


Keano baru tiba di rumah, saat pria itu langsung mendengar obrolan serius Mami Anne dan Papi Abi.


"Tapi di undangannya masih tertera nama Lea dan Rayyen." Papi Abi terkekeh dan Keano langsung menyapa kedua orangtuanya tersebut.


"Sedang pacaran?" Sapa Keano sedikit berseloroh.


"Sedang membahas pernikahan Lea yang tak jadi!" Jawab Mami Anne to the point.


"Kenapa tidak jadi? Calon suaminya kabur lagi?" Keano sedikit berkelakar, mengingat pada cerita Lea tempo hari saat membuat pengakuan kalau Randu sebenarnya hanya pengganti sementara dari tunangannya yang sebenarnya yang mendadak menghilang saat acara. Jadi sebenarnya Randu dan Rayyen memanglah dua pria yang berbeda.


Keano sendiri sebenarnya tak habis pikir kenapa Lea bisa membuat skenario seaneh itu. Dan yang lebih membuat geleng-geleng kepala adalah Randu yang mau-mau saja disuruh Lea berakting sebagai Rayyen. Padahal kabarnya Randu itu adalah detektif.


Sama-sama aneh!


"Mami juga tidak tahu! Tadi Audrey hanya bilang kalau pernikahan Lea dan Rayyen akan diganti dengan pernikahan Ryan dan Nona," ujar Mami Anne menjawab pertanyaan Keano.


"Ada-ada saja masalah pernikahan jaman sekarang. Kita dulu nikah ya nikah saja, kan, Mi?" Tukas Papi Abi seraya merangkulkan lengannya ke pundak Mami Anne.


"Iya, tinggal nikah! Udah mlendung duluan," jawab Mami Anne sedikit bergumam. Namun sepertinya terlalu keras dan sudah terlanjur didengar oleh Keano.


"Apanya yang mlendung, Mi?"


"Bukan apa-apa!" Jawab Mami Anne dan Papi Abi berbarengan.


"Seperti yang dikatakan oma waktu itu, ya?" Tebak Keano selanjutnya yang ternyata peka.


"Itu hanya masa lalu dan kenakalan Papi serta Mami di masa lalu, Kean! Tak perlu lagi dibahas apalagi kamu tiru!" Ucap Papi Abi tegas memperingatkan sang putra.


"Iya, Pi!" Jawab Keano patuh.


"Sebentar, tadi kenapa Papi bilang kalau itu adalah kenakalan Papi dan Mami? Kan yang nakal papi saja!" Mami Anne sudah mengambil bantal sofa untuk memukul Papi Abi.

__ADS_1


"Tapi Papi tidak akan khilaf juga waktu itu misalkan mami tidak memancing," sergah Papi Abi membela diri.


"Ish! Mami tidak memancing! Papi saja yang waktu itu menjebak mami!" Kedua orang tua Keano itu lalu lanjut berdebat sambil sesekali perang bantal. Keano yang tadinya duduk di sofa, memilih untuk langsung berdiri dan pergi ke kamar saja. Keano tidak mau ikut-ikutan betada di medan peperangan antara Mami Anne dan Papi Abi.


Drrrttt!


Ponsel Keano bergetar saat pria itu baru saja masuk dan menutup pintu kamarnya.


Ada sebuah foto yang masuk yang dikirimkan oleh Reina.


[Simpan, gih! Mau aku hapus dari galeri] -Reina-


Keano mengulas senyum tipis saat mendapati fotonya yang hanya berdua saja dengan Rossie yang mengenakan baju wisuda. Rupanya Reina tadi sigap mengambil foto Keano dan Rossie, sebelum Fairel mengusir-ngusir Keano dan memintanya jauh-jauh dari Rossie.


Tak apa disuruh jauh-jauh!


Toh hati Keano dan Rossie sudah saling mendekat sekarang!


[Terima kasih, Reina] -Keano-


Keano hendak menyimpan ponselnya setelah mengirim ucapan terima kasih pada Reina, namun benda persegi itu kembali bergetar.


[Kau sudah tahu soal Rossie yang akan melanjutkan S2 di luar negeri?] -Reina-


"Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, ya, Bang!"


"Sebenarnya yang tahu juga baru Mama, Papa, Abang Angga, dan Abang Kean."


[Benarkah? Rossie mau lanjut S2 dimana?] -Keano-


[Aku tidak tahu! Angga tidak memberitahu. Aku pikir Rossie memberitahumu. Kalian terlihat ada something] -Reina-


Keano langsung mengulas senyum tipis setelah membaca pesan Reina. Ternyata adik Fairel itu malah lebih peka.


[Kau tidak bertanya pada Abang Iel? Barangkali dia malah tahu] -Keano-


[Jika Rossie saja tak memberitahumu, besar kemungkinan Rossie juga pasti tak memberitahu Abang Iel. Jadi aku tak perlu bertanya, ketimbang nanti Abang Iel malah nge-reog kalau tahu Rossie mau kuliah di luar negeri] -Reina-


Keano refleks tergelak dengan pesan konyol Reina.


Ya, sejak dulu Reina dan Fairel memang kerap berseteru dan jarang akur. Ada saja yang diperdebatkan oleh dua saudara kandung itu.


[Ngomong-ngomong, kau sudah tahu tentang pernikahan Lea yang batal?] -Keano-


[Kata siapa batal? Hanya di re-place saja mempelainya kata Dad] -Reina-


Keano kali ini hanya tersenyum tipis membaca pesan dari Reina. Meskipun sama-sama cucu perempuan di keluarga Halley, hubungan Reina dan Lea memang tak terlalu dekat. Pun dengan Zeline yang juga tak terlalu dekat dengan Reina maupun Lea. Keano tak paham ada apa sebenarnya dengan para cucu perempuan tersebut. Padahal hubungan diantara cucu laki-laki di keluarga Halley sangat-sangat rukun, dekat, dan akrab.


Keano tak membalas lagi pesan Reina, dan pria itu memilih untuk segera membersihkan diri, sebelum lanjut beristirahat.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2