
"Hai!" Sapa Keano yang sore ini menjemput Rossie ke kantor. Sudah sepekan ini Rossie menjalani pekerjaan barunya sebagai kepala keuangan di perusahaan Hadinata menggantikan Reina yang kini menjadi asisten pribadi Angga.
"Darimana, Bang?" Tanya Rossie yang langsung naik ke atas motor Keano setelah tadi Keano memakaikan helm pada calon istrinya tersebut.
"Dari Resto. Kesini jemput kamu, lalu antar kamu pulang-"
"Tidak bisa jalan-jalan dulu atau mampir ke resto juga tidak apa-apa," potong Rossie menyampaikan keinginannya.
"Aku harus pulang dan melihat nenek Sani dulu. Tadi Mami dan Papi bilang ada acara dan meninggalkan nenek sendirian di rumah.
Nenek juga kurang sehat," ujar Keano panjang lebar yang langsung membuat Rossie mengangguk.
"Yaudah, aku ikut ke rumah. Nanti Bang Kean ke resto lagi, kan? Aku akan menemani Nenek Sani," putus Rossie akhirnya.
"Aku tidak ke resto lagi. Pekerjaanku sudah ada yang mengambil alih." Jelas Keano santai.
"Jadinya kamu mau aku antar pulang atau bagaimana?" Tanya Keano sekali lagi pada Rossie.
"Aku ikut Bang Kean!" Jawab Rossie sembari mengeratkan pegangannya ke pinggang Keano.
Hari pernikahan Keano Rossie memang hanya tinggal menghitung hari. Semua persiapan juga sudah hampir rampung. Aunty Audrey hanya berpesan agar Keano dan Rossie menjaga kesehatan hingga hari H nanti.
"Sudah sampai," ucap Keano seraya mematikan mesin motor.
"Loh! Rumahnya sudah jadi," celetuk Rossie saat melihat progress rumah yang baru dibangun tepat di depan rumah kedua orang tua Keano.
"Bagus, ya? Mau punya rumah seperti itu juga?" Tawar Keano yang langsung membuat Rossie berpikir.
"Boleh juga, Bang! Ketimbang nanti kita tinggal di apartemen," jawab Rossie akhirnya merasa setuju.
"Tapi Mami maunya kamu tinggal sama Mami nanti setelah kita menikah," seloroh Keano kemudian yang langsung membuat Rossie sedikit merengut.
"Harus?"
"Coba nanti tanya ke Mami!" Ujar Keano seraya tertawa kecil. Tapi Rossie masih belum bisa tertawa.
"Memang kenapa kalau tinggal bareng Mami? Kan Mami tidak galak," tukas Keano lagi.
"Iya nggak kenapa-kenapa, sih!"
"Kan aku juga nggak bilang keberatan tadi," ujar Rossie mencari pembenaran.
"Tapi merengut!" Keano menangkup gemas bibir Rossie.
"Enggak!" Kilah Rossie cepat sembari menarik kedua sudut bibirnya yang sukses membuat Keano tergelak.
"Ayo masuk!" Ajak Keano kemudian yang langsung diiyakan oleh Rossie.
****
"Nenek sudah tidur," lapor Rossie yang baru keluar dari kamar nenek Sani setelah tadi gadis itu menemani Nenek Sani di kamar dan mengobrol banyak hal.
"Aku antar pulang sekarang kalau begitu," ujar Keano setelah melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Mami dan Papi belum pulang?" Rossie sudah mendaratkan bokongnya di kursi ruang tamu.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Keano sembari melongok ke jendela. Mrmang belum ada tanda-tanda kepulangan Mami Anne dan Papi Abi.
Sejenak suasana hening.
"Aunty Audrey tadi mengirim pesan tentang jadwal foto prewedding," Keano sudah duduk di samping Rossie, lalu menunjukkan layar ponselnya pada Rossie yang langsung menyandarkan kepalanya di dekapan Keano.
__ADS_1
"Di Resto?" Rossie bergumam pelan.
"Kata Alicia, karena kau sering mengapeliku ke Resto," ujar Keano sembari terkekeh. Sementara Rossie hanya berdecak.
"Aku kan belajar jadi asistennya Abang. Eh, tapi malah sekarang kerjanya di kantor Hadinata," gumam Rossie lagi sembari mengusap-usap lengan Keano.
"Pusing, ya? Dengan pekerjaan kamu yang sekarang?" Tanya Keano yang sudah meletakkan ponselnya ke atas meja, dan kini ganti merapikan rambut Rossie.
"Enggak juga, sih! Pusingnya karena kangen sama abang saja," jawab Rossie sembari mendongakkan wajahnya dan menatap pada Keano yang tersenyum. Rossie refleks memainkan jarinya di lesung pipi Keano.
"Ayo aku antar pulang!" Ajak Keano sekali lagi seraya menyatukan keningnya dengan kening Rossie.
"Nggak disuruh nginep? Kan calon istri," tanya Rossie sedikit menggoda.
"Tidak boleh!"
"Nanti nginepnya kalau sudah sah," jawab Keano tegas, sembari jemarinya menyusuri lekuk wajah Rossie.
"Ayo pulang!" Ajak Keano sekali lagi yang jarinya sudah mengusap-usap bibir Rossie.
"Abang yang sejak tadi tak mau melepaskan pelukan," tukas Rossie yang sontak langsung membuat Keano tergelak. Keano akhirnya langsung melepaskan dekapannya pada Rossie, lalu membantu gadis itu bangun. Disaat bersamaan, sudah terdengar deru suara mobil Papi Abi yang masuk ke garasi.
"Mami dan Papi sampai sudah pulang," gumam Keano sebelum pria itu naik tangga ke lantai atas.
"Lah, mau kemana? Kok malah aku ditinggal," gumam Rossie bingung karena Keano yang main kabur ke lantai atas tanpa memberitahu Rossie mau kemana.
"Rossie!" Sapa Mami Anne yang sudah masuk ke rumah.
"Malam, Mi!" Rossie langsung memeluk Mami Anne dan bercipika-cipiki dengan calon mertuanya yang awet muda tersebut.
"Sudah lama?" Tanya Mami Anne lagi.
"Sstttt! Nenek baru saja tidur, Mi!" Rossie memberikan isyarat pada Mami Anne agar memelankan volume bicarany.
"Nenek sudah sehat? Kamu sudah lama?" Kali ini Mami Anne ganti berbisik-bisik.
"Nenek sudah baikan tadi dan sudah ngobrol banyak sama Rossie."
"Dan Rossie disini dari sore pulang kerja. Dijemput Keano-" Rossie baru selesai menyebut nama Keano, saat pria itu sudah turun dari lantai dua seraya membawa jaket di tangannya.
"Mau kemana, Kean?" Tanya Mami Anne penuh selidik.
"Mengantar Rossie pulang, Mi! Dia sudah disini tadi dari sore," jawab Keano sembari mengangsurkan satu jaket di tangannya pada Rossie.
"Siapa yang disini dari sore?" Tanya Papi Abi yang sudah menyusul masuo ke dalam rumah.
"Calon menantu, Pi!" Jawab Mami Anne sembari merangkul Rossie yang sudah selesai memakai jaket milik Keano. Sedikit kebesaran, tapi nyaman juga dipakai
"Trus sekarang mau pulang?" Tanya Papi Abi lagi.
"Iya mau Keano antar pulang, Pi! Kan belum sah, jadi belum boleh menginap," jawab Keano beralasan.
"Haha, menginap juga tidak masalah. Kan nanti Rossie bisa tidur sama Mami."
"Trus papi tidur sama Kean!" Ujar Mami Anne mencetuskan sebuah ide.
"Takutnya Papi nanti nge-reog kalau tidak tidur sama Mami!" Seloroh Keano yang langsung berhadiah decakan dari Papi Abi.
"Sok tahu!"
"Rossie pulang saja, Mi! Nanti nginepnya satu minggu lagi," sahut Rossie sembari tertawa kecil.
__ADS_1
"Ah, iya! Satu minggu lagi kamu sudah sah jadi menantu Mami, ya!" Timpal Mami Anne dengan raut bahagia.
"Nanti langsung tinggal disini, ya! Kamar Keano di atas lega, kok!" Ujar Mami Anne lagi penuh harap.
"Iya, Mi!" Jawab Rossie sembari mengangguk dan tersenyum.
"Keano antarin Rossie pulang dulu, Mi!' Ujar Keano kemudian menyela keakraban Mami Anne dan Rossie.
"Kenapa tidak naik mobil?" Tanya Papi Abi saat nelihat Keano meraih kunci motor matic-nya
"Lebih romantis naik motor, Pi!" Bukan Keano melainkan Mami Anne yang menjawab sembari merangkul mesra Papi Abi yang sontak langsung menbuat Keano dan Rossie tertawa bersamaan.
"Rossie pulang dulu, Mi, Pi!" Pamit Rossie akhirnya seraya mencium punggung tangan Mami Anne dan Papi Abi bergantian.
"Nanti langsung telepon saja kalau Keani macam-macam di jalan!" Pesan Papi Abi yang langsung membuat Rossie tertawa kecil.
"Apa maksudnya macam-macam, sih, Pi?" Gumam Keano bingung.
"Irang cuma antarin Rossie pulang," gumam Keano lagi.
"Iya, sudah sana! Keburu malam!" Usir Papi Abi kemudian yang hanya membuat Keano berdecak. Pemuda itu lalu segera menarik tangan Rossie dan mengajaknya untuk segera keluar dari rumah.
"Kean! Nanti pulang mampir beliin Mami wedang ronde, ya!" Pesan Mami Anne pada Keano yang sudah bersiap di atas motor.
"Lah, tadi mami kan dari luar. Kenapa nggak mampir sekalian?" Tanya Keano heran.
"Sudah belikan saja!" Mami Anne mengibaskan tangan pada Keano sebelum wanita paruh baya itu kembali masuk ke dalam. Dasar Mami!
Tak berselang lama, motor Keano sudah melaju meninggalkan rumah kedua orang tua Keano.
****
"Itu toko baju?" Tanya Rossie seraya menunjuk ke toko baju serba tiga puluh lima ribu yang berada tak jauh dari gerobak wedang ronde.
Keano memang mengajak Rossie mampir dulu membeli pesanan Mami Anne tersebut agar tak kehabisan. Sekalian Rossie dan Keano juga menikmati minuman hangat tersebut di tempat.
"Iya! Toko baju favorit Mami itu," jawab Keano sembari tertawa kecil. Keano masih ingat saat ia kecil sering diajak ke toko semacam itu oleh Mami Anne dan Papi Abi.
"Masa, sih?"
"Emang baju model apa yang harganya tiga puluh lima ribu?" Tanya Rossie lagi heran.
"Kalau yang dulu sering dibeli Mami itu daster selutut gitu. Lengannya pendek kadang nggak ada lengannya," ujar Keano menjelaskan.
"Mau coba melihat-lihat? Mungkin sekarang modelnya juga sudah lain," tawar Keano selanjutnya sembari menyesap kuah wedang ronde yang tersisa di mangkuknya.
"Jam berapa sekarang?" Rossie meraih tangan Keano untuk melohat jam. Padahal gadus itu juga memakai arloji sendiri. Modus!
"Masih setengah delapan."
"Mau ke dalam?" Tawar Keano lagi.
"Mmmm bentar aja, Bang!" Putus Rossie akhirnya.
"Oke, ayo!" Keano meraih tangan Rossie, lalu menggandeng calon istrinya tersebut untuk masuk ke dalam toko.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.