
Keano menyibak rambut Rossie, lalu menyematkan satu lagi tanda kepemilikan tepat dibawah telinga istrinya tersebut. Rossie sontak menggeliat sembari menggigit bibir bawahnya.
"Masih sakit?" Tanya Keano khawatir, sembari tangannya turun ke bawah untuk mengusap milik Rossie yang tadi sudah berhasil Keano masuki untuk pertama kali.
Ya, rasanya masih seperti mimpi dan Keano masih terbawa oleh suasana pergelutan panas di antara dirinya dan Rossie tadi.
"Kenapa memangnya kalau masih sakit? Mau kau berikan obat agar tak sakit?" Cecar Rossie yang kedua tangannya sudah mencengkeram pundak Keano, lalu sedikit mendorong suaminya tersebut ke belakang .
"Ya."
"Kau mau obat apa?" Keano kini sudah setengah telentang dan pria itu tertawa kecil.
"Kau punyanya obat apa?" Rossie balik bertanya sembari tubuhnya menindih Keano. Dua sejoli itu lalu saling bertukar pandang.
"Obat ini," ucap Keano pelan, sebelum kemudian pria itu mencecap bibir Rossie. Tentu saja Rossie langsung menyambut serta membalas kecupan Keano tersebut. Pasangan pengantin baru itupun kembali larut dalam pagutan panas dan penuh gairah.
"Emmmmh!" Rossie melenguh sekaligus melayangkan protes, saat Keano menyudahi pagutan panas diantara mereka.
"Kenapa berhenti?" Tanya Rossie sembari satu tangannya menangkup wajah Keano. Sementara satu tangan Rossie yang lain sudah menyusup ke dalam selimut dan meraba milik Keano...
"Rossie!"
Rossie sontak tergelak saat melihat ekspresi Keano tatkala dirinya sedikit mer*mas milik Keano yang perlahan mulai mengeras.
"Aku rasa kau masih menginginkannya," tebak Rossie dengan tatapan menggoda.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kau-"
"Aku kenapa? Aku baik-baik saja!" Sergah Rossie cepat.
"Iya!" Keano mengangguk namun jarinya bergerak dalam senyap untuk memainkan ujung dada Rossie, hingga istri Keano tersebut menggelinjang.
"Hah!"
Sekarang gantian Keano yang tergelak.
"Ck! Abang!" Rossie yang gemas balik merem*s milik Keano lagi.
"Auuuuw! Pelan-pelan!" Ringis Keano dengan ekspresi sedikit lebay.
"Lebay! Ini sudah pelan," tukas Rossie yang kini sudah ganti mengurut milik Keano yang sudah kembali menegang.
"Iya, seperti itu." Keano memejamkan mata sembari menikmati pergerakan tangan Rossie di dalam selimut.
"Kau sepertinya ahli sekali," racau Keano kemudian.
"Abang!" Rossie sontak memukul dada Keano dan wajahnya sedikit bersemu.
"Tapi aku menyukainya," bisik Keano sembari menggigit kecil cuping telinga Rossie. Wanita itu langsung menggeliat karena sekarang Keano sudah ganti menciumi area sensitif Rossie di leher.
Tangan Keano juga perlahan mulai memainkan gundukan milik Rossie yang ukurannya begitu pas di tangan Keano. Pria dua puluh sembilan tahun tersebut mer*mas lembut kedua bukit kembar Rossie hingga membuat sang empunya melenguh,
"Emmmhhhh!"
Jari Keano ganti memainkan ujung dari bukit kembar tadi, dan Rossie langsung memejamkan kedua matanya.
"Kau bergairah," bisik Keano yang masih terus memainkan puncak dada Rossie yang kini terasa mengeras.
"Heem," jawab Rossie yang masih memejamkan kedua matanya.
"Aku menginginkannya lagi," ucao Rossie selanjutnya yang langsung membuat Keano mengulas senyum lebar.
Keano lalu mengecup bibir Rossie, namun diluar dugaan, Rossie malah langsung balik mel*mat bibir Keano dengan penuh n*fsu.
"Sekarang, Bang!" Pinta Rossie di tengah nafasnya yang memburu. Rossie sydah membuka lebar kedua pahanya, dan kedua tangan wanita itu juga sudah melingkar di leher Keano.
Bless!
__ADS_1
Sekali lagi, Keano berhasil menyentak masuk ke dalam milik Rossie yang masih begitu sempit. Dua tubuh maked itupun saling memeluk dan diam untuk beberapa saat, seolah mereka sedang menikmati penyatuan mereka.
"Mau seperti ini sampai pagi?" Seloroh Keano kemudian memecah kebisuan. Keano masih mendekap tubuh Rossie yang berada di bawahnya.
"Nanti Rossie sesak nafas kalau Abang tindih begini sampai pagi," ujar Rossie menanggapi selorohan Keano barusan.
"Kita tukar posisi saja kalau begitu," usul Keano yang kini sudah ganti menatap pada wajah Rossie. Tangan Keano bergerak untuk menyingkirkan benerapa helai rambut dari wajah sang istri.
"Woman on top?"
"Ya! Ayo kita coba!" Ajak Keano yang hendak dijawab Rossie dengan anggukan. Keano lalu kembali mendekap Rossie dan mengajaknya berguling, tanpa melepasnya milik mereka.
"Oh, ya ampun," gumam Rossie saat akhirnya ia sudah berada di atas Keano sekarang. Wajah istri Keano itu langsung bersemu merah.
"Kau terlihat lebih cantik dari bawah sini," ucap Keano yang langsung membuat wajah Rossie semakin memanas.
"Sedang merayu, Suamiku?" Balas Rossie akhirnya yang langsung membuat Keano terkekeh. Keano lalu sedikit menggerakkan bokongnya dan memberikan sentakan pada Rossie yang langsung peka.
"Iya, aku bergerak!" Ujar Rossie geregetan, sebelum kemudian wanita itu mulai bergerak di atas Keano.
Keano terus menatap pada Rossie yang sepertinya mulai terengah. Tempo pergerakan Rossie juga semakin cepat, seilah wanita itu begitu menikmati posisinya sekarang.
"Jangan diam saja!" Rossie membimbing tangan Keano yang sejak tadi hanya diam sembari menangkup kedua bukit kembar Rossie, agar mulai bergerak aktif.
"Kau menikmati sekali sepertinya," seloroh Keano yang akhirnya mulai memainkan kedua bongkahan kenyal Rossie yang kini dalam posisi menggelalantung.
Rossie sudah membungkuk di atas Keano dan wajah wanita itu benar-benar semerah tomat sekarang.
"Aku merasakan sesuatu," bisik Rossie sembari menatap penuh arti pada Keano yang langsung paham.
"Mau melepaskannya sekarang?" Tanya Keano dan Rossie dengan cepat menggeleng.
"Bisakah lebih lama sedikit?"
"Rasanya...." Rossie memejamkan mata, lalu wanita itu menggigit bibir bawahnya. Namun hanya beberapa detik, karena Keano sudah dengan cepat meraup bibir Rossie, lalu mel*matnya dengan penuh gairah.
Rossie yang masih berada di atas Keano sudah kembali menggerakkan bokongnya naik dan turun. Pun dengan Keano yang juga mulai bergerak perlahan, mengikuti tempo permainan Rossie. Pagutan mereka semakin dalam dan panas, sebelum akhirnya dua tubuh itu mengejang dan mencapai pelepasan bersama.
Tautan bibir dua sejoli itu sudah terlepas, dan Rossie langsung membenamkan kepalanya di dalam dekapan Keano.
"I love you!" Bisik Keano sembari mencium puncak kepala Rossie.
"I love you too."
****
"Bang Iel masih marah?" Tanya Keano sembari menatap pada Fairel yang kini sedang memainkan sedotan di minumanya.
Sudah sepekan berlalu sejak pernikahan Keano dan Rossie. Dan selama itu juga Fairel seolah menghilang tanpa kabar. Lalu hari ini, sepupu Keano itu tiba-tiba sudah datang ke B&D Resto, mengeluh lapar, lalu mengajak Keano untuk duduk bersama dengan alasan menemani makan.
Padahal Keano baru makan siang bersama Rossie beberapa saat yang lalu.
"Aku tak se-kekanakan itu!" Ujar Fairel menyanggah pertanyaan Keano tadi.
"Syukurlah kalau begitu!"
"Semoga ke depannya, Abang Iel segera dipertemukan dengan gadis yang lebih baik-"
"Ya!"
"Dan jika aku sudah bertemu dengan gadis yang aku yakin dia akan seribu kali lebih cantik dari Rossie!" Fairel menuding pada Keano yang malah tertawa kecil.
"Kenapa? Tidak percaya kalau aku akan bisa mendapatkan gadis yang berkali-kali lebih cantik dari Rossie?" Nada bicara Fairel mulai meninggi.
"Keano percaya, Bang!" Ujar Keano yang langsung menghentikan tawanya.
"Aku akan membuat acara resepsi pernikahan yang megah nanti!"
__ADS_1
"Tak seperti acara pernikahanmu kemarin yang...." Fairel memasang raut wajah meremehkan.
"Rossie memang menginginkan konsep pernikahan yang tak terlalu mewah kemarin. Makanya-"
"Bilang saja kau tidak punya uang untuk menggelar pesta yang mewah untuk Rossie!" Sergah Fairel memotong penjelasan Keano dengan sok tahu.
"Kerja bertahun-tahun sebagai manajer, tapi mengeluarkan uang untuk acara sekali seumur hidup pelit!" Cibir Fairel lagi yang hanya membuat Keano tersenyum tipis.
"Sudah begitu, mengajak Rossie membeli baju di toko obral lagi!" Sinis Fairel lagi.
"Abang membuntuti kami?" Tanya Keano penuh selidik yang langsung membuat Fairel salah tingkah.
"Hanya kebetulan melihat lau dan Rossie keluar dari toko obral dekat alun-alun sembari menenteng kantong plastik warna hitam!" Jawab Fairel akhirnya kembali memasang wajah sinis.
"Oh!"
"Kok Keano tidak melihat Abang, ya?" Keano tampak berpikir.
"Memang mau apa kalau melihatku? Mau mengajakku masuk ke toko itu juga? Maaf, aku tak tertarik!" Cerocos Fairel dengan nada sombong.
"Mau mentraktir Abang di angkringan dekat situ!"
"Angkringan di samping alun-alun maksudnya? Yang tenda warna biru--" Fairel dengan cepat membungkam mulutnya yang sepertinya keceplosan.
"Loh! Abang malah sudah tahu? Langganan juga?" Tanya Keano pemuh selidik.
"Tidak! Kemarin kesana itu hanya sebuah ketidasengajaan karena aku kelaparan dan nyaris pingsan!"
"Lagipula, aku kesana juga sendiri dan tak bersama siapa-siapa! Jadi tak usah sok menyelidiki begitu!" Cerocos Fairel yang seperti sedang menutupi sesuatu.
"Memang Keano ada bertanya Abang pergi bersama siapa? Keano kan hanya bertanya apa abang langganan-"
"Aku bilang tidak ya tidak!" sergah Fairel cepag dengan nada bicara yang sudah naik tujuh oktaf.
"Iya, Bang! Kean percaya," tukas Keano cepat berusaha mendinginkan suasana.
"Aku mau ke kantor lagi!"
"Tidak mampir ke angkringan dekat alun-alun dulu, Bang?" Seloroh Keano sedikit menggoda.
"Tidak!" Fairel langsung menyalak dengan keras.
"Aku tidak akan mampir ke sana apalagi ke toko kue-" Fairel membungkam mulutnya dengan cepat.
"Ke toko kue? Bang Iel mau membeli kue untuk siapa?" Tanya Keano lagi yang rupanya sudah terlanjur mendengar.
"Bukan urusanmu!"
"Aku mau pulang!" Sergah Fairel lagi seraya berlalu.
"Tadi katanya ke kantor, Bang? Kok mau pulang?" Cecar Keano lagi.
"Hhhh! Terserah aku mau kemana!" Fairel sudah berbalik dan menuding pada Keano.
"Tidak usah sok-sokan mencari tahu aku kemana!"
"Tidak, Bang!"
"Keano akan disini saja sepanjang hari," jawab Keano cengengesan.
"Bagus!" Fairel kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Sementara Keano hanya tertawa sembari geleng-geleng melihat tingkah kocak Fairel hari ini.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.