
Keano menatap dari kejauhan pada Rossie yang tengah melangkah dengan anggun seraya membawa baki berisi cincin pertunangan Angga dan Reina. Bibir Keano lalu ikut mengulas senyum, saat melihat Rossie yang juga sedang tersenyum.
"Senyum-senyum sendiri seperti orang gila!" Cibir Fairel yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Keano.
"Bang, soal siang ta--"
"Ssshhhh!" Fairel membungkam kasar mulut Keano, lalu lanjut mengibaskan tangannya di depan wajah sepupunya tersebut.
"Aku sedang tak mau bicara padamu!" Ucap Fairel sambil mendelik pada Keano.
"Berikan tepuk tangan untuk pasangan romantis kota malam ini, Angga dan Reina!" Seruan dari pembawa acara, mbiat Fairel dan Keano sama-sama menoleh ke arah dua sejoli yang sebentar lagi akan bertukar cincin. Namun kemudian ada sesikit kesalahan, saat Angga yang malah menyodorkan tangan kirinya alih-alih tangan kanannya pada Reina.
"Sepertinya sudah ada yang kebelet dan ingin langsung menikah!" Celetuk Fairel seraya berseru pada dia sejoli yang tampak gugup di depan sana.
"Bang!" Panggil Keano lagi pada Fairel yang masih melemparkan tatapannya ke arah Reina dan Angga. Sepupu Keano itu sepertinya niat sekali mengacuhkan Keano.
"Aku punya satu saran menarik untukmu, Keano Halley Abian yang menyebalkan!" Ucap Fairel sinis yang akhirnya memutar kepalanya dan ganti menatap Keano dengan tajam.
"Saran apa?" Tanya Keano yang raut wajahnya langsung berubah bingung.
"Jika memang kau dan Rossie sudah menjalin hubungan sekian tahun lamanya, kenapa kalian tidak segera membawanya ke jenjang yang lebih serius saja dan bukan malah melakukan hal mesum di ruanganmu-"
"Kami baru melakukannya satu kali!" Sergah Keano yang langsung tanpa sadar membuat pengakuan. Fairel langsung berdecih dan menatap sinis pada Keano, sebelum kemudian pria itu berlalu meninggalkan Keano yang kini ganti mematung bingung.
Sepertinya Keano salah bicara tadi. Jangan-jangan Bang Iel sudah berpikir kalau kata "melakukan" yang tadi Keano ucapkan merujuk pada melakukan sesuatu yang melanggar norma.
Lalu sekarang...
"Tes!" Suara Fairel yang sudah memegang mikrofone di depan semua tamu yang hadir malam ini, mendadak langsung membuat jantung Keano berdegup tak karuan.
Fairel mau apa?
Membeberkan aib yang baru Keano akui tadi pada semua tamu yang hadir?
Gawat!
"Maaf menyela."
Jantung Keano sudah memacu semakin kencang dan Keano benar-benar ingin berlari ke depan sekarang untuk merebut mikrofone di tangan Fairel.
"Pertama, saya sebagai abang dari Reina Faranisa Halley..."
Keano yang hampir berlari ke depan, mendadak langsung mengurungkan niatnya setelah mendengar kalimat lanjutan yang diucapkan oleh Fairel. Keano langsung menyimak dengan seksama apa yang hendak disampaikan oleh Fairel. Namun yang sekarang terlihat adalah justru Fairel yang berdebat dengan Reina di depan sana, hungga akhirnya terdengar deheman dari Dad Liam yang langsung membuat Fairel dan Reina berhenti berdebat. Fairel juga sudah kembali fokus ke mikrofonnya.
"Baiklah, saya lanjutkan!"
"Pertama, saya ingin memberikan selamat untuk pasangan Reina dan Angga!" Fairel terlihat menatap ke arah Reina dan Angga, sebelum kemudian pria itu memerintahkan sang adik dan juga Angga yang awalnya sedikit berjauhan agar saling mendekat.
"Bagus!"
"Aku mau menyampaikan sebuah kabar gembira untuk semuanya!" Ucap Fairel selanjutnya seolah sedang berpidato.
"Jadi, setelah malam ini Angga dan Reina bertunangan, mereka selanjutnya akan menikah minggu depan!"
"Tepat di hari Minggu, dan di lokasi yang sana juga. Di kediaman Halley sesuai impian Reina!" Ujar Fairel dengan nada lantang yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari semua tamu undangan.
Keano yang awalnya terkejut dengan kalimat yang disampaikan oleh Fairel akhirnya ikut bertepuk tangan.
__ADS_1
"Wow! Benar-benar kejutan," ucap Rossie yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Keano.
"Aku mencari Bang Kean sejak tadi," ujar Rossie lagi yang kini sudah ganti menggamit lengan Keano, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Keano.
Sementara Keano masih menatap ke arah Fairel yang kembali berdebat dengan Reina dan Angga di depan.
"Yang memutuskan Angga dan Reina menikah minggu depan siapa? Hasil musyawarah bersama, kan?" Tanya Keano akhirnya memastikan pada Rossie.
"Sepertinya bukan," jawab Rossie sembari mengendikkan kedua bahunya.
"Hubungan Abang Angga dan Kak Reina saja sedikit merenggang kemarin dan tadinya pernikahan mereka masih belum dipastikan karena terganjal restu dari Bang Iel juga," ujar Rossie panjang lebar yang tentu saja langsung membuat Keano terkejut.
"Jadi, ini keputusan sepihak dari Bang Iel?" Tanya Keano lagi memastikan.
"Iya!"
"Bukankah itu kabar baik?"
"Pernikahan Bang Angga dan Kak Reina yang awalnya terganjal restu Bang Iel, akhirnya menemukan titik terang."
"Aku rasa Abang Iel sudah bisa menerima kenyataan tentang hubungan kita," pendapat Rossie yang kembali menyandarkan kepalanya di pundak Keano.
Sementara Keano masih mengarahkan tatapannya pada Fairel yang kini sudah meninggalkan panggung lalu beralih ke meja minuman. Terlihat, sepupu Keano itu meneguk tiga gelas sirup warna merah, sebelum kemudian pergi entah kemana.
"Ayo berdansa, Bang!" Ajak Rossie yang langsung membuyarkan lamunan Keano.
Beberapa tamu undangan memang sudah mulai berdansa di dalam ruangan yang lampunya perlahan meredup. Alunan musik lembut seolah menciptakan suasana yang semakin romantis. Namun dua sejoli yang malam ini bertunangan, malah tak nampak batang hidungnya.
Aneh!
****
Menjelang tengah malam, acara pertunangan Reina dan Angga akhirnya selesai. Keano langsung mengajak Rossie untuk menghampiri keluarga Halley dan keluarga Hadinata yang masih berkumpul. Sepertinya sedang membahas hal serius., namun Fairel malah tak terlihat ada di tengah-tengah mereka.
"Tidak usah kesana, Bang!" Cegah Rossie saat mereka hampir sampai di tempat berkumpul dua keluarga besar tadi.
"Mau langsung pulang?" Tanya Keano yang langsung bisa menangkap raut lelah di wajah Rossie.
"Abang Kean yang mengantar?" Rossie menatap penuh arti pada Keano.
"Sebaiknya pamit pada Mama dan papa kamu dulu, agar tak mencari nanti," nasehat Keano sembari mengusap wajah Rossie.
"Nanti pamit lewat telepon saja! Mereka sedang membahas hal serius dan Rossie tak mau mengganggu," putus Rossie yang langsung mengajak Keano berbalik dan sedikit memaksa.
"Telepon sekarang! Mana ponselmu?" Keano meraih tas kecil yang tersampir di pundak Rossie, lalu mengeluarkan ponsel gadis itu.
"Password?" Keano menyodorkan ponsel Rossie pada sang empunya.
"Rossie dan Keano," jawab Rossie yang langsung membuat Keano berdecak. Keano lalu mengusap gemas puncak kepala Rossie yang sepertinya bucin akut tersebut.
"Ponsel Bang Kean passwordnya apa, memang?" Tanya Rossie pada Keano yang sedang berusaha menghubungi ponsel Papa Robert.
"Tanggal lahir seseorang..." jawab Keano yang tak langsung to the point.
"Tanggal lahir Bang Kean?" Tebak Rossie menerka-nerka. Namun Keano menggeleng dengan cepat.
"Aku tak pernah memakai tanggal lahirku sendiri sebagai password! Mudah ditebak!" Ujar Keano yang langsung membuat Rossie berpikir lagi.
__ADS_1
"Tanggal lahir Mami Anne?" Tebak Rossie lagi.
"Itu password untuk kartu kredit," jawab Keano seraya terkekeh. Telepon Keano pada Papa Robert masih belum diangkat.
"Tanggal lahir Papi Abi berarti? Atau Nenek Sani?" Tebak Rossie bertubi-tubi.
"Masih salah!" Jawab Keano lagi bersamaan dengan teleponnya yang akhir diangkat oleh Papa Robert.
"Lalu tanggal lahir siapa?" Tanya Rossie yang malah langsung membuat Keano meletakkan telunjuknya di bubir Rossie. Keano memberikan kode kalau teleponnya sudah diangkat oleh Papa Robert.
"Ada apa, Rossie?"
Keano langsung memberikan ponsel di tangannya pada Rossie.
"Pa! Rossie pulang duluan, ya!" Izin Rossie to the point.
"Papa teleponkan sopir-"
"Tidak usah, Pa!" Sergah Rossie cepat.
"Rossie pulang bareng Bang Kean " lanjut Rossie lagi sembari menatap pada Keano.
"Langsung pulang dan jangan keluyuran!"
"Iya, Pa!" Jawab Rossie seraya menghela nafas.
"Lalu Keano mana? Papa mau bicara."
Rossie segera menberikan ponselnya lagi pada Keano.
"Halo, Uncle!" Sapa Keano sopan.
"Kau akan mengantar Rossie pulang?"
"Iya, Uncle! Kean akan langsung mengantar Rossie ke rumah dan tak mampir kemana-mana," jawab Keano tegas.
"Bagus!"
"Uncle akan telepon maid di rumah lima belas menit lagi untuk memastikan kalian sudah tiba di rumah dan tak kelayapan kemana-mana!"
"Siap, Uncle!"
Telepon langsung terputus. Keano segera mengembalikan ponsel Rossie.
"Kelayapannya di rumah saja nanti," bisik Rossie dengan nada nakal yang langsung membuat Keano berdecak.
"Jangan membuatku berpikir aneh-aneh!" Keano mengusap gemas puncak kepala Rossie.
"Ayo pulang!" Ajak Keano kemudian yang langsung membuat Rossie mengangguk sekaligus tersenyum.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1