
Setelah sepuluh menit menempuh perjalanan, Rossie akhirnya tiba di kost-an Karen. Suasana kost sedikit sepi, mungkin karena memang ini masih jam kuliah. Apalago mayoritas yang satu kost dengan Karen adalah mahasiswa juga serta beberapa karyawan.
Rossie langsung menuju kost-an Karen yang letaknya paling ujung. Rossie memang pernah beberapa kali diajak Karen kemari, makanya gadis itu sudah hafal.
Tok tok!
"Karen!" Panggil Rossie seraya mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari Karen.
Tok tok!
Rossie mengetuk sekali lagi sembari memanggil nama Karen.
"Karen!" Rossie berusaha membuka knop pintu kost-an Karen yang rupanya tak terkunci.
"Karen, kau baik-baik saja?" Tanya Rossie yang mulai cemas. Rossie segera menyusup masuk ke dalam kost-an Karen yang ternyata gelap.
Tirai, jendela, serta pintu belakang tertutup rapat. Sementara lampu juga mati.
"Kar-"
Ceklek ceklek!
Rossie belum selesai memanggil nama Karen, saat gadis itu sudah mendengar suara pintu yang dikunci. Ris refleks menoleh, dan dalam keremangan, Rossie bisa melihat Bisma yang kini tersenyum menyeringai ke arahnya.
Sial!
Ternyata ini sebuah jebakan.
"Hai, Rossie!" Sapa Bisma seraya mendekat ke arah Rossie yang langsung beringsut mundur.
"Karen dimana?" Rossie membentak ke arah Bisma sambil terus beringsut mundur. Sampai akhirnya punggung Rossie menabrak pintu kamar mandi.
"Mmpphhh!"
"Mmmppphhh!"
Samar-samar Rossie bisa mendengar suara seseorang yang mengerang dari dalam kamar mandi. Rossie mendorong pintu di belakangnya, dan benar saja. Karen ada di dalam sana dengan tangan dan kaki terikat, serta mulut yang disumpal kain. Benar-benar Bisma keparat!
"Aku sudah mengamankan Karen, jadi kita bisa bersenang-senang sekarang, Rossie!" Bisma tiba-tiba sudah menarik tubuh Rossie yang hebdak melepaskan Karen.
"Auuw!" Rossie memekik saat tubuhnya menubruk lemari plastik milik Karen di sudut ruangan. Tas yang tadi Rossie sampirkan di pundak juga sudah terlepas dan entah tersangkut dimana.
"Apa sebenarnya maumu, hah?" Bentak Rossie berani setelah gadis itu berhasil bangkit berdiri dan mendelik pada Bisma.
"Mauku-"
"Mmmpphh! Mmmpphhh!" Erangan dari Karen di dalam kamar mandi menjeda kalimat Bisma.
Bisma segera menghampiri Karen, lalu menendang gadis itu dengan kasar hingga tubuh Karen terguling.
"Berisik!" Maki Bisma sebelum pria itu lanjut membanting pintu kamar mandi dengan keras hingga membuat Rossie terlonjak.
"Kau pria brengsek!" Maki Rossie sebelum gadis itu bergerak cepat ke arah pintu dan hebdak kabur. Namun gerakan Bisma tak kalah gesit dan pria itu sudah langsung menangkap Rossie.
"Kau mau kemana, hah?"
"Lepas!" Rossie berusaha menyentak tangan Bisma yang sudah mencengkeram tubuhnya.
"Bisma, lepas!" Rossie meronta samb terys berteriak. Sementara Bisma sudah mengangkat tubuh Rossie dan membantingnya ke atas ranjang.
"Kau brengsek!" Maki Rossie sambim berusaha untuk bangun, saat Bisma sudah bergerak cepat untuk menindihnya.
"Aku dengar kau seorang putri mahkota keluarga Hadinata."
"Orang tuamu pasti kaya raya, kan?" Busma menatap licik pada Rossie di dalam ruangan yang kini suasananya remang-remang.
"Kau mau uangku? Ambil saja!" Bebtak Rossie galak.
"Oh, bukan hal sekecil itu, Rossie Hadinata!"
__ADS_1
"Jika hanya uangmu maka akan cepat habis." Bisma masih berucap dengan nada licik.
"Aku mau yang lebih besar dari itu!" Bisma mengunci kedua tangan Rossie dan sydah menindih tubuh gadis itu di atas tempat tidur sekarang.
"Aku ingin menjadi bagian dari keluarga konglomerat Hadinata!"
"Dan itu hanya akan bisa terjadi jika aku menanam benih di rahimmu."
"Bukan begitu-"
"Cuih!" Rossie langsung meludahi wajah Bisma karena benar-benar muak dengan pria di atasnya tersebut.
"Pria brengsek!" Rossie berusaha meronta dan melepaskan cengkeraman tangan Bisma.
"Keparat!" Umpat Rossie lagi.
"Kau tidak akan bisa lepas atau lolos dariku!"
"Mau minta tolong pada siapa, hah?"
"Pada siapa?" Bisma berteriak murka pada Rossie sebelum kemudian pria itu berusaha untuk mencium bibir Rossie.
Namun Rossie terus berontak dan menggeleng-gelengkan wajahnya.
"Diam, Kau!" Bentak Bisma galak yang semakin erat menindih Rossie, hingga Rossie mulai kesulitan bernafas.
"Jangan memaksaku untuk melakukannya secara kasar, karena jika aku sudah habis kesabaran-"
Braakkk!!
Pintu kost-an Karen mendadak sudah menjeblak terbuka, dan cahaya yang menyilaukan langsung menerobos masuk.
Bisma yang langsung menoleh dan sedikit lengah, langsung memberikan kesempatan pada Rossie untuk menendang pangkal paha pria brengsek tersebut.
"Aarrgggh!" Bisma mengerang kuat sembari memegangi pangkal pahanya, bersamaan dengan Keano yang sudah muncul di ambang pintu kamar Karen.
"Pria keparat!" Maki Keano yang langsung dengan cepat meraih tubuh Bisma yang masih kesakitan, lalu melayangkan bogem mentah. Sementara Rossie langsung meringkuk di sudut kamar, sembari membenamkan kepala di antara dua lututnya, saat suara debuman demi debuman diiringi makian dari Keano serta erang kesakitan Bisma terus menggema di kamar Karen.
"Kau akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama!" Maki Keano sekali lagi bersamaan dengan beberapa orang polisi yang sudah merangsek masuk, lalu membawa Bisma yang wajahnya sudah lebam tak karuan.
Sementara Keano langsung menghampiri Rossie yang masih meringkuk di sudut ruangan.
"Rossie," Keano mengusap lembut tangan Rossie, dan saat itulah, Rossie langsung menghambur ke pelukan Keano dan memeluk pria itu lalu menangis tersedu-sedu.
"Kau terluka?" Tanya Keano sembari mengusap-usap punggung Rossie yang hanya menggeleng. Namun pelukan Rossie pada Keano masih begitu erat.
"Abang Kean tahu darimana Rossie ada disini?" Cicit Rossie yang masih membenamkan kepalanya di pelukan Keano.
"Karen," jawab Keano singkat sembari menoleh ke arah pintu, dimana ada Karen yang sudah berdiri di sana dan tak lagi terikat.
"Tadi aku meneleponmu karena mendadak aku ingin menelepon."
"Meskipun kau masih marah padaku," ujar Keano sedikit bercerita. Tangan Keano masih mengusap-usap kepaka Rossie sekarang.
"Ponsel Rossie di dalam tas yang...." Rossie berusaha mengingat-ingat dimana tasnya tersangkut tadi.
"Karen yang mengangkat teleponku, dan karena Karen tak bisa bicara, dia menyalakan video call."
"Abang melihat Karen yang terikat?" Tebak Rossie masih tetap tanpa mengubah posisinya.
"Dan mulutnya tersumpal kain. Lalu pikiranku langsung tertuju padamu, jadi aku minta Karen mengirimkan shareloc, meskipun Karen sepertinya harus jungkir balik-"
"Aku mengirimkan shareloc memakai jempol kakiku!" Seru Karen yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
Rossie langsung mengangkat kepalanya dari dekapan Keano, dan bangkit berdiri. Keano sedikit membantu Rossie, sebelum kemudian gadis itu berlari ke arah Karen dan memeluk Karen dengan erat.
"Tadi Bisma mengancamku, makanya aku terpaksa menghubungi dan memaksamu kesini, Rossie!"
"Maaf," ucap Karen penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa!" Jawab Rossie sembari menangkup wajah Karen.
"Kau terluka?" Tanya Reina selanjutnya khawatir.
"Aku baik-baik saja. Hanya tanganku yang sedikit nyeri." Karen menunjukkan pergelangan tangannya yang kemerahan karena ikatan Bisma sialan.
"Mau kami antar ke rumah sakit, Karen?" Tawar Keano yang sudah turut menghampiri Karen.
"Tidak usah, Bang Kean!"
"Kakak Karen sebentar lagi datang untuk menjemput," tolak Karen cepat.
"Ini tas dan ponselmu," ujar Karen selanjutnya seraya mengangsurkan tas dan ponsel Rossie.
Rossie lalu memeluk sahabatnya itu sekali lagi.
"Kau sebaiknya pindah kost-an, Karen!" Saran Rossie selanjutnya.
"Ya!"
"Dan kau sebaiknya selalu membawa bodyguard-mu itu kemana-mana," Karen balas memberikan saran sembari mengendikkan dagu ke arah Keano yang hanya terkekeh. Rossie langsung menundukkan wajah dan sedikit tersipu.
Bodyguard?
"Karen!" Terdengar suara seorang wanita dari pintu depan kost-an.
"Kakakku sudah datang. Aku akan berkemas dulu," ujar Karen yang langsung sigap meraih ranselnya dari atas lemari.
"Karen!" Panggil Kakak Karen lagi yang sudah masuk ke kamar.
"Kami langsung pamit, Karen!" Pamit Keano akhirnya seraya merangkul Rossie.
"Iya, Bang! Terima kasih atas pertolongannya!"
"Kami pulang dulu, Karen! Bye!" Pamit Rossie juga sebelum kemudian Rossie dan Keano melangkah keluar dari kost-an Karen.
"Kita langsung pulang?" Tanya Keano yang masih merangkul pundak Rossie.
"Ke rumah sakit dulu, Bang-"
"Kau terluka?" Keano menyela dengan khawatir.
"Abang Kean yang terluka."
"Ini lebam," Rossie menunjuk ke tulang pipi serta pelipis Keano yang sedikit berdarah.
"Aku baik-baik saja! Tak usah ke rumah sakit!" Tolak Keano cepat.
"Tapi lukanya akan infeksi kalau tidak diobati, Bang!" Tukas Rossie lagi.
"Ada kotak P3K di Resto. Nanti biar diobati Lea," jawab Keano santai. Keano meraih helmnya dari atas motor lalu memakai benda tersebut.
"Aku ikut ke Resto kalau begitu dan biar aku yang mengobati," ujar Rossie sedikit memaksa.
Sopir Rossie tadi juga sudah Rossie suruh pulang karena Rossie pikir ia akan lama berada di kost-an Karen.
Keano berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Nanti aku antar pulang sebelum sore, ya!" Janji Keano yang langsung membuat Rossie mengangguk. Rossie lalu naik ke atas motor Keano dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Keano.
"Apa kita masih pura-pura menjadi pacar?" Tanya Keano sedikit menoleh ke arah Rossie.
"Sepertinya begitu!" Kekeh Rossie disusul dengan kekehan dari Keano, sebelum akhirnya motor melaju ke arah B&D Resto.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.