
Tahun berganti....
"Safe flight dan langsung telepon Mami kalau sudah sampai," pesan Mami Anne seraya memeluk Keano dengan erat.
"Tidak minta oleh-oleh, Mi?" Tanya Keano sedikit berseloroh.
"Kau pulang dengan selamat saja, itu sudah menjadi oleh-oleh terbaik," ujar Mami Anne yang rupanya begitu bijak.
"Tapi akan lebih baik lagi, jika kau juga paham dan mengerti kalau membawakan satu tas branded untuk Mami-" Mami Anne menjeda sejenak kalimatnya karena mendengar tawa dari Papi Abi.
"Apa? Aku minta tas pada anakku! Bukan padamu! Jangan tertawa!" Omel Mami Anne sembari mencubiti lengan Papi Abi.
"Mi!" Papi Abi sontak meringis-ringis, dan tak lama lagi, kedua orang tua Keano itu mungkin akan baku hantam.
"Mami, Papi, sudah!" Keano akhirnya turun tangan dan melerai, setelah perdebatan Mami Anne dan Papi Abi sedikit menarik perhatian beberapa orang.
"Papi kamu itu yang mulai!" Rengut Mami Anne sembari bersedekap.
"Baiklah maaf, Mami Sayang!" Ucap Papi Abi yang sudah mendekap Mami Anne dengan mesra. Mami Anne terlihat menggeliat-geliat dan sok jual mahal. Sementara Keano hanya tertawa kecil melihat tingkah konyol kedua orang tuanya tersebut.
"Safe flight, Kean! Dan jangan macam-macam disana!" Pesan Papi Abi sebelum kemudian papi dari Keano itu lanjut membujuk Mami Anne yang masih merajuk. Mungkin perlu dibelikan boneka beruang agar Mami Anne berhenti merajuk.
"Siap, Pi!"
"Kean berangkat dulu!" Keano mencium tangan Papi Abi dan Mami Anne secara bergantian, sebelum kemudian pria itu lanjut masuk ke pintu utama bandara.
Masih terngiang jelas di ingatan Keano, satu tahun lalu saat ia mengantar Rossie ke bandara ini juga sebelum gadis itu terbang ke London. Dan sekarang, Keano juga akan liburan ke London.
Benar-benar liburan!
Dan menemui Rossie juga sebenarnya....
Hahaha!
"Kean!" Seruan dari seseorang yang baru keluar dari terminal utama bandara langsung membuat Keano melambatkan langkahnya.
Hah, apa?
Kenapa dia bisa ada di airport?
"Kau mau kemana? Kenapa bawa-bawa koper?" Cecar Fairel yang sepertinya baru pulang dari suatu tempat di luar kota.
Entahlah!
Keano bahkan tidak tahu kalau Fairel pulang dari luar kota hari ini. Tapi Keano juga tak tahu kalau Fairel sedang ada pekerjaan ke luar kota.
"Mau berlibur, Bang!" Jawab Keano sembari meringis.
"Liburan?" Fairel langsung mengernyit.
"Apa ini ada hubungannya dengan customer-mu yang waktu itu? Aku belum mendengar perkembangan hubungan kalian. Sudah jadian?" Cecar Fairel yang sudah mirip detektif saja!
Atau lebih mirip CCTV kompleks yang hobi ghibah itu?
"Kok Abang masih ingat saja?" Keano balik bertanya dan berusaha menutupinya salah tingkahnya.
Ah, iya! Sebaiknya Keano memang bersikap normal agar Fairel juga tak curiga. Nanti kalau sikap Keano terlalu kaku, Fairel malah akan curiga dan bisa-bisa sepupu Keano ini malah akan membuntuti Keano sampai ke London.
Bahaya!
__ADS_1
"Ingatlah! Karena aku menunggu kau mengumumkan hubunganmu bersama customer...."
"Siapa namanya?" Tanya Fairel penuh selidik.
"Nama?" Keano sedikit tergagap.
"Nama customer yang jadi gebetanmu!" Tanya Fairel lagi geregetan.
"Sebut saja Mawar, Bang!" Jawab Keano cepat yang mebdadam ingat pada kata-kata Lea kala itu! Saat di awal-awal Rossie kerap menyambangi Keano ke resto.
Ah, tapi Lea mungkin juga sudah tak ingat. Wanita itu saat ini sedang menikmati perannya sebagai ibu baru, setelah drama pernikahannya bersama Randu.
"Mawar? Temannya Melati?" Tanya Fairel berkelakar yang langsung membuat Keano tertawa sumbang.
"Jadi, kau dan Mawar sudah jadian, kan?" Tanya Fairel sekali lagi.
"Belum, Bang!" Jawab Keano cepat yang sontak langsung membuat Fairel menyalak.
"Belum?"
"Kenapa lambat sekali?" Protes Fairel seolah tak terima.
Dasar aneh!
Yang menjalin hubungan siapa, yang heboh siapa!
"Mawar masih kuli-" Keano tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Mawar kuli apa? Kuli bangunan?" Cecar Fairel yang refleks langsung membuat Keano tergelak.
Bisa-bisanya!
"Kuli di negara orang, Bang!" Jawab Keano sembari meringis. Sepertinya karangan Keano sudah terlalu melenceng jauh.
"Anggap saja begitu!" Keano kembali meringis.
"Aneh!" Fairel menggaruk kepalanya sendiri.
Keano yang tak mau menerima cecaran pertanyaan dari Fairel lagi, langsung memilih untuk berpamitan.
"Ngomong-ngomong, Kean harus segera check ini, Bang!"
"Yasudah! Masuk sana! Mau liburan ke mana memangnya? Ke Hongkong menyusul Mawar?" Cerocos Fairel yang tak terlalu digubris oleh Keano.
Keano langsung menyeret kopernya dan masuk ke terminal utama bandara kota, lalu langsung menuju ke counter check in. Keano benar-benar sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Rossie.
****
Rossie yang baru tiba di apartemen, memeriksa ponselnya serta pesan yang sejak kemarin ia kirim pada Keano. Masih belun ada balasan!
Apa Keano memang sedang sibuk?
Rossie akan mencoba mengirim pesan pada Keano lagi. Hadis itu sudah menemukan ponselnya, dan membuka kontak Keano.
[Abang Kean. Sibuk, ya?] -Rossie-
Pesan terkirim!
Rossie kembali mengetik pesan untuk Keano.
__ADS_1
[Jangan lupa makan dan istirahat, Bang!] -Rossie-
Rossie lanjut melihat arloji di tangannya yang sekarang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Sudah tengah malam disana. Pantas saja Abang Kean tidak membalas pesan. Pasti sudah tidur." Rossie bergumam sekaligus bermonolog pada dirinya sendiri. Gadis itu akhirnya hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu segera beranjak untuk membersihkan diri.
Namun Rossie baru saja akan melangkah ke dalam kamar mandi, saat mendadak ponselnya berdering. Rossie bergegas meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, lalu memeriksa siapa yang menelepon.
Nomor asing?
Rossie mengernyit, lalu akhirnya tetap mengangkat telepon tersebut.
"Halo!" Sapa Rossie sedikit ragu.
"Rossie!"
Rossie diam sejenak saat mendengar suara yang begitu ia hafal dari ujung telepon.
"Rossie, kau sudah pulang ke apartemen?"
"Su-sudah!" Rossie mendadak sedikit tergagap.
"Abang Kean belum tidur?" Tanya Rossie kemudian.
"Bisa turun sebentar? Security melarangku naik ke atas."
Kedua mata Rossie seketika langsung membulat saat mendengar kalimat Keano.
"Abang dimana memangnya?" Tanya Rossie akhirnya.
"Di lantai bawah apartemenmu. Sebentar, aku kirimkan fotonya."
Tuut tuut!
Telepon terputus, dan tak berselang lama sebuah foto selfie dari nomor asing tadi masuk ke ponsel Rossie. Ya, itu adalah Keano yang benar-benar berada di lobi bawah apartemen Rossie.
"Ya ampun!" Rossie menutup mulutnya sendiri memakai tangan karena benar-benar tak percaya dengan kedatangan Keano yang mendadak. Segera gadis itu menyambar jaketnya,lalu turun ke lantai bawah untuk menjemput Keano.
Ting!
Pintu lift baru terbuka, dan Rossie langsung menghambur keluar, lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lobi, hingga akhirnya tatapan Rossie berhenti pada seorang pemuda yang berdiri di sudut lobi, mengenakan jaket lengkap dengan topi kupluk di kepalanya.
"Bang Keano!" Rossie langsung menghampiri Keano dan menghambur ke pelukan pria tersebut.
"Hai," sapa Keano yang langsung mengusap-usap punggung Rossie yang masih memeluknya dengan erat.
"Sendirian?" Tanya Rossie kemudian seraya mendongakkan wajahnya. Sementara kedua tangan Rossie masih melingkar di pinggang Keano.
"Iya! Kan kamu sudah ada disini," jawab Keano seraya tertawa kecil. Rossie langsung mengulurkan tangannya dan melesakkan telunjuknya di pipi Keano yang berlubang.
"Kangen," ucap Rossie sembari menatap lekat wajah Keano.
"Sama!" Keano mencolek hidung Rossie lalu kembali tertawa kecil.
"Ayo naik!" Ajak Rossie kemudian, sembari menggamit lengan Keano. Dua sejoli itupun segera menuju ke lift dan naik ke unit apartemen Rossie di lantai atas.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.