
Keano berulang kali mengarahkan tatapannya ke pintu dimana tadi Fairel menghilang. Sudah tiga puluh menit berlalu dan Fairel masih belum juga kembali. Kemana sebenarnya sepupu Keano itu?
“Ada apa?” Tanya Rossie yang sudah kembali menghampiri Keano, setelah tadi gadis itu menemui beverapa temannya dan mengobrol.
“Abang Iel kenapa belum kembali, ya?” Ujar dengan ekspresi wajah cemas.
“Memang tadi bilang mau kemana?” Tanya Rossie lafi yang sepertinya tak terlalu peduli pada abang dari Reina tersebut.
“Akan aku periksa dulu,” putus Keano akhirnya yang tangannya langsung ditahan oleh Rossie.
“Aku ikut!” pinta Rossie yang langsung diiyakan oleh Keano. Dua sejoli itupun segera masuk ke dalam rumah untuk mencari Fairel yang mendadak tak menampakkan diri lagi.
****
"Tadi memang ke sini, Non! Mencari bajunya yang katanya tertinggal di dalam kamar mandi. Tapi tidak ada," ujar maid saat Rossie bertanya apa ia nelihat Fairel atau tidak.
"Maksudnya yang tidak ada bajunya Bang Iel?" Tanya Ris memastikan."
"Iya, Non! Saya juga tidak melihatnya."
"Saya juga sudah tanya ke maid yang lain dan semuanya mengatakan tak ada yang melihat."
"Lalu setelah itu?" Gantian Keano yang bertanya dan raut wajahnya terlihat khawatir.
"Lalu setelah itu, Pak Fairel berdiri cukup lama di depan pintu kamar mandi."
"Saya juga tak berani menegur. Jadi saya tinggal ke dapur saja dan ke belakang juga tadi."
"Dan saat saya kembali lagi, Pak Fairel sudah tidak ada disini," terang maid panjang lebar.
"Apa Bang Iel pulang ke rumah?" Gumam Rossie bertanya pada Keano sekaligus menerka-nerka.
"Mungkin."
"Aku akan coba meneleponnya," putus Keano akhirnya yang entah mengapa malah tam kepikiran sejak tadi untuk menelepon ponsel Fairel saja.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif!"
"Ck!" Keano hanya mampu berdecak,saat ponsel Fairel ternyata tak aktif.
"Coba telepon dan tanya ke Kak Reina," usul Rossie yang langsung membuat Keano ganti menelepon Reina.
"Halo, Kean! Ada apa?"
"Rei, Bang Iel sudah pulang?" Tanya Keano to the point.
"Emmmm, aku tidak tahu."
"Sebentar aku periksa."
Hening sehenak di ujung telepon dan Keano masih menunggu laporan dari Reina.
__ADS_1
"Halo!"
"Bagaimana, Rei?" Tanya Keano tak sabar.
"Bang Iel belum pulang. Mobilnya juga belum ada. Memang ada apa?"
"Tidak, sih! Tapi Bang Iel mendadak tidak ada di sini dan pergi tanpa pamit tadi," Keano menggaruk tengkuknya sendiri.
"Pergi bersama Rossie?"
"Tidak! Pergi sendiri! Ini Rossie disini," jawab Keano cepat.
"Memang ada masalah, ya?"
"Sedikit," Keano ganti meringis.
"Masalah-"
"Nanti kau hubungi saja aku kalau Bang Iel sudah pulang, Rossie!"
"Bye!" Pamit Keano cepat sebelum Rossie mencecarnya dengan pertanyaan yang lebih banyak lagi.
"Belum pulang juga," ujar Keano pada Rossie yang hanya mengendikkan kedua bahunya.
"Mungkin sedang menenangkan diri," gumam Rossie berpendapat.
"Kau tidak khawatir?" Tanya Keano mengernyit pada Rossie.
"Bang Iel seharusnya menerima dengan lapang dada tentang hubungan kita, sekalipun itu terasa menyakitkan baginya."
"Rossie juga tak mungkin melakukan poliandri dengan menerima cinta Bang Kean dan Bang Iel, kan?" Tutur Rossie panjang lebar sedikit berkelakar di bagian akhir yang tentu saja langsung membuat Keano tertawa kecil.
"Iya, seharusnya kau memang memilih yang memang membuatmu nyaman-"
"Rossie sudah memilih Bang Kean!" Sela Rossie memotong kalimat Keano. Gadis itu tiba-tiba juga sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Keano.
"Tidak ada orang," bisik Rossie seraya tersenyum pada Keano yang juga balas tersenyum.
Keano mengedarkan pandangannya sekali lagi ke sekeliling tempatnya berdiri bersama Rossie sekarang. Memang tidak ada orang, kecuali suara riuh dari halaman belakang.
"Ayo kembali bergabung bersama yang lain!" Ajak Keano yang kini sudah menyatukan keningnya dengan kening Rossie.
"Mmmmm, tidak mau disini saja, Bang?" Satu tangan Rossie sudah ganti mengusap wajah Keano sekarang. Keano langsung memejamkan kedua matanya dan menikmati usapan lembut tangan Rossie.
Rossie sedikit berjinjit dan sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Keano. Bahkan hembusan nafas Keano juga sudah bisa Rossie rasakan. Rossie lalu memejamkan mata dan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Keano. Tepat saat bibir Rossie dan Keano sudah saling menyentuh, sebuah deheman langsung membuat dua sejoli itu tersentak kaget.
"Eheem!!"
Keano buru-buru menarik wajahnya menjauh dari Rossie. Pun dengan Rossie yang juga langsung melepaskan kedua tangannya yang tadi melingkar di leher Keano.
"Papa," gumam Rossie sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Sebentar lagi acara potong kue, Rossie!" Cepat kembali ke halaman belakang dan jangan malah sibuk berduaan bersama Keano disini!" Perintah Papa Robert seraya menatap tegas pada Rossie.
"Iya, Pa!" Jawab Rossie sembari meraih tangan Keano dan menariknya ke halaman belakang.
Keano tersenyum sedikit canggung saat berpapasan dengan Papa Robert yang hanya menatapnya dengan tajam tanpa berkomentar apa-apa.
"Dasar anak muda!" Gerutu Papa Robert kemudian setelah Keano dan Rossie berlalu pergi.
****
"Angga?" Gumam Reina yang baru turun dari lantai dua untuk mengambil minum, saat melihat seorang pria yang duduk di minibar di dapur dan membelakanginya.
Reina lalu mendekati sosok yang kini mengenakan kemeja yang begitu Reina hafal warna dan coraknya.
"Angga!" Reina menepuk punggung pria itu, dan sosok yang tadinya Reina kira adalah Angga, seketika langsung membuat Reina berdecak.
"Amnesia lagi? Sudah dua kali kau memanggilku Angga!" Gerutu Fairel dengan raut wajah bersungut.
"Abang kenapa memakai baju Angga?" Tanya Reina yang kini sudah duduk di samping Fairel.
"Kau hafal kalau ini baju Angga? Apa kau yang mencuci baju-baju Angga, melipatnya, lalu menyusunnya ke almari juga?"
"Atau jangan-jangan kau juga yang kerap melepaskan kemeja-kemeja Angga dari tubuhnya?" Cecar Fairel yang sama sekali tak nyambung dengan pertanyaan Reina barusan.
"Ck!"
"Delapan tahun Reina jadi pacar Angga, Bang! Tentu saja Reina hafal baju-baju yang sering Angga kenakan!"
"Dan yang ini kan yang beliin Reina," ujar Reina panjang lebar ikut bersungut.
Fairel tak menanggapi lagi dan hanya berdecak beberapa kali.
"Abang kenapa murung? Apa ada masalah di acara ulang tahun Rossie tadi? Keano tadi juga menelepon Reina dan bertanya apa Abang sudah sampai rumah," cecar Reina panjang lebar sambil sedikit bercerita.
Namun Fairel hanya diam dan tak menjawab sepatah katapun.
"Bang! Kok diam, sih?" Komentar Reina yang tetap membuat Fairel membisu.
"Abang kenapa sebenarnya? Sudah mirip orang patah hati saja!" Kekeh Reina kemudian seperti sedang meledek Fairel.
"Memang!" Jawab Fairel akhirnya seraya bangkit berdiri dan meninggalkan dapur serta meninggalkan Reina.
"Bang!" Panggil Reina lagi yang sama sekali rak digubris oleh Fairel yang sudah langsung naik tangga dengan cepat menuju ke lantai dua.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1