
"Sudah sam-"
"Terima kasih sudah mengantar Rossie pulang, Bang!" Ucap Rossie yang sudah secepat kilat membuka sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil Fairel dengan cepat juga.
Sudah seperti dikejar setan saja!
Memangnya Fairel seperti setan?
"Ya, sama-sama! Tidak menawariku mampir?" Tanya Fairel pada jok kosong di sebelahnya. Sudah seperti orang gila saja!
Fairel hanya garuk-garuk kepala, lalu memutuskan untuk turun. Barangkali juga Rossie tadi sedang kebelet, makanya buru-buru turun dan tak berbasa-basi pada Fairel.
Fairel masuk ke teras kediaman Hadinata sembari bersiul. Namun tepat saat Fairel baru akan masuk ke dalam rumah Rossie, ponselnya mendadak berdering nyaring.
"Aaah! Mengganggu saja!"
Fairel merogoh ponselnya dari dalam saku lalu melihat siapa yang menelepon.
Ryan!
Ck! Mengganggu saja!
"Halo!" Jawab Fairel sedikit ketus.
"Sedang menjalankan misi pedekate yang tak kunjung menemukan titik terang, Pak Direktur?"
"Sialan! Misiku berhasil kali ini karena akhirnya Rossie bersedia aku antar pulang!" Jawab Fairel pamer.
"Benarkah? Kemajuan yang luar biasa!"
"Memang!" Ucap Fairel tetap dengan nada sombong.
"Tapi ngomong-ngomong, Uncle Liam sedang mencarimu sekarang di kantor."
Fairel langsung melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Ada meeting jam satu siang, Iel! Bagaimana kau bisa lupa? Bukanlah tadi Uncle sudah berpesan agar kau makan siang di kantor saja dan tidak usah kelayapan-"
"Sialan kau, Ryan! Aku akan ke kantor sekarang!" Fairel menutup teleponnya dengan kalang kabut, lalu pria itu naik ke mobilnya seperti orang kesurupan. Tak butuh waktu lama, dan mobil Fairel sudah melaju meninggalkan kediaman Hadinata.
****
"Kean!" Tegur Mami Anne sembari menyodorkan beberapa kotak kue pada Keano yang melamun. Tadi setelah kembali dari acara menjemput Rossie tapi tak jadi, Keano memang berniat untuk langsung ke B&D Resto. Namun Mami Anne malah menelepon dan meminta Keano untuk mengantarnya ke toko kue. Akan ada acara arisan ibu-ibu kompleks di rumah sore ini.
"Bawa ini, Kean! Kenapa melamun, sih?" Omel Mami Anne pada Keano yang langsung sigap mengambil kotak-kotak kue dari atas meja. Keano tak berkata sepatah katapun, dan langsung membawa kotak-kotak kue tadi menuju ke mobil. Tak berselang lama, Mami Anne juga sudah menyusul ke mobil.
"Lagi mikirin apa?" Tanya Mami Anne lagi.
"Nggak mikirin apa-apa, Mi!" Kilah Keano cepat.
"Trus kenapa melamun? Sudah seperti orang putus cinta saja!" Ledek Mami Anne yang hanya membuat Keano berdecak. Keano lalu menyusul Mami Anne masuk ke mobil dan sedikit membantu Mami Anne memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
"Kenapa belum dibawa ke bengkel buat dibenerin, Kean? Kan Mami sudah pesan berulang kali!" Gerutu Mami Anne.
"Macetnya cuma kadang-kadang, Mi!" Tukas Keano beralasan.
"Biar bisa modusin Rossie juga kalau pas antar jemput," imbuh Keano lagi sedikit bergumam.
"Apa tadi? Mengantar jemput Rossie?" Mami Anne langsung berteriak penuh semangat.
"Sudah sampai mana pedekatenya? Rossie sudah memberikan lampu hijau, ya?" Cecar Mami Anne penasaran.
Keano sontak garuk-garuk kepala, sebelum kemudian pemuda itu lanjut melajukan mobilnya dan meninggalkan toko kue.
"Ayo cerita, Kean!" Desak Mami Anne penuh semangat.
"Biar nanti Mami bisa pamer pada Iel dan Uncle-mu, kalai pedekate-mu pada Rossie sudah membuahkan hasil," cerocos Mami Anne lagi.
"Tidak usah berlebihan, Mi!" Sergah Keano cepat yang mendadak ingat pada pesan Rossie tadi.
"Abang Kean bohong!"
Hanya satu pesan singkat memang, tapi seperti menyiratkan sebuah kekecewaan.
Apa Rossie kecewa pada Keano sekarang?
"Pamer sedikit kan tidak apa-apa, Kean!" Tukas Mami Anne yang langsung membuyarkan lamunan Keano perihal pesan dari Rossie tadi. Keano tak lagi menanggapi celotehan Mami Anne dan pria itu memilih untuk fokus pada jalan di depannya.
"Nanti sore kamu ajak Rossie ke rumah, ya! Bilang di rumah mami ada arisan ibu-ibu kompleks," titah Mami Anne selanjutnya saat mereka hampir tiba di rumah.
"Kemarin saja, Rossie tidak datang ke acara pertunangan Lea," lanjut Keano lagi.
"Ck! Pasti mau kalau kamu pandai membujuk, Kean!"
"Jangan mau kalah dari Fairel!" Tukas Mami Anne lagi.
"Ya, Keano, ya!"
"Nanti kamu ajak Rossie kesini!" Pesan Mami Anne sekali lagi bersamaan dengan mobil yang sudah tiba di depan rumah.
Dulu, jalan di depan rumah keluarga Keano ini memang tak bisa dilalui kendaraan roda empat. Namun seiring berjalannya waktu, jalan kini sudah diperlebar dan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Mobil Keano dan Papi Abi juga sudah bisa masuk ke garasi rumah serta tak perlu lagi parkir di lapangan di depan gang.
"Keano tidak janji, Mi!" Jawab Keano seraya mematikan mesin mobil. Keano lalu turun duluan dari mobil, dan segera menurunkan kue-kue Mami Anne. Nenek Sani sudah menyambut ibu dan anak tersebut dan membantu membawa kue ke teras.
"Biar Keano saja, Nek!" Ucap Keano mencegah sang nenek agar tak mengangkat kotak kue yang lumayan berat tersebut.
"Kean! Sabuk pengamannya macet!"
"Kamu tolongin Mami dulu!" Teriak Mami Anne dari dalam mobil, yang tak kunjung bisa membuka sabuk pengaman
"Iya, Mi!" Keano buru-buru menghampiri Mami Anne dan membantu melepaskan sabuk pengaman.
"Ck! Besok kamu bawa ke bengkel mobil ini! Atau Mami tidak mau naik lagi mobil kamu!" Omel Mami Anne yang hanya membuat Keano menggaruk kepalanya yang tak gatal. Keano lalu mengikuti Mami Anne dan juga Nenek Sani yang sudah masuk ke dalam rumah. Namun saat Keano baru tiba di pintu depan, ponsel pria itu mendadak berdering.
__ADS_1
Lea menelepon!
"Halo, Lea!" Keano kembali ke teras dan duduk di bangku teras.
"Kau dimana? Ada customer datang mencarimu."
"Benarkah? Sudah lama?" Keano langsung bangkit dari duduknya dan menuju ke garasi lagi.
"Baru saja!"
"Aku ke resto sekarang!" Pungkas Keano seraya menyambar kunci motor. Keano bahkan lupa untuk berpamitan pada Mami Anne dan pria itu sudah langsung memacu motornya menuju ke B&D Resto.
****
Hari sudah beranjak gelap, dan Keano baru selesai mengangkat telepon dari Mami Anne yang mempertanyakan apa Keano akan mengajak Rossie ke rumah. Keano yang saat ini masih duduk di sakah satu bangku yang berada di B&D Resto, hanya menghela nafas, sambil sesekali menyesap kopinya yang sudah dingin.
Keano meraih pobsel yang sedari tadi ia letakkan di atas meja, lalu mulai mengetik pesan untuk Rossie.
[Rossie, apa kau marah soal siang tadi? Aku minta maaf] -Keano-
Keano menimang-nimang sejenak ponselnya dan tak jadi mengirim pesan pada Rossie. Pria itu menghapus pesannya barusan, lalu berpikir lagi.
[Rossie, kau di rumah....].
Hapus lagi!
Keano kembali memijit pelipisnya dan meletakkan ponselnya lagi.
"Apa aku telepon saja, ya?" Gumam Keano bertanya pada dirinya sendiri. Keano lalu mengambil ponselnya lagi dan hendak menghubungi Rossie, namun di saat bersamaan malah ada panggilan masuk dari Angga.
Ya ampun!
"Halo, Angga!" Sambut Keano cepat.
"Kau sedang sibuk, Kean?"
"Tidak!" Keano menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Aku ingin bicara sesuatu. Kau bisa ke apartemenku?"
"Sekarang?" Tanya Keano memastikan.
"Bisa sekarang, kalau kau tak sibuk."
"Iya, aku tidak sibuk. Aku akan kesana sekarang. Kirimkan lokasinya!" Ucap Keano sebelum menutup telepon dari Angga. Keano langsung menenggak habis kopinya, sebelum pria itu keluar dari Resto.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.