
Keano melirik ke ponselnya di atas nakas, untuk memeriksa barangkali ada pesan dari Rossie. Namun tidak ada!
Keano akhirnya lanjut memakai kemejanya, lalu dasi yang semuanya sudah disiapkan oleh Mami Anne.
Ya, acara pertunangan Lea memang akan digelar dengan megah, meskipun kabarnya Rayyen hanya melamar Lea via video call pada Uncle Daniel dan Aunty Thalia. Unik juga sepupu Keano itu!
Tapi semoga acara pertunangannya berjalan dengan lancar.
"Kean! Sudah siap?" Tanya Mami Anne sembari membuka pintu kamar Keano.
"Sedikit lagi, Mi!" Jawab Keano yang masih memasang dasi di lehernya. Sedikit lambat karena Keano memang tak terbiasa memakai dasi seperti halnya Fairel atau Ryan. Keano lebih suka berpenampilan kasual saat datang ke B&D Resto.
"Mami bantu!" Mami Anne sudah menghampiri Keano dan langsung cekatan membantu memasangkan dasi di leher putra tunggalnya tersebut.
"Papi sudah siap, Mi?"
"Sudah!" Jawab Mami Anne yang akhirnya selesai memasang dasi Keano.
"Sudah menghubungi Rossie dan mengajaknya datang bareng?" Tanya Mami Anne memastikan.
Ya, Mami Anne memang semangat sekali mendukung hubungan Keano dan Rossie. Meskipun masih belum bisa dipastikan.
"Rossie datang bersama kedua orang tuanya, Mi," jawab Keano yakin.
"Atau bersama Fairel mungkin," lanjut Keano namun hanya bergumam dalam hati. Sesaat rasa cemburu langsung menyusup di hati Keano.
"Yakin bersama kedua orang tuanya? Bagaimana dengan Iel? Nanti jangan-jangan Iel malah sudah terlebih dulu menjemput Rossie."
"Seharusnya kau itu berjuang lebih keras untuk mendapatkan hati Rossie, Kean! Mami mendukung penuh hubunganmu dengan Rossie!"
"Mami selalu bermimpi kalau Rossie itu yang kelak akan jadi menantu mami," cerocos Mami Anne panjang lebar.
"Mami sudah berpikir sejauh itu? Sejak kapan?" Tanya Keano sedikit heran.
"Sejak melihat kau menatap Rossie dengan mata yang berbinar!"
"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Mami juga! Kau putra satu-satunya dan kesayangan Mami juga!" Mami Anne sudah memeluk Keano yang tingginya lebih menjulang dari Mami Anne.
"Pokoknya, kau harus bisa mengalahkan Fairel dan memenangkan hati Rossie!" Ucap Mami Anne lagi yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.
"Kami tetap harus berjuang dan bersaing secara sehat, Mi!" Ujar Keano mengingatkan.
"Main curang sedikit tidak apa-apa! Kau hubungi Rossie sekarang dan ajak gadis itu ke acara pertunangan Lea!" Cetus Mami Anne yang langsung secepat kilat meraih ponsel Keano di atas nakas.
"Cepat hubungi Rossie!" perintah Mami Anne lagi seraya menyediakan ponsel Keano pada sang empunya.
Keano garuk-garuk kepala, lalu segera menghubungi nomor Rossie yang Keano hafal diluar kepala. Cukup lama Keano menunggu tapi teleponnya tak diangkat oleh Rossie.
"Tidak diangkat, Mi," lapor Keano pada sang mami.
"Ck! Seharusnya memang kau mengajaknya dari kemarin!" Komentar Mami Anne sedikit menyayangkan sikap kurang gercep Keano.
Padahal juga kemarin Keano sudah menanyakannya pada Rossie, dan Keano sendiri yang menyuruh Rossie datang bersama kedua orang tuanya saja alih-alih mengajak Rossie datang bersama.
Lagipula, Keano juga tidak mau memaksa-maksa Rossie dan membuat gadis itu merasa tak nyaman, meskipun saat ini status Keano adalah pacar Rossie.
Pacar pura-pura maksudnya!
Tapi siapa tahu bisa jadi pacar beneran, lalu Fairel akan langsung kebakaran jenggot!
"Kean! Kok malah senyum-senyum sendiri?" Tegur Mami Anne yang langsung membuat Keano kembali garuk-garuk kepala.
"Tidak ada apa-apa, Mi!"
"Ayo berangkat!" Ajak Keano kemudian seraya merangkul pundak Mami Anne. Baru juga mami dan anaknya itu keluar dari kamar, Papi Abi sudah menyambut keduanya.
"Sudah siap? Papi kira masih mau pacaran berdua di kamar," seloroh Papi Abi yang langsung berhadiah cubitan di perut dari Mami Anne.
"Cemburu!"
"Mana ada? Papi kan bukan cowok cemburuan," kilah Papi Abi cepat.
"Cowok?" Keano langsung tergelak karena Papi Abi yang masih begitu percaya diri menyebut dirinya sebagai cowok. Masih merasa ABG sepertinya!
"Nggak cemburuan tapi cuma bucin akut," goda Mami Anne yang sudah ganti menggamit lengan papi Abi.
__ADS_1
"Kau itu yang bucin akut!" Balas Papi Abi.
"Ehem!" Keano berdehem dan menengahi perdebatan tentang siapa yang bucin diantara Mami dan Papinya.
"Dua-duanya bucin akut Kean rasa," celetuk Keano sebelum kemudian pemuda dua puluh delapan tahun itu ngacir dari hadapan kedua orangtuanya.
"Keano!!" Seru Mami Anne dan Papi Abi berbarengan.
****
"Datang sendiri?" Tanya Fairel yang langsung menyapa Keano, saat pria itu baru tiba.
"Tidak," jawab Keano cepat.
"Bersama Rossie?" Fairel sudah mendelik pada Keano.
"Bersama Mami dan Papi, Bang!" ujar Keano sembari mengendikkan dagunya ke arah Mami Anne dan Papi Abi yang sedang menyapa tuan rumah malam ini. Aunty Thalia dan Uncle Daniel.
"Kita masih bersaing dan tak boleh berbuat curang!" Fairel mengingatkan sembari menuding pada Keano.
"Bersaing soal?" Keano mendadak bingung.
"Soal Rossie! Atau kau sudah menyerah?"
"Bagus! Aku akan berjuang sendiri dan tak perlu lagi punya saingan!" Cerocos Fairel seraya mendongak sombong.
"Keano belum menyerah, Bang!"
"Keano hanya sedikit sibuk belakangan ini dan tidak ada waktu untuk menemui Rossie lagi," ujar Keano sedikit curhat.
Sibuk menjadi pacar pura-pura Rossie maksudnya. Lagipula, untuk apa Keano repot-repot menemui Rossie, jika gadis itu sudah sering menyambangi Keano ke Resto.
Kalau Fairel tahu pasti akan langsung mencak-mencak dan mengomel hebat!
"Bagus kalau kau sibuk!"
"Semoga ke depannya kau semakin sibuk!" Ucap Fairel mendoakan Keano yang malah terkekeh.
"Abang tidak sibuk memang?" Keano balik bertanya kepo.
"Sibuk! Tapi aku kan pandai me-manage waktu dan bekerja dengan efektif."
"Nah! Itu kedua calon mertuaku datang," pamer Fairel sekali lagi pada Keano yang hanya tersenyum tipis. Keano mengedarkan pandangannya ke sekitar Mama Sita dan Papa Robert untuk mencari keberadaan Rossie. Namun sepertinya tidak ada!
Apa itu artinya Rossie tidak datang malam ini?
Drrrtttt!
Ponsel Keano yang berada di saku celana mendadak bergetar. Sepertinya ada pesan masuk.
Keano segera membuka ponselnya dan benar saja, ada pesan masuk dari Rossie.
[Abang tadi menelepon, ya? Rossie sedang mandi tadi] -Rossie-
Pesan dari Rossie kembali masuk ke ponsel Keano.
[Ada apa, Bang? Apa ada hal penting?] -Rossie-
[Tidak ada! Aku hanya ingin bertanya apa kau jadi datang ke acara Lea malam ini] -Keano-
[Oh. Rossie tidak datang karena sakit kepala.] -Rossie-
[Istirahat dulu kalau begitu, Rossie! Ngerjain skripsinya ditunda dulu satu hari dan jangan dipaksa] -Keano-
[Iya, Bang! Ini juga baru saja minum obat dan mau lanjut istirahat] -Rossie-
[Baiklah kalau begitu! Selamat istirahat!] -Keano-
Keano baru saja akan menyimpan ponselnya, saat benda itu kembali bergetar. Rupanya Rossie masih mengirim pesan balasan.
[Bang Kean!] -Rossie-
[Iya, Ros! Bagaimana?] -Keano-
[Bang Keano kalau pagi sibuk, ya] -Rossie-
__ADS_1
[Tidak juga! Ada apa? Mau diantar ke kampus?] -Keano-
"Percaya diri sekali pertanyaannya," gumam Keano pada dirinya sendiri.
Ah, tak apa!
Keano kan juga masih dalam tahap pedekate pada Rossie!
[Kalau Abang Kean tidak sibuk dan tidak keberatan, sih!] -Rossie-
Keano tersenyum tipis dan baru akan mengetik pesan balasan, saat pesan dari Rossie sudah masuk lagi.
[Hanya sekali juga dan tidak setiap hari, Bang!] -Rossie-
[Baiklah, hari Senin aku antar ke kampus, ya! Jam berapa berangkat?] -Keano-
[Jam delapan, Bang!] -Rossie-
[Biar Bisma nggak gangguin kamu juga] -Keano-
[Iya itu maksudnya. Terima kasih buat pengertiannya, Bang!] -Rossie-
[Sama-sama! Istirahat, gih! Biar cepat sembuh sakit kepalanya] -Keano-
[Iya, Bang] -Rossie-
Keano tak membalas lagi pesan Rossie, dan segera menyimpan ponselnya kembali. Pria itu kembali fokus ke acara, saat mendadak Ryan terlihat menghampiri Fairel dengan wajah sedikit panik.
Sepertinya sedang ada masalah.
Keano akhirnya turut menghampiri Fairel dan Ryan untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Tadi dimana memang?" Tanya Fairel pada Ryan.
"Pamit ke toilet. Tapi saat dicari tidak ada!"
"Apa yang tidak ada?" Tanya Keano menyela.
"Lea! Kata Ryan saudara kembarnya itu menghilang," jelas Fairel.
"Semua toilet sudah diperiksa?" Keano ganti bertanya pada Ryan.
"Sudah!"
"Calon tunangan Lea juga belum ada kabar-".
"Jangan-jangan calon tunangan Lea memang tidak datang dan itu hanya kehaluan Lea semata!" Celetuk Fairel tiba-tiba.
"Maksudnya?" Tanya Ryan dan Keano kompak.
"Iya, maksudku pria bernama Rayyen yang selama ini diaku Lea sebagai pacarnya itu mungkin hanya pacar halu Lea. Lagipula, mana ada orang melamar hanya via video call," ujar Fairel berpendapat.
"Rayyen bukan pacar khayalan Lea!" Sergah Keano cepat.
"Aku beberapa kali melihatnya di resto saat pria itu mengunjungi Lea," tukas Keano lagi.
"Benarkah? Pria itu menyapamu juga? Apa dia memang setampan yang diomongkan Lea?" Cecar Fairel penasaran.
"Entahlah!" Keano mengendikkan kedua bahunya.
"Wajahnya selalu tertutup masker saat datang ke Resto," ungkap Keano lagi.
"Hmmmm. Mencurigakan!"
"Kalian benar-benar tidak membantu dan malah sibuk bergosip!"
"Aku akan mencari Lea!" Gerutu Ryan sembari meninggalkan Keano dan Fairel yang hanya terkekeh bersamaan.
.
.
.
Lanjutan acara pertunangan Lea dan cerita lengkap tentang Lea ada di "Pengganti Calon Suami Azzalea"
__ADS_1
Sudah tamat
Terima kasih yang sudah mampir.