
"Kau sedang apa sekarang?" Tanya Mami Anne penuh selidik pada Keano. Ya, saat ini ibu dan anak tersebut sedang berbicara via video call.
"Berbaring di sofa, Mi!"
"Beristirahat," jawab Keano sembari menunjukkan lengan sofa yang kini ia pakai sebagai bantal.
"Sudah bertemu Rossie?" Tanya Mami Anne lagi.
"Sudah!" Jawab Keano cepat seraya mengusap puncak kepala Rossie yang kini berada di dekapannya. Tapi meskipun begitu,Mami Anne sepertinya tetap tidak tahu.
"Tadi juga jalan-jalan bersama Rossie. Lumayan, punya tour guide gratis," lanjut Keano lagi yang langsung berhadiah cubitan dari Rossie.
"Auuw! Sakit!" Bisik Keano sembari mencium puncak kepala Rossie.
"Kean! Kau sedang bersama seseorang?" Tanya Mami Anne lagi penuh selidik.
"Tidak ada, Mi!" Jawab Keano sembari meringis.
"Hmmm, Mami kok curiga, ya?"
"Itu kamu di hotel?"
"I.....ya!" Ringis Keano lagi berbohong.
"Lalu kenapa wajah kamu hanya terlihat separo? Coba kamu room tour hotel tempat kamu menginap dulu! Mami penasaran."
"Apa, sih, Mi! Kurang kerjaan!" Tolak Keano yang semakin menaikkan posisi kamera di ponselnya agar Mami Anne tak melihat apa yang kini tengah ia lakukan bersama Rossie.
Sebenarnya bukan hal mesum juga, karena Keano dan Rossie hanya saling mendekap di atas sofa dengan posisi berbaring dan mereka berdua juga masih berpakaian lengkap.
"Ck! Mami mau lihat, Kean! Barangkali kau menyembunyikan seorang gadis." Mami Anne langsung tergelak di layar.
"Memang kenapa kalau Keano bersama seorang gadis, Mi?" Tanya Keano akhirnya.
"Nah, kan! Feeling Mami itu selalu benar!"
"Apa gadis itu adalah Rossie?" Tanya Mami Anne lagi penuh selidik. Rossie yang masih menyembunyikan wajahnya di dekapan Keano sontak tertawa tanpa suara.
"Mmmmm." Keano tak langsung menjawab pertanyaan Mami Anne.
"Iya, atau tidak, Kean?"
"Tunjukkan sekarang kau bersama siapa!" Perintah Mami Anne.
"Tidak usah! Nanti mami pasti langsung cerita kemana-mana!" Tolak Keano akhirnya seraya beralasan.
"Ck! Jadi maksudmu Mami ini ember, begitu?"
"Bukan Keano yang ngomong, lho, ya!" Kikik Keano yang langsung dijawab dengkusan dari Mami Anne.
"Jadi kau benar-benar tak mau menunjukkan pada Mami kau sedang bersama siapa sekarang?"
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Keano yakin.
"Benar-benar, ya! Kalau disini, sudah mami jewer telinga kamu!" Ucap Mami Anne geregetan yang malah membuat Keano tergelak. Rossie yang sejak tadi mendongakkan kepalanya dan menatap pada wajah Keano, langsung memainkan lesung pipi Keano memakai telunjuknya.
"Sudah dulu, ya, Mi! Kean mau istirahat!" Pamit Keani kemudian pada Mami Anne yang terlihat mengerucutkan bibirnya.
Sudah seperti gadis remaja saja Mami kandung Keano itu!
Eh, tapi Mami Anne memang awet muda dan masih seperti seorang gadis penampilannya, meskipun usianya hampir menginjak kepala lima.
Sepertinya semua klan Halley memang awet muda termasuk Keano juga.
"Ya! Tutup saja teleponnya dan besok-besok tak usah lagi telepon Mami!"
"Jangan begitu, Mi! Keano sayang sama Mami!" Rayu Keano dengan nada sedikit lebay.
"Besok Keano belikan tas, ya! Mami mau berapa? Dua atau tiga?" Rayu Keano lagi.
"Terserah! Mami mau tidur!" Jawab Mami Anne bersamaan dengan video call yang akhir terputus. Keano hanya tersedia seraya geleng-geleng kepala, sebelum kemudian pria itu meletakkan pobsel ke atas meja.
"Sekarang sudah jam empat dinihari di sana. Aunty Anne memangnya tidak tidur?" Tanya Rossie yang masih mendongakkan wajahnya dan menatap pada Keano yang kini mengendikkan kedua bahunya.
"Tadi bilangnya terbangun, dan tidak bisa tidur lagi," ujar Keano. Pria itu lalu mengeratkan dekapannya pada Rossie dan kembali mengecup puncak kepala kekasihnya tersebut.
"Abang menginap?" Tanya Rossie kemudian. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam juga.
"Tidak! Aku akan ke hotel lima menit lagi," jawab Keano tegas.
"Udaranya dingin sekali kalau malam,' ujar Rossie memperingatkan Keano.
"Aku sudah bawa jaket, syal, sarung tangan, topi." Keano menyebutkan semua atribut yang selalu ia bawa saat keluar dari hotel.
"Lagipula, dua blok tidak terlalu jauh."
"Dan aku juga masih harus berkemas-" Keano menjeda sejenak kalimatnya saat Rossie sudah ganti menatapnya dengan dua mata yang membulat sempurna.
"Aku sudah mengatakan kalau aku pulang besok, kan?" Ujar Keano lagi bertanya pada Rossie yang langsung berdecak.
"Iya, sudah!" Jawab Rossie seolah masih belum rela.
"Nanti aku akan rajin video call!" Janji Keano kemudian seraya mengecup puncak kepala Rossie. Keano seolah paham dengan kegundahan Rossie yang sebentar lagi akan menjalin hubungan jarak jauh bersama Keano.
"Jangan ngambek!" Bujuk Keano lagi yang sudah berganti posisi menjadi duduk, karena Rossie yang juga kini sudah duduk di sofa.
"Rossie!" Keano sudah memeluk Rossie dari belakang, sembari menyandarkan dagunya di pundak Rossie.
"Rasanya cepat sekali, padahal Rossie masih kangen pada Abang Kean," ucap Rossie mengungkapkan uneg-unegnya.
"Nanti aku kesini lagi saat kau wisuda," janji Keano sekali lagi.
"Benar?" Tangan Rossie sudah menggenggam tangan Keano yang masih melingkari pinggangnya.
__ADS_1
"Benar!" Keano mengecup pipi Rossie, lalu melepaskan tangannya dari pinggang Rossie. Namun gadis itu malah mencegah.
"Sepertinya ada badai salju di luar," ujar Rossie seraya mengendikkan dagunya ke arah jendela. Salju memang turun lebat malam ini.
Keano tertawa kecil.
"Masuklah ke kamar kalau begitu!" Titah Keano sembari mengecup puncak kepala Rossie, lalu melepaskan tangannya yang tadi masih ditahan oleh Rossie.
"Abang tidur disini dan jangan kembali ke hotel!" Ucap Rossie tegas seraya menatap tajam pada Keano.
"Iya!" Keano ganti mengacak rambut Rossie, yang tentu saja langsung membuat gadis itu merengut.
"Sana!" Perintah Keano sekali lagi sembari mengendikkan dagunya ke arah pintu kamar Rossie.
"Good night!" Ucap Rossie sembari mencium pipi Keano, sebelum kemudian gadis itu berlari dan menghilang ke dalam kamarnya.
Namun sesaat kemudian Rossie kembali keluar, seraya membawa selimut. Gadis itu lalu memberikan selimut tadi pada Keano.
"Terima kasih!" Ucap Keano sembari mengulas senyum, yang tentu saja membuat Rossie sedikit gemas karena lesung pipi Keano yang terlihat dengan sangat jelas.
Ya ampun!
"Good night!" Ucap Rossie sekali lagi yang tak langsung masuk ke kamar, melainkan malah memainkan knop pintu kamarnya.
"Good night!" Balas Keano sembari menyusun bantal di sofa untuk nanti ia tidur.
"Kenapa belum masuk ke kamar, Rossie?" Tanya Keano akhirnya karena Rossie yang terus saja berdiri di ambang pintu kamar sembari memainkan knop pintu dan tak kunjung masuk ke kamarnya.
"Good night, Bang Kean!" Ucap Rossie sekali lagi.
"Iya! Good night, Rossie!" Balas Keano sekali lagi sembari menatap tak mengerti pada Rossie yang langsung menunjuk pipinya sendiri memakai tangan.
Keano sontak tertawa kecil, sebelum kemudian pria itu menghampiri Rossie.
"Kiri atau kanan?" Tanya Keano yang sudah langsung paham dengan kode dari Rossie tadi.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Keano, Rossie malah langsung berjinjit, lalu mencium pipi kanan Keano cukup lama.
"Good night, Abang Kean!" Ucap Rossie kemudian seraya masuk ke kamar dan menutup pintu dengan cepat. Tentu saja hal itu sukses membuat Keano menyunggingkan senyum lebar, sembari mengusap sendiri pipinya yang baru saja dicium oleh Rossie.
Ceklek! Ceklek!
Suara Rossie yang mengunci pintu kamarnya, langsung membuat Keano geleng-geleng kepala. Keano akhirnya kembali ke sofa, lalu merebahkan tubuhnya di sana dan membalit tubuhnya memakai selimut yang tadidiberikanoleh Rossie.
Ya, sepertinya malam ini Keano akan kembali bermimpi indah!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.