
Luna sedikit memoles wajah nya berguman didepan cermin"Aku juga gak kalah cantik sam si pelakor Vika".lirih nya
Agral pulang dan melihat Luna sedikit berdandan "apa-apaan kamu Luna? "
"Kenapa? aku cantik kan".
" Lun, jangan seperti itu kamu gak pantes ".
Luna terlihat sedih ketika Agral berkata seperti itu " aku mau kamu apa adanya, Lun gak usah berlebihan"
"Aku berlebihan gimana, Mas? aku berusaha buat seneng hati kamu".
" Sudah Lun, kita harus ke rumah orang tua ku, harus membicarakan hubungan kita.
Agral beranjak keluar kamar, Luna hanya berusaha membuat Agral mencintai nya dengan berdandan dan memakai dress, "kenapa sih, mas kamu gak kayak dulu".gerutunya.
Sesampainya dirumah pak Dewantara kini Agral membawa Luna masuk" ini kali pertama aku menginjakkan kaki di rumah orangtuanya".batin Luna.
"Asalamualaikum, Mi,Pi".sapa nya menyalami keduanya diikuti Luna.
" Walaikumsalam ".balas nya.
" Tumben kamu kesini? ".selidik mami seraya memangku cucu anak dari Kevin.
" Pi, Mi Agral kesini pertama mau main, kedua ingin meminta restu untuk menikahi Luna" .
Mami dan papi sontak tercengang mendengar penjelasan Agral"kamu serius, Gral? kmu gak main-main lagi kan?. tegas Papinya.
"Gak, Pi Agral udah mantap menikahi Luna, terpenting anak-anak sudah merestui kami".
" Maksudnya Mami, Papi kamu gak akan selingkuh i Luna seperti kamu menyelingkuhi Andita?. tambah mami.
Agral mengangguk "Agral yakin mi, pi ini pilihan Agral yg terakhir".
" Mami dan papi setuju saja asalkan keluarga kalian bahagia, mami harapkan jangan seperti yg sudah-sudah " .
__ADS_1
"Iya, Mi".
" Gral, Papi ingin kamu mengangkat martabat sebagai persit yg patuh, taat akan norma-norma ".timpal Papi.
" Terimakasih pi, mi sudah memberikan Agral wejangan".
Luna hanya menunduk ia terdiam karena ia malu akan kelakuan nya yg dulu.
.
.
Wildan pun merencanakan dan kini menghubungi Vika "ada apa, sayang? ".tanya Vika ditelfon.
" Bisa kita ketemu di kantor saya".
"Oke".
Vika pun beranjak menuju kantor wildan dengan langkah gemulai Vika masuk ke ruang wildan dan duduk disofa menatap wildan yg masih sibuk berkutat laptopnya Vika yg menggoda nya
" Lo sakit mata vik? ".
" Ih gak peka banget sih, jadi laki".
Wildan pun sedikit melirik nya"maksud lo apa to de point aja".
Vika pun mendekati wildan kini bergelayut di leher Wildan yg duduk "gue mau bibir lo".ucap nya lalu meraba bibir Wildan.
" Tok.... tok".suara pintu terketuk Wildan segera menepis tangan Vika dari tubuhnya "Vik, aku mohon ini di kantor".Vika pun kembali ke sofa.
" Masuk".saut Wildan.
Sekertaris nya masuk"maaf, Pak di depan ada tamu katanya Pak Kevin".ucap nya.
"Oh... suruh dia masuk".
__ADS_1
" Baik.. pak" .
Sekretaris nya keluar dan memberitahu Kevin untuk masuk Kevin pun beranjak masuk.
"Hai bro".ucap Kevin lalu duduk di depan wildan.
" Ada apa kamu kemari? ".
" Gue cuma minta kerja sama lo, buat nanam saham di perusahaan gue".ujar Kevin melirik Vika yg dudu di sofa memang ponselnya.
"Oke... gue akan bantu lo".
" Wihh... boleh juga cewek lo Wil, gue gak nyangka lo doyan cewek gue kira semenjak Mba Andita pergi lo udah gak napsu sama cewek".
"Cukup, Vin".ketus wildan.
" Boleh dong kenalan? ".
Wildan mengangguk Kevin oun beranjak menghampiri Vika.
" Hai, cantik kenalin gue Kevin temen bisnisnya ".ucap Kevin memperkenalkan diri dengan senyum lebarnya dan mengulurkan tangan nya
" Gue Vika, seneng berkenalan ".sautnya menarik tangan Kevin, Vika pun sengaja menggenggam tangan Kevin lama hingga Wildan menatap keduanya menghunus.
" Apaan kalian".ucap Wildan menepis tangan keduanya.
Vika pun tersenyum tipis Kevin dan Vika saling melempar senyum.
"Vin besok kita bahas lagi gue minta lo cepatan pergi".ujar Wildan.
" Lo ngusir gue, bro? "
"Gak cuma nyuruh lo pergi, gue masih ada urusan ".
" Oke oke gue pergi".seraya mengedipkan mata kearah Vika "ting".
" Genit".ujar Kevin.
__ADS_1
"Sedikit aja, Wil".lalu Kevin pergi keluar.