Princess In Another World

Princess In Another World
Misi Dimulai


__ADS_3

Pagi hari, Area militer


"Selamat ulang tahun tuan putri." Seluruh prajurit yang sedang dalam pelatihanku mengucapkan selamat padaku.


"T-Terima kasih." Meskipun begitu, aku masih punya tugas yang harus aku selesaikan. "Masing-masing ketua regu segera temui aku didalam ruang rapat, ada sesuatu yang ingin aku bahas." Aku langsung masuk kedalam ruang rapat.


------------


Mereka ber-4 datang sesuai perintah. "Tuan putri, ada masalah apa?"


"Aku ingin kembali menunjukkan ini." Aku mengeluarkan kertas. "Lihat ini."


"Wah, ini sangat luar biasa."


"Tuan putri, berapa tingkat keakuratan peta ini?"


"100%."


"I-Itu mustahil."


"Terserah kalian mau percaya atau tidak, tapi sekarang aku ingin kalian memasang sebuah perangkap di setiap tempat yang sudah aku tandai disana."


"Perangkap? Untuk apa?"


"Menghabisi buruan, sebut saja seperti itu. Aku ingin kalian segera melakukan hal ini secepatnya."


"BAIK." Mereka ber-4 langsung keluar dan aku duduk sebentar disini.


"Aku tau kalau rencana ini memang sedikit beresiko, tapi jika berhasil mungkin akan membuat kedudukan kerajaan ini semakin tinggi dimata dunia." Setidaknya itulah yang bisa aku pikirkan jika sampai membuat pasukan kerajaan Ruens musnah atau kabur.


------------


Siang hari, Taman istana


"Hmmm, aku rasa seharusnya mereka sudah selesai sekarang."


"Iona, apa yang kau lakukan disini?"


"Ah, Risa-oneesama. Aku sedang melihat bunga, hari ini bunganya terlihat sangat indah."


"Begitu." Kemudian Risa menghampiriku. "Kau benar, bunganya sangat indah."


"Oh ya, apa yang Risa-oneesama lakukan disini?"


"Tidak ada, hanya menghabiskan waktu." Saat berkata seperti itu, entah kenapa wajahnya terlihat begitu lesu.


"Risa-oneesama, apa kau baik-baik saja?"


"Y-Ya, aku tidak apa-apa." Meskipun begitu, raut wajahnya masih tidak berubah.

__ADS_1


"Risa-oneesama, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Aku sangat khawatir melihat keadaanmu seperti ini."


"Tidak ada apa-apa, sekarang aku sudah lebih baik."


"Begitu." Jika aku lihat lebih teliti, sudah jelas kalau dia sedang berbohong. Ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Risa, dan sepertinya itu adalah hal yang sangat penting. 


Untuk menenangkannya, aku memengang kedua tangganya. "Risa-oneesama, tenang saja aku akan melindungimu. Aku janji."


Risa mengelus kepalaku. "Terima kasih, aku sangat senang mendengarnya. Aku akan pergi dulu, ada sesuatu yang lupa aku kerjakan."


"Baiklah." Risa pergi. "Iona, apa aku bisa membiarkan Risa tetap seperti itu dulu untuk saat ini? Aghh... K-Kau itu, saat ini aku masih punya banyak hal yang harus dilakukan, tolong mengertilah." Tak ada respon, tapi aku tak tau tanggapan sebenarnya dari Iona. "Tenang saja, setelah masalah ini selesai aku pasti akan melakukan sesuatu pada Risa. Aku janji."


------------


Sore hari, area militer


"Ha, ha, ha..."


"Ini sangat melelahkan."


"Untuk apa sebenarnya kita melakukan semua?"


Sepertinya para prajurit sudah kambali dari tugas yang aku berikan, dan mereka terlihat begitu kelelahan. "T-Tuan putri." Mereka begitu terkejut saat melihat aku datang.


"Apa sudah selesai?"


"Sudah semuanya tuan putri. Tapi, untuk apa anda menyuruh kami untuk membuat jebakan sebanyak itu?"


"T-Tikus?"


"Itu hanya perumpamaan, saat waktunya tiba kalian pasti akan terbantu dengan jebakan itu. Oh ya, 1 hal lagi yang lupa aku katakan."


"Apa itu tuan putri?"


"Aku harap kalian semua sudah menghafal seluruh letak jebakan itu, jika tidak bisa sangat berbahaya untuk kalian."


"Untuk itu, sepertinya para prajurit sudah menghafalnya."


"Begitu, syukurlah. Aku akan kembali, kalian bisa beristirahat sekarang." Aku cukup kaget medengar para prajurit itu sudah hafal dengan 500 lebih jebakan itu. Tapi jika seperti itu mungkin dengan begini aku akan dengan bangga dan sangat yakin meskipun kalah jumlah, pasukanku pasti akan memenangkan pertemurah ini tanpa ada satupun korban.


-----------------------


Besok adalah harinya, hari dimana rencana yang aku buat akan aku laksanakan. 


Pagi hari, Area militer.


"Tuan putri, apa yang anda lakukan disini? Bukannya anda harus bersiap-siap untuk acara besok." (Grild)


"Aku sudah selesai bersiap-siap."

__ADS_1


"Lalu, kenapa anda datang kemari."


"Sebelum itu, bisa tolong kumpulkan para prajurit yang ada di bawah pertintahku."


"Baik."


Dalam beberapa menit, seluruh pasukan yang aku pimpin sudah berbaris sangat rapi di depanku. "Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu pada kalian semua. Apa kalian sudah mengingat latihan yang kalian lakukan selama beberapa hari belakang ini?"


"SUDAH!"


"Apa kalian sudah berhasil mengembangkannya?"


"SUDAH!"


"Dan apa kalian sudah ingat tentang letak jebakan yang kalian pasang di hutang utara beberapa hari yang lalu?"


"KAMI INGAT!"


"Bagus, kalau begitu. Pasukan! Aku memberi perintah pada kalian semua, untuk setiap regu aku ingin kalian berjaga di posisi kalian yang sudah aku beritahu waktu itu. Besok pagi-pagi sekali."


"T-Tunggu sebentar tuan putri, kenapa tiba-tiba."


"Besok, kalian akan mengetahuinya sendiri. Dan para pasukan pemanah bisa membawa 100 anak panah untuk setiap orang, untuk berjaga-jaga. Itu saja yang ingin aku sampaikan untuk kalian. Aku harap kalian menggunakan apa yang sudah aku ajarkan pada kalian besok, aku sangat berharap pada kalian." Setelah mengatakan hal itu, aku langsung kembali ke kerajaan. Dan mungkin, ini adalah terakhir kalinya aku akan pergi ketempat ini. Karena jika misi ini berhasil, aku sudah tidak memiliki kepentingan lagi dengan kemiliteran, kecuali jika ada hal yang mendadak. Mungkin saja aku akan kambali menggunkan pasukan yang sudah aku bentuk ini.


---------------


Kamar


"Iona, bagaimana dengan baju ini. Ini terlihat cocok denganmu, jika kau memakai ini aku yakin pandangan para tamu akan tertuju padamu."


"Eh... Risa-oneesama, biarkan aku saja yang memilih." Entah kenapa saat ini Risa berada di kamarku, dan saat ini ia sedang memilihkan baju yang ingin aku gunakan ke pesta besok.


"Tidak boleh, aku yang akan memilikannya untukmu."


"Tapi, Risa-oneesama..." Tepat saat itu, gerakan riangnya terhenti. "Risa-oneesama."


"Iona!!"


"R-Risa-oneesama." Tiba-tiba saja Risa memelukku. "A-Ada apa?" Ia, menangis.


"Aku tidak mau, aku tidak ingin menikah..."


"Begitu, ya." Jadi yang ia khawatirkan waktu itu adalah tentang hal ini.


"Aku ingin menikmati hari-hari yang menyenangkan ini, bermain bersamamu, berjalan-jalan, berbelanja, dan masih banyak lagi." Sepertinya itu adalah impiannya, tapi juga bisa bukan. Itu bisa saja cuma keinginannya. "Aku juga ingin menikahi laki-laki yang aku sukai." Mendengar hal itu, entah kenapa membuat hatiku tersentuh. 


"Itu adalah impian setiap gadis. Hidup bahagia bersama dengan orang yang dicintainya."  Saat mendengar hal itu, aku jadi mengingat Iona, dia sama sekali tidak pernah berhadapan langsung dengan orang yang dia sukai. Dan karena ambisiku, aku terpaksa harus memutuskan hubungan Iona dengan orang yang ia sukai secara tidak langsung.


"Risa-oneesama, jangan menangis. Aku janji, aku yang akan melindungimu. Percaya padaku." Akupun mengelus kepalanya untuk membuatnya tenang.

__ADS_1


Dengan begini, aku sudah yakin kalau. "Pernikahan ini, harus aku hentikan." Dan tentang Iona. "Aku minta maaf padamu."


See you on the next Chapter....


__ADS_2