
Siang hari, Perpustakaan kerajaan
"Tuan putri, apa yang anda lakukan disini?"
"Melihat buku yang ingin aku baca." Saat ini aku sedang mencari buku tentang strategi perang. Aku ingin mencoba untuk mengubah strategi perang lama dengan menambahkan beberapa komposisi agar bisa menjadi lebih efektif. Hal ini bertujuan untuk menanggulangi kejadian tadi.
------------
Beberapa lama setelah itu.
"Begini, lalu seperti ini." Saat ini aku sedang mencoba untuk mengatur ulang strategi perang yang ada di buku lama kerajaan ini menjadi sebuah strategi baru yang ampuh.
"Tuan putri, baginda raja memanggil anda."
"Huh, ayah? Ada apa?"
"Entahlah, tapi sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin baginda raja bicakan dengan tuan putri."
"Begitu, baiklah. Aku akan segera kesana." Aku tak tau apa yang akan dibicarakan oleh ayah, tapi sepertinya itu adalah sesuatu yang cukup penting.
-------------
Ruang tahta
"Ayah, ada apa?" Disini sama sekali tidak ada seorangpun, dan aku rasa ini memang adalah pembicaraan yang cukup penting.
"Iona, apa kau yang membuat racun itu?"
"Hm..." Sebenarnya aku tidak ingin memjawab, tapi. "Iya, aku yang membuatnya. Aku menggunakan beberapa bahan yang beracun lalu mencampurkannya menjadi 1 dan aku gunakan untuk pasukanku agar bisa mengusir para pasukan musuh itu dengan mudah."
"Lalu, apa kau juga sudah membuat penawarnya."
"Hm. Penawarnya, ya." Sebenarnya untuk penawarnya sangat mudah. "Iya, aku sudah membuatnya. Tapi, kenapa ayah menanyakan hal ini?"
"Iona, ayah merasa bangga padamu tapi dilain sisi ayah sangat kecewa denganmu."
"A-Ayah, ada apa? Apa ada sesuatu yang salah sudah aku lakukan?"
"Iya. Ada kemungkinan pasukan Victoria akan kembali menyerang kerajaan kita lagi, tapi mungkin saja di serangan berikutnya kita tidak akan beruntung seperti saat ini."
"Beruntung. Begitu, ya." Semua usaha dan kerja kerasku hanya dianggap sebuah keberuntungan. "Apa hanya itu yang ingin ayah katakan, jika hanya itu aku akan kembali."
Tak merepon perkataanku, aku perlahan berjalan keluar. "Iona tunggu sebentar."
"Ada apa lagi ayah?"
"Ada sebuah rahasia penting yang ingin ayah katakan padamu."
"Rahasia? Kenapa harus aku?" Jika memang itu adalah sebuah rahasia penting, adabaiknya ayah membicarakan itu dengan para petinggi bukannya padaku.
"Tidak ada alasan khusus, ayah hanya ingin meminta saran dan juga persetuan darimu saja."
__ADS_1
"Saran dan persetujuan dariku? Jika seperti itu, sudahlah." Aku memutuskan untuk kembali dan mendengarkan. Meskipun begitu, aku masih heran atas perkataan ayah barusan. "Persetujuan, persetujuan tentang apa?"
------------------
Kamar
"Ahhhh!!!"
"Tuan putri, apa anda baik-baik saja."
"Pergi kalian!! Jangan ganggu aku!!" Rasa marahku bergejolak saat ini setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ayah tadi.
-------
"Iona. Ada surat dari kerajaan Ruens, mereka bilang kalau mereka ingin membentuk aliansi dengan kerajaan kita."
"Aliansi."
"Iya, bagaimana pendapatmu?"
"Hm... Itu terserah ayah saja, aku ini tidak begitu paham dengan hal seperti ini." Aku tentu saja sudah mengetahuinya, tapi aku berbohong.
"Begitu. Tapi, ada sedikit masalah."
"Masalah, apa itu?"
"Untuk mempererat aliansi ini, mereka mengajukan surat pernikahan."
"Iya, mereka ingin menikahkan putra mahkota kerajaan Ruens denganmu sebagai upaya untuk mempererat aliansi ini."
"Lalu, apa yang akan ayah jawab?" Pembicaraan ini mulai memicu emosiku naik.
"Oleh karena itu ayah ingin meminta persetujuan darimu."
"Begitu, ya." Jadi itu maksudanya meminta persetujuan. "Kalau begitu, tolak saja. Itu akan sangat mudah."
"Ayah sudah mengajukan hal itu, tapi..."
"Tapi?" Perasaanku mulai tidak enak.
"Mereka bilang jika ayah menyetujuinya, maka kerajaan kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar."
Mendengar hal itu membuatku sangat kesal. "Meskipun begitu, apa kau tega melihat putrimu ini bersedih. Bagaimana dengan impiannya, lalu bagaimana jika ada orang yang aku cintai. Apa kau sebagai ayah tidak mengerti hal itu." Ini sangat membuatku muak. "Jika yang ayah inginkan adalah kemakmuran rakyat, maka akan aku kabulkan hal itu. Tapi, jika ayah menginginkan imipian anakmu ini hancur maka silahkan lakukan apa yang ayah inginkan." Ini sangat membuatku kesal.
----------------
Pernikahan politik, pernikahan yang selama ini aku ingin hindari tenyata akan segera terjadi. "Iona, aku minta maaf. Ini tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan selama ini." Tawaran yang sangat bagus, jika ayah tidak memikirkan tentang nasib putrinya mungkin itu akan jadi pilihan yang bagus. Tapi dilain sisi mungkin ini juga akan menjadi ancaman untuk dunia.
"Iona, jika sampai aku melakukan hal yang berlebihan. Tolong hentikan aku bagaimanapun caranya." Dengan memiliki semua sumber dan juga pengetahuan tentang perang dan juga hal lain, ini akan menjadi sebuah tombak untuk merubah dunia ini. Tapi pilihannya adalah, kemana tujuannya.
"Seharusnya aku memang tidak usah berada didunia ini saja.. Aghkkk... I-Itu memang benar, jika saja aku tidak ikut campur kedalam masalah yang ada di dunia ini pasti kau tidak akan berada dalam masalah seperti ini." Yang aku takutkan adalah, masa depan Iona akan hilang. Saat ini ia sudah menyukai seorang pangeran dan mungkin saja nanti ia ingin meikah dengan pangeram itu. Tapi, jika sampai pernikahan ini dilangsungkan maka kenyataan itu hanya akan menjadi sebuah mimpi.
__ADS_1
"Iona, ini." Ada sebuah ingatan seketika terngiang di kepalaku. "Semua yang aku rencanakan pasti akan berjalan sesuai keinginanku." Ia kembali mengingatkanku dengan kata-kata itu. "Ini bukan saatnya bersedih."
Plakk
Sedikit menampar pipiku, aku mencoba untuk menenangkan diri. "Aku akan mencari cara agar pernikahan ini tidak jadi di langsungkan. Dan aku akan melakukan segala cara agar pernikahan itu tidak dilangsungkan, meskipun harus menghancurkan kerajaan sekalipun.. Aghkkk... Ah, a-aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius." Tidak, itu bukan sebuah candaan. Jika keadaanya tidak memungkinkan, aku mungkin saja akan melakukan hal itu dengan rencana yang sama sekali belum pernah terfikirkan oleh orang yang ada di dunia ini.
--------------
Area militer
Saat ini aku tengah mencoba untuk menenangkan diri di markas militer milik pasukanku. "Komandan, anda terlihat sangat kesal. Apa yang sudah terjadi." (Laren)
Tanpa aku sadari tenyata Laren masuk ke dalam sini. "Ah, ketua regu Laren. Ada apa?"
"Para pasukan sedang bertanya-tanya, kapan akan ada latihan baru lagi."
"Begitu, ya."
"Komandan, apa anda baik-baik saja? Apa ada masalah."
"Sepertinya, menceritakan sedikit kekesalanku ini pada orang lain akan meringankan sedikit bebanku." Itula yang aku pikirkan. "Laren, apa kau mau mendengar sedikit kekesalanku. Ini bukan perintah, ini hanya sebuah permintaan seorang gadis yang sedang kebingungan."
"Baik, akan saya dengarkan."
-----------------
Setelah bercerita.
Rasa kesalku sedikit menghilang. "Komandan, jika memang benar seperti itu, bukannya lebih baik anda berkata jujur saja pada raja kalau anda tidak ingin menikah."
"Hm... Aku sudah melakukannya, tapi sepertinya ayah masih memiliki sebuah keraguan."
"Tapi, saya sangat heran. Kenapa kerajaan Ruens sampai menjanjikan kerajaan ini akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Bukannya jika seperti itu, memang ada sesuatu yang diincar oleh kerajaan Ruens dari kerajaan ini."
"Hm..." Sepertinya yang dikatakan oleh Laren ada benarnya. Jika hanya menguntungkan sebelah pihak, aku rasa kerajaan manapun tidak akan pernah melakukan hal itu.
"Lagipula, saya pernah mendengar kabar kalau kerajaan Ruens selalu mencoba untuk membuat strategi perang baru yang tidak akan bisa dikalahkan oleh kerajaan lain."
Aku baru mengetahui tentang hal itu. "Tunggu, jangan-jangan..." Aku sudah tau tujuan mereka yang sebenarnya melakukan hal ini.
"Komandan, sepertinya anda sudah menyadari sesuatu."
"Ya. Aku akan kembali ke kerajaan."
"Ya, selamat jalan komandan. Semoga hari anda menyenangkan."
"Ya, dan terima kasih sudah mendengarkan keluh kesah seorang gadis." Aku langsung keluar dan pergi kembali menuju kerajaan.
"Jika tebakanku benar, bukan hanya aku yang akan menderita tapi seluruh dunia juga akan menerima dampaknya." Ini bukan masalah yang kecil, ini adalah masalah yang sangat serius yang harus segera aku tuntaskan bagaimanapun caranya.
See you on the next Chapter....
__ADS_1