
Siang hari, sepulang dari sekolah kerajaan.
Aku menyerahkan aktifitas belajar pada Iona, dengan begitu ia bisa bermain atau belajar bersama dengan temannya itu membuatnya agar bisa berkomunikasi dengan orang lain. Dan disisi lain, aku tertidur.
Area militer, markas khusus.
“Ha. Baiklah, semua rencananya sudah siap.”
Beberapa saat kemudian, para ketua regu masuk kedalam. “Komandan, ada masalah apa?” (Laren)
“Hmmm, aku ingin tanya, apa kalian sudah tau dimana letak naga yang sering berburu ternak itu?”
“Sepertinya naga itu berada di timur hutan kerajaan ini.” (Grild)
“Hmmm, itu bagus.”
“Komandan, apa yang anda rencanakan?” (Famus)
“Aku ingin kalian memancing naga..”
“M-Memancing naga!!” Mereka semua terkejut, dan aku sudah menduganya.
“Tenang saja, aku yakin rencana ini akan berhasil. Jika kalian bisa mengatasi rasa takut kalian terhadap naga, aku yakin rencana ini akan berjalan mulus.”
“T-Tunggu dulu komandan, memancing naga? Untuk apa?”
“Bukannya kemarin kalian mendapatkan kabar kalau kerajaan Atrin bergerak kemari dengan 25 ribu pasukannya. Famus yang bilang.”
“B-Begitu, tenyata dia sudah bilang.” (Dirk)
“Huh? Ada apa?”
“T-Tidak ada apa-apa..”
“Kalau begitu, kita akan mulai rencananya 2 hari lagi. Untuk perlengkapan yang akan kalian gunakan, aku akan menyiapkannya. Jadi tenang saja.”
“K-Komandan, apa hanya kami ber-4?” (Famus)
“Huh? Tentu saja, kalian sudah mendapatkan latihan khusus dariku. Kalian bisa dengan mudah mengalahkan 500 prajurit hanya dengan jumlah kalian yang ber-4 itu.”
“Tapi koman...” (Laren)
“Aku tidak ingin dengar ada bantahan lagi, aku akan menjelaskan rencananya dan aku ingin kalian melakukan beberapa latihan khusus lagi dariku. Itu untuk memperbesar tingkat keberhasilan misi ini.”
Beberapa lama kemudian.
“Baiklah, itu untuk rencana kali ini. Ada pertanyaan?” Aku sudah menjelaskan tentang rencananya.
“Komandan, kau bilang tadi kalau naga itu memiliki bayi. Darimana kau tau hal itu?” (Grild)
“Itu sangat mudah. Pada umumnya naga hanya bergerak saat malam hari (nocturnal). Tapi, naga kali ini juga bergerak saat siang hari dan yang lebih penting naga ini bisa mencuri ternak tanpa ketahuan. Jika bukan karena dia memiliki bayi seekor naga tidak akan melakukan hal itu.”
“Begitu.”
“Lalu, apa ada hal lain yang ingin kalian tanyakan mengenai misi kali ini?” Mereka semua diam, mereka diam sudah mengerti atau tidak tau ingin bertanya apa. Aku sama sekali tidak tau, tapi aku anggap mereka sudah mengerti sebagian besar rencana ini. “Kalian bisa bubar, dan berlatihlah.”
“Baik.”
Malam hari, dikamar.
“Ha. Iona, aku ingin kau mengganti posisiku seharian besok. Aku sangat lelah..” Otakku sama sekali tidak memiliki waktu untuk istirahat dan bukan hanya mentalku yang lelah, otakku juga kelelahan dan ini membuat kepalaku sedikit sakit. “Iona, tolong kerjasamanya.” Aku perlahan mulai menutup mata, dan tertidur.
Malam hari, kamar.
“Dasar Ari, dia belum makan malam dan sudah tidur saja.. bagaimana kalau nanti dia sakit.” Saat ini Iona sedang menggunakan tubuhnya. “Sudahlah, lagipula dia sudah berusaha keras. Sekarang, sesuai dengan ucapannya. Sepertinya aku yang harus menggunakan tubuh ini selama seharian besok. Baiklah..”
Pagi hari yang cerah.
__ADS_1
Iona bangun dari tidurnya dan segera bersiap-siap untuk pergi kesekolah.
Di sekolah, kelas
“Selamat pagi putri Iona.” (???)
“Selamat pagi juga.” Ia membalas setiap salam yang ia dapat dengan senyumannya. Tapi... ‘I-Itu, pangeran Lucy.’ Rasa gugup saat bertemu dengan pangeran Lucy, karena Iona menyukainya ia merasakan hal itu.
“Putri Iona selamat pagi, hari ini kau terlihat lebih menawan dari biasanya.” (Lucy)
“B-Benarkah.”
“Iya.”
“T-Terimakasih.” Iona menikmati hari-harinya di sekolah kerajaan dengan tenang, sampai satu waktu.
“Huh? Ada apa?” Tiba-tiba aku dibangunkan secara paksa. “Woy Woy, jangan bercanda.” Bukan hanya 1, tapi ada 3 naga yang berterbangan diatas kerajaan ini. ‘Hmmm. Jika seperti ini, rencana yang aku buat akan gagal total.’ Rencana yang sudah aku susun dengan matang akan hancur karena masalah ini.
“Putri Iona, sebaiknya kita harus segera pergi dari sini.” (Sofia) Mereka ber-4 tetap berada didekatku meskipun para siswa yang lain sedang berlarian karena ketakutan.
Tubuh mereka bergetar karena rasa takut dengan apa yang baru pertama kali mereka lihat. “Jadi seperti itu wujud naga, ya.” (Lucy)
“Huh?” Disaat yang sama, Lucy terlihat begitu tenang sembari melihat kearah naga yang tengah terbang itu. Setidaknya sifat tenang itu yang dibutuhkan saat ini.
“Putri Iona, apa kau punya rencana?”
“Huh? R-Rencana?”
“Kau tadi bilang kalau kau sedang merencanakan sesuatu, aku ingin mengetahuinya.”
‘Sial, apa yang sebenarnya Iona katakan pada pangeran ini saat aku tertidur.’
“T-Tidak ada, aku sama sekali tidak memiliki rencana apapun.”
“Begitu. Jika seperti itu, bagaimana kalau kita pergi ketempat yang aman.”
“Pangeran Lucy, bisa kau antarkan mereka ketempat yang aman..”
“Putri Iona, apa yang anda katakan.”
“Ada hal yang ingin aku lakukan, aku harus kembali ke istana.”
“Putri, diistana saat ini sedang tidak ada orang. Semuanya sedang mengungsi ketempat yang aman lo, apa yang sebenarnya kau rencakan putri Iona.” (Lucy)
‘Cih, ini menyebalkan.’ Jika aku tidak mengatasinya, maka aku tidak akan bisa melakukan sesuatu terhadap situasi ini. “Ada sesuatu yang ingin aku ambil, dan itu sangat berharga bagiku.”
“Kalau begitu, aku juga akan ikut denganmu.”
‘Ini menyebalkan.’
Arena militer, markas khusus.
“Putri Iona, kau bilang tadi ingin pergi ke kerajaan karena ingin mengambil sesuatu. Kenapa kau malah pergi ke arena militer.”
“Diamlah.” Aku kalah debat dengannya, dan dengan sangat terpaksa ia ikut denganku.
“Komandan, naga-naga itu.” (Laren)
“Tenanglah, aku punya rencana.”
“Komandan?” (Lucy)
“Lucy, aku ingin kau diam.. jangan lakukan hal yang tidak perlu.”
“Komandan, siapa dia?”
“Dia adalah pangeran Lucy, pangeran dari kerajaan tetangga.” Aku berkata seperti itu untuk mempercepat perkenalannya.
__ADS_1
“Pangeran Lucy, maksud anda pangeran yang jenius itu.” (Dirk)
“Jenius?” Aku tak tau kalau ia memiliki julukan seperti itu. “Sudahlah, aku ingin pasukan pemanah berisap-siap secepat mungkin.”
“Baik.”
Aku masuk kedalam ruanganku, dan diikuti oleh Lucy.
‘Ini sebenarnya masih prototype, tapi karena keadaan darurat aku terpaksa harus menggunakannya.’ Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari kerjaku.
“Putri Iona, apa itu?”
“Bom racun.”
“Bom racun?”
“Sudahlah, jangan banyak tanya.” Aku sebenanya masih belum yakin kalau prototype ini akan bekerja dengan baik, tapi tidak ada pilihan lain.
Beberapa menit setelah itu, diluar ruangan.
Seluruh prajurit pemanah sudah siap. “Baiklah. Yang aku ingin kalian para prajurit pemanah lakukan hanya 1, lemparkan benda ini mengenai tubuh naga itu.” Aku menunjukkan sebuah benda seperti pulpen pada mereka.
“Komandan, apa itu?”
“Sebuah racun. Jika racun ini terkena mahluk hidup. Meskipun itu naga sekalipun dipastikan akan mati.” Aku tidak begitu yakin efeknya akan seperti itu, karena aku kekurangan waktu untuk uji coba dan hanya mengetahui sedikit hasil dari efek benda ini. “Dengan benda ini, aku yakin naga itu pasti akan mati dengan cepat.”
“Tapi komandan, bagaimana caranya kita menembakkan bena sekecil itu pada naga yang terbang?”
“Kalian itu bodoh atau apa, untuk apa latihan yang kalian lakukan selama ini jika tidak untuk digunakan untuk saat yang penting seperti ini. Untuk racun ini, kalian bisa tempelkan ke ujung anak panah kalian. Aku akan memberikan 10 buah racun ini, dan gunakan dengan baik.” Aku hanya membuat 12 buah, dan aku simpan 2 buah untuk diteliti lebih lanjut lagi jika ada waktu.
“Baik.” Sepertinya mereka sudah mengerti.
“Kalau begitu, kalian bisa bergegas secepat mungkin.”
“Baik.”
Setelah itu, aku dan Lucy bergegas untuk pergi ketempat yang aman. Meskipun begitu, tempat ini juga cukup aman menurutku.
Di tengah perjalanan .
“Putri Iona, kau luar biasa.”
“Huh? Ada apa?”
“Bisa mengatur pasukan, dan memberikan perintah seperti itu dengan sangat mudah. Hal itu sangat sulit bahkan untuk para komandan senior sekalipun.”
“B-Benarkah.”
“Dan lagi, sepertinya mereka menaruh kepercayaan yang tinggi terhadapmu. Aku rasa hal seperti itu sangat jarang dimiliki oleh para komandan yang memerintahkan prajuritnya.”
“Aku terima pujian darimu.”
“Oh ya putri Iona, apa kau ingat tentang janji kita tadi.”
“Huh? Janji apa?”
“Bukannya 2 hari lagi kita akan berkencan.”
‘Eh?’
“B-Begitu, ya. A-Aku ingat kok.” Aku tak tau apa yang dijanjikan oleh Iona, tapi karena aku tak bisa mengingat apa yang terjadi saat aku tertidur aku jadi tidak mengetahui apapun.
“Putri Iona, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”
“A-Apa?”
“Siapa kau sebenarnya?”
__ADS_1
See you on Next Chapter...