
Area militer, markas khusus.
Ruang rapat.
“Kalian semua, segera siapkan seluruh pasukan. Setelah kita tau lokasi Risa-oneesama, kita akan segera menyelamatkannya.”
“Baik.” Para ketua regu pergi.
“Putri.” (Lucy) Lucy terlihat mencemaskanku, tapi itu tidak berarti untukku karena saat ini ada sesuatu hal yang harus lebih dicemaskan dari ini.
“Lucy, menurutmu siapa yang sudah melakukan hal ini?”
“Eh? Hmm, bagaimana, ya. Jika menurutku, pangeran Yudan.”
“Jadi menurutmu dia, ya.”
“Putri, apa kau memiliki kecurigaan pada orang lain selain Yudan?”
“Tidak, aku hanya sedikit penasaran. Secepat apa persiapan yang disiapkan olehnya…”
“Persiapan?”
“Kemungkinan kita sudah diikuti saat pergi meninggalkan kerajaan Srevin, tapi pasukanku sama sekali tidak menyadari bahwa ada yang mengikutiku. Bukankah itu berarti dia sudah menyiapkan hal ini.”
“Bagaimana jika ini ada kaitannya dengan sihir?”
“Jika memang seperti itu, maka hal seperti ini tidak bisa dipungkiri lagi.” Dan lagi, pembahasan tentang sihir yang paling aku benci. “Oh ya Lucy.”
“Ada apa Putri?”
“Kau bilang kalau kau memiliki banyak buku, apa kau punya buku tentang sihir?”
“Hmm, sihir ya. Sepertinya tidak ada. Buku sihir sangah langkah, tapi aku sedikit mengetahui sesuatu mengenai sihir.”
“Jika hanya sedikit aku sudah pernah mendengarnya. Jangan kau katakan lagi.”
“Kau membuat hati kecilku ini terluka lagi dengan ucapanmu.”
“Berhentilah bergurau, ini keadaan yang rumit.”
“Putri, kau begitu panik. Kau terlihat berbeda dari biasanya. Kau yang selalu terlihat tenang saat menghadapi masalah apapun, saat ini ketenangan itu sendiri terlihat menghilang darimu. Kau terlihat begitu cemas dan gelisah.”
“Aku memiliki alasan untuk itu.”
“Apa alasannya?”
“Jika sampai aku tak segera menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, perang besar akan terjadi.”
“B-Benar juga!!” Mendengar hal itu, Lucy juga terlihat panik.
Risa adalah anak tunggal dari paman dan bibi, dan mereka juga memiliki kerajaan yang bernama Atrins. Kerajaan yang maju dibandingkan dengan kerajaan ayah. Tapi, jika sampai terjadi sesuatu pada Risa maka baik ayah dan paman pasti akan turun tangan dan menyerang kerajaan Srevin. Itu bisa menyebabkan perang besar terjadi.
Sebenarnya kami kembali ke kerajaan secara diam-diam, tapi jika sampai ada seseorang yang mengetahuinya maka ini akan jadi masalah besar. ‘Waktuku tidak banyak, 2 hari.’ Aku harus bisa menyelamatkan Risa kurang dari 2 hari.
Malam hari.
Gubrak. Sfx : Pintu terbuka.
“Komandan, kami sudah mendapatkan informasinya.” (Laren)
“Hmm, katwakan.” Aku tengah memakan makanan yang mereka siapkan. Karena aku tidak bisa kembali ke istana terpaksa aku harus makan disini.
“Putri Risa dibawa kembali ke kerajaan Srevin.”
‘Cih, ternyata memang dia.’
Aku segera memakan makananku dan setelah itu mulai memberi perintah. “Laren, segera bergerak menuju ke kerajaan Srevin bersama dengan pasukan yang lain. Kita akan merebut kembali Risa-oneesama.”
“Baik.” Laren pergi.
“Putri, kau tidak memiliki rencana lain?”
“Tenanglah, kali ini aku akan mencoba melakukan pertaruhan yang besar. Jika berhasil, kita bisa membawa Risa-oneesama dengan aman.”
“Pertaruhan?”
Beberapa lama kemudian.
“Komandan, lapor. Seluruh pasukan sudah berangkat.” (Grild)
“Bagus, ingat satu hal. Tujuan kita kali ini adalah menyelamatkan Risa-oneesama. 1 kecerobohan kecil bisa membuat kekalahan dipihak kita. Aku harap kau bisa menyampaikan hal itu pada yang lain.”
“Baik.”
“Kalau begitu, kau boleh pergi.” Grild pergi.
Beberapa lama kemudian.
“Putri, apa kita hanya akan duduk cantik disini?”
“Tentu saja tidak, sudah ayo. Waktunya untukku bergerak.”
“Huh?”
Beberapa saat kemudian di belakang markas.
“Putri, jangan bilang kau…”
Tok tok tok.
“Naga, bangun. Ayo bangun, aku butuh bantuanmu.” Ia tidak mau bangun, dan aku mulai mengulagi apa yang sering aku lakukan padanya. “Naga, ayo bangun aku butuh bantuanmu.”
“P-Putri, ini sedikit berbahaya.”
“Diam kau, melawan sesuatu yang diluar akal sehat maka melawannya juga harus menggunakan sesuatu yang diluar akal sehat.”
“Aku tidak tau dimana kau mendapatkan pemikiran seperti itu, tapi…”
“Naga, ayo bangun…”
Naga itu mulai membuka matannya, dan perlahan mulai bangun. “Eh, dia beneran bangun…” (Lucy) Melihat hal ini Lucy terlihat panik.
“Baiklah, aku harap kau mau membantuku untuk menyelamatkan Risa-oneesama yang ditawan di kerajaan Srevin.” Setidaknya itulah yang aku harapkan. “Eh? AAAAAAAA!!!!!” Naga itu membawaku dan juga Lucy pergi entah kemana.
“T-TURUN!!!! A-AAAAA!!!”
“Putri, biasakan kau tenang…”
“K-KAU, BAGAIMANA KAU BISA TETAP TENANG DISITUASI SEPERTI INI!!!”
Beberapa saat kemudian, naga itu mendarat dan menurunkan kami. “S-Sialan kau!!”
“Putri, tenanglah.”
“Kau bisa tenang, tapi tidak denganku!!”
“Tapi, aku tak tau kalau kau takut dengan ketinggian.” Aku merasakan sesuatu yang aneh pada Lucy.
“Lucy, ada apa denganmu? Kau terlihat aneh…”
“Huh? Benarkah?”
“Kau tidak takut lagi dengan naga yang berada disampingmu itu.”
__ADS_1
“Jadi itu. Putri, apa kau pernah mendengar kisah tentang penunggang naga?”
“Tidak, aku tidak mengetahuinya.” Bisa dibilang ini pertama kalinya aku mendengarnya. “Memangnya ada apa?”
“Dikatakan kalau seekor naga mengajak terbang seseorang berarti dia mulai menyukai orang itu.”
“Hah?! Jangan bilang itu yang menjadi alasanmu tidak takut lagi dengan naga ini?”
“Ya, seperti itulah.”
‘Membingungkan, hanya dengan kebohongan itu dia bisa percaya semudah itu.’
“Putri, apa naga ini pernah mengajakmu terbang sebelumnya?”
“Huh? Iya, memangnya kenapa?”
“Sudah kuduga...”
“Hey, berhentilah membuat sesuatu yang biasa menjadi sesuatu hal yang misterius.”
“Ahahaha, maaf. Aku hanya sedikit terkejut saat pertama kali melihatmu dengan bebas menyentuh naga itu, jadi aku rasa kau sudah dekat dengan naga itu sebelumnya.”
“Jika kau tau tentang hal itu, kenapa kau melarangku?”
“Hmm, untuk pencegahan.”
“Aku tak mengerti. Tapi yang paling penting, dimana ini?” Kami berada ditengah hutan.
“Sepertinya kita sedang di tengah hutan.”
“Berhenti berbicara atau kupukul kau.”
“Hahaha…”
Tak ada seorangpun disini, tapi. “Lucy, apa kau mendengarnya?”
“Ada apa?”
“Suara itu.”
“Suara?”
“Coba tutup matamu dan gunakan pendengaranmu.”
“Hm, baik.”
Beberapa saat kemudian.
“Itu…”
“Bagaimana? Kau mendengarnya?”
“Tidak. Awwww…” Aku memukul kepalanya karena kesal. “M-Maaf, aku hanya bercanda aku mendengarnya kok.”
“Suara keramaian itu.” Aku bisa mendengar suara keramaian, dan juga perbincangan. Meskipun begitu aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
“Kemungkinan para bandit. Tapi, kenapa mereka tidak menyadari keberadaan kita?”
“Entahlah…” Dengan suara berisikku tadi, dan juga gepakan sayap naga yang cukup keras. Mustahil itu tidak bisa didengar.
“Putri, kau punya rencana?”
“Aku punya 1. Naga, tolong.” Bandit biasanya memiliki cukup banyak informasi dan juga harta benda, tapi yang aku butuhkan hanyalah informasi dari mereka.
Sang naga pergi, dan kami disini hanya menunggu.
Beberapa lama kemudian.
Sfx : Raungan naga.
“Ya.” Raungan naga itu kemungkinan berarti kalau tempat itu sudah aman.
Beberapa saat kemudian, kami sampai dan melihat sesuatu yang cukup mengejutkan. “Waoow. Dia melakuknnya dengan sangat baik.” (Lucy) Memang benar para bandit yang berada disini, dan mereka semua sudah dilumpuhkan oleh naga.
“Sepertinya tidak ada yang mati, jika seperti itu baguslah.” Aku menghampiri mereka satu persatu. “Baiklah, waktunya mencari informasi…”
Beberapa lama kemudian.
“Ha, menyebalkan.”
“Putri, bagaimana?”
“Hanya informasi yang tak penting, bagaimana denganmu?”
“Jika kau seperti itu, tidak ada bedanya denganku. Tapi…”
“Huh? Lucy, ada apa?”
“Disini adalah daerah perbatasan kerajaan Srevin.”
“Huh? Darimana kau tau?”
“Aku sempat melihat salah satu dari mereka saat kita sedang berada di kerajaan Srevin.”
“Hmm, apa ingatanmu itu bisa dipercaya?”
“Putri, berhentilah mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti hati kecilku yang rapuh ini.”
“Lalu? Kau ingin bilang bahwa karena ada salah satu dari mereka yang pernah kau lihat ada dikerajaan Srevin, kau langsung memutuskan bahwa kita sedang berada diperbatasan kerajaan Srevin, begitu?”
“Ya.”
“Ha, hentikan saja omong kosongmu itu.”
“Huh? Putri, kau mendengarnya?”
“Hebat juga kau bisa menyadarinya.” Aku mendengar sebuah suara, meskipun begitu suaranya begitu kecil sehingga nyaris tidak dapat didengar.
“Suara itu, sepertinya berasal dari sebelah sana.”
“Kau saja yang liat, aku akan mencari sesuatu disekitar sini.”
“Baiklah.”
Beberapa saat kemudian.
“Putri, Putri…”
Lucy berteriak memanggilku. “Lucy, ada apa?”
“Kesini sebentar.”
“Ada apa?”
“Sudah cepat kesini.”
“Baik-baik.” Aku menghampirinya.
Setelah itu.
“Lihat disana.” Dia menunjuk kearah semak.
“Baik.” Akupun melihatnya, dan sesuatu yang cukup mengejutkan terlihat olehku.
__ADS_1
“Kasihan sekali dia.”
“Pasti korban dari para bandit ini.” Seorang gadis, dan kondisinya tampak begitu mengenaskan.
“Putri, apa yang akan kita lakukan?”
“Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita memiliki. Arrrgggghhhh!!!” Rasa sakit yang teramat sakit terasa dikelapaku.
“P-Putri, apa yang terjadi denganmu?”
Beberapa saat kemudian.
Rasa sakitnya menghilang. “Putri, kau baik-baik saja.”
“Y-Ya, aku baik-baik saja. Lucy, cari apapun yang bisa dikendarai disekitar sini.”
“Eh? Untuk apa?”
“Sudah, cari saja.”
“Baik.” Lucy pergi, dan nafasku masih terengah-engah.
‘Itu tadi menyakitkan tau.’ Rasa sakitnya lebih menyakitkan dari yang sebelumnya, aku tak tau kenapa tapi sepertinya ada sesuatu yang membuatnya melakukan itu.
Beberapa saat kemudian.
“Putri, aku menemukan kereta kuda disana. Tapi tidak ada kudanya.”
“Kemungkinan itu hasil rampasan para bandit itu. Kalau begitu, Lucy cepat bantu aku membawa gadis ini ke kereta kuda yang kau temukan itu.”
“Eh? Ya, baiklah.”
Beberapa lama setelah itu.
Kami sudah menaikan tubuh gadis ini ke dalam kereta kuda. “Putri, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
“Tenanglah, jika ini memang benar perbatasan kerajaan Srevin maka kita akan aman.”
“Aman?”
“Komandan? Apa yang anda lakukan disini?” (Laren)
“Laren, sukurlah kau lewat sini.”
“Bukannya ini adalah rencana yang anda siapkan. Mengepung kerajaan.”
“Begitu ternyata.” (Lucy)
“Laren, perintahkan beberapa pasukan yang kau bawa untuk membawa kereta kuda ini kembali ke kerajaan.”
“Baik.” Tanpa menanyakan apapun Laren menuruti perintahku.
Beberapa lama setelah itu.
“Komandan, kami melihat cukup banyak bandit yang dilumpuhkan disini.”
“Abaikan saja mereka, tetap fokus pada rencana.”
“Baik. Tapi, komandan.”
“Ada apa?”
“Bagaimana dengan anda?”
“Jangan khawatirkan diriku, sebaiknya kau segera bergegas. Waktu adalah yang paling penting dalam rencana ini.”
“Baik.” Laren kemudian bergegas pergi.
“Menaiki kuda perang, ya. Pantas saja pergerakan mereka sangat cepat.” (Lucy)
“Hanya 500 orang, jadi jika semuanya menggunakan kuda perang mobilitas pasukan bisa lebih leluasa.”
“Putri, kau selalu mengatakan hal yang membuatku kebingungan.”
“Sudahlah, ayo pergi.”
“Huh? Kemana?”
“Sudah jelas.”
Beberapa lama kemudian
“Putri, apa kau baik-baik saja?
“Seperti ini lebih baik.” Saat ini, aku tengah berada di punggung naga. Dan entah kenapa berada disini tidak membuatku merasa takut dengan ketinggian.
“Putri, naga ini menuruti apa yang kau katakan, ya.”
“Huh? Benarkah?”
“Iya.” Aku sama sekali tidak menyadari hal itu. “Lalu Putri, tujuan kita kemana?”
“Sudah jelas. Kita juga akan ikut berpartisipasi.” Rencanaku adalah menyelamatkan Risa, selain dari hal itu aku tidak peduli. “Kita akan langsung menuju ke tempat dimana Risa-oneesama berada.”
“Eh, tapi Putri. Rencana yang kau siapkan itu berarti tidak berguna jika kau melakukan ini?”
“Jangan bilang seperti itu. Ini juga termasuk dalam rencana.”
“Huh?”
“Pasukanku akan mengalihkan perhatian, dengan begitu penjagaan yang ada di istana akan longgar. Lagipula penjagaan di istana itu sendiri sudah sedikit, tapi hanya untuk bersiaga aku melakukan ini.”
“Putri, jangan bilang kalau kau akan langsung menuju ke istana.”
“Tentu saja, lagipula sekarang tengah malam. Bisa dibilang ini sebagai serangan malam, rencana ini cukup efektif bila dilakukan dengan perhitungan yang tepat.”
“Tapi, kau baru saja membuat rencana itu tadi sore. Apa itu akan baik-baik saja?”
“Sudahlah. Kita hampir sampai.” Dari atas sini aku bisa melihat keseluruhan kerajaan Srevin.
Beberapa lama kemudian.
“Sepertinya mereka sudah mulai.” Keributan mulai terdengar dari area gerbang utara.
“Putri, apa kau yakin rencana ini akan berhasil?”
“Lucy, ada apa denganmu?” Tidak biasanya dia menayakan pertanyaan konyol seperti itu.
“Aku hanya berfikir, setiap rencana yang kau buat selalu berjalan sesuai dengan harapanmu.”
“Jadi, kau ingin bilang kalau kau iri denganku karena setiap rencana yang aku buat selalu berhasil, begitu.”
“Ya.”
“Eh?” Aku sama sekali tak menduga jawabannya itu. “Ya, ada kalanya aku juga harus mengulang rencana yang sudah aku siapkan. Dan aku ini juga pernah gagal, lo.”
“Eh, benarkah?”
“Iya.” Setidaknya beberapa kegagalanku berasal dari duniaku yang sebelumnya. “Jika kau belajar lebih banyak, mungkin kau juga bisa menyusun rencana yang sedikit hebat dariku.”
“Ucapanmu menyakitkan, tapi jika memang bisa, aku akan mencobanya.”
Aku tak tau, tapi apa ini juga termasuk sifat asli yang disembunyikan olehnya. Setidaknya bukan hal itu yang harus aku pikirkan saat ini. “Baiklah, kita maju. Langsung menuju ke istana!!”
__ADS_1
“Eh? Ehhh!!!”