
Malam hari, kamar.
“Ha, rencana masa depan. Akhirnya selesai juga.” Sebuah denah dan juga beberapa hal penting untuk perkembangan area yang sedang aku kuasai akhirnya selesai. ‘Setidaknya ini akan berguna saat aku pergi nanti.’ Aku menyiapkan ini untuk Iona, agar dia menggunakannya. Rencana ini tidak bisa segera dilakukan karena targetnya belum mencapai standar minimum untuk rencana itu bisa dimulai, tapi nanti beberapa tahun lagi mungkin standar itu akan terpenuhi. “Lalu ini.” Sebuah pemetaan wilayah di luar kerajaan, dan juga beberapa tempat yang diduga memiliki kekayaan alam yang melimpah. Aku sudah menulisnya dan mencatat semua hal yang penting.
Sfx : ketukan pintu.
Seseorang mengetuk pintu kamar. “Siapa?”
“Komandan, ini saya Famus.”
“Famus, masuklah.”
“Terimkasih.” Famus masuk.
“Ada masalah apa?”
“Maaf komandan, saya ingin izin dalam bertugas selama beberapa waktu.”
“Huh? Ada apa?”
“Istri saya akan melahirkan, dan saya ingin berada didekatnya disaat ia melahirkan.”
“Begitu.” Mereka juga memiliki keluarga, jadi wajar saja. “Baiklah, berapa lama kau bisa kembali?”
“Beberapa hari setelah istri saya melahirkan.”
“Begitu, baiklah. Akan aku sampaikan pada yang lain.”
“Terimakasih komandan.” Famus langsung pergi.
‘Sebentar lagi, ya.’ Tanpa aku sadari, waktunya sudah hampir dekat. Waktu kelulusan hanya kurang dari 1 setengah tahun lagi, setidaknya itulah yang aku hitung atau mungkin lebih sedikit. Tapi, aku tak menyangka kalau 14 tahun sudah terlewati begitu cepat. ‘Aku harap kau menemukan jalan hidupmu sendiri, Iona.’ Memiliki keluarga yang bahagia, dan juga mempunyai seorang anak. Setidaknya aku ingin Iona merasakan hal itu dengan tenang sebelum aku menghilang. Oleh karena itu aku menyiapkan segalanya saat ini.
“Ha, baiklah. Waktunya melanjutkan pekerjaan.” Masih ada banyak sekali hal yang harus aku lakukan agar apa yang aku inginkan bisa terwujud, oleh karena itu aku akan berusaha sekuat mungkin.
Beberapa hari berlalu.
“Lucy, ada apa denganmu? Kenapa kau murung? Apa kau habis ditolak?” Hari ini, di taman sekolah kerajaan waktu istirahat. Aku melihat Lucy sedang dalam kondisi yang cukup mengenaskan.
“Putri, ucapanmu menusuk. Tidak bisakah kau berkata hal yang bisa membuatku sedikit bersemangat.”
“Apa yang sudah kau alami?”
“Begini. Sebelum itu, aku ingin kau tidak tertawa mendengar ceritaku ini.”
“Baiklah, tapi jika ada sedikit komedinya aku akan tertawa.”
“Tenang saja, tidak ada komedi di ceritaku ini.”
“Kalau begitu, ceritakan.”
“Baik.” Lucy mulai bercerita.
Setelah selesai bercerita.
“Prffttt…”
“Putri, kau tertawa.”
“T-tidak, aku tidak tertawa..”
“Kau berbohong! Kau bilang tidak akan tertawa!! Ah, hancur sudah masa depanku.”
“Tenanglah, aku akan membantumu.”
“Putri, kau serius?”
“Ya, aku hanya tinggal membantumu belajar dan memperbaiki nilaimu’kan.”
“I-itu benar, tapi...”
“Ada apa?”
“Peringkat tertinggi di sekolah saat ini dipegang olehmu, bagaimana aku bisa mengalahkanmu.”
__ADS_1
“Eh? Benarkah?” Aku sama sekali tidak mengetahuinya, karena aku sama sekali belum pernah ikut ujian sekalipun. ‘Iona, hebat juga.’
“Meskipun kau membantuku belajar, jika aku tidak bisa mengalahkanmu dalam ujian beberapa bulan yang akan datang. Maka berakhirlah masa depanku, aku tidak ingin itu terjadi.”
“Ha, baik-baik. Setidaknya kau harus mendapatkan nilai sempurna. Seperti itu'kan.”
“Terimakasih.”
Beberapa hari berlalu, dan karena aku yang memulai semua ini maka aku juga yang harus mengakhirinya. Setidaknya seharusnya seperti itu. “Lucy, apa-apaan ini?!”
“Huh? Apa yang salah? Aku menulis semua teori yang menurutku adalah pilihan terbaik.”
“Ha, aku tak tau bagaimana kau bisa dijuluki sebagai pangeran jenius jika pengerjaanmu seperti ini.”
“Eh? Apa ada yang salah?”
“Lihat ini.” Aku menulis jawaban yang sudah aku tulis sebelumnya dan membandingkannya dengan milihnya.
“Eh, ini sama saja.”
“Ha, lihat baik-baik.”
“Huh? Itu...”
“Kau bisa melihatnya.”
“Ya, tapi aku masih belum paham dengan jelas.”
“Ha, sepertinya mengajarimu akan menjadi lebih sulit dari apa yang aku bayangkan.”
“Putri, aku mohon.”
“Ha, baik-baik.” Ini kemungkinan akan memakan waktu yang cukup lama dari apa yang aku perkirakan.
Beberapa bulan berlalu.
Ruang belajar sekolah kerajaan.
“Coba aku lihat perkerjaanmu.”
Aku melihat kertas jawabannya, dan seperti yang aku duga dari orang yang sangat cepat mengerti. ‘Semuanya benar, hanya tinggal beberapa penyesuaian diri dan selesai.’
“Putri?”
“Semua jawabannya benar, sepertinya kau sudah siap untuk melakukan ujian. Sekarang aku yakin kau pasti bisa mendapatkan nilai tertinggi.”
“Benarkah? Ha, akhirnya selesai juga.”
“Apa kau sudah puas?”
“Ya, sepertinya aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.”
“Jika seperti itu bagus. Oh ya Lucy, ada sesuatu yang ingin aku titipkan padamu.”
“Huh?”
Aku mengeluarkan sebuah surat. “Berikan ini padaku lagi tepat saat hari kelulusan tiba.”
“Huh? Memberikannya padamu? Bukankah itu sedikit.”
“Apa ada masalah?”
“Ya, kau menulis surat untuk dirimu sendiri. Bukankah itu sedikit aneh.”
“Jika kau bilang seperti itu, aku tidak akan menyangkalnya. Tapi, aku hanya ingin kau menuruti ucapanku.”
“Ha, baik. Apa isi surat ini?”
“Meskipun kau membacanya, kau tak akan mengerti tulisannya.”
“Huh?”
“Sudahlah, sampai jumpa lagi besok.”
__ADS_1
“Y-ya.”
Sore hari, area militer markas khusus.
“Grild, Laren. Bagaimana hasil penyelidikan kalian?”
“Kami tidak menemukan sesuatu yang aneh.” (Laren)
“Begitu. Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku berikan pada kalian.” Aku mengeluarkan beberapa surat yang sudah aku tulis sebelumnya.
“Komandan, surat apa ini?” (Grild)
“Berikan ini juga pada Famus dan Dirk, dan saat kelulusan tiba berikan surat itu lagi padaku. Dan ingat, meskipun aku memintanya jangan pernah sekalipun kalian berikan sampai waktunya tiba. Apa kalian paham.”
“B-Baik.”
“Kalau begitu bagus. Kalian boleh pergi.” Mereka pergi. “Ha, tugasku akhirnya selesai.” Meskipun aku menulis surat, aku sangat yakin kalau Iona tidak akan mengetahui isinya. Itu karena aku menulisnya dengan mata tertutup, jika Iona bisa melihat apa yang aku lihat maka dia tidak akan bisa melihat jika aku menutup mataku.
Meskipun begitu, aku tak yakin dengan apa yang aku tulis akan bagus atau tidak. Tapi jika tidak, aku harap Iona mau menyusun setiap kata dan kalimat yang aku tulis karena itu sangat penting. Setidaknya aku mempersiapkannya saat aku sudah benar-benar pergi dari tubuhnya. “Ha, sebaiknya aku juga menyelesaikan tugas yang ada disini.” Menyelesaikan tugas yang sulit dan membiarkan Iona menyelesaikan tugas yang mudah.
Beberapa lama setelah itu.
“Putri.”
“Lucy, ada apa?” Tidak biasanya Lucy datang kemari.
“Putri, apa kau serius?” Tatapan wajahnya terlihat begitu tajam.
“Hentikan tatapanmu itu, menjijikkan.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa yang kau tulis di surat ini, apa kau benar-benar akan…”
“Kau berhasil membacanya, ya.” Tulisan yang sangat sulit dimengerti, itu termasuk tulisan kuno yang sempat aku pelajari selama beberapa tahun lalu. “Ya. Jadi saat waktunya tiba, berikan surat itu padanya. Dan, tolong jaga dia baik-baik.”
“Putri…”
“Tapi ingat, jangan berikan surat itu sebelum waktunya tiba. Dan jangan sekali-kali kau berbuat hal mesum atau apapun padanya, atau kau akan merasakan akibatnya.”
“Ucapanmu sangat kasar seperti biasanya. Tapi…”
“Kau menangis?” Ini pertama kalinya aku melihatnya menagis.
“A-ku, tidak menangis…”
“Sudahlah, berhenti menangis. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah.”
“Tapi itu dilakukan untuk membuat perasaan merasa lebih baik.”
Entah kenapa aku tersenyum mendengar apa yang dikatakan olehnya. “Kau benar, tidak ada salahnya jika sekali-kali menangis untuk membuat perasaan menjadi sedikit lebih baik.”
Beberapa lama setelah itu.
Aku memberinya sapu tanganku. “Kau sudah puas, cepat hapus air matamu itu dengan ini. Lihat, lantai sampai basah akibat air matamu.”
“Ucapanmu itu kejam, tapi terimakasih.”
“Kau sudah merasa lebih baik?”
“Ya.”
“Ha, begitu. Jika seperti itu, seandainya dia kesulitan suatu hari nanti, aku harap kau mau membantunya.”
“Baiklah, serahkan saja padaku. Aku akan melakukannya untukmu.”
“Terimakasih. Hoaamm, waktunya untukku beristirahat. Jangan katakan apapun padanya.” Aku perlahan mulai menutup mata dan seketika posisiku digantikan oleh Iona.
“Putri, kau baik-baik saja.”
“Pangeran Lucy, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Putri, maaf. Aku sudah berjanji padanya tidak akan mengatakannya sampai waktunya tiba.” Mendengar hal itu, Iona mulai meneteskan air matanya.
“Aku mohon, aku hanya ingin tau apa yang ditulis olehnya…”
__ADS_1
“Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Aku akan pergi, sampai jumpa besok.” Lucy pergi.
“Ari, apa kau benar-benar akan pergi…” Iona kembali mengingat apa yang sudah lama ia lupakan. “Hanya tersisa waktu kurang dari satu setengah tahun lagi.” Waktu yang panjang, tapi begitu singkat.