
Pagi hari, kamar.
“Hoamm, sudah 2 bulan kah?” Aku tak menyangka akan secepat ini, aku hanya merasa tertidur selama beberapa jam di tempat kesunyian itu sendiri.
Ini sedikit aneh dan juga agak mencurigakan. “Apa benar tidak ada kejadian aneh satupun selama 2 bulan ini.” Entah kenapa aku merasa sedikit tidak nyaman jika tidak merasakan hal janggal. “Sudahlah.” Mau bagaimanapun yang sudah terjadi memang begini, mau protes bagaimanapun jika memang seperti itu, ya tidak akan bisa dirubah.
Beberapa lama setelah itu, diruang makan.
“Ayah, apa itu.” Aku melihat sebuah kertas disamping ayah.
“Ini, ini kertas undangan penolakan.”
“Penolakan?”
“Iona, bukannya kemarin malam saat makan malam ayahmu sudah menjelaskan hal itu padamu.”
“Huh? Kemarin?" Mungkin saja waktu Iona yang menggunakan tubuh ini. “B-Begitu, aku lupa, mungkin karena kemarin malam aku terlalu banyak belajar jadi aku lupa.” Meskipun alasannya sedikit tidak masuk akal, tapi aku tak memiliki alasan lain yang lebih bagus dari ini. “Oh ya, dari undangan itu untuk kerajaan mana?”
“Untuk kerajaan Srevin, tapi karena kau kemarin menolak untuk menghadiri pertemuan itu sebagai wakil dari kerajaan ini, ayah terpaksa harus mengirim surat penolakan ini.”
“Kerajaan Srevin. Ayah, aku akan menerimanya!” Seseorang yang menolak tambang emas (Kerajaan Srevin) adalah orang bodoh. Kerajaan Srevin termasuk kerajaan yang maju, jika bisa bekerja sama atau menjadi sekutu kerajaan Srevin maka itu adalah hal yang sangat bagus.
“Tapi Iona, bukannya kemarin kau menolaknya karena hari ini kau ada acara di sekolahmu. Tapi, kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran.” (Ibu)
“B-Begini.” Aku harus memikirkan alasan yang masuk akal, jika tidak begitu maka aku yakin mereka akan curiga. “Acara itu. Benar juga, aku tidak memiliki bagian dalam kegiatan sekolah kali ini, jadi aku rasa jika aku tidak ikut tidak akan masalah. Lagipula menolak undangan dari kerajaan bukannya suatu hal yang sangat tidak sopan, benarkan ayah.”
“Eh, y-ya.” (ayah)
“Kalau begitu ayah, aku akan segera bersiap-siap.”
“B-Baiklah.”
Beberapa lama setelah itu. Area militer, markas khusus, ruang rapat.
__ADS_1
Saat ini aku dan ke-4 ketua regu sedang berkumpul dan membahas sesuatu. “Grild, Laren, Famus, Dirk. Aku memiliki tugas untuk kalian.”
“Tugas, tugas apa itu komandan?” (Laren)
“Ikutlah secara diam-diam ke kerajaan Srevin dan lindungi aku dalam perjalanan kesana dan juga, apa latihan khusus untuk 10 pasukan itu sudah selesai kalian berikan.”
“Ya, mereka saat ini sudah siap untuk menerima misi secara langsung.”
“Kalau begitu, bawa mereka juga dan suruh mereka untuk mengawasi apa saja yang terjadi di kerajaan Srevin. Baik itu kejadian aneh, dan juga hal lainnya.”
“Baik.”
“Kalau begitu, kalian bisa mengawasiku dari belakang dan jangan sampai ketahuan. Ini adalah misi rahasia yang aku berikan khusus pada kalian dan juga 10 prajurit yang berada dibawah pelatihan kalian, aku tidak ingin mendengar kegagalan sedikitpun. Kalian paham.”
“Kami paham!!”
“Kalau begitu, kalian boleh bubar.” Mereka pergi, dan ini adalah giliranku. Memanfaatkan kerajaan besar sebangai pondasi untuk mengwujudkan ambisiku, itu tidaklah buruk.
Beberapa lama kemudian, menaiki kereta kuda.
Pejalanan yang panjang ini akan terasa membosankan jika tidak melakukan apapun, setidaknya itulah yang aku pikirkan. “Lalu, kenapa kau juga ikut?” Aku tak tau kalau Lucy juga ikut dalam pertemuan ini, bukan sebagai perwakilan kerajaannya melainkan sebagai orang yang hanya bersedia ikut denganku. “Jika Risa-oneesama aku masih bisa maklumi, tapi kenapa kau juga ikut.”
“Aku sudah bilang sebelumnya, aku ikut karena aku tidak memiliki kegiatan lain.”
“Kalau begitu, cari saja kegiatan lain.”
“Aku sudah mecarinya, dan aku tak mendapatkannya. Tapi, saat mendengar kalau kerajaan ini mendapatkan undangan dari kerajaan lain aku rasa jika aku ikut aku tidak perlu lagi memikirkan tentang kegiatan yang akan aku lakukan.”
“Cari saja kegiatan yang sedikit bermanfaat. Risa-oneesama, tolong jelaskan padanya cara mencari kegiatan yang bermanfaat.” Tidak ada respon, dan saat aku melihat kearahnya. “Risa-oneesama, ada apa?” Ia hanya tersenyum.
“Kalian berdua terlihat cocok.”
“Ha? Tidak-tidak-tidak, jangan menyamakan aku dengan orang mesum sepertinya. Aku dan dia, bahkan jika bumi dan langit menyatu aku tidak akan pernah sudi disamakan dengannya.” Karena orang yang menggunakan tubuh ini saat ini adalah aku Touji Ari tidak salah jika aku berkata seperti itu.
__ADS_1
“Uh, perkataanmu menyakiti hati kecilku tau.”
“Terserah kau saja.” Untuk beberapa alasan, aku tidak merasakan respon seperti wajah yang tiba-tiba memanas atau apapun, padahal biasanya hanya dengan ucapan sedikit saja membuat emosi Iona keluar apalagi saat Risa berkata seperti itu. Tapi kali ini emosinya tidak keluar. Ini bukan hal buruk, tetapi juga bukan hal yang bagus.
“Jika kalian bertengkar seperti itu, membuatku mengingat tentang cerita paman dan juga bibi saat masih muda dulu.” (Risa)
“Ayah dan Ibu?”
“Iya, ayahku pernah menceritakan tentang pertemuan paman dan bibi saat masih muda dulu.”
“Hee, aku jadi ingin mendengarnya.” (Lucy)
Jika dibilang tidak tertarik, sebenarnya tidak juga. Aku malah cukup penasaran dengan cerita orang yang sudah menjadi ayah dan ibuku semalam 8 tahun terakhir.
“Dulu.” Dan Risapun mulai bercerita.
Setiap kata dan kalimat yang ia ucapkan, aku mendengarkannya dengan seksama.
Pertemuan ayah dan ibu ternyata cukup sulit juga, dimulai dari ibu yang ingin dinikahkan melalui pernikahan politik dan beberapa bulan sebelum pernikahan ibu dimulai. Ayah dan ibu bertemu disuatu tempat, setiap hal yang mereka bicarakan membuat mereka terasa begitu dekat padahal mereka baru saja bertemu mungkin karena mereka berdua memiliki kesamaan dalam impian mereka, yaitu mereka ingin mengubah dunia.
Singkat cerita, berbagai rintangan mereka berhasil melewatinya dan sampai akhirnya mereka menikah dan hidup seperti saat ini. Dan karena mereka sudah memiliki seorang putri, impian mereka terhentikan karena lebih memilih putri mereka. “Dan selesai.” (Risa)
“Wah, ternyata perjalanan cinta yang raja dan ratu sulit juga.” (Lucy)
“Lalu, Risa-oneesama. Kenapa kau bilang aku dan dia mirip dengan ayah dan ibu, bukannya tidak ada satu halpun yang membuat aku dan dia mirip dengan ayah dan ibu.” Risa tersenyum.
“Aku dengar dari ayah. Sebelum ayah dan ibumu itu menikah, mereka berdua itu sering kali berdebat karena berbeda pendapat.”
“Tapi, itukan masalah lain.” Perdebatan ayah dan ibu itu berbeda, mereka berdebat pasti karena memikirkan sesuatu yang besar tetapi karena menurut mereka rencana mereka adalah yang terbaik itulah yang menyebabkan mereka berdebat. Sangat berbeda dengan kami yang hanya meributkan masalah kecil seperti ini.
“Meskipun begitu, kalian berdua terlihat mirip. Kalau kalian aku jodohkan mau, tidak?”
“Tidak.”
__ADS_1
“Begitu, padahal kalian itu cocok.” Terjadi sesuatu yang mengejutkan barusan.
‘Apa yang sebenarnya Iona pikirkan.’ Kata barusan bukan aku yang mengatakannya, melainkan Iona. Aku tak tau apa yang dipikirkan olehnya, tapi sepertinya sudah ada sesuatu yang terjadi padanya.