Princess In Another World

Princess In Another World
Si Jenius


__ADS_3

Sore hari, area militer


Setelah bangun dari tidurku, aku langsung pergi menuju ke area militer untuk memberikan strategi pada pasukanku.


-----------


Kami ber-4 sedang melakukan diskusi terhadap penyerangan yang akan dilakukan nanti malam.


"Komandan, apa anda baik-baik saja? Anda terlihat pucat." (Laren)


"Begitukah, aku baru saja bangun tidur. Mungkin karena itu." 


"Begitu."


"Baiklah, Dirk apa semua yang aku pertintahkan tadi sudah siap?"


"Semuanya sudah beres komandan, 5000 panah beracun dan juga seluruh pedang pasukan sudah dilapisi oleh racun itu juga. Dan kami juga sudah menjemurnya dibawah sinar matahari."


"Begitu. Famus, apa ada informasi baru tentang pasukan Victioria?"


"Tidak ada informasi lagi yang bisa kami dapatkan selain itu."


"Begitu, ya. Sudahlah." Aku kemudian mengerluarkan sebuah kertas. "Aku ingin kalian menyerng dari tempat yang sudah aku tandai ini."


"Komandan, apa itu..."


"Ya, peta yang aku kerjakan kemarin malam." Aku membuatnya bersamaan dengan membuat bahan-bahan untuk racun itu. 


"Seberapa akurat peta itu komandan."


"Aku tidak bisa menjaminnya, tapi setidaknya diatas 70%." Karena terburu-buru aku tidak bisa memperhitungkan peta ini dengan maksimal, tapi sepertinya ini tidak akan menjadi masalah besar. "Rencana ini akan dilaksanakan saat matahari sudah terbenam, dan ingat tetap waspada. Dan juga tentang racun itu, aku harap kalian bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin."


"BAIK."


Strateginya sangat mudah, teridiri dari 4 regu. 2 regu menyerang secara langsung dari arah depan sedangkan 2 regu lainnya menyerang mengepung dari sisi yang berbeda. Karena tempat berperang kali ini adalah di dekat pantai, aku yakin tidak ada cara lain untuk pasukan musuh bertarung atau melarikan diri tapi itupun jika mereka bisa melarinkan diri.


------------


Di luar ruangan rapat.


"Ada apa ini?" Para pasukan berkumpul didepan pintu.


"Komandan, mereka menolak rencana ini. Mereka bilang kalau para pemanah tidak bisa menembak saat di malam hari." (Grild)


"Begitu." Memang akan jadi masalah jika para pemanah tidak bisa menembak musuhnya, karena yang sangat dibutuhkan dalam strategi ini adalah para pasukan pemanah. 


"Komandan, apa anda tidak memiliki cara untuk mengatasi hal ini?" (Laren)


"Hmm. Tenang saja, ada 2 hal yang bisa membuat para pasukan pemanah melihat di malam hari."


"Apa itu?"


"Sumber penerangan musuh, dan juga cahaya bulan. Kalian harus memanfaatkan hal itu, jika tidak bisa kalian bisa mengundurkan diri dari misi ini, dan tentu saja ada akibatnya jika sampai rencana ini gagal. Mungkin saja kerajaan ini akan diambil alih, dan akan banyak hal buruk yang bisa terjadi lainnya setelah hal itu terjadi."


mendengar hal itu, para pasukan diam. "Yang ingin mengundurkan diri, aku persilahkan. Lagipula aku ini cuma bertugas untuk membuat rencananya, aku tidak akan memaksa kalian untuk ikut. Tapi, akibatnya akan sangat buruk." Meskipun tidak memaksa, ucapanku barusan terdengar seperti sebuah ancaman besar. "Apa ada yang ingin mengundurkan diri?" 


Tak ada jawaban, itu berarti mereka setuju. "Baiklah, rencana ini akan kalian laksanakan nanti malam. Sukses atau tidaknya renana ini semuanya tergantung dengan usaha dan kerja keras kalian." Aku langsung pergi.

__ADS_1


--------------------


Kamar


"Tuan putri, makan malamnya sudah siap."


"Ya, aku akan kesana sebentar lagi."


"Baik."


"Ha..." Hari ini aku sangat kelelahan, tidur tadi itu tidak cukup untukku. "Iona, kau mau menggantikanku sebentar, aku ingin istirahat. Aku sangat mengantuk, aku mohon..." Mataku mulai terasa sangat berat. "Selamat tidur."


------------------


Pagi hari.


"Hoaaamm. Aku ketiduran, ya." Pagi ini tubuhku terasa begitu segar, mungkin karena aku mendapatkan tidur yang cukup. "Bagaimana dengan pasukanku, ya." Aku belum mendengar kabar tentang mereka. "Sepertinya mereka baik-baik saja. Mandi dulu deh...."


----------


Ruang makan


Saat ini aku sedang sarapan bersama ayah dan juga ibu. "Iona, kemarin saat makan malam makanmu banyak. Apa yang terjadi padamu?"


"Huh?" Aku tidak ingat kalau aku kemarin makan malam.


"Dia sedang dalam masa pertumbuhan, itu wajar untuk anak seusianya. Jangan terlalu dipikirkan."


"Hm?" Aku sama sekali  tidak ingat kejadian itu. "Tunggu sebentar, apa itu Iona?" Tapi, meskipun begitu aku tidak begitu yakin tapi mungkin saja hal itu memang terjadi. Iona mengambil alih tubuhnya saat aku sedang tidur. "Ini kemajuan besar." Ini pertama kalinya aku merasa sangat senang.


"Iona, ada apa? Kau terlihat sangat senang hari ini." (Ayah)


---------------


"Prajurit, ada apa?"


Seorang prajurit tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang makan. "Yang mulia, maaf mengganggu sarapan anda. Tapi, kabar yang ingin saya katakan pada yang mulia." 


"Kabar apa itu?"


"Para pasukan Vicotoria sudah pergi, dan ada banyak sekali bekas darah di area tempat pasukan Victoria itu berada. Dan kami juga menemukan ini sewaktu menyelediki tentang hal itu." Prajurit itu menunjukkan sebuah anak panah.


"Itu..." Itu adalah anak panah yang digunakan oleh pasukanku, sepertinya mereka berhasil.


"Anak panah?"


"Iya yang mulia, anak panah ini juga sudah dilapisi racun yang sangat mematikan. Kami juga sempat menemukan ratusan mayat pasukan Victoria di dalam hutan, dan kami rasa mereka semua mati akibat dari racun ini."


Mendengar hal itu, ayah terlihat sedikit khawatir. "Prajurit, segera cari penawar racun untuk racun itu. Suruh para ahli obat-obatan untuk membuat penawarnya."


"Baik yang mulia." Prajurit itu pergi, dan ayah sedikit melirik ke arahku. Aku tau apa yang ingin dia katakan. "Jangan melakukan hal seberbahaya itu lagi, membuat sebuah racun. Bagaimana kalau nanti kau yang malah terkena racun itu." Ya, seperti itulah mungkin yang akan ayah katakan, dan mungkin masih ada banyak hal lainnya.


--------------


Pagi hari, Area militer.


Sesampainya di area militer, aku langsung pergi ke dalam untuk sedikit beritirahat.

__ADS_1


"Komandan, anda datang." (Dirk) Mereka ber-4 ada di dalam sini.


"Bagaimana dengan misi kemarin, aku rasa tidak ada masalah."


"Kalau untuk itu.." (Grild) Mendengar Grild berbicara seperti itu, aku merasa ada sedikit masalah.


"Grild, ada apa?"


"Komandan, rencana yang dibuat oleh anda sudah diketahui oleh musuh."


"Apa? Bagaimana bisa?" Rencana yang aku buat sudah sangat sempurna, dan jika sampai ada yang bisa mengetahuinya, dia pasti orang yang sangat jenius.


"Entahlah, tapi sesaat sebelum kami menyerang para pasukan Victorian sudah menyiapkan tameng untuk berlindung dari serangan anak panah yang akan pasukan pemanah lepaskan."


"Menyiapkan tameng." Jika memang benar sepeti itu, itu berarti pasukan Victoria sudah menyadari kalau ada beberapa pertahan mereka yang sangat lemah. Tapi yang membuatku bingung itu adalah. "Bagaimana mereka bisa tau rencanaku ini." Entah hanya kebetulan atau tidak, tapi yang pasti ini sedikit membuatku cemas. "Penghianat." Hanya itu kemungkinan yang bisa terjadi untuk saat ini.


"Penghianat?"


"Salah satu dari kalian sudah membocorkan rencana yang aku buat ini, oleh karena itu mereka bisa mengetahuinya."


"Penghianat, siapa yang berani menghianati komandan?"


"Entahlah, itu hanya perkiraanku belaka." Aku tidak bisa mengambil kesimpulan secepat itu, lagipula aku tidak memiliki banyak bukti. 


"Jika bukan karena penghianat, maka hanya ada 1 kemungkinan lainnya. Orang yang baru saja aku hadapi ini adalah seorang yang jenius." Untuk pertama kalinya, aku merasa mendapatkan sebuah tantangan yang sangat menyenangkan. "Hari ini, mungkin saja aku sudah mendapatkan seorang rival."


------------------


Sementara itu...


"Pangeran, maafkan saya. Sebagai komandan saya sudah gagal dalam misi kali ini. Saya siap untuk mendapatkan hukuman karena kegagalan dalam misi kali ini."


"Tidak, kau tidak bersalah. Ini adalah kelalaianku dalam membuat strategi untuk perang kali ini. Aku terlalu meremehkan mereka."


"Itu tidak mungkin, setiap strategi yang pengeran buat selalu bisa membawa kemenangan untuk pasukan kita."


"Ini adalah salahku. Dan juga, sepertinya disana juga ada seseorang yang memiliki pengetahuan yang lebih tentang strategi perang."


"Maaf mengganggu anda komandan, pangeran. Dari informasi yang saya dapat, pasukan yang gugur berjumlan lebih dari lima ratus orang." (Prajurit)


"L-Lima ratus. Itu sangat banyak." (Komandan)


 "Itu adalah kenyataannya komandan, ini adalah korban tebanyak kita dalam pertempuran kali ini." (Prajurit)


"Tapi, itu sangat tidak wajar. Sampai 500 pasukan yang menjadi korban."


"Tidak, itu wajar-wajar saja." 


"Pangeran, anak panah itu."


Sang pangeran memengang sebuah anak panah. "Di anak panah ini sudah dilapisi oleh racun yang sangat kuat. Jika ada yang terkena racun ini sedikit saja maka sudah dipastikan nyawanya tidak akan tertolong."


"M-Mustahil. Siapa sebenarnya orang yang bisa membuat racun sekuat itu"


"Entahlah, yang pasti dia adalah orang yang jenius. Melapisi pedang dan panah dengan racun, itu adalah strategi kotor dan juga sangat bagus. (sedikit tersenyum) Prajurit, sesampainya di kerajaan, aku ingin melihat hasil dari analisa racun ini. Dan jika memungkinkan, buat banyak racun yang seperti ini dan juga obat penawarnya."


"Baik pangeran."

__ADS_1


See you on the next Chapter....


__ADS_2