
Tepat diatas istana kerajaan Srevin. “Hmm, ketinggiannya sepertinya lebih dari 1000 kaki.” Dimalam hari, dengan ketinggian seperti ini aku sangat yakin tidak akan ada yang menyadari keberadaan naga ini.
“P-Putri, apa kau tidak memiliki rencana lain selain ini?”
“Ini rencana yang sudah aku perhitungkan dengan matang.”
“Maksudmu tidak ada rencana lain yang kau buat karena kau terlalu terburu-buru, seperti itu.”
“Hei, siapa kau bisa membaca pikiranku?!”
“Putri, pikirkan lagi. Ini terlalu beresiko.”
“Sedari awal memang ini yang aku rencanakan. Berhasil tidaknya rencana ini tergantung pada naga ini, mau atau tidaknya dia membantu itu akan berdampak besar pada rencana ini. Dan karena dia sudah membantu, maka aku sangat yakin dengan keberhasilan rencana ini. Sudahlah, kita terlalu banyak membuang waktu. Naga, serang!”
Naga ini mulai bergerak dan menuju langsung ke kerajaan Srevin.
Beberapa saat kemudian.
“N-NAGA!!!” Prajurit yang melihat naga yang semakin mendekat menjadi panik dan mereka lari berhamburan.
Beberapa saat setelah itu.
Di depan gerbang istana kerajaan Srevin. “Wah, sungguh ceroboh sekali para prajurit itu. Meninggalkan istana dalam keadaan tidak terjaga seperti ini.” Tak ada satupun penjaga ataupun prajurit yang menjaga disini, kemungkinan mereka semua sudah lari ketakutan saat melihat naga ini. “Lucy, ayo masuk.”
“Eh, masuk? Begitu saja? Apa kau tidak takut kalau ada jebakan atau semacamnya jika kita masuk kedalam istana itu?”
“Kau terlalu berlebihan, saat ini tengah malam. Dan lagipula serangan ini dilakukan secara diam-diam, mana mungkin pangeran bodoh itu menyiapkan jebakan. Dan lagi, sisa dari prajurit yang ada disini mereka semuanya sudah kabur.”
“Tapi Putri, aku merasakan sesuatu yang tidak enak jika kita masuk kedalam.”
“Huh? Baiklah, kita gunakan cara lain saja.” Melihatnya begitu khawatir, aku mengurungkan niatku untuk memasuki istana ini dengan cara biasa. “Naga, ayo pergi.”
Beberapa lama setelah itu.
Kami sedang terbang dan melihat kondisi sembari mencari dimana Risa di tahan. “Kemungkinan Risa-oneesama ada di kamar pangeran bodoh itu.”
“Putri, bagaimana kau bisa tau?”
“Itu mudah. Pangeran bodoh sepertinya tidak mungkin membiarkan seorang gadis cantik seperti Risa-oneesama berada didalam penjara.”
“T-Tunggu putri, bukankah itu berarti sesuatu yang lebih gawat akan terjadi.”
“Ya, oleh karena itu aku mencari dimana kamarnya berada.”
Beberapa saat kemudian.
Sebuah ruangan yang berbeda dari yang lain. “Kudapatkan kau. Naga, sekarang.”
Setelah itu.
Sfx : Benturan, kaca pecah, dan goncangan.
“A-Ahh, Lucy kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja putri.” Naga ini menabrakkan dirinya ke ruangan yang berbeda itu. Meskipun bukan itu yang aku maksudkan, tapi setidaknya kami berhasil berada didalam kamar pangeran.
“Putri Risa!!” (Lucy) Lucy yang melihat Risa tak sadarkan diri langsung menghampirinya dan cukup jauh di dari Risa aku melihat pangeran bodoh itu juga tak sadarkan diri. “Putri, apa yang harus kita lakukan?”
“Kita tunggu sampai para ketua regu datang kemari. Kemungkinan sebentar lagi mereka akan sampai disini.”
“Kalau begitu, baiklah.”
Beberapa lama setelah itu.
“K-Komandan, apa yang anda lakukan disini?! Dan juga naga itu!!” (Grild) Mereka semua sudah sampai disini.
“Grild, Famus. Aku tugaskan kalian untuk membawa Risa-oneesama ke istana dengan selamat. 1 kesalahan kecil tidak akan aku maafkan.”
“B-Baik.”
“Baguslah. Lucy, ayo pergi.”
“Eh? Y-Ya.”
“Naga, ayo kembali.” Sang naga perlahan mulai terbang dan pergi menjauh.
“Putri, apa kau yakin ini akan baik-baik saja? Tidak ada kemungkinan kalau pangeran Yunas tidak akan menyerangmu dari belakang lagi.”
“Jika hal itu sampai terjadi lagi, maka aku akan menyuruh pasukanku untuk meratakan kerajaannya. Tidak, aku akan menghancurkan kerajaannya sampai tidak tersisa sedikitpun.”
“Putri, itu kedengarannya sangat menakutkan.”
“Aku sudah berbaik hati tidak mengambil rampasan dari perang kali ini, tapi jika hal seperti ini sampai terjadi lagi maka lihatlah apa yang akan aku lakukan.”
“Ya, ya. Aku paham.”
__ADS_1
“Kalau begitu bagus. Sekarang sudah larut, sebaiknya kita segera bergegas. Para ketua regu mungkin akan sampai di kerajaan besok pagi.”
“Kita akan tidur dimarkas?”
“Ya, jika dihitung maka besok seharusnya kita sudah sampai diistana. Dan besok juga menjadi akhir dari perjalanan yang seharusnya. Aku akan menyiapkan scenario seakan kita baru saja pulang dari kerajaan Srevin tanpa masalah.”
“B-begitu, aku serahkan padamu.”
“Bagus.”
Esoknya.
Pagi hari, gerbang utama kerajaan Thorwn. “Putri Iona, pangeran Lucy. Selamat datang.” (Penjaga)
“Selamat pagi para penjaga.”
“Putri, dimana kereta kuda yang anda naiki?”
“Kereta kudanya rusak, oleh karena itu aku kemari berjalan kaki untuk memberitahu hal itu.”
“Berjalan kaki?”
“Aku sedang terburu-buru, jika menunggu kereta kuda itu selesai diperbaiki akan memakan waktu lama.”
“M-maaf tuan putri, lalu dimana kereta kudanya?”
“Ada disana, oh ya aku ingin kalian membawanya. Dan 1 hal lagi, Risa-oneesama sedang tidur didalam kereta kuda itu, aku harap kalian tidak menganggunya.”
“B-Baik.” Aku dan Lucy masuk kedalam.
“Jadi itu rencanamu?”
“Ya, bagaimana hebat bukan.”
“Setidaknya itu berhasil. Tapi, apa kau yakin meninggalkan putri Risa dalam keadaan seperti itu?”
“Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja karena Risa-oneesama sedang tertidur. Hoaam, bicara soal tidur, aku sangat mengantuk.” Aku tidak tidur semalaman dan sudah jelas kalau ini membuatku begitu lelah. “Aku akan kembali ke istana, kau sebaiknya segera kembali juga. Sampai jumpa besok di sekolah.” Aku pergi menuju kea rah istana, tapi… ‘Eh?’
Gubrak.
Sfx : Terkapar.
Pandanganku menjadi kabur, dan perlahan mulai menghitam. ‘Ha, sepertinya aku terlalu memaksakan tubuh lemah ini lagi.’ Karena aku terlalu memaksakan diri, dan inilah akhirnya. ‘Betapa lemahnya tubuh ini. Sudahlah.’ Aku putuskan untuk menurutinya, secara perlahan mulai menutup mata.
Sfx : bersin.
“Iona, sebaiknya kau jangan memaksakan diri. Kau masih belum sembuh.”
“Aku minta maaf, Risa-oneesama.” Terbaring lemah diatas kasur, saat ini aku tengah terjangkit penyakit flu dan juga demam betapa tidak beruntungnya diriku.
“Jika kau butuh sesuatu katakan saja.”
“Baik.”
“Aku akan pergi sebentar, ingat kau jangan bergerak sedikitpun dari tempat tidur, mengerti.”
“Baik.”
“Aku akan kembali sebentar lagi, jadi jangan khawatir.”
“Ya.” Risa pergi. “Ha, ini menyebalkan.” Padahal ada beberapa hal yang harus aku lakukan, tapi jika begini keadaanya maka aku tidak bisa melakukannya.
Beberapa menit kemudian.
Risa tak kunjung kembali, dan karena aku tak bisa melakukan apapun aku hanya bisa diam disini.
Sfx : Pintu terbuka.
“Risa-one… Ah, ternyata kau.” Aku kira Risa, ternyata Lucy yang datang kemari. “Ada apa?”
“Kau sedang sakit, jadi wajar saja aku menjengukmu.”
“Begitu…”
“Dan lagi, saat kau sakit kau terlihat imut.”
“Jadi kau bilang kalau aku lebih baik sakit saja, begitu.”
“T-tidak begitu, ahhh. Berbicara denganmu lebih sulit dari apa yang aku bayangkan.” Ya, setidaknya aku mengerti apa yang ingin dia katakan.
“Lucy, aku punya tugas untukmu.”
“Huh? Apa?”
“Sebenarnya aku yang ingin melakukannya, tapi karena kondisiku saat ini sedang seperti ini aku akan menyuruhmu saja.”
__ADS_1
“Iya, katakan apa yang harus aku lakukan?”
“Pergi ke markas dan antarkan surat yang sudah aku buat diatas meja itu.”
“Surat?” Lucy mengambil surat yang sudah aku siapkan diatas meja. “Kau yang menulis semua ini?”
“Aku tau dengan batas kemampuanku, aku menulisnya jauh hari. Dan aku rasa sudah saatnya aku memberikan itu.”
“Ha, baiklah. Dasar tuan putri yang manja.”
“Terserah kau mau bilang apa, aku ingin tidur.”
“Oh ya putri, ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
“Apa?”
“Bisa kau membantuku...” Pembicaraannya sangat serius seakan dia memang sangat membutuhkan sebuah bantuan.
“Saat aku sudah sembuh, kau bisa katakan apa yang kau inginkan.”
“Baik, terimakasih.” Lucy pergi.
Ini pertama kalinya aku mendengarnya berkata seperti itu. ‘Ha, sepertinya masalah yang harus aku hadapi belum juga usai.’ Entah apa yang akan aku lakukan selanjutnya, tapi sepertinya masalah baru akan terus berdatangan. ‘Ini menyebalkan.’
Beberapa hari berlalu dan aku sudah pulih. “Iona, jika kau ingin menggunakan tubuh ini silahkan saja. Aku akan beristirahat.” Aku sudah menyelesaikan apa yang aku mulai, dan aku sudah terlalu lelah. “Selamat tidur.”
“Putri, selamat pagi!” (Lucy)
“Ha, bisa kau berhenti berteriak seperti itu saat datang kekamar seorang gadis.”
“Ahh, maaf. Tapi, dibandingkan dengan gadis kau lebih mirip dengan seorang komandan yang ambisius.”
“Terserah kau saja. Lalu, ada perlu apa kau datang kemari?”
“Aku rasa kau tidak melupakannya.”
“Huh? Apa?”
“Eh, serius, kau lupa?”
“Ada apa? Jika tidak ada hal penting cepat pergi, aku mau tidur.”
“Eeeeh!! P-Putri, kau bilang kau akan membantuku menyelesaikan masalahku. Kenapa kau bisa lupa!!”
“Ah, ternyata itu.” Sebenarnya aku ingat, hanya saja aku berpura-pura lupa. “Kalau begitu, jelaskan.”
“Baiklah.” Lucy mulai menjelaskan. “Putri, aku butuh bantuanmu untuk…”
“Ahh, Risa-oneesama, ada apa datang kemari.”
“P-Putri Risa… He, kenapa kau berbohong.”
“Hahaha, maaf. Aku hanya mengetesmu dengan candaan kecil ini, aku kira kau akan berbicara omong kosong.”
“Putri, aku ini benar-benar serius.”
“Ha, baiklah.” Sangat jarang melihat sikapnya yang seperti ini. Lucy kemudian menjelaskan apa yang ingin dia katakan padaku.
Beberapa lama setelah itu.
“Hanya masalah kecil seperti itu kau minta bantuanku, kenapa kau tidak lakukan sendiri saja.”
“Hal itu memang kecil dan aku memang bisa menyelesaikannya sendiri, tapi…”
“Tapi?”
“Ada beberapa hal lainnya yang harus dilakukan dan aku sangat butuh bantuanmu, putri aku mohon.”
“Ha, jika saja kau bukan bawahanku pasti sudah aku abaikan.”
“Tapi nyatanya, aku adalah wakilmu.”
“He, siapa yang bilang kau adalah wakil. Kau hanya sebagai seorang asistenku saja. Tapi, baiklah aku terima tawaranmu itu. Lalu, kapan kita akan berangkat.”
“Beberapa hari lagi.”
“Baiklah, biarkan aku hidup dengan tenang sebelum masalah itu datang.”
“Huh?”
“Lupakan, sudahlah. Sebaiknya kau antarkan itu, cepat!!”
“B-baik!!”
‘Ha, setidaknya aku akan membiarkan Iona menikmati beberapa hari sebelum hari itu tiba. Iona, nikmati waktumu, aku juga akan menikmati waktu istirahatku.’
__ADS_1