
"T-Tunggu sebenar Iona, kenapa kau meminta hal itu pada ayah?"
"Aku mohon ayah."
"Tapi, itu sudah termasuk pasukan dalam jumlah yang agak besar."
"Cih, sepertinya ini tidak akan berhasil. Sepertinya aku harus menggunakan cara itu." Aku perlahan mendekat ke arah ayah, memengang tangganya. Dan memasang wajah sedih. "A-Apa ayah tidak mau mengabulkan permintaan putrimu ini. Ahhh... Ini sangat memalukan, sudah aku duga aku tidak biasa melakukan hal seperti ini."
"I-Iona jangan menagis, baiklah ayah akan memberikan apapun yang kau inginkan asalkan kau jangan menagis."
"Benarkah?"
"Iya."
Aku kemudian memeluk ayah. "Terima kasih ayah, aku menyayangi ayah." Rencana penaklukan berhasil, dan sekarang adalah saat yang dirunggu-tunggu.
---------
Siang hari, Tempat area militer
Sebenarnya diumurku yang sekarang, aku masih tidak boleh ketempat ini. Tapi karena permintaanku tadi aku jadi diperbolehkan ke tempat ini. "Wah, jadi disini tempat para prajurit kerajaan kita berlatih." Aku kesini ditemani oleh ayahku.
"Iona, sebenarnya untuk apa kau membutuhkan prajurit yang kau minta itu?"
"Eh.." Aku harus merahasiakannya. "A-Aku, aku ingin mencoba melatih mereka."
"Huh? Melatih mereka? Itu tidak mungkin, kau bahkan tidak mengerti apapun tentang perang. Jika tidak ada keperluan yang penting, sebaiknya jangan meminta hal ini pada ayah."
"Ayah, aku mohon. Aku sangat butuh. Sebenarnya, aku ingin berinteraksi dengan orang lain. Dan aku pikir cara ini cukup bagus."
"Bukannya kau bisa meminta hal lain selain ini?"
"Tidak, aku menginginkan ini."
"Kau seperti anak kecil saja."
Keegoisanku memang terlihat seperti anak kecil, tapi jika tidak seperti itu rencana yang sudah aku buat akan sia-sia. "Ayah, aku mohon."
"Ha, baiklah. Tapi ingat, kalau mereka juga memiliki hak untuk tidak mematuhi perintah yang tidak masuk akal darimu."
"Tenang saja, aku tidak akan menyuruh mereka untuk berhadapan dengan hewan buas atau saling membunuh, aku hanya ingin bermain dengan mereka. Lagipula 2 bulan lagi aku'kan akan masuk ke sekolah kerajaan. Jika aku tidak terbiasa dengan keramaian dan berinteraksi dengan orang lain mungkin aku tidak akan bisa mendapatkan banyak teman."
__ADS_1
"Begitu, ya. Ya sudah."
---------
"Ini dia prajurit yang kau inginkan, 200 prajurit biasa dan juga 100 prajurit pemanah."
"Wah... Banyak sekali." Jika dilihat secara langsung, 300 orang ini terlihat sangat banyak. "Terima kasih ayah, aku menyayangimu ayah."
"Ayah juga. Kalau begitu, ayah akan kembali masih ada pekerjaan yang harus ayah lakukan."
"Ya, hati-hati di jalan." Ayah pergi dan disini hanya tinggal aku dan 300 prajurit yang aku inginkan.
---------
"Dia hanya seorang gadis, apa yang akan dia lakukan pada kita? Menemaninya bermain rumah-rumahan?" (???) Aku mendengar desas-desus suaradi antara para prajurit itu.
"Mereka meremehkanku karena aku seorang gadis kecil." Mereka saling berbisik-bisik membicarakanku. "Sudahlah." Aku kemudian maju dan berdiri tepat dihadapan mereka.
Yang harus aku lakukan pertama kali adalah mencoba untuk akrab dengan mereka. "Perkenalkan, namaku Iona L. Thorwn. Kalian pasti sudah tau denganku. Aku-..." Jika aku melanjutkan kata-kataku ini akan membuang waktu. Sebaiknya aku langsung ke intinya saja. "Aku ingin kalian semua berbaris menjadi 4 regu dengan 50 prajurit biasa dan 25 prajurit pemanah di setiap regunya."
---------
Mereka semua berbaris seperti yang aku katakan. "Baiklah. Ketua regu pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Bisa masuk ke dalam, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Dan untuk pasukan lainnya, kalian boleh beristirahat."
Aku masuk terlebih dahulu ke dalam sebuah ruangan yang sudah disediakan untuk berdiskusi. "Ha, ha, ha. Ini lebih memelahkan dari apa yang aku kira." Berdiri didepan banyak orang, berteriak, memberi perintah. Ini sangat melelahkan bagiku.
"Maaf tuan putri Iona, kami datang sesuai perintah anda. Apa yang ingin anda bicarakan."
"Sebelum itu, aku tau kalau kalian meremehkanku karena aku adalah seorang gadis."
"T-Tidak, kami-..."
"Tapi tenang saja." Meskipun begitu, apa yang aku katakan barusan ternyata ada benarnya. "Aku ingin kalian melihat ini." Aku mengeluarkan kertas yang aku bawa dari kamar.
"Tuan putri, ini..."
"Ini adalah peta hutan bagian utara..." Sebelum aku kesini, aku sudah menggambar peta ini. Ini adalah tindakan pencegahan.
"H-Hebat, ini sangat akurat."
"Ini peta yang aku buat, dan hanya ada 80% kemungkinan akurat. Jadi masih ada yang harus aku perbaiki lagi." Aku tidak yakin kalau peta yang aku buat ini akurat 100%, karena aku hanya menyalin denahnya yang ada di perpustakaan kerajaan dan membandingkannya dengan yang ada di beberapa buku. Lalu menyalinnya di sebuah kertas, dan jadilah peta ini. Oleh karena itu, untuk keakuratannya aku tidak yakin 100% akurat.
__ADS_1
"Tuan putri, tanda ini?"
"Ah, ini." Aku juga memberi tanda X untuk tempat yang sangat berguna. "Nanti kau akan tau sendiri. Untuk sekarang, aku ingin melihat cara kedua kubu prajurit saling berlatih." Karena aku belum pernah melihatnya, aku jadi sedikit penasaran.
"Baiklah, biar saja yang menunjukkannya pada anda."
"Huh? Siapa?"
"Nama saya Grild, saya yang ditunjuk sebagai ketua regu pertama."
"Begitu, ya. Para regu memilih ketua mereka sendiri." Karena bukan aku yang memilihkan ketuanya, jadi aku tidak tau siapa saja nama para katua regu yang aku pimpin saat ini. "Mohon bantuannya."
"Baik."
-----------
Aku berkeliling di tempat ini sambil melihat para prajurit yang berlatih. "Tidak buruk juga, tapi kurang bagus." Pelatihan mereka tidak buruk, hanya saja jika sepeti ini kemampuan para prajurit ini tidak akan berkembang.
Yang mereka lakukan adalah menyerang 1 sama lain secara bergantian. "Itu sangat tidak efektif." Kemudian aku melanjutkan perlanan melihat cara latihan prajurit lainnya.
----------
Tempat latihan prajurit memanah.
"Ini sangat buruk. Pelatihan mereka sangat buruk." Aku jadi heran bagaimana cara mereka memenangkan pertempuran dengan pelatihan yang seburuk ini. Yang mereka lakukan adalah memanah target diam, dan menurutku itu sangat tidak berguna. "Ha, apa yang mereka lakukan?"
"Mereka sedang berlatih, ini adalah bagian yang sangat penting bagi prajurit memanah." (Grild)
Ia berkata seperti itu seolah tidak ada yang aneh dengan pelatihan mereka. "Ha, sepertinya ada banyak hal yang harus aku lakukan." Setelah melihat pelatihan prajurit memanah, kami kembali.
------------
"Pasukan, siap." Tepat saat aku datang, para pasukan itu berbaris dengan rapi.
"Setidaknya mereka cukup bagus dalam hal ini." Aku kemudian kembali berdiri di depan mereka, dan Grild kembali ke tempatnya.
"Mulai besok, aku akan membuat pelatihan baru untuk kalian."
"T-Tunggu tuan putri, pelatihan baru. Apa maksudnya ini?"
"Tenang saja, aku tidak akan membuat latihan yang keras. Ini hanya sebagai langkah awal saja. Itu saja untuk hari ini, kalian boleh bubar. Dan sampai jumpa lagi besok." Pelatihan yang sudah aku rencanakan untuk keadaan darurat, aku rasa aku harus menggunakannya sekarang. Meskipun ini hanya permulaan saja, aku rasa tidak ada salahnya mencobanya.
__ADS_1
Pelatihan yang akan aku lakukan, mungkin akan semakin berkembang tanpa mereka sadari. Dan aku yakin dengan 300 pasukan aku bisa mengalahkan sebanyak apapun prajurit yang datang menyerang. Aku sangat yakin dengan hal itu, karena apapun yang sudah aku rencanakan pasti akan berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan.
See you on the next Chapter....