Princess In Another World

Princess In Another World
Jalan-jalan yang Hancur


__ADS_3

Setelah selesai bersantai di kafe, kami melanjutkan perjalanan menuju ke taman kota.


---------


"Jadi ini taman kota." Banyak bungan yang terbentang luas di tengah-tengah kota, terlihat sangat menyenangkan.


"Tuan putri, apa ini pertama kalinya anda datang kemari." (Ria)


"Aku tidak suka kalian memanggilku seperti itu."


"M-Maafkan aku, aku masih belum terbiasa."


"Kalau begitu, biasakan dirimu. Mulai saat ini, panggil aku Iona, atau putri Iona saja. Aku tidak suka kalian menyebutku dengan sebutan selain itu."


"Baik T, maksudku Putri Iona." (Ria)


"Putri Iona, ayo kesini ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." (Lysia) Karena dia memanggilku akupun menghampirinya yang sudah berada cukup jauh di depanku.


"Lysia, ada apa?"


"Lihat ini." Ia menunjuk ke arah salah satu bunga  yang ada di dekatnya.


"Ada apa?"


"Lihatlah, sebentar lagi..."


"Wah, ada apa ini?" (Rine)


"Aku juga mau lihat." (Sofia)


Beberapa saat kemudian


Perlahan, bunga yang ditunjuk oleh Lysia mulai mekar. "Wah, indahnya." (Ria)


"Iya, ini sangat indah." (Rine)


Ini pertama kalinya aku melihat kejadian ini, ini adalah kejadian yang sangat langkan menurutku. "Lysia, bagaimana caramu bisa tau kalau bunga itu akan segera mekar?"


"Eh... Entahlah, tiba-tiba saja aku merasakan firasat kalau bunga ini akan mekar. Itu saja."


"Begitu." Ini hanya kebetulan atau dia memang memiliki potensi, aku masih belum bisa mengetahuinya. "Ini menarik." Aku kembali mendapatkan hal yang cukup menarik untuk aku ungkapkan, tapi aku harus menundanya dulu karena saat ini aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa.


---------------


Setelah cukup lama berada disini.


"Hari sudah mau sore, bagaimana kalau kita pergi ke pantai sekarang." (Lysia)


"Ayo.." Ini dia yang aku tunggu-tunggu, menghabiskan sisa hari ini dipantai.


Kami segera pergi.


----------


Karena jaraknya cukup jauh dari kerajaan, kami menggunakan kereta kuda untuk mempersingkat waktu. Dan setelah beberapa lama, akhirnya kami sampai.


"Wah, jadi ini pantainya." Terlihat sangat begitu indah, hanya ada pasir dan tidak ada hal lain seperti yang ada di duniaku dulu. Tapi, karena hal itu aku tak melihat ada apapun yang membuat tempat ini terlihat rusak. "Setidaknya aku harus membuat baru renang dulu tadi."


"Baju renang?"


"Ahh... Bukan apa-apa." Disini tidak ada yang membuat hal seperti itu, jadi wajar mereka terlihat kebingungan. "Ayo kita mermain."


"Ayo!"


Dimulai dari membuat istana pasir, hingga bermain air. Hari ini menjadi hari yng sangat menyenangkan. Dan hanya tinggal 1 hal lagi yang belum selesai. "Putri Iona, ayo kesini. Disini ada tempat yang sangat pas untuk menikmati matahari terbenam di pantai." (Lysia)


"Baik." Aku mengikuti mereka ber-4 menuju ke tempat yang mereka sebutkan padaku.


----------------


"Wah... Ini sangat luar biasa." Saat ini kami sedang berada di tebing yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam.

__ADS_1


"Putri, lihat mataharinya sudah mau terbenam." (Ria)


"Indahnya." (Rine)


"Sangat indah." (Sofia)


"Ria, Rine, Sofia, Lysia. Aku ingin memberikan sesuatu pada kalian."


"Eh, sesuatu?" (Lysia)


"Ini." Aku memberikan mereka masing-masing 1 mendali yang sudah aku bawa secara diam-diam.


"Putri Iona, bukannya ini mendali kerajaan." (Ria)


"Rakyat biasa seperti kami tidak pantas untuk mendapatkannya." (Rine)


"Iya, itu benar." (Sofia)


"Sudah, ambil saja. Kalian adalah temanku, dengan mendali itu kalian bisa bermain keistana sesuka kalian. Saat itu tiba, aku ingin mengajak kalian berkeliling istana sebagai tanda ucapan termakasihku karena sudah diajak untuk bersenang-senang hari ini. Lagipula kalian sudah mengajakku pergi ke berbagai tempat hari ini, aku sangat senang."


"Putri Iona, apa ini tidak apa-apa. Kami ini rakyat biasa, jika sampai ada yang tau kami memiliki ini pasti kami-..." (Rine)


"Tenang saja, kalian tida perlu khawatir. Jika terjadi hal seperti itu, kalian tinggal bilang saja. 'Aku adalah temannya Iona, ia yang memberiku mendali ini untuk bermain bersama dengannya diistana'. Seperti itu."


"Tapi, dengan posisi kami saat ini. Tidak mungkin ada orang yang percaya." (Lysia)


"Tenang saja, percayakan semuanya padaku."


"B-Baiklah. Kami akan menerimnya. Terima kasih banyak putri Iona." (Ria)


"Ya."


"Putri, lihat mataharinya mulai terbenam."


Perlahan matahari mulai turun dan warna merah dari pantulan cahayanya terlihat begitu indah, tapi... "Eh, apa itu?" (Lysia) Ia menunjuk ke arah tepat dimana matahari itu terbenam.


"Lysia, ada apa?"


"Sesuatu?" Aku sama sekali tidak melihatnya. "Rine, Sofia, Ria, apa kalian melihatnya?"


"Tidak, kami tidak melihat apapun."


"Apa yang kalian katakan, itu terlihat sangat jelas. T-Tunggu sebentar, bukannya itu.."


"Lysia, ada apa?"


"Itu sebuah perahu besar, dan mereka sedang menuju kesini."


"Apa..." Mendengar hal itu, aku langsung mendekat ke tebing untuk memastikannya.


"Putri, awas berbahaya."


Dan tepat seperti yang dikatakan Lysia, dari kejauhan aku melihat 3, bukan. Tapi 5 buah kapal besar yang sedang menuju kesini. "Sial, kenapa harus disaat seperti ini." Aku paling benci seseorang yang mengganggu kesenanganku. "Akan aku habisi mereka."


"Putri, sebaiknya kita harus segera kembali. Tempat ini sudah tidak aman lagi."


Karena itu, kami kembali dan rencana terakhirku untuk melihat matahari terbenam hingga akhir gagal akibat kedatangan para kapal-kapal itu. 


---------------


Kami kembali menggunakan kereta kuda yang kami gunakan saat datang kesini. "Putri Iona..."


"Putri, apa kau baik-baik saja."


"Y-Ya, aku baik-baik saja." Aku saat ini merasa sangat kesal, dan kapal itu. Aku tau siapa dalang di balik semua ini. "Kerajaan Victoria." Para kapal itu berasal dari kerajaan Victoria, dan sepertinya mereka ingin memulai perang dengan kerajaanku. "Akan aku bantai seluruh pasukannya, dan tidak akan aku biarkan satu orangpun lolos." Mereka sudah melakukan beberapa kesalahan yang tidak bisa di maafkan. Menggangguku saat sedang bersenang-senang, dan mereka juga berniat menyerang kerajaan ini, dan 1 hal lagi kesalahan yang mereka lakukan menjadikanku sebagai musuh mereka.


"Putri Iona, kau terlihat sangat kesal." (Sofia)


"Tidak, aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu cemas padaku."


"Tenang saja putri Iona, kapan-kapan kita pergi melakukan hal itu lagi." (Ria)

__ADS_1


"Ya." Meskipun begitu, aku akan membantai mereka karena sudah menggangguku.


Hari bahagia yang pertama kali aku rasakan harus hancur karena ulah mereka, mereka harus mendapatkan balasannya.


------------------


Area militer


Sesampainya di kerajaan, aku tidak langsung kembali melainkan menuju ke area militer untuk menyusun rencana.


Ke-4 ketua regu kembali. "Maaf terlambat komandan, yang tadi itu." (Grid)


"Iya, mereka pasukan dari kerajaan Victoria." Karena mereka mengawasiku mereka juga melihat kejadian itu. "Laren, Dirk, Famus, dan Grild. Aku ingin kalian mengirim 4 orang yang bisa memata-matai mereka. Dan berikan informasi sebanyak-banyaknya padaku."


"Komandan, itu berarti..." (Laren)


"Ya, kita akan menghabisi mereka. Aku ingin kalian bergerak cepat setelah para pasukan itu menginjak tanah, dan serangan akan kita lakukan besok pagi sebelum matahari terbit. Oleh karena itu, aku ingin kalian menyiapkan diri kalian." Jika tidak ada masalah, rencana ini akan berjalan mulus. Tapi jika ada sedikit saja masalah aku harus kembali memperbaikinya, dan itu sangat melelahkan dan akan menyita banyak waktu lagi. "Informasikan hal ini pada pasukan yang lain, dan suruh mereka untuk bersiap-siap."


"BAIK KOMANDAN."


"Itu saja dariku, nanti aku akan kambali untuk melihat informasi apa saja yang bisa kalian dapatkan. Kalian boleh bubar."


"BAIK."


--------------


Aula istana


Entah sebab apa, raja menyuruh kami untuk berkumpul di ruang aula ini. "Ayah, ada apa? Kenapa ayah menmanggil kami? Apa ada masalah?"


"Aku baru saja mendengar sesuatu hal yang cukup mengkhawatirkan dari prajurit, mereka bilang kalau pasukan dari kerajaan Victoria sedang menuju kemari dengan membawa banyak sekali armada laut mereka."


"A-Apa, itu tidak mungkin. Yang mulia, kita harus segera menyiapkan pasukan kita untuk berperang." (Perdana menteri)


"Aku sudah melakukannya, dan nanti malam kita akan menyerbu mereka."


"Serangan malam, ya. Tidak buruk juga." Mungkin, waktu saat para pasukan Victoria itu sampai di daratan adalah malam hari, dan dengan rencana itu akan sangat menguntungkan. Tapi, aku tidak akan menggunakan rencana itu jika aku bahkan tidak mengentahui apapun tentang jumlah dari pasukan musuh dan hal lain yang bisa membuatku kalah dalam pertempuran.


"Yang mulai, bukannya lebih baik menyuruh pasukan itu dalam tugas ini?" (kepala prajurit militer)


"Pasukan itu?" Pasukan siapa yang dia maksud.


"Benar juga yang mulia, mereka pasti bisa mengatasi hal ini dengan mudah. Mereka juga sudah berhasil membuat pasukan Ruens lari, jika hanya pasukan Victoria mereka pasti bisa mengatasinya dengan mudah." (perdana mentri) 


"Ho... Begitu." Dari perkataannya, aku sudah tau pasukan siapa yang ia maksud.


Saat ingin memjawab, ayah terlebih dahulu melihatku. Ia tau kalau pasukan itu adalah milikku, dan ia pasti sudah tau kalau apa yang sudah menjadi milikku tidak akan aku berikan dengan mudah.


"Ha... Aku akan mencoba membujuk sang komandannya. Siapa tau dia ingin membantu kita."


"Komandan?" (Perdana mentri)


"Oh ya, kalau tidak salah pasukan itu dipimpin oleh seorang komandan yang sangat hebat. Tapi, siapa komandannya masih dirahasiakan. Saya saja tidak tau siapa komandan yang memimpin pasukan itu." (Kepala prajurit militer)


"A-Apa katamu!" (perdana mentri)


Itu sudah jelas, jika sampai ada yang tau akulah komandannya, akan terjadi hal yang sangat merepotkan. Oleh karena itu aku merahasiakannya, dan ayahku juga ikut menjaga rahasia itu. "Sudah cukup..." Mereka semua diam. "Aku akan mencoba untuk membujuk komandan itu. Kalian semua, silahkan kembali."


----------------------


Kamar


Pada akhirnya, ayah menyuruh aku dan juga yang lainnya untuk tidak keluar dari kamar. "Mana mungkin aku melakukan hal itu." Sebelum kembali ke kamar, ayah sempat mengajakku berbicara dan yang ia ingin bicarakan adalah. Ia ingin meminta hak pasukanku di berikan padanya, tentu saja aku menolaknya. 


Meskipun begitu, ayah sepertinya sudah tau kalau aku menjawab seperti itu dan ia membiarkanku. Lagipula ayah pasti tau kalau aku tidak akan membiarkan kerajaan ini sampai diambil alih orang kerajaan lain, dan oleh karena itu ayah membiarkanku.


"Aku harap mereka mendapatkan informasi yang penting." Sebenarnya aku tidak butuh banyak informasi, sedikit infomasi saja sudah cukup asalkan itu adalah informasi yang penting. "Ha... Aku bersabar."


Menunggu dan terus menunggu hingga waktunya tiba.


See you on the next Chapter....

__ADS_1


__ADS_2