Princess In Another World

Princess In Another World
Perkembangan


__ADS_3

Pagi hari, di sekolah kerajaan.


“Lysia, hari ini putri terlihat berbeda dari sebelumnya.” (Rine)


“Iya, sepertinya ada sesuatu yang sudah terjadi padanya.” (Lysia)


“Bagaimana kalau kita tanyakan padanya saja.” (Sofia)


“Itu ide bagus.”


Beberapa saat kemudian.


“Putri, kau terlihat sedih hari ini. Apa ku baik-baik saja?” (Lysia)


“A-aku baik-baik saja. Maaf jika membuat kalian khawatir.”


“Putri, jika kau ada masalah jangan sungkan, katakan saja. Kami pasti akan membantu.” (Ria)


“Terimakasih.”


Sore hari, area militer markas khusus.


“Komandan, apa anda baik-baik saja? Hari ini anda terlihat berbeda dari biasanya, apa ada sesuatu yang sudah terjadi?” (Grild)


“Maaf Grild, sepertinya aku sedang kurang sehat.”


“Jika seperti itu, sebaiknya anda beristirahat saja. Anda tidak perlu memaksakan diri anda jika anda sedang tidak sehat.”


“Terimakasih.”


Di belakang markas khusus.


“Kau masih menolakku, ya.” Iona mencoba untuk menyentuh naga yang ada dibelakang markas, tetapi dia selalu ditolak. “Apa karena aku bukan Ari?” Iona duduk disamping naga. “Aku sangat iri denganmu karena bisa menyentuh Ari, meskipun menggunakan tubuh ini aku tetap merasa iri denganmu.”


Naga itu hanya sedikit mengibaskan ekornya. “Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?” Naga itu perlahan mulai membuka matanya dan melihat ke arah Iona yang sedang duduk disampingnya. “Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi.”


Grrrrr.


Naga itu menggeram. “Huh? Ada apa?” Naga itu perlahan mendekat ke arah Iona. “Kau, terimakasih.” Iona terlihat begitu senang karena akhirnya ia bisa menyentuh naga yang selama ini Ari sentuh.


Beberapa bulan berlalu, dan ujian pertama di sekolah kerajaan sudah selesai diadakan.


Pagi hari, sekolah kerajaan, papan pengumuman.


“Wah putri Iona, kau sangat hebat. Kau mendapatkan nilai sempurna, dan peringkatmu adalah yang tertinggi.” (Lysia)


“T-terimakasih.”


“Meskipun begitu, ternyata pangeran Lucy hebat juga. Dia hampir bisa menyainginmu.” (Rine)


“Pangeran Lucy itu jenius, tapi dia masih kalah dengan Putri Iona. Putri, kau sangat luar biasa.” (Sofia)


“T-terimakasih.”


“Putri, kau terlihat murung. Apa yang sudah terjadi denganmu?” (Ria)


“A-aku baik-baik saja.”


“Putri, kau selalu bilang seperti itu saat kami menanyaimu. Tapi wajahmu berkata kalau kau sedang dalam masalah.”


“B-Begitu, maaf sudah membuat kalian cemas. Ha…” Iona mencoba untuk tersenyum. “Aku baik-baik saja, jadi kalian jangan khawatir.” Setelah mengatakan itu Iona pergi.


“Ria, apa yang sebenarnya terjadi pada putri? Aku sangat khawatir dengan kondisinya sekarang.” (Lysia)


“Aku juga, tapi ia terlihat tidak ingin membicarakannya. Sepertinya dia ingin kita tidak ikut campur.” (Ria)


“Meskipun begitu, aku tidak bisa terus-terusan melihat wajahnya yang seperti itu. Ia terlihat begitu tersiksa.”


Sore hari, area militer markas khusus.


“Komandan, komandan...” (Laren)


“Huh, ya? Ada apa?”


“Komandan, sebaiknya anda tidak usah bekerja dulu untuk sementara waktu. Anda sepertinya kurang sehat.”


“T-Tidak, aku baik-baik saja.”


“Jika begitu, apa anda mendengar apa yang saya bicarakan tadi?”


“Eh?”


“Ha, komandan. Beristirahatlah, saya dan yang lain akan mencoba untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Sebaiknya anda mencari suasana baru.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Malam hari, kamar.


“Iona, apa kau ada didalam?” (Risa)


“Risa-oneesama, ada apa?” Risa masuk ke dalam kamar.


“Tadi ibumu menyuruhku untuk mendatangimu, dia bilang kalau kau lagi-lagi tidak ikut makam malam.”


“M-maaf..”


“Apa kau sedang sakit, atau kau ada masalah? Ceritakan saja.”


“Tidak, aku baik-baik saja.”


“Iona, kau tidak bisa berbohong padaku. Aku tau kau mengalami sesuatu, katakan saja padaku.” Iona secara tiba-tiba langsung memeluk Risa. “I-Iona..” Pelukannya semakin kencang, tapi Risa hanya menerimanya sembari mengelus kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Iona melepas pelukannya. “Terimakasih Risa-oneesama. Aku sudah baik-baik saja sekarang, maaf sudah membuatmu cemas.”


“Apa kau yakin sudah baik-baik saja?”


“Ya, aku baik-baik saja.”


“Kalau begitu, jika kau memiliki masalah lagi jangan sungkan katakan saja padaku.”


“Baik.” Risa pergi.


1 tahun pelajaran di sekolah kerajaan berlalu, dan hanya tersisa 2 tahun lagi.


Disuatu pagi yang cerah.


“Hoaammm, sudah berapa lama?” Aku tak ingat kapan terakhir kali aku bangun, tapi sepertinya ini sudah cukup lama semenjak aku tertidur terakhir kali. “Kira-kira apa yang sudah terjadi, ya.”


Aku bangun dan bersiap-siap untuk pergi. Aku tak tau apa yang sudah terjadi, jadi aku hanya akan mengikuti alur saja.


Sekolah kerajaan.


“Putri Iona, selamat pagi.”


“Selamat pagi juga.”


Kelas.


‘Jadi disini, ya kelas barunya.’ Ini adalah tahun ke-2 di aku berada di sekolah kerajaan. ‘Tinggal 2 tahun lagi, ya.’ Entah kenapa aku merasa kalau 1 tahun ini akan berlalu begitu cepat seperti sebelumnya. Itu mungkin karena aku akan sering tertidur dan Iona yang akan menggunakan tubuhnya. ‘Ha, sudahlah.’


Sore hari, area militer markas khusus.


“Komandan, selamat datang. Kami sudah merekrut 300 pasukan tambahan sesuai dengan apa yang anda minta.” (Grild)


“B-Begitu.” Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya Iona memiliki alasannya tersendiri. “Kalau begitu, aku akan memeriksa dokumen yang ada didalam. Kalian latihlah pasukan itu dengan benar.”


“Baik.”


Ruangan komandan.


“Eh? Apa ini?” Seluruh data yang aku buat berubah, baik dalam bidang pertanian, peternakan, ekonomi, dan hal lainnya diubah. “Ha, kau melakukannya, ya.” Meskipun itu bukan hal yang buruk, tapi aku tak menyangka kalau Iona akan melakukan hal rumit seperti ini. Sebenarnya aku sudah pernah ingin mengubahnya, tapi karena masalah yang tak ada habisnya jadi aku putuskan untuk menundannya sementara waktu. “Sepertinya kau sudah bisa mengatasi hal seperti ini sekarang.” Iona sudah berkembang, setidaknya ia sudah bisa menyelesaikan masalah yang cukup rumit ini. Entah tanpa bantuan atau dengan bantuan, tapi aku cukup senang dengan hal itu.


“Buku ini.” Aku melihat sebuah buku yang tak asing di meja kerjaku. “Iona, sudah aku bilang jika kau memiliki sesuatu yang penting kau harus menyimpannya baik-baik.” Buku milik Iona yang pernah aku lihat sebelumnya disini.


Di belakang markas.


“Kau masih ada disini.” Naga itu, aku masih melihatnya berada dibelakang markas dan ia tertidur.


Sfx : pukul.


Aku memukul kepalanya seperti yang biasa aku lakukan. “Bangun, apa kau tidak memiliki sesuatu yang ingin kau lakukan?” Ia hanya menggeram. “Bagaimana kalau ajak aku jalan-jalan..”


Beberapa saat kemudian.


“T-TURUNKAN AKU!!! AKU HANYA BERCANDA!!! TURUNKAN AKUUUUUU!!!”


Setelah cukup lama histeris.


“Kau kejam.” Diluar dugaan, naga itu membawaku terbang. Tapi disisi lain. “Ha, anginnya sangat nyaman.” Saat ini aku tengah berada di tepi pantai. Aku mencoba untuk menikmati matahari terbenam sebelum akhirnya kembali pulang.


Malam hari.


“Komandan, apa kau ada didalam?”


“Huh? Laren? Masuklah.”


“Terimakasih.” Laren masuk ke dalam kamarku.


“Ada apa?”


“Kami sudah menemukannya, letaknya ada di kerajaan Finders.”

__ADS_1


“Huh?” Aku tak tau apa yang ia katakan, tapi sepertinya Iona sudah menyuruhnya melakukan sesuatu. Dan karena aku tak tau harus merespon seperti apa, aku mencoba untuk melakukan sebisaku. “Siapa kira-kira dalangnya?”


“Sepertinya pangeran dari kerajaan Finders.”


“Apa yang sebenarnya mereka inginkan?” Entah apa yang ku bicarakan, aku sendiri tidak tau apa yang sebenarnya sedang aku bahas ini.


“Saya kurang tau, tapi jika mereka terus melakukan hal itu maka saya khawatir akan terjadi perang besar.”


‘Perang lagi, ya.’ Setiap aku bangun pasti selalu ada masalah besar. “Hm, jika memang seperti itu. Aku ingin mendengar pendapatmu.”


“Huh? Pendapat saya?”


Aku rasa cara seperti ini cukup ampuh untuk mencari tau apa yang sebenarnya sedang kami bicarakan. “Ya, sendainya kau berada diposisi pangeran itu dan kau sudah melakukan hal yang sama sepertinya. Apa yang akan kau lakukan.”


“Jika seperti itu…” Aku mulai mendengarkan semuanya.


Beberapa menit kemudian.


‘Woy woy, ini gawat.’ Setelah mendengar ceritanya, aku baru mengerti apa yang sebenarnya kami bahas. ‘Pangeran bodoh itu, apa didunia ini para pangeran hanya dipenuhi dengan otak otot dan kerakusan akan harta saja.’ Entah kenapa ini membuatku kesal. “Laren, ini perintah dariku. Persiapkan 50 pasukan dengan komposisi lengkap. Dan pergilah kekerajaan Finders.”


“Baik. Tapi komandan, apa yang akan kami lakukan setelah sampai disana?”


“Itu mudah.” Aku mulai menjeleskan apa yang memang harusnya dilakukan.


Setelah itu.


“Baik, saya akan berusaha sebaik mungkin.”


“Itu bagus, aku menunggu kabar baik darimu.”


“Kalau begitu, saya akan segera berangkat.”


“Ya.” Laren pergi.


“Ha…” Aku menghela nafas panjang. ‘Itu akan menjadi perlanan yang panjang.’ Setidaknya jika memakai kereta kuda, baru akan sampai di kerajaan itu selama seminggu. Sedangkan jika memakai kuda tempur, setidaknya dia baru akan sampai 3-4 hari dan lagi. Sepertinya Iona sudah menyadarinya. Ia menyiapkan tambahan pasukan, kemungkinan untuk mencegah terjadinya perang. Aku juga akan melakukannya jika berada diposisinya, karena itu adalah keputusan yang sangat tepat.


Beberapa hari berlalu.


Sore hari, area militer markas khusus.


“Grild, apa ada kabar dari Laren?”


“Untuk saat ini dia masih belum memberikan kabar apapun.”


“Begitu..” Setidaknya aku harap sesuatu yang tak diinginkan tidak terjadi, hanya itu.


Beberapa hari setelah itu.


Pagi hari, area militer.


“Komandan, saya sudah kembali.”


“Laren, apa kau baik-baik saja?”


“Saya baik-baik saja, tugas yang anda berikan sudah selesai saya laksanakan.”


“Itu bagus. Dengan begini, untuk sementara waktu pergerakan dari musuh akan menemui kendala.”


“Tapi komandan, apa ini memang harus dilakukan?”


“Iya, setidaknya ini bisa digunakan sebagai pencegahan terjadinya perang. Oh ya Laren, apa kau merasakan sesuatu yang aneh saat melaksanakan tugas dariku?”


“Tidak ada yang aneh, hanya saja beberapa waktu setelah kami selesai. Hujan yang deras tiba-tiba saja mengguyur kami, dan setelah itu disusul dengan datangnya banjir besar.”


“Itu bagus.” Meskipun tidak masuk dalam rencana, tapi setidaknya itu cukup berguna.


“Komandan, apa and yakin dengan apa yang sudah kami lakukan ini? Merusak jembatan yang menjadi satu-satunya penghubung kerajaan ini dan beberapa kerajaan lain.”


“Tenang, itu tidak akan berdampak besar.” Meskipun begitu, tidak menutut kemungkinan kalau jumlah pengiriman hasil panen akan menurun dan juga beberapa masalah akan terjadi seperti naiknya harga beberapa barang dan beberapa hal lainnya. Meskipun begitu, setidaknya dengan begini perang akan tertunda. “Kita akan memasok penjualan kita ke kerajaan tetangga yang lain, dengan begitu ekonomi masih akan berjalan lancar.”


“Baik.”


Sekolah kerajaan.


‘Ha, ini melelahkan.’


“Putri, apa kau baik-baik saja?” (Rine)


Rine dan yang lainnya menghampiriku. “A-aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?”


“Hari ini kau tidak seperti biasanya? Apa masalahmu sudah selesai?”


“Masalah?” Aku mendengar apa yang diceritakan oleh Rine, dan teman lainnya.


‘Iona mengalami itu semua?’ Dari apa yang aku dengar dari mereka, Iona selalu terlihat murung saat berada dikelas dan juga saat ditanya masalahnya ia selalu bilang tidak ada masalah. Teman-temannya baru bertanya karena mereka merasa kalau masalah yang Iona alami sudah selesai. ‘Ha, apa yang sebenarnya terjadi padamu selama aku tertidur?’ Aku tak tau apa  yang terjadi padanya, tapi sepertinya dia sedang dalam masalah. ‘Aku tak tau malasah apa yang sedang kau alami, tapi jika seperti ini terus itu akan berdampak buruk bagi kehidupan sehari-harimu.’ Setidaknya itulah yang aku pikirkan. Tapi aku tidak ingin menggangu kehidupan pribadi Iona, jadi aku putuskan untuk melakukan apa yang memang sudah menjadi bagianku.

__ADS_1


Malam hari, kamar.


“Ha, Iona. Jika kau memiliki masalah, sebaiknya selesaikan dulu masalahmu. Aku sudah bilang kalau tidak akan ke markas untuk sementara waktu, jadi kau bisa memanfaatkan waktu itu untuk menyelesaikan masalahmu. Dan jika ada masalah, bangunkan saja aku. Aku harap masalahmu cepat selesai.” Setidaknya hanya itu yang ingin aku sampaikan padanya sebelum aku tertidur. ‘Iona, selamat tidur. Selesaikan masalahmu, aku tidak bisa membantumu untuk menyelesaikan masalah pribadimu. Meskipun aku ingin.’ Setidaknya aku ingin dia mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Jika memang tidak bisa, maka aku sendiri yang akan membantunya.


__ADS_2