Princess In Another World

Princess In Another World
Akhir


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu, di kamar Iona.


“Iona, Iona. Apa kau ada didalam?”


“Kak Risa…” Risa mulai masuk kedalam kamar.


“Iona, aku sudah menyelesaikannya. Sekarang kau bisa bertemu dengannya.”


Iona hanya tersenyum mendengar hal itu. “Terimakasih…”


“Iona, apa yang terjadi? Iona…” Iona menjadi murung dan perlahan air matanya mulai menetes. “Iona, ada apa?”


“Kak Risa!!” Iona seketika memeluk Risa.


“Iona, apa yang sebenarnya terjadi?!” Ia melihat kertas yang ada dikasur milik Iona, dan membacanya.


Beberapa saat kemudian.


“Iona, maaf. Aku terlambat.” Kertas untuk sebuah ucapan selamat tinggal, itulah hal yang disisakan oleh Ari untuk Iona sebelum menghilang seutuhnya.


Iona terus menerus menangis, dan itu juga membuat Risa ikut bersedih. “Maaf, jika saja aku bisa lebih cepat.”


Beberapa bulan berlalu, di area militer markas khusus.


“Komandan…” (Dirk) Para ketua regu begitu khawatir melihat keadaan komandan mereka.


Iona berjuang keras, melakukan hal yang bisa membuat pikirannya teralihkan. Tapi, itu semua tidak berhasil. Seluruh hal yang ia lakukan, membuatnya semakin mengingat Ari.


“Komandan.” (Famus)


“Famus, ada apa?”


“Waktu itu komandan bukannya ingin melihat anak saya, saya rasa hari ini komandan bisa.”


“Begitu, baiklah.”


Mereka pergi ke tempat tinggal Famus saat itu juga.


“Bayi yang manis.” Sembari dibopong oleh istri Famus, Iona perlahan mulai menyentuh bayi famus. “Siapa namanya?”


“Reona.” (istri Famus)


“Nama yang bagus.” Iona kembali menyentuh jari jemari sang bayi, dan si bayi terlihat seperti memegang balik jari Iona.


“Komandan, sepertinya dia menyukai anda.”


“Begitu.” Tapi setelahitu, perlahan air matanya menetes.


“Komandan…”


“Sayang, bisa kau keluar.”


“Huh? B-Baiklah.” Famus perlahan mulai keluar dari ruagan itu dan hanya menyisakan istrinya, Iona, dan juga bayi mereka.


“Putri, anda terlihat begitu kesakitan. Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Aku tidak apa-apa.”


“Seseorang yang tidak memiliki masalah tidak mungkin akan bersuara berat seperti anda. Apa sudah terjadi sesuatu pada orang yang putri sukai?”


Iona tersenyum mendengar itu. “Kau seolah bisa melihatnya.”


“Saya dulu juga pernah mengalami hal seperti anda, kehilangan orang yang sangat saya cinta.”


“Begitu.”


“Putri, apa anda tidak bisa melupakannya?”


“Aku tidak bisa melakukan itu. Dia sudah menjadi bagian dalam hidupku, aku tidak bisa melupakannya.”


“Begitu. Aku harap putri, anda bisa menemukan jalan hidup anda sendiri dan juga kebahagiaan anda.”


Malam hari, kamar.


Kalimat itu terus diingat di pikirannya. “Kebahagiaanku sendiri...”


“Iona, apa kau ada didalam?”


“Kak Risa.” Risa perlahan mulai masuk kedalam kamar Iona. “Kak Risa, aku ingin bertanya sesuatu.”


“Eh? Ada apa?”


“Bagaimana, bagaimana caranya agar aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri?”


“Eh? A-aku, aku tidak tau. Untuk hal itu, sepertinya kau harus mencarinya sendiri. Aku tidak bisa membantumu melakukan hal itu, kau harus berjuang dan mencari kebahagiaanmu sendiri. Maafkan aku.”


“Kau tidak perlu minta maaf, seharusnya aku sudah tau kalau kakak akan menjawab seperti itu. Aku akan mencoba untuk mencarinya.”


“Iona…”


Beberapa bulan berlalu, dan ini sudah masuk setengah tahun terakhirnya berada di sekolah kerajaan.


Pagi hari, sekolah kerajaan.


“Putri Iona, apa kau punya rencana sepulang sekolah nanti?” (Ria)


“Tidak ada, memangnya ada apa?” Keadaannya sudah  sedikit membaik dibandingkan saat sebelum ditinggalkan Ari.


“Kami mau pergi ke taman, apa putri mau ikut?” (Rine)


“Baiklah.”


Sore hari, sepulang sekolah. Di taman.


Mereka semua terlihat sangat menikmatinya, hari-hari ditaman yang begitu tenang dan menyenangkan. “Sepertinya putri sudah kembali seperti yang dulu.” (Lysia)


“Benar, aku harap dia tetap seperti ini. Terlihat begitu bahagia setiap saat.” (Ria) Mereka berdua saling berbicara satu sama lain tentang Iona.

__ADS_1


Beberapa hari setelah itu.


Sore hari, area militer markas khusus.


“Komanda, kami mendapat laporan kalau ada penyusup di hutan dekat dengan pemukiman.” (Laren)


“Kalau begitu, segera tangkap dan introgasi mereka. Cari tau darimana asal mereka dan siapa yang sudah menugaskan mereka.”


“Baik.”


“Komandan.” (Famus) Setelah Laren pergi, giliran Famus yang datang dan menyampaikan masalahnya.


Malam hari, kamar.


Setelah selesai makan malam.


“Ha, hari ini sangat melelahkan.” Bekerja di militer, meskipun begitu mungkin itu adalah hari tersibuk yang pernah ia alami. “Baiklah, waktunya melakukan hal lain.” Setiap hari, membuat dirinya menyibukkan diri agar dia melupakan hal yang ingin dia lupakan meskipun itu tidak mungkin.


Setengah tahun kemudian.


“Ha, akhirnya ujiannya selesai juga.”


“Putri, bagaimana? Apa ujiannya gampang?” (Ria)


“Ujian akhir kali ini pasti putri dan pangeran Lucy yang mendapatkan peringkat terbaik. Aku yakin.” (Rine)


“Itu belum tentu, lagipula hasil ujiannya masih belum keluar.”


“Putri, setelah ini kau melanjutkan ke akademi?” (Lysia)


“Eh, iya. Bagaimana dengan kalian?”


“Sepertinya kami tidak.”


“Kenapa?”


“Biaya untuk masuk ke akademi terlalu besar, orang tua kami tidak bisa membayarnya.”


“Begitu. Oh ya, bagaimana kalau…”


Beberapa lama setelah itu.


Area militer markas khusus.


Para ketua regu berkumpul. “Eh, komandan. Mereka…” (Laren)


“Aku akan menunjuk mereka sebagai pembantuku.”


“Pembantu, ya. Jika itu yang anda mau, kami tidak keberatan.” (Grild)


“P-Putri, apa maksudnya ini?” (Ria)


“Putri, apa kau adalah komandan yang misterius itu?!” (Sofia)


“Komandan misterius, ya. Sepertinya kau terlalu berlebihan, tapi sudahlah. Mulai hari ini kalian semua akan bekerja dan membantuku, tentu saja kalian juga akan mendapatkan upah. Dan dengan begitu, kalian bisa melanjutkan masuk ke akademi bersamaku.”


Beberapa hari setelah itu.


Sekolah kerajaan, hari peringatan kelulusan siswa yang pertama.


Sebuah acara besar yang diadakan di area sekolah untuk menyambut kelulusan para siswa dari sekolah kerajaan. “Kepada lulusan terbaik tahun pertama, Iona L. Trhown dan Lucy Groem. Diharap segera menaiki panggung.” Acara berlangsung cukup meriah, dan juga sangat menyenangkan.


Setelah selesai acara.


Setelah acara selesai, Lucy langsung menghampiri Iona yang sedang berbicara dengan temannya. “Putri, ini untukmu.” Lucy memberinya sebuah surat. “Selamat atas kelulusanmu.” Setelah mengatakan hal itu, Lucy pergi.


“Putri, apa yang terjadi padamu.” Air mata Iona mulai menetes dan secara perlahan ia mulai membuka surat itu.


“Tulisan kuno? Siapa yang menulisnya, tulisan itu sangat sulit dibaca bahkan oleh para guru disini. Dan lagi, tulisannya begitu berantakan yang membuat surat itu lebih susah dimengerti. Siapa yang membuatnya?” (Lysia) Menghiraukannya, Iona perlahan mulai membacanya sembari air matanya yang mulai menetes.


‘Untuk Iona, selamat atas kelulusanmu. Aku cukup senang karena bisa menghabiskan waktu bersamamu selama beberapa tahun terakhir, dan aku juga berharap kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri. Aku senang karena kau bisa berinteraksi dengan orang lain meskipun itu butuh waktu yang sedikit lama. Aku juga cukup senang karena kau menyukai seseorang, meskipun itu bukan Lucy. Aku harap kau selalu bahagia dengannya. Dan 1 hal lagi, jangan lupa untuk mengambil surat yang sudah aku titipkan pada mereka ber-4.’


“P-Putri...” (Ria) Iona seketika pergi dari tempat itu.


“Apa yang terjadi padanya?” (Sofia)


“Biarkan saja, mungkin dia sedang menemukan sesuatu yang sangat berharga baginya.” (Rine)


Area militer, markas khusus.


“Grild, Laren, Dirk, Famus. Serahkan surat yang pernah aku berikan pada kalian.”


“Baik.” Karena ini sudah waktunya, mereka tanpa sungkan langsung menyerahkan surat yang pernah dititipkan pada mereka.


‘Surat pertama kau bisa mulai dari, surat milik Grild, dan setelah itu milik Laren, lalu Dirk, dan terakhir milik Famus. Aku harap kau membaca semuanya. Selamat tinggal, Ari.’


Beberapa lama setelah itu, diamar.


“I-Iona, apa yang kau lakukan?!” (Risa) Dia melihat seluruh lemari yang ada dikamar Iona berantakan, dan tidak tersusun dengan rapi.


“Kak Risa, bisa bantu aku menggeser lemari ini.”


“Eh? Ada apa?”


“Aku mohon.”


“Baiklah.” Risa ikut menggeser lemari baju yang ada kamar Iona.


Setelah itu.


“Ha, Iona, sebenarnya ada…” Ia melihat beberapa catatan kertas. ‘Tulisan kuno, ya. Untung saja aku pernah mempelajarinya.’ Dan Risa mulai membacanya.


‘Catatan pertama. Datanglah ke perpus, disana kau akan menemukan sebuah buku yang pernah aku beli, bukan aku beli tapi lebih tepatnya pemberian dari Lucy. Setelah itu cari tulisan bertanda merah yang ada disana lalu gabungkan. Setelah itu, kau bisa lanjut membaca catatan yang ke dua.’


‘Apa ini semacam teka-teki?’ Karena penasara Risa kembali membacanya sesuai urutan.


‘Catatan kedua. Pegilah kedapur, dan cari apa yang sudah kau temukan di buku itu. Setelah itu ambil dan baca catatan ketiga.’

__ADS_1


Risa terus membacanya.


‘Catatan ketiga. Pergilah kemarkas dan disana kau akan menemukan sebuah lemari yang terkunci yang tak pernah terbuka, setidaknya sebelum aku menguncinya. Kau bisa gunakan itu untuk mengambil apa yang ada didalam, lalu baca catatan terakhir.’


“Sepertinya ini yang terakhir.” Risa membacanya.


‘Catatan terakhir. Kau bisa pergi kekamar, disalah-satu lemari ada tempat rahasia. Kau bisa gunakan apa yang kau dapat sebelumnya untuk membuka kuncinya. Dan aku sudah menyiapkan sesuatu disana. Sampai jumpa di surat yang aku tulis untukmu.’


“Aku, menemukannya.” Sebuah brangkas kecil ditemukan Iona berada dibalik lemari.


Karena hal itupula Risa langsung menghampirinya. “Iona…”


Perlahan Iona mulai memasukkan kunci yang ia dapatkan secara susah payah itu. Brangkas itu terbuka, dan didalamnya ia melihat sebuah cincin yang terbuat dari kawat besi yang dirangkai menjadi sebuah cincin yang indah dan juga surat dibawah cincin itu. Iona langsung mengambil cincin dan surat itu, kemudian ia membuka surat itu dan di isi didalam surat itu..


“Tulisan apa itu? Aku sama sekali tidak pernah melihat tulisan itu? Dari bahasa apa tulisan itu berasal?” (Risa) Sebuah tulisan yang baru pertama kali ia lihat.


“Ini, tulisan dari dunia tempat Ari berasal…” Iona perlahan mulai membacanya.


‘Iona, selamat karena sudah menyelesaikanya. Surat ini hanya berisi apa yang ingin aku katakan terakhir kali padamu. Selamat ulang tahun yang ke-16, aku sudah menyiapkan hadiahmu juga dan aku harap kau menyukainya. Aku membuatnya sendiri, ya meskipun itu butuh waktu yang cukup lama karena aku harus merangkainya satu persatu. Jika kau tidak suka, kau bisa simpan atau kau bisa buang. Dan 1 hal lagi, aku harap aku bisa menemanimu selamanya tapi sayangnya hal itu tidak bisa aku lakukan karena aku ini sudah mati, dan orang mati sepertiku sudah seharusnya kembali ketempat yang seharusnya. Sepertinya hanya itu yang ingin aku sampaikan. Iona, jangan lupakan kebahagiaanmu sendiri, carilah sesuatu yang bisa membuatmu bahagia. Aku cukup senang karena bisa hidup bersamamu selama beberapa tahun terakhir meskipun kau sering merepotkanku, tapi aku cukup menyukai saat-saat seperti itu. Jika aku pergi tiba-tiba, aku minta maaf. Aku harap kau mau memaafkanku. Selamat tinggal, Ari.’


Setelah membaca surat itu, Iona melihat kearah cincin yang dibuat oleh Ari untuknya. Dan perlahan air matanya mulai menetes. “Iona…” Risa perlahan mulai memeluk Iona. “Kau harus mencari kebahagiaanmu sendiri, aku yakin dia juga akan merasa senang jika kau melakukannya.” Iona mulai menangis dipelukan Risa.


2 tahun berlalu.


Di Akademi.


Iona, dan juga teman-temannya sudah masuk ke akademi. Iona juga mulai menjalani hari seperti biasa, tapi hingga pada suatu hari.


Sore hari yang cerah.


“Putri, berkas ini mau ditaruh dimana?” (Lysia)


“Taruh di rak buku dibagian atas saja.”


“Baik.”


“Lysia, bagaimana dengan keadaan Rine, Ria, dan Sofia disana?”


“Mereka sedang membantu pengerjaan, dan beberapa kontruksi bangunan.”


“Begitu, ya.”


“Komandan.” (Grild) Grild tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan komandan.


“Grild, ada apa?”


“Naga yang ada dibelakang, tiba-tiba saja terbang.”


“Huh? Apa yang sudah terjadi?”


“Saya juga tidak tau.”


“Putri.”


Naga yang sudah lama tidak bergerak, tiba-tiba saja bergerak dan sudah jelas itu membuat Iona dan yang lainnya kebingungan. “Kemana perginya naga itu?”


“Sepertinya ke arah pantai.”


“Pantai?”


“K-Komandan…” Secara tiba-tiba Iona bergegas pergi, Grild sempat ingin mengikutinya tapi ditahan oleh Lysia.


“Biarkan dia, mungkin dia sudah menunggu saat seperti ini.”


Sementara itu.


Iona menaiki kereta kuda dan segera menuju ke pantai.


Beberapa lama setelah itu.


Iona sampai dipantai dan melihat sang naga. “Kau ada disini ternyata.” Iona mencoba untuk menghampiri sang naga, tapi ia juga melihat seseorang disana. “Lucy, apa itu kau?” Orang yang cukup dekat pada naga selain Iona adalah Lucy. Orang itu diam, dan karena sinar matahari sore yang cukup silau serta tubuh naga menutupi orang itu, Iona tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Saat dia cukup dekat, ia melihat sesuatu. “Iona..” Suara yang begitu tak asing baginya. Dan perlahan sang naga mulai menjauh membuat wajah orang itu terlihat seutuhnya.


Iona menangis. “Ari…”


“I-Ion…” Iona lansung berlari dan memeluk Ari dengan kuat.


Gubrak.


Sfx : Jatuh.


Ari terjatuh karena tak sanggup menahan Iona yang menabraknya cukup kuat. “Kau, Ari. Ari… Aku pikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi.”


“Aku kira aku juga… Kau memakainya, ya.” Ari melihat kearah jari Iona yang sedang memakai cincin buatannya.


“Aku selalu memakainya.”


“Kau menyukainya?”


“Aku sangat menyukainya. Lebih dari apapun.”


“Begitu, terimakasih.”


Ari perlahan mulai bangun. “Kau akan pergi?”


“Ya.” Perlahan Air mulai memengang tangan Iona.


“Ari…”


“Ayo pulang.”


Mendengar hal itu, Iona tersenyum dan kembali memeluknya. “Ari, aku cinta kamu…”


“Terimakasih.” Mereka kembali ke kerajaan, dan hari-hari bahagia mereka dimulai.


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2