
Beberapa hari berlalu.
Sekolah kerajaan.
“Putri…”
“Huh? Pangeran Lucy, ada apa?”
“Pangeran? Ah, jadi begitu, ya.”
“Huh?”
“T-tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bilang kalau besok kita harus berangkat.”
“Begitu, baiklah.”
Sore hari, area militer markas khusus.
‘Kira-kira apa yang akan dilakukan Ari, ya.’
“Komandan, apa anda mendengar penjelasan yang baru saja saya sampaikan?” (Famus)
“Eh, m-maaf.”
“Komandan, apa anda baik-baik saja?”
“A-aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir. Lalu, apa yang tadi kau katakan.”
“Komandan, ini sudah ketiga kalinya saya mengulanginya. Apa anda benar-benar baik-baik saja?”
“M-Maaf, aku hanya kurang fokus saja.”
“Komandan, anda sebaiknya beristirahat saja. Anda baru saja sembuh, dan anda tidak perlu mengerjakan hal ini jika anda masih merasa belum sehat.”
“Aku baik-baik saja, tidak masalah.”
“Begitu…”
Malam hari, ruang makan.
“Iona, Iona.”
“Ah, i-ibu, ada apa?”
“Kenapa kau belum memakan makananmu, apa kau sedang tidak enak badan?”
“T-tidak, aku tidak apa-apa.”
“Iona, jangan berbohong. Ibu bisa tau kalau kau sedang mengalami sesuatu.”
“Aku benar-benar tidak apa-apa, kalau begitu aku akan kembali ke kamar dulu.”
“Iona, setidaknya makan makananmu dulu.” (Ayah)
“B-Baik.”
Kamar.
“Ha, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa, ini belum pernah terjadi sebelumnya padaku.”
“Iona, kau ada didalam?”
“R-Risa-oneesama.” Risa masuk ke kamar Iona.
“Aku dengar dari ibumu kalau kau sedang dalam masalah, jadi aku kesini untuk bertanya hal itu. Jadi, apa masalahmu?”
“Aku tidak tau.”
“Huh? Tidak tau?”
“Selama beberapa hari terakhir aku tidak bisa fokus, aku selalu memikirkannya. Aku tak tau kenapa, tapi aku selalu memikirkannya setiap saat.”
“Huh? Iona, siapa yang kau pikirkan?”
“Eh?”
“Iona, apa kau menyukai seseorang?”
“Eh, R-Risa-oneesama kenapa kau berkata seperti itu?!”
“Lihat, wajahmu tersipu. Jadi, siapa dia. Apa dia pangeran Lucy? Atau orang lain?”
“A-Aku tidak tau.”
“Iona, mungkin yang kau rasakan saat ini adalah cinta.”
__ADS_1
“Cinta?”
“Bukankah kau selalu memikirkannya, tak pernah sekalipun kau tidak memikirkannya. Kau selalu kehilangan fokus setiap kali kau memikirkannya, berada didekatnya membuat jantungmu berdegub kencang. Ya, setidaknya itulah cinta yang aku ketahui.”
“Begitu, jadi ini cinta.”
“Jadi, siapa?”
“A-aku tidak bisa mengatakannya.”
“Begitu, tapi tenang saja. Aku akan mendukungmu, jadi semangat.”
“T-terimakasih.”
Esoknya.
Pagi hari, kamar.
“Hoaaammm.” Aku terbangun dari tidur lelapku. ‘Sepertinya ini sudah waktunya.’ Karena aku sudah bangun, jadi aku rasa ini sudah waktunya.
Beberapa lama setelah itu, setelah selesai sarapan.
“Risa-oneesama, selamat pagi.”
“Iona, selamat pagi juga. Oh ya, hari ini kau harus bersemangat. Aku akan terus mendukungmu, jadi kau tak perlu khawatir.”
“Huh? Mendukungku?” Entah apa yang dimaksud oleh Risa, tapi sepertinya sebuah percakapan kemarin sudah terjadi antara Iona dan Risa. “T-Terimakasih. Aku akan berjuang.” Aku berkata seperti itu karena aku rasa itu adalah pilihan terbaik.
“Itu adalah semangat yang aku suka. Aku akan pergi ke Akademi dulu, sampai jumpa nanti.”
“Y-ya.” Risa pergi. “Akademi, ya.” Sebuah tempat dimana saat sudah lulus dari sekolah kerajaan, para murid diberi hak untuk melanjutkan belajar ke akademi atau tidak setelah lulus dari sekolah kerajaan. ‘Sepertinya aku akan mendapatkan sesuatu yang menarik jika belajar disana, tapi.’ Waktu yang aku berikan pada Iona hanya selama 3 tahun tepat saat hari kelulusan, jika sudah waktunya maka aku mungkin tidak akan pernah bangun lagi.
Setelah itu.
Aku dan Lucy menaiki kereta kuda. “Ha, jadi…”
“Tenang saja putri, ini tidak akan makan waktu lama. Lagipula dengan pengawalan para ketua regu kita pasti akan sampai dikerajaanku dengan aman.”
“Bukan itu yang kumaksud, tapi..”
“Tapi?”
“Kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini!!” Yang aku gunakan saat ini adalah sebuah gaun berwarna putih dengan hiasan bunga mawar.
“Itu terlihat sangat cocok denganmu, membuatmu berbeda dari biasanya. Kau terlihat sangat cantik.”
“T-Tidak, bukan itu maksudku. Aaah, sudah kuduga berbicara denganmu itu sangat sulit.”
“Aku terlihat seperti akan menikah jika menggunakan pakaian ini, dan lagi..”
“Huh? Ada apa?”
“Jangan berpura-pura bodoh, kau pasti tau apa yang aku maksud.”
“Maafkan aku, tapi aku terpaksa melakukan ini. Jika tidak begitu kau tidak akan ikut denganku.”
“Ha, lalu. Apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan dengan rinci.” Dia bilang kalau aku hanya harus ikut dengannya ke kerajaanya untuk menyelesikan masalah yang tidak bisa ia selesaikan sendiri. Tapi, jika begini kejadiaanya pasti ada alasan lain yang ia sembunyikan.
“Baik.”
Lucy mulai menjelaskan.
“Raja-, maksudku ayahku. Beliau beberapa hari lalu mengabarkan padaku untuk mencari pasangan.”
“Terus?”
“Kau pasti tau kalau belum ada satupun orang yang aku sukai.”
“Ha, jadi kau memilihku untuk melakukan hal itu?”
“Iya.”
“Jika memang seperti itu, sebaiknya kau minta izin pada diriku yang lain.”
“Huh? Dirimu yang lain?”
Aku perlahan memejamkan mata. ‘Iona, silahkan.’ Jika ini berhasil, maka kemungkinan perjalanan cinta mereka berdua bisa berjalan dengan mulus. Dan jika seperti itu, kemungkinan aku bebas akan sangat besar.
“Eh?” Tidak sampai beberapa saat, aku sudah kembali terbangun secara paksa. “Hey, ada apa denganmu?” Aku melihat Lucy dalam keadaan mengenaskan. “Kenapa kau murung seperti itu, jika seperti itu kau terlihat seperti orang yang baru ditolak saja.”
“M-Memang begitu kenyataannya.”
“EH? Serius?”
“Untuk apa aku berbohong.”
__ADS_1
‘Yang benar saja.’ Aku tak tau kenapa Iona melepaskan kesempatan ini, tapi sepertinya dia memiliki alasan tersendiri. Mungkin karena ini hanya pura-pura, makanya dia menolaknya jika ini bukan sandiwara kemungkinan dia pasti akan menerimanya. “Ha, jangan murung seperti itu. Aku akan membantumu.”
“Eh, serius.. Meskipun dirimu yang lain menolakku?”
“Iya, setidaknya sampai ini selesai.”
“T-terimakasih.”
“Ya. Tidak masalah.”
Sore hari.
“Lucy, apa tempatnya masih jauh?”
“Sebentar lagi kita akan segera sampai.”
“Begitu.” Meskipun tidak sejauh perjalanan ke kerajaan Srevin, tapi entah kenapa perjalanan ini terasa sangat membosankan.
“Putri, apa kau sudah meminta izin pada yang mulia?”
“Ya, aku bilang akan pergi ke kerajaanmu selama beberapa hari karena ada urusan.”
“Huh? Dengan alasan seperti itu?”
“Ya, meskipun aku yakin tidak akan sampai beberapa hari juga aku berada dikerajaanmu.”
“Kalau untuk itu, aku tidak begitu yakin.”
“Ada apa? Apa ada hal lain yang kau sebunyikan dariku?”
“Sebenarnya…”
Beberapa lama setelah itu.
Malam hari, kerajaan Groem.
Kami sampai di kerajaan Lucy, kerajaan Groem. “Jadi ini kerajaanmu, jauh lebih berkembang daripada apa yang aku kira.”
“Aku terima ucapan itu sebagai pujian.”
“Terserah kau saja.”
“Sebenarnya beberapa tahun lalu kerajaan ini tidak seperti sekarang.”
“Huh? Memangnya ada apa?”
“Beberapa tahun terakhir kerajaan ini berada diambang batas kerjayaanya, jika salah sedikit saja maka kehancuran yang akan menimpa masa depan kerajaan ini.”
“Tapi, sepertinya masalah itu sudah bisa diatasi. Tidakkah itu bagus.”
“Ya, itu memang bagus tapi…”
“Ha, sudahlah aku tak ingin kau melanjutkannya lagi. Lagipula aku datang kemari untuk menyelesaikan masalah yang terjadi padamu saat ini, bukannya ingin mendengar cerita masalalu kerajaanmu.”
“Seperti biasa, ucapanmu selalu tajam seperti pedang. Tapi, terimakasih karena kau mau membantuku kali ini.”
“Ya, tidak masalah.”
Setelah cukup lama, kami sampai di istana kerajaan Groem. “Putri, kau ingin langsung istirahat atau…”
“Aku akan memeriksa sekitar, dan lagi pasti ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan padaku.”
“Begitu, kalau begitu aku akan masuk kedalam. Jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja.”
“Ya, terimakasih atas tawarannya.”
Beberapa menit kemudian.
Para ketua regu menghampiriku. “Komandan, ada masalah yang cukup serius sudah terjadi.” (Grild)
“Huh? Ada apa? Cepat jelaskan.”
“Baik.” Mereka kemudian menjelaskan apa yang terjadi.
Beberapa lama setelah itu.
‘Woy woy, yang benar saja.’
“Komandan, apa yang harus kita lakukan setelah ini?” (Famus)
“Untuk sementara, awasi saja dulu dan untuk Laren. Bawa 10 pasukan yang sudah kalian latih itu kemari secepatnya, aku akan memberikan tugas khusus untuk mereka.”
“Baik, setidaknya besok pagi saya sudah ada disini bersama dengan 10 prajurit yang ada dibawah pelatihan kami.”
“Itu bagus, kalian boleh bubar.”
__ADS_1
“Baik.” Mereka semua pergi.
‘Aku harus melakukan sesuatu, ini cukup gawat.’ Ini adalah hari pertamaku dikerajaan ini, dan aku sudah mendapatkan masalah yang cukup serius. ‘Ini menyebalkan.’