
"Ari, Ari, syukurlah kau baik-baik saja."
Tubuhku kembali, aku menggunakan tubuh asliku saat ini dan dengan jelas aku bisa melihat Iona. "Iona." Ini pertama kalinya aku melihat Iona secara langsung.
"Ari, maafkan aku, aku sungguh minta maaf." Iona menangis.
"Iona, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf."
"Saat kau tertidur, aku berencana untuk menerima tawaran pernikahan itu agar ayah tidak kecewa, tapi setelah melihat semua ini aku pikir itu bukan pilihan yang baik. Maafkan aku..."
"Begitu, ya." Sangat wajar jika seorang anak ingin melihat orang tuanya bahagia, tapi wajar juga jika seorang anak ingin memilih kebahagian mereka sendiri. "Tidak apa-apa, ini kan hanya mimpi. Setelah aku bangun, kenyataan buruk ini akan hilang." Ya, ini adalah mimpi. Aku menyadarinya setelah aku berada disini.
"Hm, terima kasih."
"Terima kasih, untuk apa?"
"Kau sudah merawatku selama ini, aku sangat berterima kasih."
"Ya, tidak masalah." Suasana disini kembali sunyi. "Ini adalah tempat yang aku idam-idamkan selama ini, tempat ini sangat nyaman." Dengan hembusan angin yang pelan, membuat suasana disini begitu berbeda dari pada tempat lainnya. "Iona, kenapa kau tidak ingin kembali ke tubuhmu?" Perntanyaan itu yang selalu membuatku penasaran, tapi karena aku sudah bertemu langsung dengannya tidak ada salahnya aku menanyakan hal ini.
"I-Itu..."
"Ada apa?" Ia terlihat ragu-ragu dengan apa yang ia katakan.
"Aku rasa, dengan adanya dirimu aku bisa melakukan hal yang selama ini tidak bisa aku lakukan. Oleh karena itu..."
"Begitu ternyata." Mengingat saat pertama kali aku menggunakan tubuh Iona, tubuhnya sangat lemah dan itu bisa jadi alasan ia tidak ingin kembali ke tubuhnya yang lemah itu. "Kau sekarang bisa melakukan apapun yang kau inginkan." Tubuh Iona berbeda dengan yang dulu, saat ini tubuhnya sudah lebih baik.
"Ari..."
"Ada apa?"
"Bukannya kau memiliki keinginan untuk merubah dunia dengan caramu."
Ctakk
"Aduhhh..." Ia memengang dahinya menggunakan kedua tangannya.
Aku menjitak dahinya dengan jariku, itu karena ia salah tentang 1 hal. "Itu bukan keinginanku, melainkan hanya ambisiku. Jika itu tidak terwujud maka hal itu tidak akan jadi masalah untukku."
"Begitu..."
Aku sangat berterima kasih pada dewa, karena sudah melakukan hal ini. Ia juga menunjukkanku masa depan dimana ada kesalahan dalam pilihanku, itu berarti semua yang aku pilih akan berakibat ke masa depan nanti. "Iona, apa kau tidak ingin pergi bermain bersama teman seumuranmu."
"Kalau itu..."
"Apa kau tidak mau bermain-main bersama teman seumuranmu?"
"Aku mau, tapi..."
"Tapi?"
"Aku tidak bisa melakukannya?"
"Alasannya?" Jika dia tidak bisa melakuknnya, pasti ada alasannya ia tidak bisa melakukan itu. "Hm... Apa karena fisikmu yang lemah? Eh, tunggu. Sepertinya aku pernah bertanya seperti ini padanya dulu."
"Bukan..."
"Lalu?"
"Aku tidak pandai berbicara, lagipula aku takut terhadap pandangan orang lain padaku."
"Hm, begitu." Jika seperti itu, aku tak bisa melakukan apapun. "Jadi, apa kau ingin masa kecilmu habis begitu saja."
__ADS_1
"A-Aku tidak ingin begitu. Aku ingin, tapi aku sangat takut."
"Sudahlah, memaksa bukan termasuk bagian dari diriku. Tapi, setidaknya kau harus mencobanya secara perlahan-lahan." Mungkin dengan begitu dia bisa jadi sedikit lebih berani, dan ia ingin merasakan hal yang bahagia lebih banyak lagi. Dengan begitu Iona pasti akan mengambil tubuh ini dan aku bisa bebas. "Aduh.." Tiba-tiba saja Iona membalas, ia menjitak dahiku juga. "Iona, apa yang kau lakukan?"
"Kau pasti merencanakan sesuatu yang buruk."
"T-Tidak, aku tidak memikirkan apapun."
"Kau bohong, siapapun yang melihatmu tersenyum seperti itu pasti mereka akan langsung taukelau kau sedang merencanakan sesuatu yang buruk."
"Ahh..." Kebiasaan burukku muncul di saat seperti ini.
Beberapa lama setelah itu
“Ha, sudah waktunya.”
“Iona, ada apa?”
“Maaf Ari, kita harus berpisah. Tapi, aku senang bisa berbincang denganmu seperti ini.”
“Berpisah? Apa kau akan mengambil tubuhmu dan membiarkanku pergi.” Jika memang itu yang akan terjadi, aku akan sangat senang.
“B-Bukan seperti itu. Tapi, sepertinya kau akan segera bangun dari tidurmu.”
“Begitu..” Mau bagaimanapun, apa yang aku alami tadi hanyalah sebuah ingatan kecil didalam mimpi, dan tepat saat mimpi ini berakhir aku akan kembali terbangun. “Iona, jika kau ingin mengambil tubuhmu kau bisa mengambilnya kapan saja. Tapi, ingat. Jangan lakukan apa yang bisa membuatku melakukan hal bodoh seperti seperti tadi.”
“M-Maaf..”
“Aku tak butuh permintaan maafmu, yang aku mau kau bisa mengerti perbedaan antara yang baik dan buruk. Semua yang aku lakukan ini agar kau bisa bersama dengan lelaki yang kau sukai. Kau pasti tau kalau aku sangat menentang pernikahan politik, dan aku harap kau bisa memahaminya.”
“Ari, terimakasih.” Senyuman itu, senyuman yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Begitu tulus, dan ini adalah terakhir kalinya aku bertemu dengannya. ‘Iona’
“Putri Iona, putri Iona...”
“Putri Iona, anda tidak menghadiri sekolah selama beberapa hari. Dan karena itu kami cemas..” (Lysia)
“Beberapa hari?” Aku tak menduga kalau mimpi yang singkat itu akan memakan waktu berhari-hari didunia nyata.
“Beberapa hari lalu, kami kemari dan melihat anda sedang tertidur sangat lelap. Tapi, anda tak menunjukkan keadaan dimana anda akan bangun dari tidur anda.” (Ria)
“Kami sudah mencoba untuk membangunkan anda, tapi anda sama sekali tidak bangun dan karena itu kami cemas.”
“Begitu..” Meskipun mereka adalah teman yang baru saja aku temui, tapi mereka sudah merasa cemas seperti ini.
“Apa anda sedang sakit atau semacamnya?” (Sofia)
“Maaf membuat kalian khawatir, aku baik-baik saja. Mulai besok aku akan kembali bersekolah..”
Mendengar hal itu, mereka terlihat senang. “Kalau begitu, putri Iona sampai jumpa besok di sekolah.” (Lysia)
“Ya..”
Sore hari
Area militer markas khusus
“Tuan p-, maksudku komandan, apa anda baik-baik saja?” (Grild)
“Aku baik-baik saja. Lalu, bagaimana keadaan pasukan yang lain selama aku tidak datang kemari?”
“Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu anda cemaskan.”
“Ha, begitu.” Karena baru saja terbangun dari mimpi buruk, setidaknya aku ingin menikmati hari tanpa adanya masalah selama beberapa hari kedepan. Setidaknya begitu..
__ADS_1
“Panglima utama Grild, ada laporan untukmu.” (Prajurit)
Grild mengambil sebuah kertas yang baru saja prajurit itu bawa. “Baik, kau boleh pergi.”
“Huh? Panglima utama?”
“Ahhh, begini tuan, maksudku komandan. Beberapa hari lalu, saya berserta ketua regu yang lain diberikan gelar itu oleh kepala militer.”
“Begitu. Lalu, apa itu?” Aku melirik ke arah kertas yang tadi diambil dari prajurit.
“Ini, ini adalah laporan yang selama beberapa hari ini saya terima secara berkala. Jika komandan tidak keberatan komandan bisa melihat isinya.”
“Huh, baiklah.” Grild memberiku kertas itu, dan aku membaca isi dari kertas itu.
Beberapa saat kemudian
“Hey Grild. Apa maksudnya ini?”
“K-Komandan, apa ada yang salah?”
“Kau bicara seakan tidak mengetahui apa-apa. Tapi, aku tanya sekali lagi. Apa maksudnya ini!!"
“S-Saya minta maaf komandan. Saya terpaksa menerimanya, itu perintah langsung dari kepala militer.”
“Ha, kau itu.”
Tugas untuk mengelolah sebuah wilayah, sebagai hadiah penghormatan kepada komandan yang memimpin pasukan ini (Pasukanku), kepala militer dan juga dewan kerajaan memberikan hadiah sebuah wilayah untuk pemimpin pasukan. Dan mereka berharap banyak dari hal itu. Seperti itulah kira-kira isi suratnya.
“Lalu, siapa yang akan melakukannya?” Aku melihat kearahnya.
“M-Maaf komandan, tapi ucapan kepala militer tidak bisa kami tolak.”
“Kalian adalah pasukan yang aku bentuk secara khusus, dan kalian itu berada dibawah perintahku langsung. Dan itu artinya kalian tidak memiliki sangkut paut dengan kepala militer ataupun hal lainnya.”
“B-Begitu. M-maafkan saya komandan.” Aku hanya bisa menghela nafas panjang.
“Sudahlah. Lalu, apa yang akan kalian lakukan dengan ini?”
“Untuk itu... (mulai menjelaskan)”
Beberapa menit kemudian
“Hmmm. Begitu, tidak buruk juga. Jika kalian butuh bantuan, katakan saja padaku.”
“K-Komandan, komandan tidak ikut turun tangan?”
“Huh? Aku, ikut? Grild, ingat ini baik-baik. Prinsipku adalah, jika kau memulai sesuatu maka kau juga yang harus menyelesaikannya. Dan karena aku tidak memulai apapun, aku tidak memiliki hak apapun untuk menyelesaikan apa yang tidak aku perbuat.”
“Eh?!!”
“Tenanglah, jika kau butuh saran atau apapun itu. Jangan sungkan, katakan saja aku akan membantu.”
“Baik.” Aku kembali ke istana.
Beberapa hari berlalu.
Sekolah kerajaan.
Hari ini berjalan seperti biasa tidak ada hal yang aneh atau apapun itu dan satu perkembangan yang cukup besar terjadi. ‘Ha, akhirnya dia mau bergaul dengan teman seumurannnya.’ Saat aku kelelahan dan tertidur dikelas, Iona mengambil alih tubuhnya dan menggunakannya selama aku belum bangun. Menurutku itu adalah hal yang sangat bagus. Meskipun begitu, aku diberitahu hal ini dari salah satu temanku Sofia.
Saat Iona menggunakan tubuhku, kesadaranku menghilang dan saat aku bangun aku tidak bisa ingat apapun yan terjadi selama aku tertidur. Berbeda dengan Iona yang meskipun aku menggunakan tubuhnya, kesadarannya masih utuh dan dia ingat dengan apa yang sudah aku lakukan. ‘Sangat tidak adil.’ Meskipun begitu, langkah kecil seperti ini merupakan batu loncatan yang besar.
‘Aku harap Iona mau mengambil tubuhnya sebelum hari kelulusan tiba.’ Setidaknya itulah yang aku inginkan.
__ADS_1
See you on the next chapter...