Princess In Another World

Princess In Another World
Bimbang


__ADS_3

Esoknya, pagi hari dalam perjalanan pulang.


“Huh? Ada apa?” Secara tiba-tiba kereta kuda yang kami naiki berhenti.


“P-Pangeran, ada bandit terlihat cukup jauh di depan kita. Apa yang harus kita lakukan?” (Kusir)


“Huh? Bagaimana bisa?” Sekelompok bandit berada didepan kami, dan seharusnya itu tidak mungkin terjadi. ‘Apa yang sebenarnya para ketua regu lakukan?’


“Putri, bagaimana ini?”


“Trobos ajalah.”


“T-Tapi...” (Kusir)


“Apa kau mau menunggu sampai bandit itu mendatangi kita dan membunuh kita semua?”


“I-Itu…”


“Sudah, cepat maju.”


“B-Baik.” Kereta kuda kembali berjalan.


Beberapa saat kemudian.


Tidak ada masalah. “P-Pangeran, banditnya menghilang.”


“Kalau begitu bagus, sudah cepat jalan. Kita tak perlu membuang lebih banyak waktu.”


“B-Baik.


Sore hari. Area militer, markas khusus.


“Kalian, bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi?” Saat ini, aku, Lucy, dan juga para ketua regu berkumpul di ruang rapat.


“Maaf komandan, tapi tadi kami mendapatkan sedikit masalah.” (Laren)


“Ada apa?”


“Dijalan kembali menuju kemari, ada banyak sekali bandit. Dan kami cukup kesulitan menanganinya karena kalah jumlah.”


“Bagaimana bisa?” Seharusnya kepulangan kami dirahasiakan.


“Saya tidak tau, tapi sepertinya ada yang sudah membocorkannya.”


“Hmm, apa ada pengkhianat di... A-aww... L-Lucy, apa yang kau lakukan.” Dia tiba-tiba saja memukul kepalaku, meskipun tidak begitu keras.


“Kalian semua boleh pergi.” (Lucy)


“Baik.” Para ketua regu pergi.


“Apa yang ingin kau bicarakan.”


“Tidakkah kau pernah berfikir kalau ucapanmu itu bisa menyakiti seseorang.”


“Huh? Ada apa, kenapa tiba-tiba...”


“Aku sudah terbiasa dengan perlakuanmu, tapi jangan sampai perlakukan itu kau tunjukkan juga pada orang lain. Meskipun pada bawahanmu sekalipun.”


“T-Tapi...”


“Ingat, kau bisa saja dengan mudah memecah bela kepercayaan pasukanmu hanya karena ucapanmu itu. Kau harus belajar mengontrol ucapanmu.”


“B-Baik.” Entah kenapa aku hanya bisa diam diceramahi olehnya. ‘Ha, sepertinya aku harus mengakuinya.’


Malam hari, kamar.


“Ha, aku ingin istirahat. Iona, sekarang adalah giliranmu. Jika ada sesuatu bangunkan saja aku.” Aku tak tau sesuatu akan terjadi apa tidak dalam waktu dekat ini, tapi aku harap tidak terjadi sesuatu yang bisa mengganggu tidurku. “Kalau begitu, Iona. Selamat tidur.”


Beberapa hari setelah itu.


Area militer markas khusus.


“Komandan, apa anda baik-baik saja?” (Famus)


“Aku sedang tidak baik.”


“Komandan, apa ada hal yang sudah terjadi?”

__ADS_1


“Famus, apa kau pernah jatuh cinta?”


“K-Kenapa komandan tiba-tiba menanyakan hal itu?”


“Tidak ada hal khusus, aku hanya penasaran saja. Jadi, apa kau pernah mengalaminya?”


“Y-ya, b-begitulah.”


“Eh, benarkah? Bagaimana perasaanmu saat mengalaminya?”


“Saya tidak begitu ingat karena kejadian itu sudah berlalu begitu lama, tapi yang masih saya ingat adalah…” Iona mendengarkan cerita Famus dengan begitu teliti.


Setelah selesai.


“Begitulah akhirnya.”


“Enak, ya. Jika menikah dengan orang yang kau sukai.”


“Apa komandan juga memilikinya, orang yang komandan sukai?”


“Aku? Y-ya, sepertinya aku punya.”


“Siapa pemuda itu? M-maaf jika saya terlalu banyak bertanya.”


“Tidak masalah. Dia adalah orang yang ambisius, tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun, seluruh hal yang dilakukan olehnya selalu dia pikirkan dengan matang. Dia juga selalu bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan, dia bisa melakukan segala hal, tapi sayangnya dia selalu memaksakan dirinya. Dia orang yang tenang, dan yang paling aku suka, dia sangat baik hati. Meskipun butuh sedikit paksaan, tapi dia mau menolong orang lain. Aku sepertinya sangat menyukainya.”


“Eeeh. Aku rasa orang yang komandan maksud, itu adalah komandan sendiri. Atau ada orang lain yang mirip dengan komandan?”


“Eh? M-maaf, sepertinya aku terlalu banyak memikirkan sesuatu sampai berbicara hal seperti itu. Ahahaha…”


Beberapa hari kemudian di sekolah kerajaan.


“Sofia, apa kau tau apa yang sedang terjadi dengan putri Iona?” (Ria)


“Aku tidak tau, tapi dia selalu seperti itu sejak beberapa hari terakhir.” (Sofia)


“Itu benar, saat aku bertanya dia selalu menjawab tidak ada apa-apa. Aku jadi mengkhawatirkannya.” (Lysia)


“Lysia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lihat, dia terlihat begitu bahagia seperti itu.” (Rine)


“Sepertinya begitu.”


Beberapa minggu kemudian, di pagi hari yang mendung.


“Hujan?” Tetesan air hujan mulai membahasi tanah yang kering.


“Iona, apa yang sedanng kau lakukan?” (Risa)


“Risa-oneesama.”


“Iona, apa ada masalah? Kau terlihat begitu cemas.”


“Risa-oneesama, apa kau memiliki seseorang yang kau sukai?”


“Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Tidak ada, aku hanya sedikit kebingungan.”


“Iona, apa yang terjadi? Jika kau memiliki masalah kau bisa bercerita padaku.”


“Risa-oneesama, seandainya saja jika aku memiliki seseorang yang aku sukai, tapi disisi lain aku tidak pernah bertemu dengannya. Apa yang harus aku lakukan?”


“Huh? Jika kau tidak pernah bertemu dengannya, bukankah seharusnya kau tidak mengetahuinya. Saat kau menyukai seseorang setidaknya kau harus mengetahui seperti apa orang yang kau sukai itu. Jika kau tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana kau bisa menyukainya.”


“Aku, pernah bertemu dengannya satu kali.”


“Dan kau langsung menyukainya saat pertemuan pertama itu, begitu?”


“Iya.”


“Iona, apa yang kau suka darinya?”


“Semuanya, perjuangan, semangat, kerja keras, dan hal lainnya. Aku menyukai semua yang dia lakukan.”


“Meskipun kau baru pertama kali bertemu dengannya?”


“Iya.”

__ADS_1


“Begitu, aku harap kau bisa terus mencintainya. Dan suatu hari nanti, kau bisa memperkenalkannya padaku.”


“Y-ya.” Mendengar hal itu, bukan membuat Iona senang malah membuatnya semakin murung. ‘Aku tidak akan pernah bisa bersama dengannya.’ Sebuah kenyataan pahit yang harus dia terima.


Beberapa hari berlalu.


Area militer markas khusus.


Dipagi hari yang hujan.


“A-Apa-apaan ini!! Apa yang sebenarnya kalian lakukan!!”


“M-Maaf komandan, kami sudah mengikuti apa yang komandan perintahkan. Tapi hasilnya malah seperti ini.”


“Panen kali ini gagal, sudahlah. Kalian boleh pergi.”


“B-Baik.” Para ketua regu pergi.


“Ha, Iona. Kenapa kau memberikan segudang masalahmu padaku?” Sebenarnya aku sudah menyangka kalau akan ada masalah saat aku terbangun nanti, tapi aku tak menyangka kalau Iona memberikanku segudang masalah yang ia alami padaku. ‘Ini menyebalkan.’ Seakan ia sama sekali tidak pernah mengerti dengan prisipku. ‘Jika kau yang memulai, maka kau juga yang harus mengakhirinya.’


“Hari ini masih hujan, ya.” Sudah beberapa hari terakhir hutan terus terjadi, sebenarnya ini bukan hal yang buruk hanya saja, jika seperti ini terus maka panen akan semakin rusak. “Ha, mari lihat pendapatan saat Iona yang mengerlolah wilayah.” Aku memeriksan beberapa buku yang ada di rak lemari.


Bug. Sfx: buku jatuh.


“Buku apa ini?” Buku ini adalah buku baru, buku yang baru pertama kali aku lihat ada disini. “Kira-kira apa isinya.” Dan tepat saat aku ingin membuka buku itu. “Aghhhhh!!!” Rasa sakit terasa dikepalaku. “B-Baik-baik, akan aku taruh kembali buku ini. Jadi hentikan!!” Rasa sakitnya berhenti. “Ha, jadi buku ini milikmu.” Aku menaruh kembali buku milik Iona di rak buku.


Beberapa lama setelah itu.


“Ha, sepertinya baik-baik saja.” Saat aku melihat hasil panen dan pendapatan Iona, tidak ada yang aneh kecuali beberapa hal. “Sepertinya kau mengalami sesuatu.” Ada beberapa catatan yang menunjukkan penurunan hasil panen dan juga penurunan pendapatan wilayah.


“Sebaiknya jika kau lelah kau tak perlu memaksakan diri. Kau tak perlu melakukan tugas ini jika memang kau merasa belum siap untuk melakukannya.” Jika jadinya hanya akan merusak, lebih baik untuk diam. Lagipula aku juga tau kalau tugas seperti ini tidak harus dikerjaan olehnya.


“Sepertinya hujan sudah reda. Aku akan memeriksanya, apa dia baik-baik saja.” Aku pergi.


Belakang markas khusus.


“Hmm, dengan adanya tempat berteduh seperti ini sepertinya kau tidak kehujanan.” Entah sejak kapan, tapi sepertinya Iona yang sudah membuatkan tempat berteduh untuk naga ini. “Kau masih saja tertidur, apa kau tidak lelah terus tertidur seperti ini?” Naga ini hanya mengibaskan ekornya. “Ha, sudahlah. Jika aku ada masalah, tolong bantuannya.” Sebelum aku pergi, aku melakukan hal yang selalu aku lakukan pada naga ini.


Sfx : Memukul-mukul.


“Seperti biasa, kepalamu sangat keras.” Setelah puas dengan apa yang aku lakukan padanya, aku pergi.


Sore hari, kamar.


“Ha, hujan lagi, ya.” Disaat hujan seperti ini entah kenapa mengingatkanku dengan kehidupanku dulu. Tidur semalaman distasiun kereta karena hujan dan tak ada yang peduli dengan hal itu meskipun orang tuaku sekalipun, tak ada seorangpun yang menjemputku saat aku kembali dari tugas sekolah. ‘Sungguh kehidupan yang menyedihkan. Jika saja aku diberi kehidupan yang lebih layak.’ Entah kenapa aku memikirkan hal itu. “Ha, sudahlah. Tidak ada tempat yang cocok untuk orang yang sudah mati sepertiku.”


“Iona, apa kau ada didalam?” (Risa)


“Risa-oneesama, ada apa?”


“Iona, kau meninggalkan buku ini di bawah.”


“Huh? Buku?” Kemungkinan besar itu adalah buku milik Iona. “T-Terimakasih Risa-oneesama, aku kebingungan mencari buku itu. Aku kira buku itu sudah hilang.”


“Buku ini sangat berharga untukmu, kan. Jadi sebaiknya kau menjaganya baik-baik.”


“B-Baik.”


“Aku juga sempat sedikit membacanya, sepertinya kau sangat begitu menyukainya, ya.”


“Huh?”


“Kau menulis begitu banyak tentang dia, tapi kau tak menulis namanya. Apa dia orang yang kau sukai?”


“Eh?” Aku tak tau kalau Iona menyukai orang lain, tapi itu bisa jadi sangat bagus. Jika dia menyukai orang lain maka dia akan mengambil alih tubuh ini dan kemungkinan besar aku akan bebas. “I-Iya.”


“Jika kau butuh saran, kau bisa datang saja padaku. Aku pasti akan membantumu, akan aku buat hubungan kalian berjalan dengan lancar.”


“R-Risa-oneesama, terimakasih atas tawarannya.” Tawarannya kedengaran begitu menarik, tapi itu tidak ada hubungannya denganku.


“Kalau begitu, kau bisa panggil aku jika butuh sesuatu.”


“Baik.” Risa pergi.


“Ha, buku ini, ya.” Aku berniat untuk sedikit melihatnya, tapi aku tau apa yang akan terjadi padaku jika aku melakukannya. “Jika buku ini berharga, sebaiknya kau simpan dengan baik.” Aku menaruh buku itu di laci kamar.


Hujan terus terjadi semalaman disusul dengan badai petir yang begitu keras. ‘Malam ini mungkin tidurku tidak akan nyenyak.’

__ADS_1


__ADS_2