Princess In Another World

Princess In Another World
Pekerjaan terkahir


__ADS_3

“Iona, selamat atas ulang tahunmu yang ke-15.” (Ayah)


“Terimakasih.” Meskipun begitu, Iona tidak begitu gembira mendengarnya. Hanya tersisa 1 tahun lagi.


“Kak Risa dimana?” Dihari ulang tahunnya, dia tidak melihat Risa.


“Sepertinya dia ada dikamarnya, dia sudah beberapa hari menghabiskan banyak waktu dikamarnya. Dia terlihat seperti sedang melakukan sesuatu, sepertinya itu bagian dari tugas akademinya.” (Ibu)


“Begitu.”


Sementara itu.


“Ahhh, ini sudah yang ke-832 kali. Kenapa masih belum berhasil.” Percobaan ratusan kali yang dilakukan Risa masih belum membuahkan hasil. Projek penghubung, setidaknya itulah yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. “Hanya tinggal 1 tahun lagi, ya.” Risa juga mengetahui kalau orang yang Iona suka hanya akan berada di tubuhnya dalam waktu 1 tahun lagi. “Aku harus mengulanginya lagi.”


Beberapa minggu kemudian.


“Putri, nilaimu luar biasa. Kau mendapatkan nilai sempurna lagi.” (Lysia)


“Tapi, pangeran Lucy juga tidak kalah hebat. Dia juga bisa mendapatkan nilai sempurna.” (Rine)


“Putri? Kau tidak terlihat senang?”


“Maaf semua, aku harus pergi.” Iona berlari dan pergi meninggalkan teman-temannya.


Beberapa lama setelah itu.


Area militer, markas khusus.


“Komandan, apa ada sesuatu yang sudah terjadi pada anda?” (Famus)


“Famus, bagaimana keadaan anakmu?”


“Anak saya lahir dalam keadaan yang begitu sehat.”


“Begitu. Kapan-kapan aku ingin melihatnya. Apa boleh?”


“Komandan, baiklah. Jika itu yang anda inginkan, saya akan menemani anda.”


“Terimakasih.”


Setelah itu.


Belakang markas khusus.


“Kau masih tidur.” Naga yang ada dibelakang markas masih tertidur dan tidak pernah bangun saat terakhir kali ia terbang bersama Ari.


Sfx : Pukul.


Iona mencoba memukul kepala naga persis seperti yang dilakukan oleh Ari. “Keras seperti biasa.” Setelah memukul, Iona hanya tersenyum sembari melihat sang naga. Tapi, tak lama kemudian air matanya mulai menetes dan jatuh diatas kepala sang naga.

__ADS_1


Perlahan sang naga mulai membuka matanya, dan kemudian kembali menutup matanya.


Beberapa minggu kemudian.


Saat ini Iona sudah kelas 3 dan hanya tersisa 1 tahun lagi sebelum akhirnya Iona lulus.


“Putri, kita berada di kelas yang sama lagi.” (Ria)


“Putri, tolong bantuannya untuk 1 tahun kedepan.” (Sofia)


“Y-ya.”


Sementara itu.


“Putri Risa, maaf. Karena nilai akademikmu menurun, kami terpaksa tidak bisa membuatmu melanjutkan ke tingkat tertinggi untuk sementara waktu.”


“B-begitu.”


“Putri, sebaiknya anda harus fokus pada 1 hal saja. Jika fokus anda terbagi, itu akan membuat anda kesusahan.”


“Terimakasih atas sarannya. Saya izin pergi dulu.” Risa pergi.


Kamar Risa.


“Ha, aku gagal untuk lulus, ya.” Sebenarnya ia tidak begitu peduli, tapi jauh dilubuk hatinya ia begitu kecewa. “Sebaiknya aku harus segera menyelesaikan ini.” Projek yang ia mulai 1 tahun lalu, mulai sedikit membuahkan hasil. Meskipun bukan sesuatu yang besar tapi itu membuatnya memiliki semangat untuk melanjutkan projek miliknya itu.


Beberapa minggu setelah itu.


Aku perlahan mulai keluar dari kamar. ‘Suara apa itu?’ Aku mendengar suara yang cukup gaduh. ‘Risa, apa yang dia lakukan?’ Suara itu berasal dari kamar milik Risa.


Aku perlahan mendekat kearah kamarnya, dan sedikit membuka pintu kamarnya. “Risa-oneesama, apa yang kau lakukan?”


“I-Iona?!” Ia terlihat terkejut karena keberadaanku. “A-Aku tidak melakukan apa-apa, kau bisa keluar.”


“Huh? Tapi itu…” Aku melihat sesuatu yang cukup mengagumkan. “Apa kau sedang membuat sesuatu?”


“Y-Ya, seperti itulah. Tapi, aku sedang sibuk. Kau bisa pergi.”


“T-tung…” Risa mendorongku keluar dan menutup pintunya. “Huh? Ini…” Sebuah kertas catatan. Dan karena penasaran akupun membacanya.


Beberapa saat kemudian.


“I-Iona…” Risa membuka pintu. “Bisa kau kembalikan kertas itu.”


“Ini? Baik.” Aku menyerahkannya. “Risa-oneesama, apa kau ingin membuat sesuatu yang bisa menghubungkan ke alam bawah sadar?”


“K-kau membacanya?”


“Ya.”

__ADS_1


“Ha, begitulah. Aku sedang mengerjakan hal itu.”


“Aku memiliki sebuah teori yang setidaknya bisa berguna.”


“Teori? Teori apa?”


“Risa-oneesama, apa kau pernah mendengar orang yang bisa mengendalikan mimpi mereka?”


“Tidak, ini baru pertama kali aku mendengarnya dan lagi, apa mimpi memang bisa dikendalikan?”


“Iya, setidaknya secara teori itu bisa dilakukan. Tapi, dengan beberapa latihan. Jika kau mau, aku akan menulis catatannya untukmu. Mungkin itu akan berguna.”


“Terimakasih.”


“Ya.” Risa kembali masuk kedalam kamarnya. ‘Dia bersemangat sekali, mungkin itu untuk tugas akhir di akademinya.’ Dia ingin mempersembahkan sesuatu yang luar biasa, setidaknya itulah yang aku pikirkan. “Ha, baiklah.” Mungkin aku akan sedikit sibuk untuk beberapa hari, tapi aku akan menyelesaikan secepatnya agar Iona tidak perlu melakukan tugas yang bgitu berat. “Waktunya menulis. Cara untuk melakukan Lucid Dream.”


Beberapa hari berlalu, dan aku sudah selesai menulis buku tentang Lucid, setidaknya aku menulis apa yang semua aku ketahui.


Sore hari, kamar Risa.


“Risa-oneesama, apa kau ada didalam?”


“I-Iona, kau datang.”


“Aku ingin memberikan buku yang pernah aku katakan padamu, setidaknya ini bisa kau gunakan untuk membantu sedikit perkembangan projek untuk kelulusanmu nanti.”


“B-begitu, terimakasih.” Risa mengambil buku itu dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


‘Sepertinya dia begitu sibuk.’ Setidaknya aku juga cukup sibuk sekarang, tapi aku tak memiliki waktu untuk beristirahat karena itu akan membuang-buang waktu. “Baiklah, waktunya menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.” Aku kembali ke kamar dan mulai menulis apa saja yang harus dilakukan dan juga beberapa hal penting yang tidak boleh dilakukan.


Setelah cukup lama.


“Ha, akhinya selesai.” Meskipun masih separuhnya, tapi setidaknya ini sudah hampir mencapai puncaknya sedikit lagi. “Mungkin besok akan aku selesaikan, hari ini aku ingin istirahat terlebih dahulu.” Aku perlahan mulai menutup mata dan tertidur.


Disuatu tempat entah dimana.


“Dimana ini?” Saat aku membuka mataku, yang aku lihat hanyalah sebuah tempat berwarna putih dan tidak ada hal lain selain itu.


“Tugasmu sudah selesai, waktunya kau kembali.”


Suara terdengar dan suara itu menggemah ditempat ini. “Jangan bercanda, biarkan aku menyelesaikan apa yang aku mulai. Aku tidak bisa membiarkannya menyelesaikan apa yang sama sekali tidak ia lakukan!!”


“Kau begitu egois, sudah berkali-kali kau berkata seperti itu. Ini adalah kesempatan terakhirmu, tidak ada toleransi setelah ini.”


“Baik-baik.”


Setelah itu, aku seketika terbangun.


Pagi hari yang cerah.

__ADS_1


‘Ha, sepertinya sudah waktunya.’ Aku sudah berkali-kali mendapatkan peringatan seperti itu, tapi sepertinya peringatan kali ini akan menjadi yang terakhir. “Aku akan menyelesaikan apa yang aku mulai.” Dan juga menyelesaikan apa yang selama ini aku sudah lakukan. Tidak ada hal lain selain itu.


__ADS_2